/Rindu, Perempuan, dan Laut

Rindu, Perempuan, dan Laut

(Membaca Laut Maluku Lekuk Tubuhmu Karya Dino Umahuk)

Perempuan dan Rindu

Tersebab perempuan dan untuk perempuanlah agaknya buku kumpulan puisi Dino Umahuk yang berjudul Laut Maluku Lekuk Tubuhmu, didedikasikan. Ada perempuan dalam tiap lembar yang kita buka, mulai dari ilustrasi sampul depan, ilustrasi di antara halaman-halaman dan tentu dapat kita endus dalam puisi itu sendiri.Ada sejumlah nama perempuan dan nama panggilan atau seruan perempuan disebutkan: Halimah (yang paling sering), Putri, Solena, Yohana, Nona, Kekasih, Sinta, Oktovia, Adinda, atau si Nyong Manis. Kita takkan pernah menduga apakah nama-nama itu melekat pada pada diri banyak perempuan atau cuma seorang perempuan yang menjelma apa saja dalam benak sang penyair.

Dalam kumpulan puisi ini, berkelindan berbagai emosi karena rasa cinta lelaki yang begitu kuat pada perempuannya: harapan, kekecewaan, penantian, dan kerinduan yang melimpah ruah. Rindu di mana-mana, khususnya pada perempuan yang dicintainya. Tapi tak ada benci dalam bagian-bagian di antara puisi-puisi ini. Kecewa mungkin tersirat dalam satu dua puisi, tapi tak pernah rasa benci. Rasacinta yang menggebubu tak membuka ruang untuk kebencian pada apapun. Puisi cinta dengan sejuta rindu, agaknya demikianlah gambaran kumpulan puisi ini. Bukan rindu genit mendayu-dayu yang biasa kita temui dilontarkan para lelaki perayu nan flamboyan. Namun, ungkapan-ungkapan rindu yang digunakan penyair menggunakan metafor-metafor yang menarik keluar rasa rindu dari pembaca sendiri. Menjadikan rindu penyair sebagai rindu pembaca.

Mari kita coba tengok larik-larik berikut: pada jarak yang sebegini menggila/ apa yang bisa kita perbuat selain merana/ jam dan kalender berbeda angka berbedanama/ siang dan malam detak asmara/ memperpanjang jerit di dada, siapa sangka/ muara seluruh cerita haruslah bersua muka (Tiada Beta Bisa Mau Lupa, hal. 21);  Seperti warna senja/ gairah di matamu/ selalu memanggilku pulang/ bagai hari-hari lalu/ yang tak pernah kita cemaskan/ kau tahu Halimah, rindu itu abadi di sini/ meski malam datang menggelapi (Seperti Warna Senja, hal. 61); di sini ada rindu melintir-lintir seolah mabuk pada pelayaran laut yang ombaknya amuk (Manifesto Rindu, hal. 91).  Tak lain kita akan dapat menangkap dan terlebih lagi merasakan rasa sakit yang membelit hati lelaki ini karena merindu.

Penyair dengan segenap cinta pada sang perempuan memungkinkannya memilih diksi-diksi penuh pemujaan terhadap sang perempuan. pilihan kata yang memuja si perempuan baik fisik maupun hal lainnya muncul di sebagian besar puisi. Misalnya: adakah helai bulu matamu yang jatuh di pelipis ketika rindu datang menderu? (Telegram Rindu, hal. 19); di rahimmu sebuah taman laut meriwayatkan rindu/ sebab engkau adalah kesabaran tak terbantah/ yang selalu memintaku tinggal sejenak lebih lama/ yang selalu melepasku berlayar dengan dada bergetar (Di Rahimmu Sebuah Taman Laut Meriwayatkan Rindu), hal. 26-27); seumpama malam yang karam/ tersebab gerhanadi matamu/ malam Kamis itu aku tersesat/ mencari jejak yang pernah membekas. Di sini (Sajak Gerhana, hal. 49); di air-air di pasir-pasir tanah Ambon nan permai/ aku rindu pada nona yang aduhai/ hitam manis rambutnya tergerai/ nyiur melambai lelaki berandai/ padamu jua segala hasrat terlanjur sampai/ biar mahar terbayar tunai (Biar Mahar Terbayar Tunai, hal. 71).

Lebih lanjut, dan yang akan menjadi perhatian dalam tulisan Saya ini adalah bagaimana penyair memilih diksi yang mewakili perempuan dalam menggambarkan laut –sesuatu selain perempuan yang menjadi tema utama kumpulan puisi ini, dansebaliknya diksi yang mewakili laut untuk menggambarkan perempuan. Pada beberapa puisi, tampaknya imaji tentang perempuan dan laut coba dilebur penyair. Seakan-akan ketika kita membicarakan laut, kita juga akan menangkap kesan femininitas dari sana. Atau saat membicarakan perempuan, ada nuansa laut yang tertangkap. Dalam puisi-puisi itu, laut menjelma perempuan, dan perempuan menjelma laut. Di sinilah agaknya keunikan kumpulan puisi ini. ia coba mengeksplorasi hubungan-hubungan yang mungkin timbul dari perlintasan imaji laut dan perempuan.

Di sisi lain, penggambaran laut tidak secara maskulin menimbulkan kesan bahwa, pandangan penyair terhadap laut sangat di pengaruhi oleh emosi-emosi cintanya terhadap perempuannya. Bahwa bagi penyair, laut dan perempuan memiliki dimensi yang sama yang membawanya pada lingkaran cinta yang tak ada habis-habisnya.

 

Perempuan dan Laut

            Ada dua puisi yang Saya ambil dari kumpulan puisi Laut Maluku Lekuk Tubuhmu untuk Saya ulas dalam tulisan ini sebagai perwakilan dari puisi-puisi yang membicarakan perempuan dan laut sekaligus. Saya akan memakai metode stilistika dengan melihat diksi (leksikal) apa yang dipilih oleh penyair? Konotasi macam apa yang mungkin timbul dari pemakaian diksi-diksi tersebut? Bagaimana diksi-diksi tersebut membentuk sebuah gambaran interpretatif tentang perempuan dan laut, laut dan perempuan. Saya akan membahas dua puisi yang saya anggap paling mewakili karakter puisi yang saya singgung di atas. Ketiga puisi teresebut sekilas menggunakan sejumlah kata yang mewakili perempuan dan kata yang mewakili laut.

Puisi pertama:

Sajak Hitam Laut Maluku

di ramping tubuhmu yang meliuk teluk

telah kutemukan butiran garam dari kisah purba

tentang sejarah yang tak tercatat pada layar

dari kekalahan para lelaki yang menyingkir dari laut

tentang Robodoi, Yopi, Pilatu dan Lalaba

yang lari pulang karena kalah tarung lalu mati

di kesunyian pantai dan tak disebut lagi Bajak Laut

 

di ranum bibirmu yang melancip bagai tanjung

lelaki laut melarikan cinta dari liarnya hantaman ombak

ke pasir pantai yang menawarkan pilu

dari kejaran kapal uap VOC yang menderu bagai hantu

hingga tiba di ketubiranmu  sebagai jerit kekalahan

yang menggulung aku dan kamu dalam rindu

 

tak ada bunyi pun tak boleh ditulisi

sebab kisah ini haruslah memilih sembunyi

seumpama sembunyinya bajak laut leluhurku

dari kejaran tentara kompeni, kau tahu mengapa?

sebab angin yang berkibaran di matamu

dapat menumbuhkan amuk yang mematikan

anak-anak puisi yang kini meranum di telukmu

 

dan malam itu sayang, rembulan begitu ranum di wajahmu

sebab Tuhan pun enggan menitipkan duka

bagi cerita yang mungkin saja berhala

atau barangkali terlampau cahaya

untuk dicatat sebagai dosa, kita berdua

 

di runcing alismu yang berujung pada batu

kitasama tahu tiada airmata yang mampu

menghambarkan muara ketika sejarah kita buat

lalu kau menempanya sebagai jejak sebagai sajak

yang kekal di rahim pertiwi sampai nanti, sampai mati

 

Dalam puisi ini, penyair memilih diksi-diksi yang mewakili perempuan, di antaranya: ramping tubuhmu yang meliuk, ranum bibirmu yang melancip, rembulan begitu ranum di wajahmu, di runcing alismu, dan rahim pertiwi. Dari pilihan kata yang diambil penyair, kita bisa melihat betapa kuatnya imaji keperempuanan yang dibangun di dalam puisi ini. Tubuh yang meliuk, bibir yang ranum, wajah yang seperti rembulan, alis yang runcing, rahim pertiwi adalah diksi yang menunjukkan hubungan langsung dengan fisik perempuan. terdengar seksis memang, namun terlepas dari itu, diksi-diksi yang dipilih telah meneguhkan perempuan sebagai titik penting puisi ini. yang menarik kemudian adalah bagaimana penyair menjalin diksi khas perempuan itu dengan diksi-diksi yang mewakili laut, titik penting lainnya dari puisi ini: di ramping tubuhmu yang meliuk teluk, di ranum bibirmu yang melancip bagai tanjung, anak-anak puisi yang kini meranum di telukmu, di runcing alismu yang berujung pada batu.

Menjalinkan diksi laut dengan diksi perempuan membawa konsekuensi bercampurnya pemaknaan terhadap dua elemen itu. Pada akhirnya kita akan memaknai apakah si aku-liris sedang berdialog dengan perempuannya atau lautnya.Puisi ini, jika kita melihatnya sebagai percakapan satu arah yang dilakukan aku-liris dengan laut maka kita dapat merasakan besar cinta si penyair pada laut mengimbangi cintanya pada seorang perempuan, bahkan lebih. Keindahan laut disandingkannya dengan keindahan perempuan. Aku-liris melihat laut menyimpan kekalahan-kekalahan orang-orang yang lari darinya dan dengan agungnya tetap menjadi laut yang memesona.

Di sisi lain, jika kita melihatnya sebagai percakapan aku-liris dengan perempuannya, maka jelas tampak pemujaannya terhadap perempuan tersebut. Menyamakannya dengan laut yang tetap memesona setelah sekian lama mengalami berbagai hal dalam hidupnya.

 

Laut Maluku Lekuk Tubuhmu

 melayari laut Maluku adalah melayari keindahan tiada habis

bagai melayari lekuk tubuhmu yang aduhai

setiap ceruk dan arusselatnya kuhafal betul hingga ke tepian, bibirmu

bagai ritus kebudayaan tepian-laut yang merapal mantera pulang

yang menyadarkan setiap pelaut dari buai

desau angin buritan yang menari di atas buih di atasombak

 

menyelami laut Maluku adalah menyelami kedalaman nan biru

bagai menyelami dalam cintamu yang penuh warna-warni

setiap batu, bunga karang dan ikan melagukan tasbih cinta padamu

bagai ritus kerajaan laut yang menjadi sahabat sekaligus rumah

tempat para pelaut merintihkan nasibnya di tepian ombak

sebab kau tahu sayang, halaman rumah kita bukan alang-alang

 

merenangi laut Maluku adalah berenang di hangat pelukmu

bermanja di selat dan teluk di debur ombak, debur jantungmu

buai angin pantai , kicau camar gesekan daun bakau, ah, desah nafasmu

bagai puisi dari gunung yang berakhir di lautan dalam keindahan

sebab engkau adalah sahabat sekaligus rumah

tempat aku pulang dan bermanja di pelaminan dengan sungguh

 

Dalam puiisi ini jelas bahwa aku-liris membicarakan laut, laut Malukunya. Meski begitu, sama dengan puisi di atas, penyair menggunakan diksi yang mewakili perempuan: bagai melayari lekuk tubuhmu yang aduhai, bibirmubagai ritus kebudayaan, merenangi laut Maluku adalah berenang di hangat pelukmu. Penyair mengumpamakan laut seperti kekasihnya, si perempuan –jika kita mengacu pada kata lekuk dan bibir yang biasanya diasosiasikan kepada perempuan. Namun, yang menarik adalah ketika penyair mengumpamakan laut dengan perempuan kekasihnya, penyair membangun kesan mental tentang laut yang feminis. Hal itu cukup menarik karena laut justru lebih identik dengan maskulinitas. Bagaimana badai dan ombak tinggi yang biasa terjadi di laut adalah simbol-simbol maskulinitas. Dan para pengarung laut, pelaut dan bajak laut adalah kelas lelaki-lelaki perkasa yang jelas-jelas meneriakkan maskulinitas mereka.

Puisi ini dan banyak puisi lain di kumpulan puisi ini telah membangun kesan mental feminis yang cukup kuat terhadap objek yang biasanya dimaknai secara maskulin seperti laut. Kita bahkan bisa membaui nuansa femininitas ketika penyair menggambarkan tentang  negerinya. Pada puisi Cahaya dari Timur misalnya penyair menyebut untuk negeri. Ibu kandung kami. Dan ketika membicarakan tentang lelaki-lelaki, ia menyertakan kekasih mereka. Seperti Dominggus Syaranamual yang kekasihnya yang begitu setia dalam puisi Dominggus Syaranamual, atau Aan Mansyur yang diharapkan mencari istri dalam puisi Assikalibineng dan Api yang Bekerja di Mata Aan Mansyur.

Tentu saja kuatnya kesan feminis ini bagi Saya bukan sesuatu yang melemahkan puisi-puisi di kumpulan puisi ini, namun justru menguatkan terutama ketika penyairnya adalah seorang lelaki. Saya percaya hanya lelaki yang bisa menghargai perempuan lah yang sudi memenuhi ruang puisi-puisinya untuk memuja kaum perempuan.

Wallahua’lam.

Penulis:

Dewi Alfianti*

 Dewi Alfianti

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Lambung Mangkurat

 

 

TAGS:
Views All Time
Views All Time
350
Views Today
Views Today
1
Like