Loading...
JELAJAH

Mengenang Lengang: Barisan Keinginan di dinding Hagia Sophia dan Benteng Gamlamo

Ombak laut, sesekali mendebur, sesekali meriak. Kilauan-kilauan peraknya, dalam suatu proses yang tidak dapat terjelaskan, memancar hingga ke sanubari. Ia menyampaikan salam yang dibawa oleh arus supaya kehidupan tidak berhenti menceritakan riwayat pantai atau hikayat tentang butir-butir pasir yang tidak kunjung kembali ke dasar samudera. Supaya semua orang paham, bahwa waktu bergerak horizontal menuju ke hanya satu arah yang tidak akan pernah diduga.

Sore hari ini aku bersama sahabat-sahabat kecilku duduk sejajar bermain pasir di tepian pantai yang menghadap langsung ke Pulau Halmahera di arah timur. Kami berbincang banyak hal dengan memeras otak kecil kami.

“Kau tahu teman, aku ingin sekali melihat dunia.. Berkeliling melihat-lihat setiap peradaban membangun riwayatnya” Seorang temanku membuka apa yang ada di kepalanya.

“Hmm.. Begitu..!?” Aku menggumam.

“Kemana tempat yang paling ingin kau kunjungi?” Tanya temanku yang satunya lagi, ia mendongakkan kepalanya tanda penasaran.

“Pertama-tama aku ingin melihat Hagia Sofia, sebuah bangunan bersejarah di Turki..” Jawab temanku yang pertama, lalu matanya menengadah keatas, tanda bahwa Hagia Sofia yang disebutnya bukanlah tempat sembarangan.

“Kenapa..?” Temanku yang bertanya masih penasaran.

“Dari banyak literatur yang aku baca, terdapat hubungan yang erat antara Kesultanan di Maluku Utara dengan para pedagang arab yang datang ke kepulauan ini ribuan tahun lampau. Mereka adalah orang-orang Turki. Bukankah bangsa arab yang berhasil merintis peradaban maritim hanyalah Turki dibawah kekaisaran Usmani..!?” Temanku ini mempertegas alasannya.

“Maksudmu ketika Muhammad Al-Fatih dalam waktu satu malam berhasil membawa 70 kapal perang jenis Birgantin yang berukuran besar itu dari laut Mediterania kedalam Selat Bosporus melewati bukit Galata pada 29 Mei tahun 1453?” Aku menyambungnya.

“Ya.. Itulah..!” Jawabnya singkat.

“Ku akui itu cerdik, tetapi apakah sebuah kerajaan dapat didaulat sebagai kerajaan maritim hanya karena ia berhasil menyeberangkan banyak kapal melewati sebuah gunung?” Temanku yang penasaran memotong.

“Ya.. Orang-orang Byzantium khususnya yang berada di Konstatinopel sampai mengira pasukan Turki menggunakan jin. Mereka lalu bersembunyi di Hagia Sofia ketika barisan Pasukan Turki berderap kedalam kota..” Jawab temanku sambil mengangkat satu keningnya, seperti membanggakan peradaban yang sangat ingin dia kunjungi.

“Bagaimana menurutmu dengan Baabullah Datu Syah, yang dalam kampanye pembalasan kematian Sultan Khairun mengepung orang-orang Portugis didalam Benteng Gamlamo dari tahun 1570 hingga 1575, membuat mereka menderita hingga memakan bangkai tikus dan meminum air kencing mereka sendiri?” Aku mencercanya dengan sebuah pertanyaan.

“Ya.. Kukira itu luar biasa, tetapi tidak sebanding dengan penaklukan Byzantium..” Jawaban temanku mendengung.

“Mungkin karena tidak di-hadist-kan..” Aku terkekeh.

“Ya benar.. Portugis akhirnya meninggalkan seluruh Kepulauan Nusantara pada saat itu. Pernahkah kau berkunjung ke Benteng Gamlamo?” Temanku yang tadi penasaran jadi tergelitik.

Kami lalu sunyi. Dalam lengang itu aku merenung sejenak. Ini tidak seperti yang kita bayangkan. Sama seperti ketika puluhan ribu penonton di Gedung Opera terbesar di Wina tidak dapat membayangkan isi pikiran mereka sendiri ketika pada tahun 1803 seorang Ludwig Van Beethoven yang tuli menjemarikan Sonata, Kuartet, dan Konserto 9 Simfoni agungnya dengan maha indah di telinga mereka. Tepuk tangan kekaguman yang membahana selama lebih dari 30 Menit ironisnya tidak didengar oleh Beethoven sendiri, si tuli diatas panggung, sang pemain sekaligus pencipta itu semua.

Kurang lebih seperti itu, ditengah pujian yang dilontarkan oleh kehidupan sepanjang zaman, seorang Muhammad Al-Fatih mungkin tidak akan mendengarnya. Mungkin ia akan gelisah karena Turki yang dibangunnya telah dijadikan sebagai medan pergolakan kepentingan antara generasi Sekuler melawan Fundamentalis. Baabullah Datu Syah juga demikian, ia pasti akan marah besar ketika mengetahui imperium 72 Pulau yang dihimpunnya kini hanya menjadi sebuah kota Pulau kecil yang tidak penting bahkan oleh sejarah. Ia pasti sangat menyesal telah mendoktrin ratusan ribu prajuritnya untuk berani mati di medan perang. Kenapa? Karena kegagalan sejarah masa kini pelan-pelan akan menghapus nama dan perjuangan mereka dari kertas peradaban masa lalu!.

Entahlah, bagaimana itu bisa terjadi. Saya juga tidak dapat memperkirakan seperti apa kemarahan seorang Alexander The Great (Alexander yang Agung) ketika mengetahui Kekaisaran Macedonia yang dibangunnya, saat ini hanya menjadi sebuah negara kecil pengharap talangan di Eropa. Bagaimana bisa Kekaisaran terbesar dalam sejarah umat manusia bisa bernasib hari ini, penguasa tiga benua yang dibangunnya dari medan Perang Gaugamela pada tahun 331 SM dengan menaklukan Persia hingga kisah heroiknya membawa 400.000 pasukan menyeberangi pegunungan Hindu Kush pada tahun 320 SM dan memanah lebih dari setengah populasi monyet-monyet di Hutan India. Ia pasti sangat kesal, karena hampir setengah umur yang telah dia habiskan untuk berjalan di daratan Eropa, Afrika dan Asia tidak dijaga oleh penerusnya.

Terlepas dari itu semua. Kukira, beginilah bentuk dunia saat ini, sebagaimana yang oleh Fernand Braudel perkirakan pada tahun 1960-an tentang munculnya penjelasan baru mengenai dunia yang akan menggantikan penjelasan yang dicetuskan oleh Descartes, Newton (yang dibuat berdasarkan penjelasan Copernicus), dan Galileo (Abad ke-15 sampai dengan abad ke-17), yang masing-masing menganut dan telah menggantikan pandangan yang diwariskan oleh masa Yunani Kuno sejak Aristoteles dan Ptolomeus, guru dan juga sahabat Alexander yang secara penuh menyerap pandangan mengenai dunia melalui Plato. Intinya, dunia saat ini tidak seperti yang dipikirkan Alexander, atau Al-Fatih, atau juga Baabullah.

Beginilah mata dan pikiran kita menangkap dunia saat ini. Tentu saja, sebelumnya tidak akan terbayangkan di benak seorang Al-Fatih atau para perawi hadist-hadist setelah Nabi Besar Muhammad, bagaimana bisa orang-orang laut berambut ikal dan berkulit semi-hitam seperti kita bisa menjadi penganut Islam dimana leluhurnya pernah memperjuangkan imperium Islam dengan budaya maritim yang demikian kuat di pelosok timur seperti ini. Mengalahkan para penakluk mereka dari Eropa dalam setiap pertempuran-pertempuran nan bersejarah untuk kemudian pada episode selanjutnya menyatukan kawasan dan pulau-pulau yang dihuni oleh orang-orang kulit hitam di ufuk timur kedalam suatu pemerintahan yang menerapkan syariat Islam. Lalu kemudian, perang antar sesama menghancurkan semuanya. Sampai detik ini.

Ketika mewakili Provinsi dalam suatu LKTI di Jakarta pada beberapa tahun lalu, seorang juri yang saat ini telah menjadi menteri di kabinet “Bakarja” memprotes pernyataan saya didalam karya tulis saya, bahwa; “Konflik di Maluku Utara, entah itu konflik politik dan sosial harus dihentikan karena menjadi penyebab bagi terhambatnya pembangunan di daerah tersebut..”. Entah karena mengujiku atau memang benar-benar pandangan rasional darinya, ia membuat sebuah pernyataan bahwa konflik adalah suatu faktor yang menggencarkan pembangunan, suatu contoh maha penting adalah Amerika Serikat dengan Perang Sipil antara Republik melawan Konfederasi pada tahun 1861-1865. Saya kira, beliau telah mengabaikan fakta bahwa Amerika Serikat saat ini dibangun setelah Perang Sipil bukan oleh Perang Sipil. Bagi saya tetap, konflik hanya akan membangun puing-puing kehancuran. Itulah yang terjadi di Provinsi kecil ini, mengutip fakta-fakta yang ditampilkan Gerry Van Klinken di halaman 81 buku Perang Kota Kecil yang ditulisnya.

Pada akhirnya, kita akan sampai pada kesimpulan pragmatis bahwa perang dan pertikaian yang berkepanjangan telah bertanggungjawab terhadap kehancuran sebuah peradaban. Alexander, Al-Fatih dan Baabulah, mereka semua berada di periode waktu yang berjauhan antara satu dengan yang lain, tetapi episode akhir dari apa yang mereka tinggalkan tidak jauh berbeda. Keniscayaan itu tergambar dibalik tembok Hagia Sofia dan ataupun reruntuhan Benteng Gamlamo, serta sisa-sisa bangunan kota di Babylonia.

Yang tersisa kemudian hanyalah Lengang. Bukan hanya beberapa jenak yang lalu, ia telah berlangsung selama berabad-abad. Jauh, hingga di detik ini, di pantai beraroma pala dan cengkeh dimana tiga orang sahabat berkulit hitam bercerita dengan keinginan-keinginan kecilnya masing-masing.

Lalu…

“Tunggu dulu…! Dimana itu Benteng Gamlamo?” Temanku yang ingin ke Turki bertanya.

 

Penulis: Muhammad Guntur

Views All Time
Views All Time
156
Views Today
Views Today
1
Like
1
One comment
  1. Muhamad Zainudin

    makasi gun sudah mengingatkan dengan cara membahasakannya yang sangat apik. apa karena kehidupan itu berputar dan tak ada yg abadi tapi bukan berarti melupakan sejarah. perang hanya akan menyisakan kehancuran, duka tangis air mata. dulu bangsa kita hebat, seharusnya sekarang lebih hebat. maluku dalam bingkai NKRI bersama pulau pulau lainnya akan tetap bersama … 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *