/Putra Bacan dan Berdirinya Medan Prijaji

Putra Bacan dan Berdirinya Medan Prijaji

Medan Prijaji, mingguan pelopor perlawanan pribumi terhadap bangsa penjajah, senjatanya bukan campuran mesiu, bukan pula benda tajam yang diasah siang dan malam, namun sejatinya senjatanya tak kalah mematikan dari lontaran peluru, tak kalah tajam pula oleh belati mampu menembus apapun. Senjatanya adalah kata-kata.

Jika subcommandante Marcos baru mengatakan bahwa kata adalah senjata pada titimangsa akhir abad 20, Tirto Adhi Soerjo, si empu dari mingguan ini sudah membuktikannya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sebab itulah ia disebut Sang Pemula.

Sepanjang sejarahnya, media yang lahir pada tahun 1907 ini sudah mengadvokasi 225 orang dari bermacam-macam latar, mulai dari penjual di pasar hingga para pembesar daerah, termasuk para raja.

Sampai saat ini Medan Prijaji dianggap sebagai fondasi awal bagaimana jurnalistik Indonesia terbentuk, titik tolak pers sebagai wadah perlawanan.

Namun siapa yang menyangka bahwa media tersebut lahir dari sebuah perjalanan empunya ke sebuah pulau di timur Indonesia, pulau yang belakangan masyur karena keindahan batu alamnya: Bacan.

Tirto Adhi Soerjo, orang mengenalnya sebagai bapak pers Indonesia, lahir dan besar di dalam kerangkeng kehidupan priyayi namun tak memilih menjadi abdi pemerintah selayaknya saudaranya yang lain, ia memilih bergulat dengan tinta dan cinta, tinta yang menggoreskan kecintaan pada keadilan, kecintaan pada saudara sebangsa. Dari kejuangannya itu, ia bahkan tak sempat menyelesaikan pendidikan di sekolah kedokteran.

Pada sebuah pengembaraan Tirto, entah bagaimana awalnya, terdampar di Bacan, di pulau inilah ia kemudian berkenalan dengan keluarga kesultanan Bacan, tepatnya menikah dengan salah-satu putri kesultanan, yakni Princess Fatimah, anak dari Sultan Mohammad Sadik Sjah. Jika Anda pernah sekali membaca karya fenomenal tetralogi buru karya sastrawan nomor wahid Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, tentu Anda tak akan asing dengan nama ini, dalam tetralogi tersebut Pram mengubah nama Princess Fatimah sebagai Princess van Kasiruta, berdasar dari pulau utama kesultanan Bacan waktu itu.

Perjalanan Tirto ke Bacan tak hanya memperoleh seorang istri namun juga dengan perkawinan itu hak forum privelegiatum-nya pulih kembali, oleh karena itulah ia kerap bergurau dengan menyebut diri sebagai Prins van Batjan.

Selain itu, perjalanannya ke Bacan juga membuahkan atau juga bisa dikatakan membentuk pribadinya, selama perjalanan itu ia menyaksikan bagaimana keadilan mencapai batas nadinya, kemiskinan merebak di mana-mana, penyakit menyeruak membunuh penduduk setempat, semua itu karena kebijakan kolonial yang membinasakan komoditas unggulan; Pala dan Cengkih.

Pram berpendapat bahwa “Boleh jadi cerita-cerita kekejaman yang masih hidup turun-temurun di lingkungan para pemuka di Maluku telah membuat ia (Tirto) semakin keras terhadap kekuasaan kolonial”.

Nampaknya dalam perjalanan ke Bacan itulah ia kemudian merencanakan Medan Prijaji, yang sampai kini kita mengenalnya sebagai pelopor pers Indonesia. Jelas saja hal itu, sebab sepulangnya dari Bacan ia lantas merumuskan delapan butir gagasan yang kemudian  menjadi fondasi pembuatan Medan Prijaji.

Menurut saya, bukan hal yang berlebihan jika dikatakan bahwa tanpa pengembaraan Tirto ke Bacan maka, medan Prijaji tak pernah ada. Bukankah sebuah perjalanan memang menyimpan hal yang patut direnungkan?, sebagaimana perjalanan keliling Amerika yang memantapkan diri seorang Che Guevara?.

Lahirlah Medan Prijaji, mingguan yang sederhana dengan 22 halaman berukuran 12,5 x 19,5 cm, dicetak pada percetakan Kho Tjeng Bie, Pancoran, Batavia. Surat pembaca dan jawabannya menjadikan media ini tumbuh berkembang, hingga pada tahun ketiga Medan Prijaji mengejutkan banyak orang dengan membongkar skandal Aspiran Kontrolir Purworejo, A. Simon. Pembongkaran ini membuat geger Hindia-Belanda, bahkan diikuti juga sampai ke negara Penjajah itu.

Bagaimana Medan Prijaji terbentuk juga bukan hal yang banyak diketahui. Bahwa gagasan saja tak akan cukup membuat sebuah media, ia perlu modal awal untuk proses percetakan, dan di sini juga kita bisa menemukan andil seorang putra Bacan dalam melahirkan Medan Prijaji.

Modal awal penerbitan media penting ini diperoleh dari dua pembesar, pertama adalah Bupati Ciganjur yakni R.A.A Prawiradiredja, dan yang kedua adalah Oesman Sjah, SultanBacan yang notabene adalah saudara laki-laki Prinses Fatimah, yang berarti juga iparnya Tirto. Oesman Sjah memberikan modal sebesar f 500,-.

Tenaga dan modal Oesman tak hanya berhenti saat pembentukan Medan Prijaji saja.

Pada tahun pertama karena nafsu dan semangat Tirto dalam penerbitan hingga ia lupa bahwa manajemen juga sangat diperlukan dalam tatakelola usaha, hal ini memang wajar saja, alhasil hutang sebesar tujuh kali lipat harus ditanggung oleh Medan Prijaji, iklan yang sedikit jelas saja tak mampu menutupi hutang tersebut.

“Namun biang keladi kesulitan keuangan Medan Prijaji adalah terlalu besar nafsu Tirto Adhi Soerjo untuk memajukan bangsanya dengan secepat mungkin melalui daya cetak”. Tulis Pram dalam bukunya “Sang Pemula”.

Untuk menyelamatkan media ini, terjadilah kerja sama antara Medan Prijaji dengan Firma H. Arsad & Co. Sehingga pada Senin 30 November 1908, ditemani oleh H.M Arsad dan Oesman Sjah, Tirto bertandang ke notaries Marien John untuk mengubah bentuk Medan Prijaji menjadi NV. Ini menjadikan Medan Prijaji sebagai NV pribumi pertama, NV sendiri adalah semacam PT pada jaman Belanda. NV tersebut juga mendapat pengesahan dari pihak pemerintah Hindia-Belanda pada 10 Desember 1908.

Dalam NV pribumi pertama ini pun, putra Bacan memperoleh andilnya, Oesman Sjah adalah redaktur Medan Prijaji, sedangkan H.M Arsad sebagai direktur. Sayangnya tak lama setelah pendirian NV tersebut sultan Oesman Sjah melakukan perjalanan ke Eropa melalui Siberia, perjalanan yang dibiayai oleh NV Medan Prijaji.

 

Serangan Kekuasaan Terhadap Medan Prijaji

Medan Prijaji memang tak berumur panjang, pada 22 Agustus 1912 Medan Prijaji gugur secara dramatis. Pukulan demi pukulan diterima oleh Medan Prijaji karena konsistensinya dalam melakukan pembongkaran skandal. Salah satunya dalam terbitan 17 Mei 1911 yang menuding Bupati Rembang, Raden Adipati Djojodiningrat, yang juga merupakan suami dari R.A Kartini, melakukan penyalahgunaan kekuasaan.

Banyaknya serangan terhadap Medan Prijaji ini menyebabkan publikasi yang tidak menguntungkan, lalu juga masalah di bidang niaga,

“Iklan dari perusahaan besar mendadak membatalkan tempat. Para Finansir Eropa menolak memberikan kredit”. Tulis Pram dalam sub-bab berjudul Akhir Medan Prijaji.

Medan Prijaji memang tak panjang umurnya, namun tidak bisa tidak dikatakan bahwa media ini telah memberikan pengaruh yang besar terhadap sejarah berdirinya pers di Indonesia, sejarah ihwal perlawanan menggunakan kata-kata, tentang diksi yang mampu merangsek ke permuakan hingga ditakuti.

Tirto lantas selama bertahun-tahun tenggelam dalam sejarah penyetiran, sebuah usaha Kolonial untuk menghilangkan namanya dari masa silam, adalah Snouck Hurgronje dan Rinkes, dua ilmuan Belanda yang menjadi otak dari segala cara melenyapkan pelopor ini, dan tentu saja dengan begitu pula sejarah putra Bacan yang turut andil dalam perlawanan ini pun terlupakan.

 Penulis:

Rizal Syam
Rizal Syam
Views All Time
Views All Time
694
Views Today
Views Today
1
Like