Loading...
SASTRA

Sajak-sajak Ham Achmad

MEMPERTANYA RINDU

 

Ini kesekian pagi

harumkan sunyi

 

Dulu kala, manisku candai hati

kelak rindumu terkirim ke sini, di sisi

rasuki diri jumpai hati

 

pagi kesekian melambai

membelai mendung termangu di tepi

pinta hujan tersandarkan, nyanyi merdu

layaknya diapit resah-risau

menanti air turun menderu

 

Ini kesekian hari, di suatu pagi

tiada air rindu tiba di sini

bayangmu pun enggan suguhkan harum seperti

dulu lagi. Tapi terasa baru sehari dalam seribu waktu

dan beribu jarak hari tak terhitung sejak bertemu

matipun wangikan yang belum sepenuh kaku

 

Cintaku, cintaku;

masihkah kau rindu, manisku,

tanyaku pada pagi yang bergegas pergi,

rindu pada hati yang tak sepenuh beku ini

yang masih menanti rindumu sampai

sekalipun mati

 

Gowa, 25 April 2010

 


 JOU RIMOI

(Kepada Junjunganku, Allah)

 

Diri terhempas

tertautkan pada bumi

di angkasa sunyi

 

Jiwa jadi bagian dari Engkau

Dilemparkan tersisip

ke suatu terpencil yang jauh

dalam cengkaram angkasa sepi

jauh di kedalaman galaksi

 

Mulailah aku renangi

seberangi angkasa mahaluas

dalam redup lalu gelap dingin ngeri

dengan tatapan datar yang meninggi

 

Rasanya aduhai

ini ngeri manis dimabuk Engkau.

 

Gowa, 26 April 2010

 

 

ALKISAH

[untuk para penambang emas di Gosowong]

 

Si kecil Alfira menatap lekat

wajah ibunya di pembaringan.

 

Lima bulan terakhir, Safia,

janda satu anak yang dicampakkan

seorang politisi itu keram tak bergerak

karena penyakit yang dideritanya, leukimia

yang tak jadi tiket keberangkatannya ke jannah

 

Bunga mungil, si kecil Alfira

melihat senyum kecilnya yang tipis

pada senyum ibunya yang tersusutkan kematian

 

Airmatanya bagai embun basah

Genangi mata kecilnya yang indah

Lalu memecah di kemerahan pipi manisnya

 

Dalam dekap kehilangan

lesung pipinya jadi keindahan, mawar merekah

yang dipersunting maut yang menyentak

isak tangisnya adalah irama yang tak dipahami

 

Alfira tak mengerti dari mana airmatanya

atau ke mana ibunya bepergian

 

Dalam ingatannya,

ibuku mati di ujung peluru

di tengah hutan ketika menambang batu

mencari emas. Aku bersembunyi

dalam pelukan ibuku.

Ibuku ditembak, ia mati.

Ibuku bukan pencuri!

 

Ternate, 2011

Penulis:

ham achmad

_______________________________________

HAM ACHMAD, lahir di Ternate. Pegiat literasi sastra.

Views All Time
Views All Time
354
Views Today
Views Today
2
Like
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *