Loading...
JELAJAH

Nikmatnya  Ikan Julung dari Perairan Maitara-Tidore

Awal dari tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca berkunjung ke kelurahan Ome, salah satu kelurahan di Kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore kepulauan, Provinsi Maluku Utara. Ngomong-ngomong soal Ome ? masyarakat tahu akan nama Ome pasti merujuk pada Pondok Pesantren Harisul Khairaat (Bumi Hijrah) yang tersohor di kawasan ini.

Tak hanya dari Maluku Utara, para masyarakat Muslim dari luar sana pun tahu soal Pondok Pesantren yang telah eksis sejak tahun 1992 dan banyak mencetak para alumnus santrinya di Maluku Utara. Namun kita takkan bicara soal sejarah lembaga pendidikan Islam ini melainkan aktivitas sosial masyarakatnya yang jarang kita ketahui di kelurahan yang memiliki pesona pantai indah di Tidore Utara ini.

Tahukah kita bahwa di kelurahan ini sebagian masyarakatnya dikenal sebagai penangkap ikan Julung yang ulung ? Bicara soal ikan Julung tentu pikiran kita pasti memikirkan letak dimana ikan ini didapat, bentuk sajiannya, serta nama-namanya yang sudah tren di pasaran lokal hingga nasional. Ikan yang bernama latin Hemiramphus Brasilliensis ini telah menjadi jenis makanan yang digemari masyarakat timur Indonesia, mengapa ? sebab hampir di Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara mengetahui baik akan kelezatan dan kegurihan ikan ini.

Ikan julung dan berbagai namanya

Ikan julung yang sangat digemari masyarakat Maluku Utara ini hampir memiliki banyak penamaannya. Di masyarakat Sulawesi mereka menyebutnya Ikan Roa, sedang di masyarakat Tidore mereka menyebutnya dengan nama terpisah. Ikan julung yang belum diolah dinamai Nyao ngowaro sedangkan yang telah diolah dengan cara pengasapan (Asar) kering yang mana mereka menyebutnya dengan nama Nyao beke, yakni produk olahan yang nantinya dijual di pasar tradisional guna kebutuhan lauk sehari-hari. Teknik pengasapan Nyao beke dilakukan dengan cara dijepit/ditusuk menggunakan ruas bambu. Masyarakat Tidore menyebutnya teknik Galafea.

Pada umumnya, nama olahan ikan julung asap kering Nyao beke tak begitu tren di masyarakat. Masyarakat lokal lebih nyaman mengenalnya dengan sebutan Ikan Tore.

Wahyudin Salim, seorang pemuda asal Ome, Tidore, yang mengaku masih sering menangkap Ikan julung ketika ditemui penulis bererapa hari kemarin mengatakan bahwa, ikan julung asapan sebenarnya tak tepat dikatakan Ikan tore, sebab menurutnya identitas ikan tore belum tentu berbahan ikan julung. Semua jenis ikan berukuran kecil yang diasapi dan dikeringkan bisa saja menggunakan nama ikan tore, sebab kalau ditelusuri dari namanya, nama ikan tore diambil dari bahasa lokalnya, yakni tore yang berarti kering, sedikit keras dan garing.

Dari Halmahera ke Tidore

Beberapa Ikan julung yang tersedia di beberapa pasar tradisional Tidore tak tentu dari Ome, sebab di Ome, kebanyakan hasil tangkapannya hanya sekadar pemenuhan makan sehari-hari, kecuali hasil tangkapannya yang melebihi kebutuhannya yang pada akhirnya dibawa ke pasar untuk dijual. Wahyudin mengaku, kebanyakan Ikan Julung di Pasar Tidore didapat dari Nelayan dari pulau Maitara dan Bacan. Ikan tersebut diambi dari perairan Halmahera (Depan Akelamo), bahkan hingga ke utara Ternate.

“Bahwa setiap perairan memiliki rasa ikan Julung yang berbeda, entah karena jenisnya atau kualitas tempat hidupnya. Namun warga Ome sendiri rata-rata sering memilih area tangkap di sekitar perairan pulau Maitara dan Tidore”. kata pemuda yang pernah mengenyam pendidikan Keperawatan di STIKES Mega Rizky Kota Makassar ini

Bermodal perahu ‘Jiop’

Ketika ditanya bagaimana menejemen kerja para kru nelayan dalam penjaringan Ikan Julung, seorang tokoh masyarakat asal Ome, Tauhid Usman pun ikut membagikan pengalamannya. Katanya, bahwasanya para kru nelayan dalam Satu perahu memiliki tugas masing-masing. Mereka tidak dibayar, melainkan dijasai dengan pembagian hasil tangkapan. Pak Tauhid mengaku bahwa perahu yang mereka gunakan selama menjala (menjaring) ikan Julung menggunakan jenis perahu sederhana dengan sebutan ‘Jiop’.

“Memang ada beberapa jenis perahu yang memiliki kenamaan lokal di sana, seperti Katinting, Jiop, Pajeko, Fiber”.

Menurutnya, semua beda menurut fungsi dan dan jenis mesin yang digunakannya. Untuk di kawasan Tidore Utara, penggunaan perahu jiop itu hanya di desa Ome. Dahulu ada di desa Tomalou dan desa pesisir Tidore Utara lainnya, namun sekarang so tar ada. Dan saya dengar, di Tidore Selatan khususnya di desa Cobodoe masih ada namun entah sekarang masih aktif atau tidak. Namun untuk Tidore Utara, Ome masih aktif menangkap Ikan julung” pungkas pak Tauhid yang juga mengaku kini berprofesi sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Ternate.

Pak Tauhid menambahkan bahwasanya “Kalau jenis katinting, adalah merupakan jenis perahu kayu kecil yang ditenagai mesin motor pasang sederhana. Hanya mampu dikendarai 1 hingga 3 orang, namun tak cukup menangkap ikan yang berat lagi banyak. Sebaliknya kalau perahu jenis Jiop adalah sejenis perahu kayu sederhana bertenaga mesin motor pasang dengan memiliki atap kecil serta ruang penampungan ikan di tengah bodi-nya. Ada jenis yang agak besar dan memiliki atap serta penampungan ikan yang cukup luas yakni Pajeko. Namun Fiber jauh lebih unggul karena memiliki ruang yang lebih besar untuk pendinginan ikan dan begitu modern dengan fasilitias mesin motor kemudinya, sayang kini jenis kapal motor Fiber yang dahulu dapat kita temui di pesisir kelurahan Tomalou sudah jarang kita ditemui” ujarnya menyayangkan.

Teknik unik penangkapan ikan Julung

Para nelayan Ome keluar menjala ikan pada waktu-waktu tertentu. Kadang mereka melaut pada sore hari dan pulang keesokannya, kecuali cuaca buruk. Sedang para Nelayannya adalah rata-rata para warga di kelurahan Ome itu sendiri. Ditanya soal bagaimana teknik mereka melakukan penangkapan Ikan, Wahyudin mengatakan bahwa para nelayan Ome menggunakan teknik jaring atau dengan istilah lokal Tidore-nya yakni ‘Ba soma’. Saat saya melihat seorang anak kecil turut serta dalam pelayaran penangkapan ikan julung, saya terhenyak dan penasaran, apa sebenarnya tugas anak itu selama berada di perahu Jiop nantinya. Dan saya bertanya soal hal itu padanya. Wahyudin menjelaskan bahwa anak itu tetap memiliki tugas yang diberikan oleh pimpinan krunya, sebab menurutnya penangkapan ikan julung wajib mengedepankan kerjasama tim, pula matang dengan penggunaan teknik penangkapannya.

“Pada perahu jiop, penggunaan jaring dan penarikannya murni menggunakan tenaga manusia, bukan mesin. Namun proses penjaringannya menggunakan Teknik jebakan, yakni dengan cara mengelabui arah ikan ke arah jaring dengan cara menuntun arah geraknya. Pada saat kelompok ikan telah dideteksi dan jaring telah di turunkan secara melingkar, seorang anak kecil atau anak muda biasanya diperintahkan oleh pimpinan kru Jiop untuk melompat ke air guna menjebak ikan dengan metode hentakan air yang khas. Kami biasanya menyebutkan dengan bahasa lokal dengan sebutan “Ba paka” dimana kedua tangan penghalau menepuk permukaan air dengan keras guna membuat efek kejut pada ikan hingga ikan berbalik melawan arah dan masuk terjebak dalam jala. Ketika arah balik ikan tidak begitu simetris ke arah jaring, maka proses ‘Ba lempar’ dapat dilakukan yakni batu yang telah disiapkan oleh si penghalau dilempar ke sisi arah gerak ikan guna menggiringnya ke arah lingkaran wilayah jaring” ujar Wahyudin menjelaskan teknik penjebakan ikan julung selama di lautan.

Wahyudin juga mengungkapkan bahwa proses ini tidak harus anak kecil, “Yang penting si penghalau itu cerdas dan lincah, namun rata-rata dipilih mereka yang muda dalam tugas itu, sebab menurutnya para orang dewasa dibutuhkan tenaganya untuk menarik jaring guna menutup arah ikan. Dan karna saya bertubuh kecil, saya kerap selalu diberi tugas bila turut serta selama penjaringan ikan itu” kenangnya sambil geleng kepala.

Gohu ikan Julung khas ‘Ome’

Hidangan ikan julung biasanya diolah dengan berbagai jenis olahan, bila pada olahan mentah, masyarakat Maluku Utara, khususnya di Tidore, masyarakat sangat gemar membuat olahan makanan mentahnya yang diberinama “Gohu Ikan” (Di Maluku sering dinamai Kohu-kohu). Olahan pada Gohu ikan ini diramu dengan cara dipotong kecil tanpa tulang yang dicampur dengan olahan rempah Alium cepa (Bawang merah), ulekan Capsicum Annuum (cabe rawit) dan perahan Citrus microcarpa (Lemon cina). Hasil campuran ketiganya diikuti dengan minyak kelapa panas guna pematangan bahan yang dapat disertakan dengan bahan tambahan lainnya seperti kacang goreng, maupun daun kemangi.

Meski aneh sebab di Maluku Utara makanan khas Gohu ikan selalu identik dengan ikan jenis Thunnini (Tuna), maka di kelurahan Ome, ikan julung gemar dijadikan sebagai bahan utama pembuatan menu Gohu ikan. Dari hasil penilaian kelezatan bahan ikan pada pengolahan Gohu ikan, sebagian masyarakat Tidore lebih memilih ikan Julung sebagai ikan yang paling lezat untuk digunakan sebagai bahan utama pembuatan Gohu ikan.

Banyak alasan yang dikemukakan masyarakat Tidore tentang bahan daging Ikan Julung dalam peramuan hidangan Gohu Ikan, namun rata-rata masyarakat Tidore mengatakan bahwa Ikan Julung justru jauh lebih lezat karena daya serap rempahnya yang baik serta tingkat kegurihan dan kekenyalan dagingnya yang begitu lembut dibandingkan bahan ikan dari jenis Tuna. Namun tak sering kita lihat Ikan Julung dikonsumsi masyarakat Tidore sebagai Gohu ikan karena kemungkinan penjualannya yang terbatas di pasar tradisional dibandingkan ikan jenis Tuna. Bahkan setiap kali ada hidangan Gohu Ikan julung, masyarakat di Tidore selalu mengidentifikasikan makanan itu dengan hidangan Gohu ikan khas ‘Ome’.

Lima besar makanan favorit Maluku Utara

Wah, memang menarik soal kita mengetahui keunikan dan kelezatan ikan ini. Namun perlu Pembaca tahu bahwa ada 5 (lima) bekal makanan tahan lama yang favorit dijadikan masyarakat Maluku Utara dalam perbekalan makanan. Yakni, Sagu olahan (lempengan), ikan asin, ikan teri (goreng), Abon ikan Tuna/cakalang (Istiliah lokal Maluku Utara = Garam pati), dan Ikan julung asap (Ikan tore). Saya begitu heran mengapa ikan julung turut masuk dalam favorit bekal makanan ini, apa dasar masyarakat Maluku Utara bisa berasumsi bahwa ikan julung yang diolah dengan pengasapan ini mampu bertahan dengan waktu yang cukup lama. Ternyata pengalamanlah (empirik) jawabnya.

Ikan Julung dan sikap penasaran para saintis

Seorang pakar peneliti Taksonomi Ikan, Hasanuddin Saanin, pada tahun 1984 menguraikan komposisi kimia Ikan Julung yakni yang terdiri atas Air (79,89%), Protein (18,02%), dan Lemak (1,45%). Hal ini tentu mengejutkan bahwa ikan julung ternyata masih menjadi penyumbang beberapa zat penting tubuh yakni Protein dan lemak. Hal ini tentu baik sebab bila tubuh kehilangan kalori dari karbohidrat kedua komponen (Protein dan lemak) ini dapat dikonversi menjadi cadangan kalori bagi daya tahan energi tubuh itu sendiri. Meski demikian, proses pembusukkan ikan justru menjadi kekhawatiran bagi mereka yang disiplin akan higienitas dan kritis terhadap nutrisi suatu makanan.

Kekhawatiran ini pun terjawab pada tahun 2015 dimana tim Studi Teknologi hasil perikanan FPIK (Clara Nony Patty Dkk.) dari Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) dalam satu jurnal ilmiahnya berhasil meneliti tingkat ketahanan kualitas mutu ikan julung olahan (Pengasapan) yang justru pengolahannya paling sering dikonsumsi oleh warga Maluku Utara. Dari hasil penelitiannya para tim peneliti berhasil membuktikan tingkat ketahanan ikan asap julung pada hari ke-7, ke-14 hingga melewati ke-21 yang terbukti masih memiliki tingkat kualitas mutu fisik dan nutrisi yang baik. Hal ini membenarkan ketepatan insting para masyarakat di Maluku Utara akan daya tahan Ikan julung asap dengan tanpa menggunakan pembuktian penelitian dengan alat canggih apapun. Dan hal ini membuat saya terkesima. Luar biasa.

Ome dan nilai sosial masyarakat nelayan-nya

Bila mengunjungi kelurahan Ome, kita dapat menikmati keindahan pantainya sambil memandang panorama pulau Maitara dan pulau Ternate. Sedang di sore harinya, kita dapat melihat para warga nelayannya bergotong-royong mendorong perahu Jiop-nya ke laut pertanda waktu yang tepat untuk melaut. Perlu pengalaman tersendiri melihat langsung bagaimana para nelayan ulung ini menjaring ikan fenomenal tersebut. Namun bukan soal seberapa besar hasil tangkapan ikan ini, melainkan keuletan dan kerjasama masyarakat dalam bingkai keakraban yang tertradisi menjadi nilai mahal yang patut diteladani bagi masyarakat kontemporer Maluku Utara, apalagi masyarakat Ome dikenal paling ramah untuk kita berkunjung ke sana. Apa pembaca tertarik berkunjung ke kelurahan Ome, Tidore Utara ? (*)

Penulis: Fatir M Natsir

Views All Time
Views All Time
470
Views Today
Views Today
3
Like
One comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *