/Puisi November

Puisi November

Maka salahkah aku bila kukirim puisi untuk memastikan perjalanan kita?

Benarkah pertemuan adalah muara semua rindu?

Sedangkan doa-doamu saja sudah cukup menuntaskan segalanya. Seperti ucapanmu pada suatu malam yang remang, tentang teh manis, anak-anak yang ke sekolah, dan senyummu yang kulihat setiap kali aku bangun dari tidur malam.

Dan kutanyakan lagi pada dadaku, benarkah pertemuan adalah muara semua gelisah?

Sedangkan mendengar suaramu saja sudah cukup membayar risau yang membelah Dramaga dan Halmahera. Maka salahkah aku, bila kukirim puisi ini untuk memastikan perjalanan kita?

Seperti memastikan jalan menuju matamu, juga suaramu yang kudengar lebih dekat, sangat dekat.

“Besok, aku buatkan teh manis lagi, ya, Sayang.”

Dan kupukul dadaku sendiri

Berlayarlah aku ke silam; tempat di mana aku pernah jatuh berulang kali. Aku tahu, di sana aku hidup tak mempedulikan layar sampan, tapi entah, setiap kali kukirim puisi ke langit, selalu saja aku kembali terkulai. Luruh. Dan kupukul dadaku sendiri, berkali-kali. Sungguh, berkali-kali.

Bahwa takdir tak pernah meminta apa-apa

Entah, pada siapa kualamatkan rindu, sedangkan aku tak tahu jalan kembali menuju hatimu. Di sini, setiap perjalanan dihentikan nasib, walau aku mengerti puisi menjadikan segalanya kembali utuh. Tapi siapa yang bisa memastikan, bahwa takdir tak pernah meminta apa-apa, selain rumah yang bernama keikhlasan. Sungguh, aku ingin menujuh rumahmu. Tanpa peta, tanpa alamat.

Atau aku yang terlalu sering memberi alasan?

Lelaki siapa yang mampu menahan bila perempuan sudah berkali-kali menagih rindu?

Tapi, waktu selalu punya cara untuk memastikan perjalanan. Apakah kita dihempaskan takdir?

Jangan paksa lelaki menyusun nasib, sedangkan ia belum pandai membaca arah. Lalu menepi kemanakah kita?

Laut memang terlalu pedih membentangkan risau. Namun percayalah, doa-doa ke langit untuk menawar segalanya. Atau aku yang terlalu sering memberi alasan?

Aku hanya bisa menaman kasbi dan jagung

Kalau nanti pohon-pohon sudah digusur dan laut kita mulai tercemar, apakah kau masih mau menemaniku?

Aku hanya bisa menanam kasbi dan jagung. Aku mengerti, kau tidak mungkin mau bekerja di pabrik dan menjadi buruh di sana. Aku juga tak akan rela membiarkan perempuan secantikmu harus menghabiskan waktumu untuk membuat bos-bos pabrik menjadi kenyang dan lupa diri.

Aku ingin, kau di sini, menemaniku menyeduh teh sembari menatapku dalam-dalam. Pada mata ini, aku menyimpan sepotong hatimu. Kebaikanmu. Dan semua kesedihanmu yang kau simpan rapat-rapat di dadamu.

Bersabarlah.

Penulis: Rajif Duchlun.

 

Views All Time
Views All Time
124
Views Today
Views Today
1
Like