/Orang-orang Kota dan Manfaat Ekosistem Mangrove

Orang-orang Kota dan Manfaat Ekosistem Mangrove

DUA hari lalu, tepatnya 10 Desember 2016, saya sempat berkunjung ke pantai Gambesi. Salah satu pantai di Kota Ternate yang tidak terlalu familiar. Saya curiga, barangkali karena substrat pantainya yang tidak memenuhi syarat wisata atau karena ia belum terurus dengan baik oleh instansi terkait.

Setiap sore, menurut penduduk sekitar, orang-orang sering batobo [mandi/berenang] di pantai tersebut. Hanya saja, saya melihat pantai ini sepertinya belum mendapat sentuhan dari pemerintah.

Beberapa orang mengaku, kebanyakan yang berkunjung ke sana adalah mahasiswa. Pantai ini memang tidak terlalu jauh dengan dua kampus besar di Maluku Utara, yaitu Universitas Khairun (Unkhair) dan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU).

Lokasi yang tampak tidak terurus inilah, yang menurut salah satu aktivis sosial Abdul Hadi, dalam sebuah diskusi sederhana di tempat tinggalnya, bahwa akan sangat berpengaruh pada lingkungan sekitar.

“Pantai yang kotor seperti itu akan membuat masyarakat sekitar merasakan dampak kesehatan yang kurang baik. Apalagi anak-anak kecil sangat rentan mendapatkan penyakit,” katanya.

Ia juga menitip pesan kepada saya agar menulis harapannya terkait dengan terbengkalainya pantai Gambesi dan dampak sosial yang dirasakan masyarakat sekitar.

“Pemerintah harus secepatnya mengantasipasi lingkungan yang berdekatan dengan pantai Gambesi, sebab ditakutkan akan menimbulkan masalah baru,” harapnya.

Pantai Gambesi diakui memang sudah menjadi tempat pembuangan sampah. Sepanjang pantainya banyak sekali sampah rumah tangga dan ranting kering pepohonan dari kawasan hutan mangrove yang diperkirakan hanya berjarak sepuluh meter dari garis pantai.

Sejumlah pohon kelapa juga tumbuh berjarak dan tampak satu-dua perahu nelayan ditambatkan. Menurut pengakuan beberapa orang yang pernah berkunjung ke sana, mereka sering melihat sejumlah orang sering mencari kepiting bakau. Sore itu, saya memang belum berkesempatan untuk bertemu dengan mereka.

Tapi dari perbincangan saya dengan penduduk sekitar, mereka mengaku sejumlah orang yang sering mencari kepiting tersebut, selain dimanfaatkan untuk kebutuhan makan sendiri, ada juga yang digunakan sebagai mata pencaharian.

Kendati pantai tersebut terdapat pepohonan mangrove yang juga bisa dimanfaatkan secara ekonomis, namun saya melihat kondisi ekosistemnya sudah mulai menurun. Hal ini diperkuat dengan penjelasan dari aktivis lingkungan Arman Ahmad, S.Pi kepada saya ketika sempat berbincang di kantin Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair.

Menurutnya, kondisi ekosistem mangrove di Kota Ternate memang sangat memprihatinkan. Ia memberikan hipotesa sederhana terkait dengan dampak pembangunan reklamasi dan persoalan yang ditimbulkan olehnya.

“Kondisi ekosistem mangrove di Ternate itu ada kaitannya dengan pembangunan reklamasi,” paparnya dengan wajah serius.

Arman yang juga menjabat sebagai Ketua Sanset Indonesia, memaparkan beberapa contoh kecil, seperti yang terdapat di pesisir Mangga Dua. Pembangunan reklamasi dan Pelabuhan Perikanan di sepanjang garis pantai di Kelurahan Mangga Dua membuat ekosistem Kota Ternate terancam menurun.

Daerah pantai Mangga Dua diakuinya, dulu memiliki ekosistem mangrove yang cukup baik, hanya saja setelah dilakukan pembangunan reklamasi daerah tersebut belum dilakukan pemulihan. Padahal, menurutnya, setiap jengkal wilayah yang sudah dilakukan reklamasi, terutama pemanfaatan pada kawasan mangrove, harus dilakukan upaya rehabilitasi.

“Seharusnya setiap pembuatan reklamasi pada daerah pantai yang bagus substratnya untuk kawasan mangrove, perlu dilakukan rehabilitasi oleh instansi terkait,” jelasnya.

Bahkan, ia mengaku dengan adanya reklamasi seperti itu akan menimbulkan masalah baru bagi perkotaan. Rutinitas orang-orang di kota memang kurang peduli terhadap dampak yang ditimbulkan oleh pembangunan reklamasi. Sampah domestik dan aktivitas industri membuat wilayah pesisir sangat rentan degradasi.

Mempertimbangkan Nilai Ekologis

Ia berharap, pembangunan reklamasi mestinya dilakukan secara matang dengan mempertimbangkan nilai ekologis. Selama ini diakuinya pembangunan kota tidak terlalu peduli manfaat ekologis. Padahal nilai ekologis, seperti yang terdapat pada ekosistem mangrove cukup bermanfaat untuk semua makhluk hidup.

Saya sempat membaca manfaat tersebut, seperti yang ditulis Wiharyanto (2007), ekosistem mangrove dapat menjadi pelindung dari dampak lingkungan termasuk mengurangi resiko gelombang dan sebagai tempat perlindungan biota. Selain itu, hutan mangrove dapat dimanfaatkan sebagai daerah destinasi wisata dan dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. (*)

Penulis: Rajif Duchlun

 

 

Views All Time
Views All Time
199
Views Today
Views Today
1
Like