/Ternate dan Bayang-bayang Modernitas

Ternate dan Bayang-bayang Modernitas

Maluku Utara dalam historiografi Indonesia masih minim. Hal ini bisa ditemui dalam setiap buku-buku sejarah, terutama buku dengan judul besarnya “Sejarah Indonesia”. Walaupun demikian, ada penjelasan terkait dengan sejarah Maluku Utara, itu pun hanya beberapa lembar atau bahkan halaman yang sepintas mengisahkan dua kerajaan yakni,  Ternate dan Tidore.

Padahal, hampir seperempat abad, kita dibelenggu konflik oleh kolonialisme. Kejayaan para patriotic, kini seperti menjadi prasasti yang sulit digoreskan. Dengan begitu, dapat kita sadarai bahwa penelitian sejarah di daerah ini relatif sedikit, jika dibandingkan daerah lain di Indonesia seperti, Sumatera, Sulawesi, bahkan Jawa yang kerap menghiasi lembaran historiografi Indonesia.

Minimnya sejarah Maluku Utara dalam lembaran historiografi Indonesia, antara lain  kurangnya manuskrip yang relevan. Ini menjadi persoalan utama bagi seorang peneliti ketika meneliti tentang Maluku Utara. Betapa tidak, hampir semua naskah atau catatan masa lalu kita berada di Negara Belanda dan Portugis sebagai bangsa kolonial. Selain itu, dominannya sejarah lisan (oral history) di Negeri ini juga memengaruhi, sehingga luput dalam merekam jejak-jejak masa lalu yang hendak menjadikan sebagai arsip sejarah Negeri ini. Sejarah masa lalu Negeri ini hanyalah diproduksi untuk dijadikan sebagai nyanyian pengantar tidur semata.

Hilangnya Ruang Refleksi Sejarah

 Alih-alih merawat sejarah masa lalu, fakta-fakta sejarah seperti benteng dan peninggalan sejarah serta bangunan tua-bersejarah berdiri kokoh, sengaja dilenyapkan oleh pemerintah tanpa sebuah alasan yang jelas. Entah, apa yang merasuki pikiran serta hawa nafsu pemerintah, sehingga tega melenyapkan warisan peninggalan sejarah, lihat saja pasar Gamalama dirobohkan kemudian Dodoku Ali dihilangkan dan sejumlah peninggalan sejarah diabaikan.

Bangunan-bangunan tua yang memiliki nilai-nilai sejarah dan identitas sejarah itu dimusnahkan lalu diubah dengan bangunan baru yang lebih mengarah pada wajah modernitas tanpa nilai. Gedung Pasar Gamalama dirobohkan oleh pemerintah Kota Ternate, disulap menjadi pasar modern, padahal pasar Gamalama merupakan sejarah sosial perekonomian masyarakat Ternate puluhan dekade.

Sementara itu, Dodoku Ali yang notabenennya memiliki nilai sejarah dan budaya, kini hilang tertimbun. Benteng-benteng peninggalan bangsa asing juga tak luput dari kebijakan “keliru”  pemerintah Kota Ternate tanpa makna.

Dalam penelitian sejarah, akan timbul pertanyaan, bagaimana kita bisa melakukan penyelidikan terhadap bukti-bukti (evidensi) sejarah? Kalau sudah begini, bagaimana kita bisa mendapatkan informasi sejarah yang lebih autenthic?. Dipastikan pemusnahan dan penghilangan sejarah dan budaya dalam setiap kebijakan pembangunan akan berimbas pada distorsi-informasi bagi generasi penerus di negeri ini terhadap keterangan sejarah masa lalu.

Hemat penulis, seyogianya para pemangku kebijakan harus jelas menentukan keberpihakan dalam setiap pembangunan di Kota Ternate. Keberpihakan kebijakan harus dititikberatkan pada pelestarian sejarah dan budaya.

Pada kenyataannya kebijakan pembangunan abai terhadap kesejarahan sosial (social historis). Dengan kata lain, pemerintah berupaya “melumpuhkan” ingatan sosial tentang kesejarahan yang harus dijaga  dan dilestarikan. Alhasil, jejak-jejak masa lalu seperti gedung pasar Gamalama, Dodoku Ali, dan bangunan-bangunan “tua” lainnya tergerus zaman.

Penulis percaya, jika pengaburan fakta sejarah tidak dihentikan, kota ini kelak akan kehilangan jejak-jejak masa lalu, kehilangan indentitas. Dan kita hanya punya cerita  tanpa bukti yang kuat, mengenang gedung “tua” Pasar Gamalama pada tahun 70-puluhan pernah memiliki sejarah pusat perekonomian Maluku Utara.

Dengan demikian, upaya melumpuhkan dan menghlingkan sejarah akan berimbas pada pembelajaran sejarah lokal generasi akan datang. Kita perlu melihat kembali, ungkapan Cicero (106-43 SM), bahwa sejarah adalah guru kehidupan (magistra vitae), dan ketertarikan terhadap pelajaran masa lalu oleh pemimpin dan publik figure dan masyarakat sangat penting.

Oleh : Zulkarnain Habsyi

Views All Time
Views All Time
758
Views Today
Views Today
1
Like
3