/Ternate-Tidore, Titik Nol Pembenaran Teori Heliosentris

Ternate-Tidore, Titik Nol Pembenaran Teori Heliosentris

Saat itu musim sedang berganti dan Sultan Muhammad Al-Fatih membuktikan ramalan Nabi Muhammad, bahwa Ia dapat menguasai Konstantinopel serta mengambil alih sebuah gereja besar dari tangan Romawi Timur pada 29 Mei 1453  lalu mengubahnya menjadi sebuah Masjid. Setelah sebelumnya 1000 tahun lamanya dikuasai dan sekaligus dijadikan jantung umat Kristiani.

Perubahan besar langsung terjadi pada peta perdagangan di belahan bumi Eropa. Sejak buah pala, cengkeh dan lada dari Moloku Kie Raha dihentikan dan tidak lagi didistribusikan ke wilayah Portugis dan Spanyol, membuat orang-orang Eropa langsung kedinginan ibarat jatuh tersungkur di ladang salju. Dari sinilah pemicu orang-orang hebat dari dua negara ini berambisi untuk mencari jalan ke Timur tempat di mana rempah-rempah berasal, tak ayal perubahan jalur dagang ini pun memicu konflik antar Negara di Eropa.

Sontak saja, persaingan dan ketegangan yang melanda Bangsa Portugis dan Spanyol kala itu membuat para Paus di Vatikan berunding lalu membuat perjanjian Tordesillas tahun 1494 untuk menghindari persaingan dan konflik antara dua bangsa besar di Eropa kala itu. Isi perjanjian itu menyatakan bahwa bumi telah dibagi menjadi dua bagian sebagaimana pemahaman para paus bahwa bumi itu datar bukan bulat. Dimana daerah di sebelah Timur diberikan kepada Portugis dan sebelah barat diberikan kepada Spanyol.

Setelah perjanjian Tordesillas dibuat, orang-orang hebat dari dua bangsa besar di Eropa itu lalu mulai melakukan pelayaran dan mereka berhasil menemukan daerah-daerah baru.

Kata Bang Ipul, sapaan akrabnya Dr Syaiful Bahri Ruray, keinginan dua bangsa besar di Eropa itu melakukan pelayaran menuju Kepulauan Rempah-Rempah karena didorong dengan adanya penemuan dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pelayaran ini dimulai setelah Nicolaus Copernicus mengemukakan teori heliosentris atau teori tentang orbit dan rotasi bumi. Tapi sebelum teori Copernicus buming di seantero dunia, Marco Polo, pedagang dan penjelajah asal Italia sudah lebih dulu melakukan perjalanan menuju ke Jalur Sutera di Tiongkok, China semasa berkuasanya Dinasti Mongol pada tahun 1271-1272. Meski begitu, dalam catatan sejarah, tetap saja perintis ekspedisi samudera pertama dilakukan oleh orang-orang Portugis, kemudian Bangsa Spanyol, kemudian disusul Belanda.

Saat diskusi Forum Kopi Sastra di Sekret Indpendensia beberapa waktu lalu, Bang Ipul mengatakan, Fernando de Magelhaens adalah seorang penjelajah laut Portugis yang berlayar atas nama Spanyol. Ia orang pertama yang melayari Samudra Pasifik mencari daratan Asia sekaligus orang pertama yang melakukan ekspedisi mengelilingi dunia.

Walau Magelhaens kemudian tewas dibunuh oleh Datuk Lapu-Lapu di Filipina sewaktu persinggahannya di Hindia Timur sebelum menuju Eropa, tapi delapan belas anggota kru dan armadanya berhasil kembali ke Spanyol pada tahun 1522.

Jauh sebelum Magelhaens dibunuh Datuk Lapu-Lapu, pelaut berdarah Portugis ini sangat berambisi melakukan ekspedisi yang sebelumnya gagal dilakukan Colombus. Dan untuk memenuhi ambisinya itu, Magelhaens lalu meminta Raja Carles I dari Spanyol untuk membiayai ekspedisi yang hendak Ia lakukan.

Jaminan Magelhaens kepada sang raja untuk menemukan rempah-rempah diterima Raja Carles I. Raja kemudian memberi lima kapal tua pada Magelhaens untuk diperbaiki dan dipersiapkan guna ekspedisi menuju Kepualauan Rempah-Rempah. Ia pun diangkat menjadi kapten armada tersebut dan dijanjikan mendapat bagian laba penjualan rempah-rempah jika berhasil membawa pulang komoditi unggulan dari Maluku.

Setelah lima buah kapal itu diperbaiki pada 20 September 1519, rombongan ekspedisi Magelhaens yang menggunakan kapal San Antonio, Concepción, Victoria, Santiago dan Trinidad mengikuti kapal induk Magelhaens, bersama 270 awak kapal lalu bertolak menuju Amerika Selatan.

Dalam bukunya Helmi Yahya dan Reinhard yang berjudul Pengeliling Bumi Pertama Orang Indonesia, menjelaskan, pada tanggal 13 Desember, mereka mencapai Brasil, sambil menatap Pegunungan Sugarloaf yang mengesankan, mereka memasuki teluk Rio de Janeiro yang indah untuk perbaikan dan mengisi perbekalan

Tapi ekspedisi itu tidak berjalan mudah, tantangan alam selalu menghantui Magelhaens serta 277 awak kapalnya, di lingkaran Kutub Selatan, badai ganas datang secara tiba-tiba. Kapal Santiago mengalami kerusakan parah akibat karam, namun para awaknya dapat diselamatkan dari kapal. Tapi keempat kapal yang masih bertahan terjebak di tengah arus laut yang membeku dan tak kunjung reda.

Mereka terus berjuang menuju ke selatan, perairan yang semakin dingin hingga tanggal 21 Oktober. Setelah berlayar di bawah guyuran hujan salju, mereka akhirnya menemukan selat El Paso yang kini dikenal dengan sebutan Selat Magelhaens. Ketiga kapal yang masih bertahan melayari teluk sempit di antara tebing-tebing berselimut salju dan berkelok-kelok. Setelah itu mereka berlayar menuju sebuah samudera yang tenang sehingga Magelhaens menamakannya Pasifik.

Namun di luar dugaan, perairan yang mereka layari seakan tak berujung sehingga mereka kehabisan makanan, semakin lemah, dan banyak yang jatuh sakit. Sembilan belas orang meninggal pada saat mereka mencapai Kepulauan Mariana, pada tanggal 6 Maret 1521. Setelah bentrok dengan penduduk pulau, mereka hanya berhasil mendapat sedikit makanan segar sebelum berangkat. Kemudian, pada tanggal 16 Maret, mereka berhasil mencapai melihat Filipina. Dari sini, rombongan ekspedisi ini mendapat makanan yang baik, beristirahat, dan memulihkan kesehatan dan kekuatan mereka.

Magelhaens memang pria yang religius. Ia mengajak banyak penduduk lokal dan penguasanya untuk beragama katolik. Tetapi sungguh naas, semangatnya itulah yang mengahiri akhir hidupnya. Ia terlibat dalam pertikaian antar suku, alhasil Magelhaens bersama sejumlah anak buahnya tewas secara mengenaskan.

Karena jumlah awak kapal tinggal sedikit, mereka akhirnya menenggelamkan kapal Concepción dan berlayar dengan dua kapal menuju ke tujuan terakhir mereka, Kepulauan Rempah.

Namun pelayaran mereka kali ini langsung dinahkodai oleh seorang navigator ulung, Juan Sebastian Del Cano yang didampingi oleh seorang sastrawan berdarah Italia, Antonio Pigavetta yang melanjutkan usaha Magelhaens untuk menemukan daerah asal rempah-rempah. Mereka melewati Kepulauan Cagayan dan Mindanao akhirnya sampai di Maluku (1521). Kedatangan bangsa Spanyol ini diterima baik oleh Sultan Tidore yang saat itu sedang bermusuhan dengan Portugis.

Belum berakhir sampai disitu, kisah ini terus berlanjut. Kedatangan bangsa Spanyol ini justru membuat orang-orang Portugis yang lebih dulu datang ke Ternate merasa terusik, mereka lalu mengirim surat kepada Paus di Vatikan perihal tudingan pencaplokan wilayah pelayaran karena sebelumnya wilayah pelayaran telah dibagi dalam Perjanjian Tordesillas.

Orang-orang Portogis menuding kedatang Juan Sebastian De Cano dengan menggunakan kapal Trinidad dan Victoria merupakan pelanggaran atas hak monopoli. Sejak saat itulah persaingan antara dua bangsa eropa ini memuncak.

Tapi sebelum perang besar pecah, mereka lalu menginisiasi untuk membuat perjanjian Saragosa pada tahun 22 april 1529 yang isinya adalah Spanyol harus meninggalkan Maluku, dan memusatkan kegiatannya di Filipina. Kemudian Portugis tetap melakukan aktivitas perdagangan di Maluku.

Dari sini pula, Bang Ipul berani berkata bahwa Kota kita adalah titik nol peradaban dunia, memiliki kejayaan yang gemilang di masa lalu, karena dari Tidore dan Ternate-lah teori Heliosentris itu dibenarkan, bahwa Bumi itu bulat, bukan datar seperti pemahaman para paus di Vatikan dulu.

Penulis: Nasarudin Amin

Penulis adalah orang muda Maluku Utara. Ia aktif sebagai wartawan di salah satu media lokal di Ternate.

 

Views All Time
Views All Time
215
Views Today
Views Today
1
Like
1