/Narasi Tanah Moyang Halmahera

Narasi Tanah Moyang Halmahera

Halmahera Utara, Toguli. Tampak seorang pria renta dengan gerobak sapinya. Kehidupan sederhana dengan kearifan lokal yang kuat sudah melekat lama dalam tardisi orang-orang Halmahera. Foto: Faris Bobero/jalamalut
Desa Toguli, Halmahera Utara, Tampak seorang pria renta dengan gerobak sapinya. Kehidupan sederhana dengan kearifan yang kuat sudah melekat lama dalam tradisi orang-orang Halmahera. Foto: Faris Bobero/jalamalut

HALMAHERA; nama itu yang pertama kali terdengar saat orang-orang (tetangga) saya membicarakan tentang kehidupan dan sepak terjang bercocok tanam di bumi Maluku Utara. Berpuluh-puluh tahun lalu, moyang kami adalah pelaut ulung.

Mereka kuat, tegar, bernyali besar dan membaca keadaan samudera hanya dengan cara tradisional pula. Adalah cara mereka meramal kapan waktu yang pas untuk tancapkan layar sampan mengarungi samudera untuk hidupkan keluarganya. Nasib moyang kami, bisa jadi waktu itu bergantung pada dada layar lusuh, sampan tua dan beberapa alat tangkap. Begitulah proses kehidupan moyang kami saat itu dengan keadaan buta pada pendidikan formal.

Buat mereka, pendidikan saat itu tidaklah terlalu memberikan dampak yang besar kalau bangun pagi dengan keadaan gaduh di dapur setiap rumah dengan masalah yang sama soal isi perut anak dan istri. Tahun 70-80-an adalah kehidupan paling harmonis yang mereka rasakan. Bahkan jauh sebelum orang-orang kulit putih (Belanda dan Portugis) datang mengusik ketentraman itu dengan dalih perdagangan pada saat nusantara dalam keadaan tidak stabil. Ah, itu sudah berpuluh-puluh tahun lalu. Biarkan saja hal yang merobah kehidupan dari sisi keharmonisan itu berlalu pergi dari isi kepala orang-orang di tanah moyang saya.

Halmahera 70-an, saat moyang kami resah dengan keadaan laut yang musim anginnya dapat mengantar setiap nyawa sanak saudara kami. Pada saat itu ketergantungan hidup kami hanya pada laut. Sebab ketergantungan itu, seperti rebahkan layar dan sampan tua, menuju pulau panjang (sebutan) moyang kami saat itu.

Lahan garap yang kosong dan bergizi, menjanjikan hidup lebih baik di tanah Halmahera. Inilah titik awal moyang kami menggandakan sumber alam yang menghidupi mereka selain laut. Daratan Halmahera adalah tempat nyaman, subur dan hijau. Musim angin tak mengizinkan mereka melaut selama berbulan-bulan. Di daratan Halmahera adalah pengganti mutiara hidup di laut lepas. Masih tersimpan dengan rapi tanah lembab. Berbondong-bondong mereka (moyang) kami menuju daratan. Bukan hanya lima atau enam orang. Bak Migrasi besar-besaran mencari nafkah di gurun hijau. Anak dan istri mereka dibawa ke sana.

Bibir pantai Jailolo Selatan, sekarang menjadi dusun Tanjung Nenas (Desa Ake Ara) saat itu belum berpenghuni. Terakhir ini, saya tahu dusun ini sudah menjadi satu desa dengan satu dusun lainnya yang terlampau jauh di pedalaman Ake Ara. Namanya Desa Suka Damai. Tanjung Nenas, berdampingan dengan sebelah kiri (timur) Desa Ake Laha, sebelah kanan (barat) Ake Ara. Desa dan dusun ini terbentuk setelah moyang kami dengan gagap gempita berlabuh dan mulai membuka lahan untuk bertanam. Tahun 70-an, adalah masa pembangunan rumah tinggal dan tempat ibadah sebagai orang yang beradab dan berpegang pada kitab Allah.

Dua dusun yang mengapit dusun Tanjung Nenas ini adalah saudara-saudara moyang kami yang berkeyakinan beda (Nasrani). Pembangunan perumahan sudah mulai kokoh dan lahan-lahan baru menjadi target berkebun dan bercocok tanam dengan corak budaya moyang kami saat itu. Berkebun bukan dengan modal pendidikan, akan tetapi lebih ke modal dasar alasan menghidupi anak dan istri. Alat tradisonal perkebunan dan pertanian yang di pakaipun saat itu entah siapa yang mengajari cara membuatnya. Cangkul, kapak dan parang (pedang) sebagai alat membuka lahan baru mereka. Dari bibir pantai tanjung Nenas sampai pada pedalaman Dusun Ake Ara terlampau jauh berkilo-kilo meter disulap menjadi lahan perkebunan dan pertanian.

Seandainya yang membuka lahan adalah perusahan coorporate, saat ini mungkin hasilnya bukan berhektar-hektar kelapa, coklat dan cengkih. Melainkan lahan kosong dan kering seperti kenyataan beberapa tempat di daratan Halmahera, saat ini. Untung saja yang membuka lahan adalah para pelaut yang dalihnya adalah menggandakan sumber hidup selain laut.

Dari generasi ke generasi, menikmati hasil yang telah ada. Hidup berdampingan adalah cara mereka merawat adat dan budaya. Berasal dari suku agama yang berbeda pula, hidup dalam satu kesatuan yang utuh. Puluhan tahun silam dilewati dengan keharmonisan menikmati jerih payah sebagai petani dan tukang kebun tanpa membedakan dan saling menyinggung siapa atau siapa. Saya mungkin sudah sebagai generasi kedelapan yang turut menikmati jerih payah dari hasil yang moyang saya toreh di daratan selatan Jailolo ini.

Seiring waktu perkembangan menyapa dengan nafas perubahan dari segala sisi. Pendidikan, budaya, dan karakter dikemas dalam satu paket yang bernama globalisasi. Bak angin segar datang begitu cepat mengorek sendi kehidupan yang harmonis ini. Begitulah azas perubahan menuai kemajuan melampaui batas dan hirarki keadaban suatu masyarakat tradisional, sehingga perlahan status masyarakat tradisional ini berubah menuju masyarakat modern.

Suguhan pendidikan tidak begitu baik, persolan politik gubahan reformasi menyentuh hingga keakar budaya dengan motor politiknya. Reformasi birokrasinya pasca kemerdekaan bergulir menjadi tanya besar sebagai alasan perubahan kehidupan mengarah kearah yang lebih baik atau tersisihkan. Keharmonisan dahulu menjadi terkotak-kotak. Peralihan status daerah otonom dan lainnya menggiring perubahan besar budaya harmoni ke jurang pertikaian dan konflik yang berujung pertumpahan darah. Kehidupan Tahun 1999 saat itu telah diusik oleh kepentingan segelintir orang dengan kepentingan sesaatnya.

Saya, adalah generasi yang saat itu sama seperti anak-anak lainnya dari suku maupun agama yang berbeda. Saat itu kebebasan sebagai anak menjadi modal, berdamai, toleransinya dan banyak hal yang sekarang ini tidak lagi terlihat. Tempat kami, pada penghujung 1999-2000 adalah lapangan tempur yang dahsyat selain daratan lain di Halmahera. Kekerasan meneriaki SARA sebagai lebel perubahan. Kedua Agama dijadikan korban kepentingan, lahan dan tempat hunian adalah dampak dan kekejaman kepentingan, harta dan tapal batas menjadi tempat kebiadaban bercokol. Lalu kepulan asap dan tangis menyelimuti bumi Halmahera.

Untuk generasi sekarang, mungkin tak pernah merasakan hal yang terlampau sakit itu. Bumi leluhur telah dibasahi darah sanak-saudaranya sendiri. Hingga retaklah keharmonisan yang sekian lama dibangun. Ini bukan salah siapa-siapa. Ini datang bukan sebagai tuntutan atau menyalahi. Pengikat kekeluargaan telah dilepas, tanggalkan keadaban. Atas dasar sepele soal kepentingan segelintir orang. 1999-2000 adalah sejarah keharmonisan manusia beradab digoyahkan, menebar benih kebencian, bingkai kebiadaban dengan mengorbankan banyak nyawa. Lalu kedua keluarga dari beda agama ini menjadi korban. Kesalahan siapa? Kepentingan apa? Dalih pembangunan dan kepentingan daerah otonomi atau revitalisasi reformasi menjadi alasan utama daratan Halmahera menjadi kegaduhan terbesar. Alasan kedua adalah sumber komunal yang menjadikan konflik alami tanpa ada unsur kepentingan.

Halmahera, yang tadinya harmonis menjadi gelap akan budaya kekeluargaan. Keadaban tidak lagi menjadi ukuran. Harta benda bukan lagi alasan penafkahan. Tangis adalah biasa. 2017 revitalisasi pembangunan adat dan budaya bercokol dan bercorak pilar daerah budaya belum mampu menghadirkan obat penyembuh handal sebagai penghapus air mata kami sebagai generasi korban saat itu. Menerima dan menolak bukan hal lumrah, sebab apapun metode dan rencana tidak mampu menggantikan hijaunya hutan dan kebun, suburnya lahan dan jernih air sungai tempat kami menaruh hidup.

Biarlah, moyang kami yang tadinya adalah pelaut menjadi terkenang dengan nasib dan mata hidup anak cucunya sekarang. Batu loncatan perkembangan ini bukan alasan bahwa daerah kita Jailolo khususnya dan Maluku umumnya sebelum pemekaran adalah pembangunan tertinggal seperti data dalam kertas tak jelas di masa reformasi yang harus digembleng dengan korban yang berjatuhan agar bisa menyulap menjadi daerah maju hasil (pemekaran) menjadi Maluku Utara.

Sayang, Halmahera saat ini menjadi pengap. Ini contoh pembangunan amburadul yang pernah ada. Tak berlandaskan segenap adat dan budaya, melainkan sisi globalisasi dan teknologi yang menjadikannya nihil. Inilah alasan mengapa, tanah moyang ini menjadi kering akan moral dan etika sebagaimana kehidupan pelaut dan raja rimba saat itu.

Modus perkembangan menyurati nasib lapisan penduduk di pulau panjang ini agar hidup bisa menerima segalanya yang telah disulap. Halmahera, begitu nama itu disebut, maka kami, saya, mereka dan para leluhur tahu siapa dalang yang mengusik dan mengorek keharmonisan kami. Sebab, daun tak lagi sehijau kekeluargaan, batang tak sekokoh keharmonisan, akar tak sekuat adat dan air sungai kami tak lagi sebening budaya kami di daratan selatan Jailolo (Halmahera).

Penulis:

Hairil Sadik/jalamalut

 

 

 

 

 

 

Hairil Sadik, SE

—————————–

Pernah menjabat sebagai Presiden BEM Fekon Universitas Khairun 2013-2014

Views All Time
Views All Time
209
Views Today
Views Today
2
Like