/Mengenal Kearifan ‘Parade Juanga’ Orang Tidore

Mengenal Kearifan ‘Parade Juanga’ Orang Tidore

Sebuah kapal kayu yang dikutkan dalam prosesi adat 'Parade Juanga' dalam rangka perayaan Hari Jadi Tidore yang ke-909 | Foto oleh Oely Alfathani
Sebuah kapal kayu yang diikutkan dalam prosesi adat ‘Parade Juanga’ dalam rangka perayaan Hari Jadi Tidore yang ke-909 | Foto oleh Oely Alfathani

SULTAN Tidore, Husain Syah bersama Bobato adat, Sigi Kolano Kesultanan Tidore bersama rakyat Tidore pagi, tepat Senin, 10 April 2017 dengan cuaca yang cerah, seakan lautan dan langit tunduk menyaksikan Sultan dan rakyat Tidore bersama kora-kora menuju Kota Ternate demi melaksanakan tanggung jawab serta silaturahim bersama masyarakat Tidore di Ternate. Dalam silaturahim tersebut kita sebut dengan “Parade Juanga” (keliling pulau dengan kapal formasi perang oleh Sultan serta bala tentara).

Tepat di depan jembatan singgasana, yang biasa tempat keluar dan persinggahan armada (kora-kora) Sultan dan Bobato adat di Hari Jadi Tidore, yang tak jauh dari Kadaton Kesultanan Tidore yang berada di Kelurahan Soasio Kota Tidore Kepulauan. Saya dan kapal kora-kora dari Satpol PP yang terdiri dari 15 orang lebih bersama 4 armada berlabuh di Pelabuhan Trikora, menunggu Sultan Tidore dan Jou Boki, bobato adat beserta unsur Muspida dari Kadaton Kesultanan menuju ke pelabuhan.

Bersama dengan kora-kora yang ditumpangi sekitar 15 orang lebih, dari pelabuhan Trikora menuju dermaga Kesultanan Dorokolano sekira 09.50 WIT, dengan tujuan mengikuti prosesi adat Parade Juanga. Setelah tiba di pelabuhan tersebut, saya beserta rombongan yang menggunakan kapal kora-kora, yang dikelilingi oleh bendera merah putih, kemudian samping kiri-kanan dikelilingi daun kelapa. Begitu juga dengan armada yang lain. Namun sebagian kapal kora-kora menggunakan tifa, demi melantunkan suara merdu untuk membangkitkan semangat perjalanan dalam Parade Juanga.

Di depan jembatan Kesultanan Tidore, kurang lebih 30 kapal kora-kora telah di lautan untuk menunggu Sultan Husain Syah dan Jou Boki, Bobato Pehak Raha (Dewan Menteri) Kesultanan, Walikota Tidore Capt. H. Ali Ibrahim, SH., MH dan Wakil Wali Kota Tidore Muhammad Senin, SE, undangan beserta bala rayat turun dari Kadaton.

Setelah menunggu beberapa jam di lautan, di teluk Saosio terlihat gelombang laut yang tak bisa menahan kekejamannya. Di saat para bala rayat dan para Gimalaha berlabuh di lautan dengan tujuan mengawal armada dari Kesultanan Tidore berserta Bobato dan unsur pimpinan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan.

Beberapa jam menunggu, Sultan dan Jou Boki beserta rombongannya pun menuju ke pelabuhan untuk melaksanakan prosesi Parade Juanga. Sultan dan Jou Boki, Bobato adat Kesultanan Tidore bersama unsur Muspida dari Pemerintah Kota Tidore Kepulauan menumpangi armada yang berukuran lebih besar dari armada lainnya.

Sebelum melakukan Parade Juanga, Sultan dan Jou Boki, Bobato dan perangkat adat Kesultanan berdoa disertai mengililingi lautan sebanyak tiga kali atau Siloaloa agar dianugerahkan keselamatan dan kesejahteraan dalam pelaksanaan Hari Jadi Tidore yang ke-909.

Di dalam pelaksanaan Parade Juanga, armada dibagi menjadi beberapa formasi perang bala tentara atau disebut Hongi Taumoi se-Malofo, di depan armada yang ditumpangi Sultan dan Jou Boki beserta Bobato adat dikawal dua armada Gimalaha Tuguwaji dan Gimalaha Tomalou, di samping kanan dikawal oleh Gimalaha laho, Gimalaha Tuguwiha, di samping kiri dikawal oleh Gimalaha Tungwai dan Gimalaha Dokiri dan di belakang armada Kesultanan Tidore dikawal oleh pasukan Mare dan Sangaji Laisa. Dan armada lain yang dimaksud adalah, seluruh bala rayat yang diwakili oleh masing-masing kepala kampong/kelurahan atau (Nyili Tumdi) turut ikut meramaikan Hari Jadi Tidore dengan Parade Juanga.

Dengan cahaya matahari membakar semangat para bala rakyat. Di teluk Kesultanan Dorokolano, Sultan dan Jou Boki, Bobato adat bersama Pemerintah Kota Tidore Kepulauan tiba di pelabuhan Residen Kota Ternate sekira pukul 11.00 WIT menggunakan armada yang berjumlah 30 lebih.

Setelah dari jembatan Residen, Sultan dan Jou Boki, bersama Bobato adat Kesultanan Tidore beserta Walikota dan Wakil Walikota Tidore Kepulauan dan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) menuju kadato Tidore di Kelurahan Muhajirin dengan tujuan silaturahim dengan masyarakat Tidore di Kota Ternate bersama perangkat adat Tidore di kelurahan setempat  dan Bobato adat Kesultanan Ternate.

Dalam sela-sela silaturahim bersama rayat Tidore di Kota Ternate, Dinas Pariwisata Kota Tidore Kepulauan sebagai panitia penyelanggara, Yakub Husain menjelaskan, “Bahwa prosesi ritual Lufu Kie ini tidak lagi dilaksanakan  karena dinilai terlalu sakral. Namun selain itu, bisa juga dilaksanakan tetapi harus mendapatkan izin dari Jou Sultan,” kata Yakub.

Semenjak beberapa menit, mewakili masyarakat Tidore di Ternate yang dalam sambutannya, mengatakan bahwa, kami dan seluruh masyarakat Tidore di Ternate telah bersyukur dan berterima kasih atas Sultan dan Jou Boki  telah bertatap muka dengan kami di Hari Jadi Tidore yang ke-909 ini.

Secara terpisah, Wakil Walikota Tidore Kepulauan, Muhammad Senin, SE dalam penyampaian silaturahim tersebut, menjelaskan di Hari Jadi Tidore ke 909 ini, tentunya kita bangkitkan semangat kearifan budaya serta melestarikan budaya-budaya yang di Tidore dan Maluku Utara pada umumnya, agar generasi saat ini bisa mengenal sejarahnya.

Selain itu, kata Muhammad, “Di Hari Jadi Tidore ini, kita bersama-sama mengekspos cagar-cagar budaya serta pariwisata yang tersebar di seluruh daratan Tidore. Dan kita jadikan Tidore sebagai icon pariwisata yang tak ternilai harganya,” paparnya.

Sedangkan di lain sisi, Walikota Tidore Kepulauan, Capt. H. Ali Ibrahim, SH., MH juga menyampaikan lewat Pemerintah Kota Tidore Kepalauan, kami menduniakan Tidore melalui Kementerian Parawisata di tanggal 5 April pukul 21.00 WIT beberapa hari lalu. Bahwa, mari meningkatkan budaya dan tetap menjaga kearifannya. Dan pada Senin, 10 April 2017 kemarin telah digelarkan prosesi adat istiadat yang kita sebut “Pengambilan Ake Dango” yang dimulai dari Gurabunga. Ini berarti bahwa, semua bala rakyat Tidore mengingatkan kembali sejarah silam yang pernah di pimpin oleh Jou Sultan Nuku, dengan nama lengkap (Syaidul Djihad Muhammad Al Mabu’s Amiruddin Syah, Kaicil Paparangan pada tahun 1797-1805).

Selanjutnya bahwa, kami atas nama Pemerintah Kota Tidore Kepulauan (Walikota Capt. H. Ali Ibrahim, SH., MH dan Wakil Walikota Muhammad Senin, SE telah berkomitmen mengembalikan sejarah Kesultanan Tidore di masa kejayaannya).

Hal yang sama disampaikan oleh Walikota Ternate, Hi. Burhan Abdurachman, SH., MM disela-sela silaturahim bersama Sultan dan Jou Boki beserta Bobato adat Kesultanan Tidore, Bobato Kesultanan Ternate serta masyarakat tanah raja di lingkungan Muhajirin, tepat Senin, 10 April 2017 ini, semua masyarakat Tidore di Kota Ternate menyaksikan prosesi adat yang kita sebut “Parade Juanga”.

Dengan kejadian seperti ini, menjadi sebuah sejarah yang pernah dilakukan Sultan di masa lalu. Di Hari Jadi Tidore ini, tentunya kita menjaga, memelihara serta melestarikan sejarah adat dan budaya di daerah ini dengan tujuan mempromosikan pariwisata yang akan kita perkenalkan ke Indonesia.

Tentunya lewat Pemerintah Kota Ternate, Pemerintah Kota Tidore, dan Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat yang sedang melaksanakan kerja sama atau melalui konsep ‘Segi Tiga Emas’ di bidang Pariwisata. Kita ketahui bersama bahwa, hampir seluruh masyarakat Kota Ternate, terutama dalam Ikatan Keluarga Tidore (IKT) yang berada di Provinsi Maluku Utara, tetap dijaga dan silaturahim perlu dirawat dalam rangka meningkatkan kerja sama di masa akan datang.

Secara terpisah, Jou Sultan Tidore, Husain Syah dalam memberikan Mukadimah di hadapan Bobato adat Kesulatan Tidore, Bobato adat Kesultanan Ternate, Pemerintah Kota Ternate dan Pemerintah Kota Tidore beserta kadato Tidore di lingkungan tanah raja kelurahan Muhajirin, tentang prosesi Keliling gunung (Lufu Kie) dilaksanakan secara ritualnya bahkan singgah di Kesultanan Ternate, tepatnya di Dodouali, karena itu adalah peninggalan warisan dari orang tua-tua kitorang (leluhur). Akan tetapi ritual kali ini, Lufu Kie belum dilaksanakan, yang dilaksanakan adalah “Parade Juanga”.

Hal tersebut, tidak menghilangkan substansi untuk menggelar silaturahim ini. Dalam Hari Jadi Tidore yang ke-909 tahun ini, ada jalinan kerja sama antara masyarakat di Jailolo, Bacan dan umumnya Provinsi Maluku Utara. Maka daripada itu, mari kitorang rubu-rubu rame-rame, kitorang bersatu (kita bersatu), dan melihat kembali apa yang kitorang punya orang tua-tua (leluhur) lakukan (biking) di Moti Verbond, dan pernah satu kali terjadi di Mareku.

Dalam menjalin kerja sama ini, dengan tujuan mengangkat harkat dan martabat orang di Maloku Kie Raha. Bukan hanya orang Tidore, tetapi Ternate, Bacan dan Jailolo yang meliputi seluruh provinsi Maluku Utara. Selain itu, terdapat jazirah-jazirah yang pernah dikuasai oleh Sultan di waktu itu, pulau-pulau Mindanau yang dikuasai oleh Kesultanan Tidore, sebagian kecil di Afrika Selatan dikuasai oleh Kesultanan Tidore, Raja Ampat serta pulau-pulau di Ambon adalah milik Kesultanan Tidore dan Kesultanan Ternate.

Di hari ini, mari bersatu, kitorang (kita) jaga dan pelihara dengan sebaik-baik mungkin silaturahim ini, insyah Allah cahaya di atas cahaya yang pernah dibangkitkan oleh leluhur di bumi Maloku Kie Raha tetap bersinar. Bahkan orang tua-tua pernah bilang (berkata): E…. Ngofa e No Jaga Fola Laha-laha, No Gahi Ruba Ena Ma Buku Raha Ifa. Gahi Jira ena Ma Buku Raha ifa (bahwa kitorang ini diwarisi, untuk menjaga kitorang punya tradisi, kitorang punya syairiat-syariat  yang Allah turunkan kepada kitorang. Kitorang punya orang tua-tua kase tinggal kitorang. Dan bagaimana kitorang menjaga syariat, bagaimana kitorang berjalan dengan ilmu tariqat, dan bagaiamana kitorang tahu dan menjaga dan sampai pada maqrifat dan terakhir bagaimana kitorang sampai pada hakikattullah, ketika berhadapan dengan Allah).

Kalau itu yang kitorang jaga, pelihara serta torang ketahui, Insyah Allah Negeri ini akan menjadi negeri “Baldatul Thayyibatun Wa rabbun ghofur”. Kemudian dalam perjalanan ini, mari kita merajuk kembali apa-apa yang sudah tercerai-beraikan, kini kitorang satukan kembali. Karena yang dimaksud bersatu di sini adalah tidak ada fraksi-fraksi, faksi-faksi, dan tidak ada kumpulan sana dan sini, karena kitorang berasal dari Qufuur (satu).

Penulis:

Mansur

Mansyur Armain | Pekerja Pers di Malut.co

TAGS:
Views All Time
Views All Time
348
Views Today
Views Today
1
Like