/Perempuan Pulau

Perempuan Pulau

BELUM banyak yang mengenal Anindita S. Thayf. Perempuan kelahiran Makassar ini berani sekali menyoal peradaban Papua lewat sosok Mace dalam novel Tanah Tabu yang ia tulis delapan tahun lalu. Seperti yang ditulis Suara Merdeka, “Tanah Tabu menyapa pembaca dengan narasi-narasi kritis tentang perempuan, kapitalisme, patriarki, dan kekuasaan.”

Barangkali, Anindita sedang mengingatkan kita, bahwa Mace di Papua—seperti yang ia kisahkan dalam novelnya—sesungguhnya belum mati di bawah pengaruh laki-laki. Sebagaimana yang ia sebut, bahkan berkali-kali ia tegaskan di dalamnya, bahwa kebanyakan laki-laki timur memang suka pulang ke rumah dalam keadaan mulut bau tuak. Kita tentu sudah bisa mengerti, dalam keadaan yang seperti itu, perempuan hanya bisa terus menyaksikan lebam di wajahnya.

Bahkan, kisah-kisah pilu ini teramat dekat dalam keseharian kita. Anindita sebenarnya tidak sedang menulis fiksi. Mungkin ia tidak mengarang, ia menulis sebuah kenyataan. Bahwa perempuan kerapkali masih berada dalam pengaruh patriarki.

Meski kita sudah berada pada suatu era yang di dalamnya tak ada lagi batasan pertemuan dan dunia yang menurut Yasfar Amir Piliang sudah sangat artifisial, kita masih saja menemukan banyak keprihatinan untuk perempuan kekinian. Kierkegaard, seorang filsuf Denmark ada benarnya, inilah kebelumselesain dan perjuangan keberadaan manusia; manusia sejatinya sedang dalam perjalanan menuju keberadaannya yang sejati atau autentik. Barangkali, perempuan kita masih terus berjuang mendapatkan kesejatiannya.

Saya menduga, Anindita sedang mengabarkan pada kita, bahwa perempuan-perempuan pulau memang identik dengan tekanan dan perkelahian-perkelahian yang belum usai. Sebagaimana Mace di Papua yang harus sabar siang-malam menyaksikan suaminya pulang dalam keadaan mabuk dengan suara-suara keras. Penggambaraan ini juga bisa dibaca dalam novel Blindness yang ditulis oleh Jose Saramago. Perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasrah dalam menghadapi hegemoni laki-laki.

Anindita pernah menulis tentang hal ini. Baginya, Saramago masih menempatkan perempuan seperti zaman Freud, yaitu sosok liyan yang tidak memiliki kehendak untuk melawan tiran dunia maskulin. Menurutnya, Saramago seharusnya bisa menghadirkan pembanding atau sosok perempuan yang kuat menghadapi dunia patriakal sebagaimana Nyai Ontosoroh karya Pramoedya dan Ursula Iguaran ciptaan Gabriel Garcia Marquez.

Kehidupan perempuan pulau yang digambarkan Anindita sebenarnya sudah mewakili nasib ribuan perempuan pulau yang masih berada dalam pengaruh patriarki. Hegemoni laki-laki turut dibantu oleh tradisi dan ajaran-ajaran yang dianggap sebagai sebuah keharusan.

Indonesia mengalami gejala ini sudah sejak lama. Dunia patriakal berabad-abad lamanya dipahat dan membuat banyak perempuan harus pasrah menghadapi pengaruh laki-laki. Kelompok feminisme liberal menyebutnya ini sebagai akar dari keterbatasan hukum dan adat. Masyarakat menganggap perempuan secara ilmiah kurang memiliki kemampuan intelektual dan fisik sehingga tidak diberi peran di lingkungan publik.

Upaya untuk keluar dari doktrin ini juga digambarkan oleh Ayu Utami dalam novel Larung. Keempat tokoh perempuan yang ditulis dalam novel tersebut, masing-masing mengalami ketidakadilan dan cara untuk lepas dari belenggu yang mereka alami. Seperti pada tokoh Yasmin, selain cantik dan rupawan, ia merupakan sosok yang cerdas. Yasmin adalah seorang pengacara dan aktivis. Dalam keadaan yang genting sekalipun, ia tampil superior menyelamatkan orang-orang yang dianggapnya benar. Meskipun ia mafhum, seseorang yang diselamatkan itu adalah selingkuhannya.

Barangkali, kita harus banyak belajar dari perempuan-perempuan kuat yang tidak pasrah pada hegemoni laki-laki. Kebudayaan pulau yang sejauh ini dianggap mengekang kemerdekaan perempuan mestinya diubah dengan cara-cara yang tidak patriakal. Sebagaimana yang dialami Aulia Halimatussadiah yang berhasil mendirikan sebuah penerbit indie dan menerbitkan 27 buku serta mendapat sejumlah penghargaan. Ia mengerti, pekerjaan menulis bukanlah pekerjaan laki-laki saja.

Orora Murib, seorang perempuan yang berasal dari tanah Papua juga membuktikan hal ini. Orora adalah seorang pengusaha dari Timika yang memulai kesuksesannya sebagai seorang pedagang sayur dan buah-buahan. Perempuan ini memilih untuk tidak berdiam diri di rumah dan berusaha memperjuangkan nasibnya sendiri. Dalam perjalanannya, ia berhasil mendirikan dua perusahaan dan membuka lapangan pekerjaan untuk perempuan-perempuan lainnya yang masih hidup di bawah tekanan laki-laki.

Aulia dan Orora adalah potret kecil kehebatan perempuan. Sementara itu masih banyak lagi, perempuan-perempuan yang menempuh jalan hidupnya dengan beragam cara. Bahkan di beberapa Negara, sejumlah perempuan memilih mengepalkan tangannya dan ikut berjuang bersama kelompok masyarakat yang disebut Karl Marx sebagai kelas proletariat.

Seperti yang dilakukan Camila Vallejo, seorang perempuan yang menjabat sebagai presiden mahasiswa Chili dan juru bicara utama Konfederasi Mahasiswa Chili. Atau paling tidak, kita bisa belajar dari semangat serta kerja keras yang sudah dilakukan perempuan-perempuan di kepulauan Halmahera, yakni perempuan-perempuan yang memilih ke laut untuk mencari ikan dan ke hutan untuk mencari gaharu. (*)

Penulis: Rajif Duchlun |Redaktur I jalamalut.com

Views All Time
Views All Time
130
Views Today
Views Today
1
Like