/Toraja, Kenangan dan Kematian

Toraja, Kenangan dan Kematian

Tipambusu-busomo nene, Tigeang-geangmo ambe, Umpeagi kake’deran, Untayan kalingkan, Paiman-paimanmo lalan, Sendemo kalumingkan….

[Berguncang-guncanglah sang nenek, teroleng-olenglah sang bapak, menunggu keberangkatannya, menunggu perjalanannya, bersuka-citalah para jalanan, bergembiralah kepergiannya]

Kalimat di atas berupa syair yang sering dibacakan dalam acara “Badong to mea”, salah satu dari beberapa rangkaian acara dalam perayaan adat Rambu Solo di Toraja.

Badong to mea merupakan nyanyian, ungkapan, ratapan, dan penghormatan kepada orang yang telah meninggal yang khusus dilakukan saat upacara pemakaman saja, ia juga merupakan ungkapan kegembiraan atas perjalanan jiwa yang telah meninggal menuju perkampungan para leluhur guna menyusul para leluhur yang telah lebih dulu pergi meninggalkan dunia fana.

Toraja

Toraja dengan Ibukota Kabupaten Makale adalah salah satu Kabupaten yang berada di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan yang berjarak kurang lebih 329 km dari Kota Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. 

Saat ini bagi sebagian besar ‘pejalan’, mendengar kata Toraja mungkin tidak asing lagi di telinga, apalagi di Tahun 2017 ini Toraja telah melaksanakan TIF (Toraja Internasional Festival) yang kelima kalinya. Dan sejak tahun 2009 yang lalu Toraja juga mulai ditetapkan menjadi salah satu warisan dunia atau World Heritage dalam kategori kebudayaan oleh UNESCO.

Miniator Tongkonan, kerajinan tangan khas Toraja. (Ipang Mahardhika/ jalamalut)

Tedong (kerbau),Tongkonan (Rumah Adat suku Toraja), Perayaan Adat Rambu Solo, dan Kete Kesu (kuburan kuno yang berada di tebing dan gua) adalah sebagian dari banyak hal yang mungkin tak bisa lepas dari ingatan saat kita mendengar tempat ini disebut.

Tedong dan Tongkonan yang Mendunia

Tongkonan adalah rumah adat masyarakat Toraja dengan berbagai ornamen dan ukiran indah dengan atap yang menjulang tinggi, ia juga adalah simbol kerukunan/rumpun keluarga besar bagi masyarakat Toraja. Tongkonan tertua yang sudah berusia ratusan tahun menurut informasi dari Tokoh Adat setempat berada di Kete Kesu yang berlokasi di Toraja utara, berkisar 4 km sebelah tenggara Rantepao (Ibukota Kecamatan di Kabupaten Toraja Utara).

Tedong nampak terlihat di rerumputan, di depan Tongkonan. (Ipang Mahardhika/ jalamalut)

Berbicara tentang Tongkonan, seperti tak bisa lepas dari Tedong atau kerbau yang merupakan salah satu hewan penting dalam kebudayaan masyarakat Toraja. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, ritual maupun kepercayaan tradisional, Tedong atau kerbau juga menjadi tolok ukur bagi status sosial di dalam kehidupan masyarakat Toraja.

Tedong berdampingan dengan salah satu burung di Toraja. (Ipang Mahardhika/ jalamalut)

Di setiap Tongkonan kita akan banyak menemukan tanduk-tanduk kerbau yang di pajang di tiang depan, semakin banyak tanduk kerbau yang terpajang berarti semakin sering pula mereka melakukan pesta besar dan secara otomatis status sosial mereka pun akan semakin tinggi.

Selain di Toraja, sebenarnya Tongkonan ini juga bisa dijumpai di Eropa, khususnya di Negara Belgia, tepatnya di sebuah taman yang bernama Parc Paradisio di Kota Brugelette, Belgia. Menurut informasi, pemilik taman membuat Tongkonan sebagai pintu masuk taman karena terkesan dengan sejarah di balik Tongkonan yang ada di Toraja.

Rahang babi yang digantung di Tongkonan (Ipang Mahardhika/jalamalut)

 Jejak Kematian di Toraja

Toraja juga sangat terkenal dengan upacara-upacara kematian yang mereka laksanakan saat ada sanak keluarga yang meninggal. Bagi masyarakat Toraja, kematian bukanlah akhir tetapi adalah awal perjalanan panjang menuju perkampungan para leluhur dan menjadi abadi di sana. Kepercayaan dan pandangan inilah yang memberikan andil besar, bagaimana mereka “melepas” sanak keluarga yang meninggal melalui rangkaian-rangkaian acara meriah yang masih bertahan hingga kini.

Tengkorak berserakan, jangan di pegang atau di pindahkan. (Ipang Mahardhika/jalamalut)

Di setiap kematian pasti juga ada pemakaman. Nah, di Toraja sendiri terdapat beberapa lokasi pemakaman tua yang masih terjaga dengan baik dan masih digunakan hingga saat ini, salah satunya juga terletak di Kete Kesu. Dengan berjalan kaki selama 10 menit ke arah belakang dari jejeran Tongkonan maka kita akan menemukan Patane, yakni makam modern berupa bangunan yang di depannya terpajang boneka yang dibentuk mirip seperti orang yang dimakamkan di lokasi tersebut. Boneka ini dinamakan Tau-tau yang merupakan ciri khas makam di Toraja. 

Berjalan perlahan ke tebing maka kita akan melihat peti kayu dengan beberapa kepala tengkorak di atasnya yang diletakkan di dinding batu yang telah dilubangi. Peti kayu ini dinamakan Erong, ia adalah bentuk makam paling awal dan diletakkan di dinding batu dengan maksud agar hewan liar tidak bisa menjangkaunya serta harta yang diletakkan bersama jenazah juga tak diambil oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

Lebih jauh ke atas tebing kita akan sampai ke sebuah gua yang di dalamnya berisi beberapa makam lama bahkan ada beberapa makam baru yang terletak di dinding gua.

ukiran kayu berbentuk manusia dari Toraja yang biasa di sebut dengan Tau-Tau. (Ipang Mahardhika/ jalamalut)

Selama berada di pemakaman Kete Kesu ini, kita akan banyak menjumpai tengkorak dan tulang-belulang berserakan di pinggiran tebing batu. Sebaiknya tidak memegang atau memindahkan tengkorak dan tulang belulang tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang telah lebih dulu pergi.

Seperti di awal-awal tulisan di atas, sebisa mungkin datanglah ke Toraja saat sedang ada Perayaan Adat Rambu Solo. Acara Adat tersebut merupakan salah satu yang sangat menarik untuk diikuti saat sedang berada di tanah Toraja karena juga biasanya dilakukan dengan sangat meriah dan akan dihadiri oleh puluhan bahkan ratusan orang. (*) 

 

Catatan:

*Syair, nyanyian dalam Badong To Mea dan terjemahan bebas di awal tulisan bersumber dari Pusbang Gereja Toraja.

*Di beberapa keterangan tentang tempat dan cerita dalam tulisan di atas berasal dari beberapa sumber.

*Semua foto yang terangkum dalam tulisan ini adalah hasil dari ‘jepretan’ saya sendiri. (Jika Anda ingin menggunakannya, bisa menghubungi kru jalamalut atau melalui saya juga boleh)

*Sebelum ke Toraja ada baiknya mencari informasi dulu di berbagai sumber tentang perayaan-perayaan yang mungkin bisa sekalian dihadiri saat berada di sana.

*Hormati kebudayaan, adat istiadat, dan kebiasaan masyarakat setempat.

Selamat menjelajah….

Penulis:

Ipang Mahardhika

Kru Jalamalut/Tukang Foto jalamalut

Views All Time
Views All Time
536
Views Today
Views Today
1
Like