/Merawat Tidore di Tanah Jawa

Merawat Tidore di Tanah Jawa

“Tidore, negeri seribu kearifan,” kata yang mulia Sultan Tidore, H. Husain Syah, mengawali sambutannya dalam Gathering dan Launching lomba menulis blog tentang Tidore, sejarah, budaya dan kepariwisataannya.

Acara ini dilaksanakan oleh Ngofa Tidore Travel Team bertempat di Fola Barakati Food & Art, Cibubur, Minggu, 12 Februari 2017. Dihadiri oleh 70-an blogger serta media cetak dan televisi nasional.

Lebih jauh Sultan Husain Syah mengatakan, kearifan dan pengalaman panjang Tidore yang sukses mengelola kesultanan, sebagai sebuah negara berdaulat pada masa lalu, di tengah percaturan global yang dinamis dan kompleks juga tekanan kolonial Eropa, dan Tidore mampu menjaga martabat dan eksistensinya, sejatinya dapat dijadikan inspirasi bangsa Indonesia memecahkan permasalahan yang dihadapi.

Dari aras dan spirit itu lomba menulis ini pun memilih tema “Tidore untuk Indonesia”. Tema ini juga menafasi beberapa kegiatan yang dihelat oleh Ngofa Tidore Travel Team, sebagai dedikasi untuk Tidore, khususnya dalam peringatan Hari Jadi Tidore ke 909 tahun ini.

Bangkit dan Memberi Contoh

Ada cita dan obsesi besar sang Sultan, mendorong generasi Tidore dan generasi Moloku Kie Raha (Maluku Utara) meneguhkan eksistensinya, ikhtiar memperkuat eksistensi bangsa. “Kita harus lebih eksis. Tampil percaya diri dan berperan dalam kancah nasional bahkan internasional,” imbau sultan.

Baginya, jika potensi SDM daerah dapat berkiprah seperti yang diharapkannya maka bangsa Indonesia mampu tampil sebagai bangsa besar dan diperhitungkan dalam pergaulan antarbangsa dan percaturan global. Selain Sultan, sambutan juga disampaikan oleh Walikota Tidore Kepulauan, Capt. Ali Ibrahim. Sementara Jojau atau Perdana Menteri Kesultanan Tidore, Amin Farouq, yang juga seorang sejarahwan, Sofyan Daud, Sastrawan dan Budayawan Maluku Utara, tampil sebagai narasumber. Para narasumber menjelaskan sejarah, tradisi dan budaya serta kepariwisataan Tidore.

Hadir pula Sekretaris Daerah Kota Tidore Kepulauan, M. Thamrin Fabanyo dan Kepala Dinas Pariwisata dan Industri Kreatif Kota Tidore Kepulauan, Yakub Husain beserta sejumlah stafnya.

Fola Barakati dan Ngofa Tidore Travel Team

Fola Barakati, seperti makna namanya, rumah yang terberbakati atau rumah keberkahan, ia membawa berkah kecil bagi Tidore, tanah asalnya si nyonya rumah, Anita Gathmir, yang juga kordinator Ngofa Tidore Travel Team dan inisiator gathering blogger dan launching lomba menulis blog ini.

Plang hitam bertulisan putih “Fola Barakati Food & Art”, cukup menginformasikan, bangunan ini sehari-harinya adalah restoran yang menyatu dengan galeri seni. Terpajang di galeri mini ini koleksi aneka kerajinan khas Tidore, keramik dan handicraft hasil industri kreatif lainnya. Umumnya bernuansa etnik. Menariknya, meski penyelenggaranya Ngofa Tidore, yang artinya Anak Tidore, seamatan saya, pegiatnya tak hanya anak-anak dari Tidore. Nama-nama seperti Annie Nugraha, Katerina S dan beberapa lainnya yang aktif di dalam kegiatan ini tentu saja bukan “ngofa Tidore” tetapi mereka sangat me-“ngofa Tidore”. Begitu total dan dedikatifnya. Ini menjadi cara penyadaran tersendiri kepada “ngofa tidore” asli terutama mereka yang kurang me-“ngofaTidore”.

Minggu pagi yang lembab. Guyuran hujan semalaman meninggalkan genangan di halaman depan, persis di pintu masuk ke halaman depan Fola Barakati. Ratusan orang memadati rumah ini hingga ke pekarangannya, yang sepintas amatan saya, luasnya kurang lebih seperempat hektar.

Di berandanya makanan saro (makanan perjamuan adat) tertata rapi. Terhidang pula Kofi Dabe (kopi rempah khas Tidore) dan aneka kuliner khas Tidore. Sejumlah keluarga asal Tidore dan Ternate atau dari luar Tidore yang pernah bertugas lama di Tidore hadir dan terlihat bersukacita. Suasana hangat penuh silaturahim.

Di antara yang hadir tampak tokoh sepuh Mama Lala Fabanyo beserta keluarganya, Irjen Polisi Hidayat Fabanyo dan istri, Ny. Yayuk Ibrahim A. Karim dan ponakannnya, Eky Toekan, putra Bapak I.E. Toekan, Bupati Halmahera Tengah era 1980an bersama istri dan saudaranya, Ny. Ratna Monoarfa, dan puluhan tokoh lainnya. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi Tidore yang studi di Jakarta juga hadir.

Di sisi kanan rumah ada panggung kecil sekitar 2,5 x 2 meter. Dekorasinya ringkas dan sederhana. Kain bernuansa etnik sebagai latar. Di sekelilingnya diletakkan beberapa kerajinan dan perkakas khas Tidore. Ada rak pajangan dari bambu tutul, tifa tui, lesa, pala dan fuli, cengkeh, kayu manis dan sebagainya.

Dari panggung kecil ini musik akustik yang dimainkan Ngofa Tidore, mengantarkan lagu-lagu manis berbahasa Tidore atau lagu-lagu berlanggam melayu khas Maluku Utara dan Maluku. Lagu-lagu itu menghangatkan suasana silaturrahim penuh persaudaraan.

Di beberapa bidang dinding rumah yang agak lebar terpajang apik foto-foto Tidore, foto tempo dulu hingga foto-foto kekinian.

Fola Barakati di jalan Leuwinanggung Cikeas No 38 ini seketika berubah menjadi tempat iven yang representatif. Bangunan berlantai dua dan pekarangannya terpakai untuk acara. Di lantai duanya gathering dan launching berlangsung hikmad. Peserta dan undangan antusias mengikuti pemaparan yang diselingi dengan pemutaran video-video tentang Tidore. Bagi-bagi hadiah sebagai pemuncak acara membuat acara lebih meriah. Pemenang “live post competition” twitter dan instagram juga pemenang games pertanyaan spontan tentang Tidore, berhasil membawa pulang aneka hadiah yang juga khas Tidore.

Serunya lagi, selepas acara diadakan pertunjukan “Baramasuwen” atau Bambu Gila. Sebagian besar blogger bahkan tamu undangan asal Tidore surprise dan bersyukur, menyaksikan langsung pertunjukan ini mulai dari persiapan hingga akhir prosesi. Beberapa bahkan ikut bermain.

“Ih, bambunya seperti punya tenaga sendiri ya?” kata Abdillah M. Marzuqi, wartawan Media Indonesia selepas ikut bermain Bambugila. Abdillah mengaku sangat senang, itu pertama kalinya dia menyaksikan langsung bahkan ikut bermain Bambugila.

“Bagaimana latar ceritanya?” Abdillah bertanya antusias.

“Baramasuwen atau Bambugila di masa lalu biasa digunakan dalam pekerjaan berat seperti mengangkat atau memindahkan benda yang besar dan berat,” saya menjelaskan singkat.

“Berarti ada spirit gotongroyongnya, ya?” kata Abdillah dan saya mengangguk.

“Luar biasa, ini bagus dikembangkan dalam tulisan nanti. Saya senang sekali,” kata Abdillah antusias. (*)

Penulis:

sof

Sofyan Daud | Pendiri Komunitas Garasi Genta dan Budayawan asal Maluku Utara

Views All Time
Views All Time
243
Views Today
Views Today
1
Like
2