/Perempuan Halmahera dan Mitos Kecantikan

Perempuan Halmahera dan Mitos Kecantikan

Di cover depan buku Mitos Kecantikan, karya Naomy Wolf, perempuan lulusan Yale University. New York Times membubuhkan komentar pendeknya, “Tidak ada karya lain yang begitu jujur membeberkan kebingungan yang di teror secara fisik dan emosional oleh kebutuhan untuk tampil layaknya bintang Film.”

Saya terperanga dibuatnya, Naomy seolah-olah mencapakkan idealitas yang selama ini saya gadang-gadang sebagai kemutlakan. Adalah kecantikan. Perempuan haruslah modis, berambut pirang, berkulit halus, putih nan bersih. Hidup perempuan tidaklah sempurna, andai tidak mengunjungi salon, rumah kecantikan. yang menyediakan berbagai fasilitas kosmetik.

 Kecantikan begitu mahal, ketika berelasi dengan pasar. Apa yang saya gadang selama ini tentang kecantikan adalah buah produksi pasar yang berhasil masuk bersarang ke dalam rongga otak saya. Mata lelaki saya kemudian jadi sangat abu-abu. Efaknya jelas, perempuan kampung, yang jauh dari hiruk-pikuk budaya perkotaan dalam konstruksi saya adalah “keterbelakangan”.

 Apa yang saya alami, oleh Jeand Baudrillard, Filsuf asal Prancis menyebutnya Simulacra. Tentang penciptaan kenyataan melalui model konseptul atau sesuatu yang berhubungan dengan mitos. Model ini menjadi faktor penentu pandangan saya tentang kenyataan yang di tayangkan melalui pelbagai media. Disinilah kekaburan nampak di antara batas simulasi dan kenyataan. Nubuat dari simulakra menghadirkan hiperreality, yang nyata dan tidak nyata mejadi tidak jelas.

 Kebudayaan industri menyamarkan jarak antara fakta dan informasi, antara informasi dan entertaiment dengan segala akses politiknya. Membuat kita tidak sadar akan pengaruh simulasi yang dikacaukan media. Lini masa semacam ini adalah agenda paling mematikan bagi transformasi masyarakat yang berakar urat pada kebudayaannya sendiri. Sebagai tanda (sign) simulasi beroperasi di ruang ketidaksadaran, membuat kita kerap kali berani mencoba hal baru yang di tawarkan simulasi membeli, memilih, bekerja dan semacamnya.

Cantik Itu Luka

 Sebagaimana dalam pengembaraan imajinasi Eka Kurniawan. Eka pun sampai pada kesimpulannya, Cantik itu Luka.  Afrizal Malna, penyair berhaluan Posmo, juga ikut kritik dalam puisinya Gadis Kita.

O gadisku kemana gadisku. Kau pergi ke kota lipstik gadisku. Kau pergi ke kota parfum gadisku. Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku. Tubuhmu keramian pasar gadisku. Jangan buat pantai sepanjang bibir merah gadisku. Nanti engkau di bawah laut, nanti engkau dibawah sabun. Jangan tempel tenda-tenda jalan pada lalulintas dadamu gadisku. Nanti polisi marah. Nanti polisi marah. Nanti kucing menggigit pita rambutmu. Jangan mau tubuhmu adalah plastik warna-warni  gadisku. Tubuhmu madu, tubuhmu candu, nanti kita semua tidak punya tuhan, nanti kita semua di bawah hantu gadisku. Kita semua cinta padamu. Kita semua cinta padamu. Jangan terbang terlalu jauh ke pita-pita rambutmu gadisku, ke renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu. Nanti ibu kita mati. (1985)

Dalam puisinya Joko Pinurbo, kita juga menjumpai kritik serupa, misalnya dalam puisi yang berjudul Doa Seorang Pesolek. “Tuhan yang cantik, temani aku yang sedang menyepi di rimba kosmetik”. Jokpin memandang kecantikan hadir sebagai berhala baru dalam pengaruhynya dengan modernitas, kecantikan di tengah khalayak dipeluk sebagai Tuhan. Di bait selanjutnya, Jokpin menulis, “Semoga kecantikanku tak lekas usai dan cepat luntur seperti pupur”. Nampak bahwa dalam kekaburan makna tersebut, ada perasaan cemas terhadap kutukan penuaan. Kecantikan dengan perangkatnya, kosmetik, pupur, minyak wangi, pengharum, salon, fashion, makanan, dan semua yang berhubungan dengannya berhasil memperdayai perempuan untuk tampil, setidaknya memenuhi konsep ideal “kecantikan” yang diproduksi masal oleh media. Dalam kadar tertentu, ikut mengkultuskannya sebagai “iman”.

Kecantikan “Kosmis” Perempuan Halmahera

Dalam satu perjalanan pulang dari Tobelo, dan seterusnya ke Sofifi. Sepanjang jalan saya menjumpai perempuan muda, remaja, dan beberapa ibu-ibu sedang mengenakan saloi turun dari punggung gunung, sambil bercanda berbaris pulang menuju kampung. Beberapa di antaranya sedang mengunyah pinang-sirih, sehingga nampak dibibirnya, aduhi, merah maron.

Saya juga menjumpai, di teras rumah, atau di pantai, beberapa jojaru (anak gadis) sedang asik saling mencari kutu rambut, dibawah kibaran rumbia. Beberapa diantara mencari Bia, kerang di nyare-nyare (batu karang) di sepanjang pantai guraping.

Jauh dari keriuhan, hiruk-pikuk perkotaan, mereka bebas menjadi dirinya sendiri. Bebas dari tekanan kemoderenan, bebas dari kecemasan ke-tua-an dan kutukan silikon, cangkok payudara, dan operasi plastik perwajahan.

Mereka tidak dihantui arus idelisasi kecantikan, akarnya tidak tercerabut dan tidak lekang dimakan hama mitologi kecantikan. Kecantikannya begitu kosmis dan ramah lingkungan. Menyatu dengan alam, sekaligus menyatu dengan pencipta. Cantik bagi perempuan halmahera bukanlah luka, seperti pengembaraan imajinasi Eka Kurniawan. Cantik itu fitrah. Rahim bersemainya cinta kasih.

Tak terasa, saya telah sampai di pelabuhan Kota Baru, Ternate. Kopi senja telah menanti. Segera saya balik haluan, menyeruput Kopi sambil menikmati sunset di perpustakaan Independensia, mengahiri malam di sini.

Penulis: Indra Talip

Views All Time
Views All Time
211
Views Today
Views Today
1
Like
2