/Suanggi

Suanggi

IA suka bangun lebih pagi. Suanggi[1] itu mulanya bernama Santi. “Santi Suanggi.” Begitu orang-orang di Halmahera menyebutnya nanti.

Santi adalah turunan yang percaya pada bau menyan dan nyala api dari pembakaran batok kelapa.

Keluarganya bau menyan. Kalau sudah masuk malam, bau-bau itu semakin tercium. Bau-bau itu akan melewati ventilasi, jendela, dan menuju ke tanjung. Konon, di sanalah ribuan Suanggi suka berkumpul.

Ia suka datang ke rumah tetangga pada saat mereka sedang sibuk menyiapkan teh manis untuk anak-anak mereka yang hendak ke sekolah. Santi suka membawa pisang goreng, dabu-dabu[2], dan adakalanya ia membawa jagung rebus. Tapi Santi kalau sudah di dapur, ia suka bertanya dan paling suka bertanya. “Ada kulkas?” tanya Santi dan akan dikuti dengan pertanyaan lainnya, “ada mesin cuci?”

Santi akan terus bertanya dan pertanyaannya membuat mereka yang ingin menjawabnya sudah mulai bosan menjawab. “So[3] ada televisi?” tanya Santi lagi dan masih diikuti pertanyaan lainnya, “ada kipas angin?”

Kalau bukan Santi yang datang dan mengantarkan makanan di tetangga, ia biasanya menyuruh dua anak perempuannya yang masih kecil. Kedua anaknya juga bersikap sama: membawa pisang goreng, dabu-dabu, dan adakalanya membawa jagung rebus. Seperti Santi, kedua anaknya tentu tidak lupa bertanya dan paling suka bertanya.

***

Santi sebenarnya mau marah kalau orang-orang menyebutnya Suanggi atau Santi Suanggi. Tapi mau bagaimana lagi, ada saja cerita yang menyebar di setiap rumah, kalau Santi suka memergoki orang-orang lewat jendela, celah ventilasi, atau lubang-lubang kecil dekat kamar mandi. Ia sendiri tidak mengerti, tiba-tiba saja ia merasa kakinya bergerak sendiri, hatinya menjadi kecil, berasa hilang begitu saja, dan mendadak sudah berada di luar rumah; keluar-masuk halaman rumah tetangga.

“Semalam sudah agak larut, Santi berdiri di depan rumah. Ia tidak ikat rambut. Rambutnya panjang dan tidak disisir. Mata menyala. Santi benar-benar mirip Suanggi.” Demikan gunjingan orang-orang.

Kalau sudah tengah malam, Santi suka membiarkan rambutnya terurai awut-awutan. Ia suka mencari kutu yang bermain di rambutnya saat orang-orang tertidur pulas. Ada yang bilang: “Santi suka bicara sendiri sambil cari kutu.”

Pernah, ketika orang-orang lagi asyik menonton acara menyanyi di televisi, Santi sudah berada di samping jendela rumah dan ikut menonton, lebih tepatnya ikut menonton wajah orang-orang yang asyik menonton. Ia menatap wajah mereka satu per satu dengan mata menyala seraya mengelus-elus rambutnya sendiri.

“Mereka so punya televisi,” kata Santi, tertawa pelan, sangat pelan.

Tapi seseorang dari dalam rumah seperti merasa ada yang melihat dirinya dari kaca jendela. Seseorang itu berdiri dan meninggalkan televisi yang riuh tepuk-tangan penonton dan suara-suara pembawa acara yang berisik. Seseorang itu berjalan ke dapur dan membuka pintu dengan sangat hati-hati. Seseorang itu keluar lewat dapur dan pasang mata awas seraya mengatur langkah kakinya dengan pelan. Dirinya terkejut melihat Santi berjalan menunduk dan seperti setengah berlari menuju rimbunan pohon beringin.

“Astaga, itu Santi,” kata seseorang itu, menggeleng kepala.

Santi memang senang melakukan pekerjaan itu. Pekerjaan memergoki orang-orang yang asyik bersama keluarga di rumah. Tapi, biasanya sebelum ia melakukan pekerjaan itu, ia bertamu di pemilik rumahnya pagi-pagi sekali. Ia akan menjadi baik dan senang tersenyum. Bibirnya merah dan suka bicara bagai tembakan. Menembak mereka dengan pertanyaan-pertanyaan aneh. Siapa saja yang ia datangi, tentu sudah mafhum. Mereka akan siapkan pinang dan sirih di atas meja.

“Taruh pinang sudah, Santi suka makan itu.”

***

Ia pernah bercerita tentang kelakukannya. Santi bilang dulu Papa yang membuatnya menjadi Suanggi.

“Papa pernah dipukul dan menjadi bulan-bulanan warga setelah ketahuan mencuri kasbi[4]. Padahal hari itu kami tidak punya makanan. Papa hanya seorang nelayan, tapi sayangnya sudah tidak bisa melaut karena dadanya sering sakit. Saat malam, Papa susah tidur. Dadanya sering basah keringat dan paru-parunya berasa pedih. Papa lebih banyak menghabiskan waktu siangnya di dapur sambil meneguk secangkir kopi, kadang tidak hanya secangkir. Kalau malam, Papa lebih banyak di depan radio. Sedangkan Mama hanya penjual jagung rebus. Tapi percuma, rata-rata di sini semua sudah tanam jagung. Mereka bisa masak sendiri. Percuma. Uang tidak ada yang masuk.”

Santi berhenti sebentar sebelum kembali melanjutkan. Mulut anaknya menganga.

“Oh jadi Papa papancuri[5]?”

“Bukan Papa itu,” Santi menunjuk sebuah foto, “tapi Mama pe[6] Papa.”

“Oh Tete[7]?”

“Iya, Tete.”

“Tete jadi papancuri?”

“Bukan. Hanya karena keadaan saja. Di dapur tidak ada makanan. Sedangkan di dalam rumah ada tujuh orang. Hanya sagu sisa dan daun teh yang so agak basi. Mau tidak mau, harus ambil kasbi di tetangga.”

Anaknya mengangguk serius. Santi masih melanjutkan ceritanya.

“Jadi Papa, maksudnya Tete, mulai simpan hati di orang-orang. Tete mulai banyak belajar ilmu di pedalaman Halmahera. Salah satunya menjadi Suanggi.”

“Cuma gara-gara itu Tete mau jadi Suanggi?”

“Bukan. Ada banyak masalah. Tete memang kurang suka orang-orang yang so beli televisi, kulkas, kursi mewah, dan lantai keramik. Apalagi kalau tetangga so ada oto[8]. Tete bilang orang-orang yang so bisa beli barang-barang mewah itu cepat sekali sombong. Suka pamer-pamer. Suka tipu-tipu. Jadi dari situlah, Tete mulai suka ganggu orang yang punya banyak uang.”

Kedua anaknya berbarengan bilang ‘Oh’. Santi tersenyum.

“Tapi ada satu hal lagi yang Mama belum bisa cerita.”

“Ih Mama. Cerita sudah.”

Santi menarik napas panjang.

“Mama cerita sudah.”

“Baiklah. Gara-gara itu, Tete berjanji pada guru yang so bikin Tete jadi suanggi. Tete bilang sampai tujuh turunan di keluarga ini akan jadi Suanggi. Mama jadi Suanggi, Mama pe anak jadi Suanggi. Mama pe anak pe anak lagi juga jadi Suanggi. Begitu seterusnya.”

“Berarti torang[9] juga Suanggi lagi, Mama?”

“Iya.”

“Ih.”

Kedua anaknya berdiri dan berlari ke kamar. Menutup pintu dengan kencang. Air mengalir dari mata mereka lalu anak bungsunya teriak dari dalam kamar.

“Cukup Mama saja, jangan torang lagi!”

Santi menunduk dan memanyunkan mulutnya. Matanya mulai menyala. Bibirnya bergerak sendiri. Santi melihat jam di dinding. Jarum jam sudah berada di angka dua belas. Tengah malam. Tubuhnya sudah bergetar hebat. Rambutnya mulai terurai awut-awutan. Santi berjalan ke dapur dan keluar ikut pintu belakang.

***

Ia memang suka bangun lebih pagi. Santi sengaja bangun lebih pagi karena ingin membersihkan sisa-sisa ritual pembakaran batok kelapa dan menyan yang dilakukan hampir setiap malam. Ia hanya menurut pada tradisi yang sudah sering dilakukan Papanya.

Setelah menyapu sisa-sisa pembakaran batok kelapa, Santi bergegas menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya dan sebagiannya lagi ia taruh di piring kecil. Sebagiannya itu ia berikan pada tetangganya. Ada macam-macam makanan, tapi Santi lebih sering membawa jagung rebus dan pisang goreng.

Hanya saja, pada suatu waktu yang tidak pernah Santi bayangkan, ia tercengang oleh kata-kata tetangga barunya. Ia pikir tetangga ini sama dengan tetangga-tetangga yang ia kenal sejak lama. Santi membawa makanan dan ia tidak pernah lupa bertanya dan tentu pertanyaannya bagai tembakan.

“So ada kulkas?” tanya Santi, mengernyitkan dahi.

Tetangga itu menyahut pelan dan suaranya hampir tidak terdengar.

“Bagaimana mau beli kulkas, beli makanan saja susah. Di rumah ini hanya ada sagu sisa. Bahkan kami sangat bersyukur, pagi-pagi bisa dapat makanan seenak ini. Semoga makanan ini bisa bertahan sampai malam.”

Santi terkejut oleh jawaban itu. Ia memanyunkan mulutnya dan bertanya lagi, bahkan pertanyaan ini tidak hanya seperti tembakan. Ini lebih dari sekadar tembakan.

“Berarti ngoni[10] juga Suanggi?”

“Astaga. Istigfar!”

“Istigfar?”

“Maksud kamu siapa yang Suanggi?”

“Ngoni.”

“Saya tidak mengerti, Santi.”

“Orang yang tidak ada beras di rumah, orang yang hanya bisa bertahan hidup dengan sagu, orang yang tidak punya kulkas, orang yang tidak punya oto, orang yang hidupnya susah, saya percaya orang-orang itu pasti Suanggi.”

Tetangga itu tertawa lalu dengan cepat menutup mulutnya.

“Kenapa tertawa?”

“Bukannya terbalik, ya?”

Santi berpikir panjang dan sangat lama. Seolah-olah untuk menjawab itu membutuhkan cerita baru lagi tentang Suanggi. (*)

Halmahera, Juni 2016.
[1]Dipercaya sebagai setan manusia; suka melakukan ritual tertentu untuk memanggil roh-roh jahat
[2]Sambal khas Maluku; sebutan yang sama juga untuk daerah Manado
[3]Sudah
[4]Singkong
[5]Suka mencuri
[6]Punya
[7]Kakek
[8]Mobil
[9]Kami
[10]Kalian; sebutan untuk seseorang yang lebih tua

Cerpen Rajif Duchlun*

Pernah terbit di surat kabar Malut Post

*Rajif Duchlun, lahir dan dibesarkan di Halmahera.
Suka menulis fiksi. Sementara tinggal di Ternate.

Views All Time
Views All Time
286
Views Today
Views Today
1
Like