Loading...
PERSPEKTIF

Mengapa Beta?

“Indonesia tanah air beta pusaka abadi nan jaya…

….di sana tempat lahir beta dibuai dibesarkan bunda” .

Bebaris lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki, pembuka tulisan ini, sebenarnya telah gamblang menjelaskan pertanyaan mengapa kata “beta” digunakan Garda Nuku menegaskan keberadaannya, “Beta Garda Nuku”, juga “Beta Pulang” yang seolah sahutan pada “Nuku Pangge Pulang”.

Lema “beta” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pronoun yang artinya “saya”. Kata “beta” digunakan oleh orang-orang besar zaman dulu dalam cerita klasik Melayu, juga digunakan oleh penyair dalam karya sastra era Pujangga Lama bahkan sampai ke era Pujangga Baru. Lirik lagu Indonesia Pusaka adalah salah satu contohnya.

“Beta” dengan demikian adalah kata baku Bahasa Indonesia serapan dari Bahasa Melayu, dan Bahasa Melayu adalah bahasa internasional Nusantara di masa lalu. Komunikasi antarnegara, antarentitas suku-bangsa kawasan Nusantara, antara entitas suku-bangsa Nusantara dengan orang asing, dari Cina, Arab, Gujarat, Eropa, ataupun sebaliknya, sama menggunakan Bahasa Melayu.

Empat kesultanan di Moloku Kie Raha pada kurun itu dalam korespondensi dari dan kepada para sultan juga menggunakan Bahasa Melayu, dan kata “beta” digunakan di dalam korespondensi itu. Contohnya secarik surat dari Sultan Nuku Jou Barakati kepada Sultan Kamaluddin, 29 Agustus 1795:

“Beta paduka sri Sultan Saidul Jehad Muhammad Elmabus Amiruddin Syah, Kaicil Paparangan, raja atas sekalian negeri dan tanah-tanah yang bertakluk di bawah perintah Beta, mengirim warkat ini yang dimaterai dengan Beta ampunya materai agar dapat dipercaya, disertai dengan salam dan do’a kepada saudara adinda paduka sri Sultan Jou Khairul Alam Kamaludin Syah Kaicil Asgar, raja di Tidore dan sekitarnya….”.

Muncul pertanyaan kenapa kata “beta” tidak familiar dalam keseharian masayarakat di pusat Maluku? Pusat Maluku dimaksud adalah pulau-pulau utama, pusat dari pemerintahan keempat kesultanan Maluku atau Moloku Kie Raha, yakni Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Empat kesultanan ini, terutama Ternate dan Tidore pada masa lalu, merupakan epicentrum Maluku bahkan Nusantara Timur. Kawasan strategis perniagaan rempah dunia.

Kesultanan Ternate dan Tidore sebagai yang dominan, wilayah kekuasaan dan pengaruhnya meliputi wilayah provinsi Maluku sekarang, yang berpusat di Ambon. Istilah Fato Sio dan Fato Limau yang dikenal di Maluku-Ambon dengan Pata Siwa dan Pata Lima adalah sebutan wilayah pemerintahan kesultanan Tidore yang meliputi Seram Timur, Kei, Tanimbar, dan sekitarnya. Istilah Uli Siwa dan Uli Lima yang dikenal luas di Ambon dan seluruh Maluku dengan Siwa Lima, adalah istilah yang menunjukkan dua wilayah besar Maluku yang masing-masing di kuasai oleh Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore.

Beberapa kali kebijakan Pemerintah Hindia Belanda di dalam penataan wilayah administratif pemerintahannya, terakhir dengan membentuk Gouvernemen der Molluken yang berkudukan di Ambon. Kebijakan tersebut status quo sampai Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Wilayah adminitratif pemerintahan Indonesia setelah proklamasi yang mengikuti penataan wilayah administratif pemerintahan peninggalan Belanda, semakin memantapkan status quo itu.

Sejak perempat awal abad ke 19 (1824) dan terlebih lagi setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Maluku lantas diidentikkan dengan Ambon, bukan lagi dengan Ternate, Tidore, Jailolo, atau Bacan. Hal ini mengakibatkan generasi yang kurang tertarik mempelajari sejarah daerahnya sendiri, sering salah fahami yang berakibat pada sering pula salah kaprah.

Kembali pada pertanyaan, kenapa kata “beta” tidak familiar dalam keseharian masayarakat Moloku Kie Raha, Maluku lama — untuk membedakannya dengan Maluku baru di Ambon?

Sebagai seorang yang awam ilmu kebahasaan, dugaan saya, masyarakat di Moloku Kie Raha di dalam komunikasi sehari-hari memiliki bahasa pengantarnya sendiri, Bahasa Melayu Ternate — istilah yang digunakan oleh Masinambow, walau saya pikir lebih tepat bila disebut dengan Bahasa Melayu Maluku, Moluku Kie Raha atau Maluku Utara — kita (saya), ngana (kamu), torang (kami), ngoni (kalian), dorang (mereka)”.

Karena memiliki bahasa komunikasi sehari-hari sendiri yang sudah mapan, kata “beta” tidak mungkin menggantikan kata “kita” yang telah berurat-akar serta dipergunakan secara luas oleh masyarakat.

Di Ambon kondisi sosio linguistiknya barangkali berbeda. Atau, barangkali terdapat kosakata “beta” di dalam salah satu bahasa daerah yang relatif dominan di sana sehingga kata “beta” digunakan sehari-hari dan massif, dan kebetulan saja sama persis bunyi dan arti dengan kata “beta” di dalam Bahasa Melayu. Atau, boleh jadi karena ketiadaan bahasa pengantar yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari antarentitas dalam wilayah Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease sehingga bahasa sehari-hari di sana dipengaruhi oleh bahasa Melayu, Melayu Ternate, bahasa Portugis dan bahasa Belanda. Ini asumsi saya yang awam ilmu kebahasaan apalagi sosio linguitik Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease. Asumsi ini kemungkinan besar salah atau bahkan salah samasekali. Harapan saya, bagian ini dapat dijelaskan oleh mereka yang ahli.

Dalam kaitan ini perlu diperhatikan juga bahwa kosa kata “beta” selain digunakan oleh saudara-saudara kita di Ambon dan sekitarnya, juga digunakan oleh suadara-saudara kita komunitas di Kepulauan Sula dan sekitarnya.

Pastinya, Masinambow dalam tulisannya “Bahasa Ternate dalam konteks bahasa-bahasa Astronesia dan Nonastronesia”, menjelaskan, Bahasa Melayu Ternate berpengaruh besar dan luas di Timur Indonesia. 46 persen kosakata bahasa Melayu Manado diambil darinya. Juga dipergunakan luas di Timur Indonesia, terutama di Sulawesi Utara, pesisir Timur, Tengah dan Selatan Pulau Sulawesi, di Maluku (Ambon) dan Papua dengan dialek yang berbeda-beda.

Jadi jangan salah kira seolah Maluku dan kata “beta” identik bahkan mutlak bertalian dengan Ambon. Jangan pula salah kira seolah “kita-ngana” yang sehari-hari digunakan di Maluku Utara akibat dipengaruhi oleh bahasa atau dialek Manado. Justru sebaliknya, sebagai pusat, kebudayaan bahasa kita yang memengaruhi mereka.

Itu dulu. Cerita indah itu perlahan meredup sejak pertengahan abad ke-19. Sekarang dalam beberapa hal kita perlu belajar pada mereka.

Tetapi Garda Nuku berkhikmat memilih cara belajar terbaik yakni belajar mengenal kembali kebaikan dari masa lalu. “Kembali ke masa depan”, kata Ziauddin Sardar, dan, “Sebagian besar ketidakmampuan kita memecahkan masalah hari ini, disebabkan ketidakmampuan kita merawat warisan terbaik kita dari masa lalu”, begitu Yudi Latif mengingatkan kita.

Dari situ Garda Nuku terinspirasi menegaskan sikap “Beta Garda Nuku” agar resonansinya menasional. Lalu merancang tema dialogis memadukan sekaligus unsur kebahasaan sehari-hari “Nuku Pangge Pulang” dan sahutan formal, meng-Indonesia dan me-Nusantara, “Beta Pulang”.

Alhamdulillah itu berhasil. Berhasil disukai sehingga relatif menjadi viral di sosial media. Berhasil menggelitik kalangan tertentu sehingga bertanya-tanya. Berhasil pula bikin sebagian saudara bingung dan agak menggerutu.

Ah, tak apalah. Kebingungan yang terkelola kadang bisa berakhir pada pengertian yang lebih baik dan mendalam. Saya pikir begitu. Selamat saja kepada mereka yang masih bingung apalagi yang suka terus berpura-pura bingung.

Penulis: Sofyan Daud

Views All Time
Views All Time
997
Views Today
Views Today
3
Like
2
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *