/Para Perempuan Penjaga Literasi

Para Perempuan Penjaga Literasi

Tidak semua perempuan menyukai kegiatan literasi, apalagi sampai membuka lapak literasi di jalanan. Berbeda dengan tiga perempuan ini, mereka rela memilih menghabiskan waktu malamnya untuk mengajarkan baca-tulis pada anak-anak yang belum berkesempatan menikmati bangku pendidikan.

SELASA 6 Desember 2016, saya berkesempatan bertemu dengan tiga perempuan tersebut, yakni Karmilawati Malawat (23), Muna Puasa (23), dan Nini Sulistiawati (21). Pertemuan itu berlangsung saat mereka sedang menggelar lapak bacaan gratis di Taman Nukila, Kota Ternate. Ila, sapaan akrab Karmilawati, kepada jalamalut.com menceritakan banyak hal tentang aktivitas mereka.

Sebelum menjelaskan panjang-lebar terkait aktivitas literasinya, ia tampak sigap mengatur buku-buku di atas bundaran Taman bersama kedua temannya tersebut. Buku-buku itu diatur berdasarkan kategori usia. Tapi, sepertinya mereka lebih cenderung pada bacaan anak-anak.

“Biasanya kami fokus mengajarkan baca-tulis untuk anak-anak,” katanya, sembari merapikan beberapa alat tulis dan buku lukis. Ila mengatakan, kegiatan tersebut rutin digelarnya setiap malam minggu, hanya saja beberapa pekan terakhir, cuaca di Ternate memang kurang bersahabat. Hujan kerap mengguyur dari pagi sampai malam. “Lumayan, malam ini cuacanya bagus jadi cepat-cepat buka lapak,” katanya.

Perempuan lulusan Akademi Perawat ini menuturkan, dirinya bersama Muna dan Nini sangat senang bisa menjadi guru bagi anak-anak yang belum berkesempatan menikmati bangku pendidikan.

Ila mengaku, ia awalnya sebenarnya bercita-cita menjadi seorang guru, bahkan ia sudah merencanakan akan melanjutkan kuliahnya dengan pilihan jurusan Keguruan. Hanya saja, pihak keluarga tidak menyetujuinya. “Meskipun saya orang kesehatan, saya lebih senang menjadi guru, bahkan ilmu saya ini sangat bermanfaat untuk anak-anak yang saya ajarkan,” katanya dengan nada pelan, seolah menahan kesedihan.

Meskipun bidang keilmuannya kesehatan, dirinya mengaku tidak masalah bisa menjadi volunter di Komunitas Literasi Jalanan. Ia dan kedua temannya itu memang sudah cukup lama bergelut dengan komunitas tersebut.

Terhitung dari tahun 2013, mereka sudah bergabung dan ikut melakukan kegiatan literasi. Komunitas yang dirintis oleh Adlun Fiqri, salah satu aktivis literasi yang pernah menjadi viral di media sosial ini, diakui aktif melaksanakan program literasi untuk anak-anak yang tinggal di pasar dan terminal.

Kebetulan yang Bermanfaat

Sejak awal sebelum bergabung dengan Komunitas Literasi Jalanan, Ila sudah sering mengikuti kegiatan kesenian di sejumlah komunitas, salah satunya Komunitas Taky. Ketertarikannya pada dunia seni inilah yang membuat dirinya banyak mengenal para seniman dan aktivis. Ila mengaku, ia hanya kebetulan bisa terlibat dalam kegiatan literasi. “Saya pikir ini kebetulan, karena saya awalnya juga tidak mengerti apa itu literasi,” katanya.

Tiga tahun lalu, Ila sebenarnya sering berkunjung di belakang Mall, salah satu pusat jajanan makanan, dan melibatkan diri bersama teman-teman komunitas seni. Lambat-laun, keakrabannya dengan Adlun  membuat ia mulai terbiasa dengan kegiatan literasi. Sebelumnya, Adlun juga aktif dalam kegiatan seni, seperti musik dan tarian lokal. Namun, Adlun kemudian berinsiatif mengajak beberapa kerabat dekatnya untuk membentuk komunitas yang bergerak di dunia literasi. Bahkan mereka mengaku, semangat tersebut membuat mereka bisa mendirikan sebuah rumah baca untuk anak-anak di seputaran pasar dan terminal. “Dulu kami pernah punya rumah baca, tapi sekarang sudah tidak lagi,” kenangnya.

Ila menceritakan, rumah baca yang pernah mereka bangun sebenarnya sangat bermanfaat untuk anak-anak yang belum berkesempatan menikmati bangku pendidikan. Hanya saja, rumah baca tersebut berdiri tepat di atas lahan pemerintah. “Mungkin untuk keperluan pembangunan, sampai-sampai digusur,” katanya.

Ila, Muna, dan Nini juga sering menggelar lapak bacaan gratis di belakang Mall, yang jaraknya juga tidak jauh dengan Masjid Raya Almunawar. Tapi, Ila mengaku, sekarang sudah takut menggelar lapak di lokasi tersebut. Tempat tersebut, katanya, sudah dibangun Polsek sehingga mereka takut ditegur pihak keamanan. “Kami takut nanti dibilang tidak ada surat izin,” ujarnya.

Selama bergelut di dunia literasi, ia memang banyak mendapatkan banyak pengalaman. Pernah, ia tidak bisa menahan air matanya saat menyaksikan langsung salah satu anak yang belum bisa baca dan tulis, tapi perlahan, dalam waktu yang tidak begitu lama, anak tersebut akhirnya bisa membaca dan menulis. “Kaka, lia ini, saya so bisa tulis ini e,” kisahnya, meniru ucapan anak tersebut.

Dalam satu kesempatan, lapak bacaan gratis yang mereka gelar di Taman Nukila juga pernah dikunjungi oleh Walikota Ternate, Hi. Burhan Abdurahman, bersama keluarganya. “Bapak Walikota pernah datang di lapak kami, mungkin karena sedang jalan-jalan jadi sempatkan diri untuk singgah,” paparnya. Tapi, menurutnya, meski Walikota memberikan apresiasi, nyatanya seringkali ditegur oleh pihak Satpol-PP. Awalnya mereka disangka berjualan buku, bahkan seringkali dituduh membuat kotor di Taman oleh Satpol-PP.

Mereka bertiga mengaku, meskipun sering mendapat cemoohan, mereka tidak peduli. Bekerja di jalanan sebagai seorang pegiat literasi, memang banyak mendapat tantangan. Ada pihak yang mendukung, ada juga pihak yang merasa tidak senang. “Kami tidak ada urusan dengan hal itu. Kami mengerti, kami memang perempuan yang seharusnya lebih fokus pada aktivitas perempuan, tapi kami merasa, pendidikan untuk anak-anak itu jauh lebih penting. Dan jujur, saya sangat bahagia bisa bermanfaat untuk orang lain,” kata Ila, perempuan yang juga dikenal memiliki suara bagus ini. (*)

Penulis: Rajif Duchlun

Views All Time
Views All Time
118
Views Today
Views Today
1
Like