Loading...
JELAJAH

Mochtar, Sang Perintis “Dokumen Hidup” Orang Papua di Ternate

Dokumen hidup orang Papua itu bukan hanya catatan-catatan yang dibuat oleh para kolonial yang menjadikan Papua dan rakyatnya sebagai objek jajahan. Dokumen hidup ini yang harus dipertahankan dan diperkenalkan di daerah lain sebagai integrasi histori peradaban orang-orang melanesia dengan orang yang ada di Moloku Kie Raha sebagai benang merah di masa lalu.

Dokumen hidup itu bernama Honai. Rumah orang-orang suku Dani, Papua sekilas terlihat rumah Honai terbuat sepenuhnya dari bahan-bahan yang berasal dari alam sekitar, dengan material kayu pada badan rumah dan jerami sebagai bahan untuk atapnya. Rumah ini terlihat tertutup karena tidak dilengkapi dengan jendela, hanya memiliki dua pintu, karena memang fungsinya adalah untuk melindungi suku Dani yang tinggal di dalamnya, baik melindungi  dari udara dingin pegunungan Papua maupun ancaman lainnya.

Rumah Honai menjadi agenda prioritas salah seorang dosen yang mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Mochtar Adam namanya. Bagi alumnus UMI Makassar ini, Honai menjadi identitas orang-orang Papua yang harus dihidupkan di Ternate, tetapi tentu saja dengan cara-cara yang lebih emansipatoris. Alasan itulah yang membuat Bang Ota, sapaan Mochtar Adam, meminta para mahasiswa Unkhair yang berasal dari Papua membangun rumah Suku Dani di Kelurahan Gambesi, Kecamatan Ternate Selatan.

Penulis saat berbincang dengan Mochtar Adam , perintis rumah Honai Suku Dani Papua di Ternate.
Penulis saat berbincang dengan Mochtar Adam, perintis rumah Honai Suku Dani Papua di Ternate. (Foto: Elly Tahalele)

Bang Ota ketika ditemui sahabat jalamalut ini bercerita. Keinginan ia membangun rumah Honai di pelataran rumahnya itu, ia ingin menghidupkan kembali dokumen hidup orang Papua yang nyaris tidak dipedulikan eksistensinya oleh banyak orang. Selain itu, secara history ada magnet antara orang-orang Papua dan Tidore di masa lalu yang tidak bisa dilepas-pisahkan.

Hubungan erat yang ia maksudkan itu barangkali soal penamaan “Papua” oleh orang-orang dari Kerajaan Tidore, sebagaimana artikel yang diposting oleh salah satu Media Papua pada 26 September 2013 lalu. Dalam artikel itu tertulis, sekitar tahun 1646, Kerajaan Tidore memberi nama untuk pulau ini dan penduduknya sebagai Papa-Ua, kini sebutan nama tersebut sudah berubah menjadi Papua. Dalam bahasa Tidore artinya tidak bergabung atau tidak bersatu (not integrated). Dalam bahasa melayu berarti berambut keriting, atau memiliki pengertian lain, bahwa di pulau ini tidak terdapat seorang raja yang memerintah.

Atau dalam catatan harian Antonio Figafetta, juru tulis pelayaran Magelhaens yang mengelilingi dunia menyebut nama pulau tersebut dengan sebutan Papua. Nama Papua ini diketahui Figafetta saat ia singgah di pulau Tidore.

Uppsss…! Sudah terlampau jauh pembahasannya, sambil mengamati anak-anak Papua yang menyelesaikan pekerjaan membangun Honai, Bang Ota lalu mengatakan, “Sebenarnya keinginan saya membangun rumah Honai itu karena dulu, anak-anak Papua ini tinggal di rumah saya sewaktu saya melanjutkan Studi di luar daerah, lalu waktu saya kembali, saya ingin menempati rumah saya, tapi saya tidak ingin mereka pisah dengan saya, mereka harus kumpul-kumpul di sini, lalu cari ide bagaimana kalau mereka buat tempat istirahat di pekarangan rumah saya, kebetulan sedikit luas halaman rumah saya, tapi rumah adat Papua biar identitas mereka tetap hidup di sini, sembari kita mencari dana untuk membangun asrama mereka,” kisahnya.

Kata dia, sebagai bagian dari komunitas melanesia, Rumah suku Dani sangatlah relevan menunjukan identitas orang-orang Papua yang kuliah di Ternate. Setelah dibangun pada November 2016. Eh, ternyata berkembang menjadi tempat destinasi wisata.

“Lalu terpikir dari saya kalau nanti saya mengembangkan ini menjadi melanesia Archipelago, tentu akan banyak pengunjung yang datang dan berkenalan dengan anak-anak Papua yang ada di sini,  sehingga dengan begitu ingatan kita tentang hubungan history antara Papua dan Maluku Kie Raha,” ungkapnya.

tampak Honai, rumah Suku Dani di Kelurahan Gambesi, Kecamatan Ternate Selatan (Nasarudin Amin/sahabat jalamalut)
tampak Honai, rumah Suku Dani di Kelurahan Gambesi, Kecamatan Ternate Selatan ((Foto: Elly Tahalele)

Selain rumah Honai, Mochtar Adam juga ingin membangun rumah adat setiap suku di Moloku Kie Raha, seperti Fola Sowohi di Tidore, Rumah Sasadu di Halbar, rumah adat NTT dan NTB, kemudian juga ada rumah koteks. Tujuannya adalah untuk melestarikan rumah adat daerah ini agar tetap lestari sepanjang masa.

Ia juga menjelaskan, jika ditilik jauh ke belakang, tepatnya di tahun 345 sebelum Masehi, masyarakat Ternate juga pernah membangun rumah dengan menggunakan bahan yang sama, hanya saja penyebutan namanya yang berbeda.

“Jadi ini peradaban lama, bukan peradaban Papua saja, bahwa peradaban lama orang Ternate juga sudah membangun dengan ini juga, lalu kemudian loncatan perubahan kedua dengan menggunakan bahan katu, dan loncatan perubahan ketiga dengan menggunakan bahan dari seng, nah, ini sebenarnya loncatan pola-pola perubahan masyarakat, bahkan jauh sebelumhya di Inggris juga sudah ada rumah yang seperti ini. Inggris hampir sama dengan Honai, sekarang sudah dikembangkan oleh masyarakat Irlandia Utara utamanya,” katanya.

Bagi bang Ota, yang ia kerjakan saat ini adalah upaya-upaya untuk mengembalikan catatan sejarah yang sudah lama terpendam, antara Papua dan Moloku Kie Raha. Jangan kita hanya sebatas menceritakan lalu menulis, kita juga harus membuat destinasi yang bisa menjadi perekat, sebab itu sebagai bagian dari integrasi historis.

Ia berpendapat, ketika masyarakat yang tinggal di perkotaan sudah mulai jenuh dengan kawasan perkotaan yang serba padat, maka mereka akan mencari space ruang yang seperti ini. Tempat yang bisa mereka jadikan sebagai tempat menghilangkan rasa jenuh. Dan itu terbukti, pada Januari 2017, tercatat rata-rata pengunjung per hari sejak tanggal 1 Januari sebanyak di atas 100 orang, lalu pada tanggal 3 Januari rata-rata pengunjung yang datang ke tempatnya itu di atas 200 orang lebih.

“Rata-rata pengunjung perhari sejak tanggal 1 Januari, di atas 100, yang paling tinggi ada di tanggal 3, yang itu mendekati 100 pengunjung, itu baru foto, belum ada tempat yang lain,” katanya.

Ia berkeinginan, rumah adat setiap suku yang dibangun ditempatnya itu menjadi proto type rumah adat di masa lalu yang akan dipelihara dan dikembangkan untuk kepentingan pengetahuan generasi mendatang yang sudah mulai lupa dengan identitas asalnya. “Ini akan secara berkala dibangun, grand desainnya sudah ada,” tutupnya sembari mengamati setiap pengunjung yang datang berfoto. (*)

Penulis:

Nasarudin Amin
Nasarudin Amin

 

Views All Time
Views All Time
360
Views Today
Views Today
1
Like
8 comments
  1. Kru Jalamalut

    Salam literasi!
    Kami atas nama jalamalut.com meminta maaf kepada Bapak/Saudara/i Elly Tahalele atas kesalahan kami. Baru saja kami mengonfirmasi kepada pemilik tulisan/penulis,dia juga meminta maaf karena lupa menginformasikan sumber fotonya. Atas kelalaian ini, kami akan segera mengganti foto dan memberikan penghargaan kepada Bapak/Saudara/i Elly Tahalele atas karya fotonya yang bagus dan menarik. Terima kasih atas pengertiannya.

    Kru jalamalut.com

  2. Kru Jalamalut

    Ralat:

    Maksud kami bukan penghargaan reward/award, tetapi salut atas karya-karya fotonya yang bagus dan menarik.

    Kru jalamalut.com

  3. albar Hi. jabir

    saya tertarik dengan wawancara dan konsep yang ditawarkan dan ini merupakan ruang literasi yang menurut saya sangat mudah untuk mengikuti perkembangan alur sejarah yang sudah mulai pudar
    # salam Litersi

  4. Albar Hi. jabir

    saya tertarik dengan wawancara dan konsep yang ditawarkan dan ini merupakan ruang literasi yang menurut saya sangat mudah untuk mengikuti perkembangan alur sejarah yang sudah mulai pudar
    # salam Literasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *