/Ternate, Negara dalam Pikiran Said Barakaat

Ternate, Negara dalam Pikiran Said Barakaat

BAABULLAH Datuk Syah telah berpulang, limau Gapi berduka, kehilangan seorang pemimpin terpuji, panglima perang yang dihormati di 72 pulau dari Mangindanao hingga Huamual, dari Kepulauan Sulu hingga Papua. Said Barakaat (1583-1606) masih begitu muda ketika ayahandanya mangkat.

Gamalama murung, di atas sana awan putih memeluk setumpuk lara di puncak Tobona tiap kali para kolano pulang. Kepundan itu membisu dalam ingatan kepada Bay Guna Tobona, perempuan, kesatria dan raja, Boki Moloku Ternate, kepala para klan momole asal tiang dasar lambang kedaulatan rakyat negara Ternate yang bermula di ketinggian limau Gapi ma tubu.

Bandar Rua Akerica sekitar tahun 1599. Jougugu Hidayat, kimelaha perdana yang sangat berwibawa dan disegani para kaicil, bobato, para sangaji serta kimelaha-kimelaha lainnya, yang juga sangat dihargai kearifannya oleh Sultan Said Barakaat, suram wajahnya. Bersila di tikar rotan mulia buatan Johor yang elok mengilau, menghadap teluk bandar Gamu-lamo. Merenung mengheningkan kalbu, memohon kearifan bagi tanggung jawab yang sangat berat, sesudah Ternate kehilangan sultan terpuja Babullah (Mangunwijaya 2015:110-111). Dengan teleskop kenang-kenangan dari Datuk Ri-Bandang, matanya tajam mengawasi lenggok galiyun-galiyun Eropa yang berkibar di labuhan. Ah, kapal-kapal itu, tempat para kuasa asing yang jumawa dan licik, punya segala tipu daya 900 purnama lebih sejak Antonio de Abreu dan Fransesco Serrao datang, hingga Lopez de Mesquita dan Antonio Pimental yang membunuh mendiang sultan murhum Khairun Djamil pada 25 Februari 1570. Para conquestador itu, datang dan pergi, satu kapiten ganti satu kapiten memukul gendang huru-hara, meniup fitnah ke dalam istana dan menyanyikan requiem bagi para kolano di dalam Castella Nuenstra Senhora Del Rosario Gamu Lamo. Siokona Said Barakaat, lara ini karena cinta kepada Bay Guna Tobona, Boki Moloku Ternate moyangmu. Rindu pada Ternate yang sentosa.

Said Barakaat memang masihlah terlalu muda sebagai seorang Sultan ketika mewarisi negara sepenting Ternate dari mendiang ayahnya waktu itu. Ternate 433 tahun lalu itu sebuah kosmopolitan penting bagi dunia, bandar sibuk yang disinggahi kapal-kapal dagang China, Arab dan Melayu, juga para conquesatador Portugis dan Spanyol seteru abadi Khairun Djamil dan Babullah Datuk Syah. Taranate, sultan ganti sultan, perang ganti perang, perseteruan yang tak kunjung selesai, prahara yang tak pernah berhenti berkecamuk. Gengsi, penghianatan, cinta, ambisi dan balas dendam yang tak berkesudahan. Ia karena Gosora se bualawa yang melimpah ruah, “…begitu banyaknya, sehingga seperti ternyata mampu memenuhi dunia…” menurut Jan Huygen van Linschoten, seorang musafir pengelana Maluku khususnya Ternate dan Tidore pada abad ke-16 (Mangunwijaya 2015:112). Karena Malukulah Christopher Columbus mengerungi Samudera Atlantik, dan kerana akibat hasrat menemuan kepulauan Malukulah Benua Amerika dibanjiri orang-orang Eropa, imprealisme kolonialisme melanda Asia Selatan dan Asia Tenggara, bahkan Afrika dan Amerika Selatan Tengah; sehingga menyalakan pergolakan besar-besaran di dalam perkembangan sejarah dunia. Ternate dan Tidore, siapakah kalian? (Mangunwijaya 2015:112).

Ternate dalam keinginan Said Barakaat haruslah menjadi negara yang memiliki gengsi adidaya sama tingginya dengan kepundan puncak Tobona, ia harus lebih tinggi di antara kesultanan-kesultanan Maluku Kie Raha lainya maupun bagi para kuasa asing.“…Dunia bukan biara kaum sufi yang puas dengan zikir dan pengucapan ayat-ayat keramat…” kata Said Barakaat. Dunia adalah kancah pertarungan antara yang kuat melawan yang lebih kuat. Alpa pertahanan, lalai latihan olah senjata berarti serta merta menyerah dihadapan musuh. Medan laga bukan masjid dan pertarungan uang emas antar negara, bukan pula pengalaman kebajikan seperti dalam pesantren. Portugal dan Kastilia telah memberi bukti, bagaimana tingkah bajingan dapat berpadu dengan upacara-upacara agama yang mengharukan…” (Mangunwijaya 2015:146).

Akan tetapi Ternate dalam pikiran Jougugu Hidayat dan Zainal Abidin bukanlah itu. Ternate tidak bisa menjadi negara sebagaimana dalam rasa khawatir Hobbes sehingga ia harus menjadi sebuah entitas politik yang memiliki kekuasaan mutlak (machtstaat), laksana monster purba karnivora pemakan yang lemah-Leviathan, sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab Ayub, Mazmur, Yesaya dan perjanjian lama. Bukan, Ternate bukan itu. Ia harus menjadi negara yang memiliki jati diri menurut Zainal Abidin. Visi negara Ternate mungkin sama seumpama kritik Johann Gottfried Herder (1744-1803) kepada mursyid filsafatnya Kant. Herder menolak keras tesis Kant tentang nalar sebagai bangunan dasar kaidah etik dan moral, ia universal karena manusia adalah mahluk rasional yang akan dibimbing oleh akal. Bagi Herder (Tamim Ansary:2010) tidak ada yag disebut nilai-nilai universal, baik moral atau estetika. Dunia terdiri dari berbagai entitas budaya. Herder menyebutnya sebagai volks atau “rakyat”. Masing-masing memiliki entitas ini, memiliki volksgeist, esensi spiritual yang dimiliki secara umum oleh orang-orang tertentu. Yang menyatukan sekelompok orang secara bersama-sama sebagai sebuah volk adalah kesamaan bahasa, tradisi, adat istiadat serta sejarah.

Ya, Ternate harus seperti itu, ia harus memiliki esensi spiritual, karena ia punya nilai-nilai luhur yang tumbuh dalam setiap jiwa-jiwa para balakusu se kano-kano kaula Moloku Ternate. Kepada Raja Ternate yang masih muda itu Bobato Akhirat Tuan Haji Zainal Abidin mengangguk hormat, “…Memang kecil pulau Ternate, namun tentang hal-hal lain yang lebih mendekati hakikat kemanusiaan, Ternate sebenarnya dapat berperan dan tercatat dalam lontar-lontar sejarah. Antara lain perihal membangun kebudayaan jiwa yang mulia, yang peka terhadap yang adil dan tidak adil, yang benar dan yang bohong, yang jujur dan curang, yang ningrat terhadap sang Wanita dan yang membela anak-anak serta para jompo; yang peka mencipta lagu baru dalam paduan suara selaras antara si tua dan si muda; yang tahu perbedaan antara malas dan santai, antara keserakahan dan tanggung jawab, antara tingkah pengecut dan gerak bijaksana. Dengan tolok-tolok ukur semacam itulah sebenarnya tingkat serta martabat kerajaan Ternate, dan tidak dengan garis tengah lubang mulut meriam atau jumlah senapan dan golok pembunuh …” (Mangunwijaya 2015:150). Selain itu (Mangunwijaya 2015:106), menurut hukum Ternate dan Maluku seumumnya, raja bukan pengusaa mutlak yang boleh berbuat dan bersikap sesukanya. Selain oleh Sultan Kepala Negara, kerajaan Ternate masih riil diperintah oleh oleh suatu Dewan Negara yang terdiri dari para Bobato atau menteri-menteri pembantu utama yang ikut bertanggung jawab pula dalam politik kenegaraan. Ada bobato-dunia, yakni para hukum, kepala soa dan para sangaji; dengan perdana menteri atau jougugu selaku orang kedua sesudah raja; ditambah hulubalang armada yang disebut kapita laut, dan 4 orang dopolo ngaruha (empat kepala) yang selalu duduk bersandar pada empat tiang utama bangsal agung istana dalam upacara-upacara kenegaraan, dan yang melambangkan kedaulatan rakyat soa.

Ternate sejak Kolano Tjijo Bunga sebenarnya telah menemukan alas jati dirinya sebagai negara bermartabat. Bukankah Tjijo Bunga adalah putera dari Djafar Sadik ulama berkebangsaan Baghdad-Persia yang datang ke bandar Rua Akerica pada 17 Februari 1204 Masehi dalam kunjungan dagang dan dakwah. Ia kemudian menikahi Bay Guna Tobona, Boki Moloku Ternate awal.

Kolano Tjijo Bungalah yang mentransformasikan model kepemimpinan baru Ternate dari era Kolano ke Sultan, mengganti namanya menjadi Mashur Malamo. Ia menjadi penanda, sebuah milestones baru asimilasi Ternate dengan islam. Walaupun sekian ratus tahun kemudian dalam kronik sejarah kekuasaan para raja dan Sultan sesudahnya, Ternate juga pernah diserahkan ke Belanda secara terpaksa sebagai negara vasaal oleh Sultan Sibori (1675 – 1691) pada 7 Juli 1683.

Akan tetapi Ternate sesungguhnya sudah punya visi agung nan luhur, termaktub dalam halaman-halaman manuskrip tua buku tambaga, berisi intisari ajaran moral dan etik tentang negara dalam bait-bait filsafat Jou se ngofa ngare. Juga tersimpan dalam historiografi tradisional dolabololo, dalil tifa dan dalil moro sekian abad gisa, riwayat serta jarita. Dijaga satu generasi ganti satu generasi, mutiara hikmah yang bersemayam di dataran tinggi limau Gapi ma tubu Foramadiahi, hingga ke bandar Rua Akerica sampai Limau Jore-Jore. Dulu dan dulu sekali. Begitu lama, dari masa lalu. Telah tumbuh dan ranum dalam ruang sosial peradaban Maloku Ternate, jauh sebelum Immanuel Kant, Johann Gottfried Herder dan Thomas Hobbes hidup.

Ya, itulah Moloku Ternate yang sesungguhnya, negara mandiri yang memiliki martabat sebagaimana dalam pikiran Jougugu Hidayat dan Bobato Akhirat Tuan Haji Zainal Abidin kurang lebih 400 tahun lalu itu. Tanah dengan esensi spiritual, volksgeit yang ranum lampaui jaman karena bahasa, tradisi, adat istiadat serta sejarahnya.

Selamat hari jadi, semoga senantiasa sejahtera dan sentosa.

Penulis:

 Syahidussyahar Djojo
Syahidussyahar Djojo

 

 

Views All Time
Views All Time
286
Views Today
Views Today
1
Like