/Tangisan Sendu Letusan Gamalama

Tangisan Sendu Letusan Gamalama

LETUPAN pagi itu mengejutkan seisi kota. Asap bercampur debu mengepul dimoncong gunung, asap itu turun dan membasuh kota cengkeh ini, debu menyelimuti pohon-pohon cengkeh menebar hawa panas kemudian menggugurkan satu persatu daun-daun secara perlahan. Serbuk debu melapisi jalanan dan atap-atap rumah, semuanya memutih bagai negeri atas awan. Warga Kota Ternate serba was-was beraktifitas di luar. Sontak pasar-pasar, toko-toko, kios-kios kaki lima menjadi sepi. Perekonomian kota buntu. Gamalama murka.

“Gunung polote[1]! Gunung polote!” teriak salah seorang warga memberi pengumuman.

Di teras nenek Jamila yang terduduk sendu, sesekali dia berdiri memanjangkan kepalanya menengok langit, kemudian pandangannya diarahkan pada semburan debu yang keluar dari moncong gunung Gamalama. Jantung nenek Jamila berdegup kencang sebab baru beberapa menit yang lalu anaknya menelpon bahwa dia sudah berada di pesawat hendak terbang ke Ternate, dan beberapa menit setelah telpon dimatikan Gamalama menyembur.

Pemberitaan di televisi ramai menyiarkan tentang meletusnya Gamalama dan nasib pesawat yang terbang dari Manado hendak ke Ternate. Para pembawa berita meminta doa agar nasib para penumpang pesawat itu selamat, para reporter sudah siap menunggu di bandara Ternate, juga meliput harapan keluarga para penumpang yang penuh harap dan linangan airmata. Satu persatu pemirsa tegang menunggu kedatangan pesawat tersebut. Judul berita pagi itu adalah ‘Tangisan Sendu Letusan Gamalama’.

Nenek Jamila masih saja berdiri di teras, dia seakan berada di tengah kota mati. Pintu-pintu para tetangga terkunci rapat tak ada satu pun tanda-tanda orang yang akan keluar. Angin pun tak ada hanya mendung dan bau belerang yang meyengat lubang hidung seperti perasaannya mendung dan menyengat. Memikirkan sang anak yang sedang beradu nasib.

“Oh Tuhan, anakku kini sedang menuju maut namun dia tak mengetahuinya, anakku sedang berada di pesawat yang tengah terbang dari Manado menuju Ternate yang tengah dilanda letusan gunung, hanya dengan kuasa-Mu debu yang berterbangan tak menghalangi laju pesawat yang ditumpanginya, hanya dengan kuasa-Mu anakku terhindar dari nasib buruk, dengan segala harap tolong lindungilah dia.” Nenek Jamila menadah tangan.

Denyut Gamalama terasa begitu jelas. Menggoyang rumah-rumah, menggoyang kota juga menggoyahkan  jiwa. Sesekali berdetak menghemburkan debu dari moncongnya, terbang menggapai langit kemudian berguguran bagai salju.

***

Ria mengemaskan barangnya. Walau baru pukul 04:00, dia penuh harap. Masih tinggal tiga jam lagi pesawatnya akan berangkat. Adrenalinnya memacu kencang ia tak sabar lagi untuk bertemu ibu. Sudah 5 tahun ia tak pulang lantaran mengikuti suaminya menetap di Manado.

Cinta yang memautkan dia bersama ibunya hingga terpisah pulau, karena cinta pula Ria harus kembali dan cinta  jua dia akan meniggalkan ibunya lagi. Cinta bukan juga hanya menyatukan namun cinta juga soal memisahkan. Pagi itu ia sekaligus meminta izin suaminya untuk pulang bertemu ibunya.

Haru melepas suaminya untuk beberapa minggu kedepan namun juga tak sabar menemui ibunya, dia seakan berdiri diantara dua ketidakpastian. Mobil melesat menuju bandara, sepanjang perjalanan, dipandangi dengan lekat suaminya yang sedang mengemudi, mulai dari rumahnya hingga mobil berehenti di bandara. Suaminya memberi isyarat bahwa sudah saatnya turun. Dan keduanya berpisah seperti dedaunan yang enggan kehilangan kabut pagi yang memberikan kesegaran, namun dipaksa hilang oleh sinar matahari.

“Ibu. Aku sudah berada di pesawat sebentar lagi pesawat akan terbang ke Ternate,” kata Ria di telepon.

Belum lagi bercerita dengan panjang lebar pramugari sudah memberi peringatan untuk memakai sabuk pengaman lengkap dengan pengarahannya. Pengunguman dari kabin kopkit memberi penjelasan tentang penerbangan mereka kali ini, waktu berangkat dan tiba, ketinggian terbang hingga tekanan udara.

Pesawat keberangkatan Ternate telah siap di jalur landas. Ria menarik nafas panjang. Pesawat mulai berlari kencang hingga lepas landas dan menggantung di udara. Dari atas terlihat jelas pulau Sulawesi berjejer disampingnya pulau Kalimantan juga pulau Halmahera yang samar-samar ditutupi awan tebal.

Dari atas Ria bisa melihat keindahan, selama ini ia hanya melihat dan mengagumi dari bawah namun dari atas keindahan memberi kenikmatan yang lain. Beberapa kali ia naik pesawat namun belum pernah ia menemukan keindahan seperti ini. Teringat mimpinya beberapa hari lalu bahwa dia hendak pergi meninggalkan suami dan ibunya ke suatu tempat yang begitu indah, seindah pamandangan hari ini.

Pesawat sesekali tersentak menaiki awan, pandangannya di arahkan jauh ke pulau Halmahera yang samar-samar tertutup kabut pekat, mungkin di sana sedang hujan, pikirnya. Pesawat semakin mendekat kabut itu semakin aneh dipandang bukan semakin putih namun berwarna kelabu. Tiba-tiba sirine berbunyi.

Suara bising terdengar mengganggu telinga, rupanya pilot langsung yang memberi pengunguman, bahwa pesawat harus berputar balik dan mendarat darurat lagi di bandara Manado sebab gunung Gamalama sedang erupsi dan kabutnya mempengaruhi jarak pandang. Kondisi seperti ini tak bagus untuk penerbangan. Pilot juga memberi pesan agar penumpang tak panik dan selalu mengikuti instruksi baik dari mereka juga dari pramugari.

Suasana dalam pesawat tak karuan para penumpang memperlihatkan wajah yang penuh dengan ketegangan. Pesawat memiringkan badannya ke kiri hendak berputar arah dan menghindari kabut tebal di depannya. Namun belum lagi berbelok dengan sepenuhnya pesawat telah tertejebak dalam kabut. Kabut itu bagai monster yang membuka mulutnya lebar kemudian menelan pesawat. “Krekk.” Sontak badan pesawat terguncang hebat. Lampu darurat menyala. Nampaknya pesawat telah terjerat dalam perut kabut erupsi gunung Gamalama.

Keringat membasahi badan Ria, cengkramannya rekat dengan siku tempat duduk pesawat. Badanya bergetar hebat, sesekali Ria menghujam ibu jari kakinya ke lantai memastikan dia tak hilang kontrol, pendengarannya difokuskan mendengar setiap instruksi dari ruang kabin dan pandangannya tak lepas dari pramugari yang memberi arahan. “Oh Tuhan, ibu,” tangisan sendu keluar dari mulut Ria.

“Krekk.” Badan pesawat kembali berbunyi, guncangan semakin keras. (*)

Yogyakarta, 3 Agustus 2016.

Keterangan:

[1]Polote: Pecah, Meletus.

Cerpen: Achmad Sayuti Majid [asal Maluku Utara, saat ini kuliah di Universitas Widya Mataram Yogyakarta].

 

Views All Time
Views All Time
139
Views Today
Views Today
1
Like