Loading...
JELAJAH

Morotai, Mimpi Asia Timur Raya dan Introduksi Perang Antar-waktu

Lebih baik membuat rencana standar hari ini daripada mendapatkan rencana yang sempurna dua minggu kemudian..! – George S. Patton Jr (1885-1945)

Konon, pada tahun 1990-an, anak-anak kecil di seluruh daratan Halmahera Utara selalu diceritakan oleh ayahnya sebuah kisah nyata sebagai ‘dongeng sebelum tidur’, ringkasan ceritanya adalah tentang seorang prajurit yang lari ke hutan dan baru ditemukan dalam keadaan tua berpuluh-puluh tahun setelah perang usai. Kisah ini memang benar-benar terjadi, adalah Teruo Nakamura; prajurit Jepang yang lari ke dalam hutan ketika sekutu berhasil menguasai Morotai yang diduduki Jepang dalam Perang Dunia II, ia baru ditemukan dan kemudian menyerah pada 19 Desember 1974 (29 Tahun kemudian) setelah sekelompok tentara Indonesia masuk ke hutan membujuknya dan meyakinkan perang sudah lama berakhir dengan melahirkan Indonesia sebagai negara baru. Namun begitu, Nakamura hanya dapat diyakinkan dengan lagu kebangsaan Jepang; Kimigayo yang dinyanyikan serempak oleh tentara-tentara tersebut berhasil membuat Teruo Nakamura keluar dari tempat persembunyian sambil berdiri tegap melakukan penghormatan, mungkin karena didalam lagu tersebut setiap liriknya mengandung interpretasi dari mimpi-mimpi besar kekuasaan yang menembus keabadian. Bagi Nakamura Jepang adalah abadi!.

 

Adalah Morotai!

Saya ingin membentuk cerita ini dari satu tahun sebelum tanggal 26 November 2008. Saat itu saya sedang dalam perjalanan dari kampung halaman ayah saya menuju ke kampung halaman ibu untuk meneruskan pendidikan SMA di Kota-Pulau Ternate yang juga adalah tempat kelahiran sekaligus dimana saya menghabiskan masa kecil saya. Perjalanan itu (dari Galela ke Ternate) selalu menyenangkan bagi saya, sebab di sepanjang perjalanan melalui trans Halmahera kita selalu disuguhi pemandangan maha indah yang entah kenapa selalu membuat saya tidak berkedip, kadang-kadang lebatnya hutan Halmahera, kadang-kadang hamparan maha luas Samudra Pasifik yang lengkap dengan lautnya yang nibiru, juga terkadang barisan gunung, bukit dan jurang yang curam, bisa saja menghempaskan kita kedalam lamunan yang panjang. Dari dalam mobil, saya selalu bersumpah; ini sungguh negeri yang indah.

Hal penting kenapa perjalanan kali itu menjadi yang paling saya ingat adalah ketika saya masuk ke sebuah WC pada rumah makan yang biasa menjadi tempat rehat-makan siapapun yang menempuh perjalanan di jalur trans Halmahera. Saya membaca seksama sebuah graviti yang ditulis kecil-seadanya di dinding kamar kecil itu; Pemekaran Kabupaten Pulau Morotai Harga Mati!. Entah demi apa, siapa dan dengan alasan apa graviti itu ditaruh disitu, sebab bagi saya jika itu ditujukan untuk kampanye dan propaganda, nampaknya agak kurang tepat jika ditempatkan disitu, orang-orang pasti lebih sibuk dengan urusannya menyelesaikan hajat ditempat yang identik dengan kotor dan bau itu daripada mengikhlaskan pikirannya terbawa ke sebuah pulau kecil di sempadan Pasifik yang dicapai dengan harus menyeberangi Halmahera.

Itu kenapa, di Ternate setahun kemudian, suatu siang saat pulang sekolah saya termenung didepan penjual koran yang juga kebingungan melihat seorang anak kecil berseragam sekolah terpaku lama pada sebuah headline; Kabupaten Pulau Morotai Diresmikan!.

Entah kenapa saya bisa antusias pada persoalan itu, padahal nyatanya, bahkan saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki saya ke daratan Morotai, meskipun ketika masih di kampung halaman ayah saya, tiap hari saya bisa melihat samar-samar daratan pulau Morotai diseberang yang bisa dicapai hanya beberapa jam menyeberangi lautan.

Selain kisah Teruo Nakamura diatas, yang saya ketahui soal pulau itu adalah cerita tentang keindahan agung alamnya yang berimplikasi pada julukan The Pearl of Pasific, lalu kemudian tentang sandingan dari kisah epik Morotia dan Morotai yang menjadi landasan fakta bahwa orang-orang Morotai adalah orang-orang Galela yang entah sejak kapan menyeberangi Selat Moro dan secara evolutif membangun dua nilai sosial beda-mirip dengan hanya satu bahasa ibu. Lebih dari itu, kisah Morotai yang paling agung adalah ketika ia dijadikan sebagai pulau utama dalam strategi Lompat Katak (Frog Leap) yang digagas Jenderal MacArthur pada upaya meredam kampanye Asia Timur Raya oleh Jepang di Perang Dunia II.

Morotai pula lah yang menjadi kunci bagi backing pengamanan di sekitar Kepulauan Mariana yang merupakan rute pesawat pengebom bernama Enola Gay pengangkut Little Boy; bom atom pertama dalam sejarah umat manusia yang meluluhlantakan Hiroshima pada hari yang cerah di tanggal 6 Agustus 1945. Sebuah eksekusi massal yang telah jauh-jauh hari direncanakan sejak kemenangan Amerika Serikat melawan Jepang pada pertempuran Midway pada 7 Juni 1942 dan pertempuran Guadalcanal pada 9 Februari 1943, kemenangan di Morotai setahun setelahnya selain sebagai pemenuhan sumpah legendaris Jenderal MacArthur; I Shall Return, ketika disingkirkan Jepang dari Filipina juga adalah kemenangan paling strategis di mandala Pasifik, dari sanalah Jepang mencapai titik balik dalam ekspansi wilayah mereka di Pasifik yang merubah Amerika Serikat dari defensif menjadi ofensif, Hiroshima dan Nagasaki adalah korban paling nyata dari rentetan akhir peristiwa yang penuh dengan kematian ini.

Dari sisi Jepang yang saat itu lebih populer dengan sebutan Nipon, Morotai adalah pangkalan paling strategis yang pernah mereka kuasai, disanalah mimpi-mimpi mereka mewujudkan Asia Timur Raya dipertahankan, itulah kenapa ketika Morotai berhasil didarati oleh sekutu pada siang hari tanggal 15 September 1944, mimpi Jepang seperti hancur berkeping-keping. Kehilangan Morotai adalah awal dari kehilangan paling besar dari usaha paling keras yang pernah dilakukan umat manusia, dimana kelak dalam satu waktu mereka harus kehilangan seluruh wilayah yang telah didudukinya di Benua Asia.

 

Introduksi Perang Antar-waktu

Pada tengah hari 15 Agustus 1945, beberapa hari setelah peristiwa Hiroshima dan Nagasaki, Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan tanpa syarat kepada sekutu yang kemudian diikuti dengan penandatanganan Dokumen Kapitulasi Jepang yang diwakilkan kepada Menteri Luar Negeri Jepang Mamoru Shigemitsu dihadapan para jenderal sekutu diatas kapal USS Missouri pada 2 September 1945. Sebuah friksi terjadi, konon Jenderal Umezu yang mendampingi Shigemitsu berbisik bahwa kalau saja mereka lebih memilih memperkuat Morotai daripada Halmahera, mungkin saja mereka tidak akan pernah berada di kapal itu pada hari itu, Jepang bisa saja memenangkan pertempuran samudra terbesar yang pernah melibatkan umat manusia; Perang Asia Timur Raya.

Berdasarkan keinginan yang dibisikkan Umezu dan melihat kejumudan masa kini, saya berandai-andai; jikalau pada saat itu Jenderal Umezu menemukan sebuah mesin waktu yang dapat melakukan relokasi temporal sebagaimana yang tergambarkan dalam film Predestination, sudah pasti ia akan kembali ke masa lalu, tepat sebelum Morotai diduduki sekutu dan memperkuat barisan pertahanan Jepang disana, ia juga pasti akan mengikuti strategi sekutu yang telah ia alami di masa depan yang harus menderita ketika membangun Bandara Pitu di pulau itu sebagai pangkalan udara yang memiliki landasan pacu terbanyak, terpanjang dan terbesar di dunia pada masa itu yang merupakan kunci kemenangan sekutu. Tentu saja dengan tanpa membangun pengecualian dan melakukan dekonsepsi terhadap teori paradox, sejarah umat manusia sudah pasti akan berubah dengan kemenangan Jepang. Dan tentu saja; kemungkinan juga sejarah Morotai, berikut juga masa kini dan masa depannya nanti.

Namun begitu, kita dihalangi pada batas abstrak paling kasar yakni ketidakmampuan umat manusia menembus waktu, sejarah kita akan selalu dan terus mencatat Amerika Serikat dan sekutu-lah yang keluar sebagai pemenang dalam Perang Asia Timur Raya, demikian juga sejarah akan selalu mencatat Morotai sebagai anomali paling kongkrit dalam kemunculan Amerika Serikat sebagai negara adidaya di dunia modern saat ini setelah memenangkan perang tersebut.

Sesungguhnya, berakar dari kecerdasan memanfaatkan dan merencanakan Morotai sebagai salah-satu palagan pertempuran strategis merekalah; saat ini kita mengenal mereka sebagai penguasa dua samudera; Pasifik dan Atlantik. Saya juga pernah membaca sebuah artikel ilmiah berbahasa inggris dengan berjudul Operation Dominic (Journal Weapon Archive, 2008) bahwa pada saat Perang Dingin dengan Uni Soviet tepatnya tanggal 9 Juli 1962 di Kepulauan Johnston sekitar Samudera Pasifik yang hanya beberapa mil dari Pulau Morotai mereka menakuti Soviet dan seluruh umat manusia dengan melakukan ujicoba termonuklir terakbar bernama Starfish Prime yang kemudian mengakibatkan terganggunya salah satu lapisan Bumi yaitu Magnetosphere yang oleh artikel tersebut diyakini sebagai penyebab terjadinya radiasi permanen yang kemudian turut memicu penipisan lapisan ozon dan pemanasan global disepanjang ekuator Bumi pada zaman kita.

Bukan dari medan perang Normandia yang dituntaskan pada 25 Agustus 1944 atau pertempuran Berlin yang pungkas pada 2 Mei 1945 dimana signifikansi Amerika Serikat kurang begitu terlihat sebagai peserta Perang Dunia, Perang Asia Timur Raya-lah medan tempaan Amerika Serikat dimana mereka memulai dan kemudian mengakhirinya dengan gemilang, dari kekalahan telak di Pearl Harbour – Hawai hingga permulaan kemenangan besar dari Morotai, lalu kemudian ide bom nuklir muncul saat Albert Einstein diberikan kewarganegaraan untuk kemudian mengimplementasi teori-teorinya melalui Trinity Project yang dibina Edward Teller, bom atom pun tercipta karena jalan sudah terbuka.

Pada tahap berikutnya, Einstein yang direkrut menjadi warga negara Amerika untuk kepentingan menuntaskan Perang Asia Timur Raya dari Morotai, kemudian mempersembahkan teori Relativitas Umum dan Relativitas Khusus yang adalah teori paling masyhur dalam peradaban manusia. Dari sanalah mereka menyadari bahwa waktu adalah komoditas paling berharga di alam semesta, dan oleh karenanya misi mereka dalam mengeksplorasi sains terus melahirkan berbagai penemuan kontemporer.

Saya tidak tahu bagaimana menyarankan orang-orang Morotai, haruskah mereka berbangga atau justru bersedih atas keterkaitan nama ‘Morotai’ dengan semua peristiwa-peristiwa maha besar yang menentukan peradaban umat manusia saat ini, Namun demikian saya berkeyakinan, jika sejarah besar ini disikapi secara bijaksana, bukan tidak mungkin; Morotai di masa depan tidak akan hanya dianggap sebagai pulau koral yang dipenuhi dengan sampah-sampah Perang Dunia II.

Ironi Morotai sebagai batu loncatan sebuah peradaban besar bernama Amerika Serikat perlu menjadi catatan kritis bagi pembangunan di Republik ini, ingat bahwa kita bukan penjual sejarah dengan hanya sekedar memanggil orang-orang Amerika Serikat itu untuk datang bernostalgia dengan kenangan yang pernah mereka buat berpuluh tahun silam di tanah itu. Kita adalah pembelajar sejarah yang berusaha belajar dari pengalaman. Jangan sampai kita hanya menjadi seperti Teruo Nakamura yang termakan dan terlelap dalam mimpi Asia Timur Raya dan memilih membuang waktu yang dimiliki dengan bersembunyi didalam hutan!.

Penulis: Muhammad Guntur

Views All Time
Views All Time
259
Views Today
Views Today
1
Like
1
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *