/Menerjang Badai Kekuasaan

Menerjang Badai Kekuasaan

Jalan Lain Daniel Dhakidae Membaca

Rasa-rasanya tidak ada mnemonic tecnique (teknik menghafal) yang mampu, menayangkannya ke layar ingatan bangsa untuk dibikin berarti.

(Daniel Dhakidae—2015)

Ketika pertama kali, melihat  buku “Menerjang Badai Kekuasaan” yang ditulis Daniel Dhakidae (2015), terbitan Kompas. Segera nampak dicover depan, keterangan kunci untuk membaca dan menelesuri peran para Tokoh, dari Sang Demonstran, Soe Hok Gie, sampai Putra Sang Fajar, Bung Karno. Saya kutip keterangan kunci  Dhakidae di bawah ini, sebagai pengantar lebih lanjut untuk memahami, “jalan lain” yang dibangun Pemred Jurnal  Populer Prisme ini. Di Sudut Cover buku itu, Dhakidae Menulis;

Buku ini memeriksa kekuasaan, relasi kekuasaan, dan akibat dari bagaimana kekuasaan itu bekerja di dalam diri sejumlah tokoh yang hampir tidak berhubungan satu sama lain.

Pertama, “kekuasaan kaum tak berkuasa,” (powerfulnes of the powerless) dimana bisa di baca Soe Hok Gie, Poncke Princen, Toety Azis, Pramoedia Ananta Toer, dan Rusli. Sebagian besar tidak memegang kekuasaan dalam arti kenegaraan. Namun, kekuasaan dalam pribadinya, dan institusinya menjadi tantangan besar bagi setiap penguasa.

Kedua, “Kekuasaan kaum Terbuang”, (Power Of The Out-Casts) — Rohimah, Taufik, Kusni Kasdut, dan Hengky Tupanwael. Mereka di kategorikan sebagai penjahat, yang harus di buang dari masyarakat. Namun, mereka berkuasa di dalam dunia “gelap” bagi kepentingan dunia “terang”.

Ketiga, “Kaum Berkuasa dan Ke-tak-kuasa-an” (Powerlessness of the powerful) — Mohammad Hatta, Margono Djojohadikoesoemo, Sam Ratulangi, Frans Seda, Abdurrahman Wahid “Gus Dur”, dan Soekarno. Separuhnya lebih menunjukan tragedi kekuasaan itu sendiri. Tragedinya terletak dalam ketakberdayaan mereka yang sangat mampu memecahkan soal demi harkat kemanusiaan sambil menunjukkan wajah muram dari kekuasaan itu sendiri.

Dari kategori kekuasaan yang dibuat oleh Dhakidae diatas, saya tertarik untuk mengulas kategori kedua —“kekuasaan kaum Terbuang”, dan membagi pesan penting dari kacamata lain Dhakidae ini kepada pembaca. yang saya maksud dari kacamata lain Dhakidae adalah prespektif yang tidak biasa, terhadap peristiwa yang biasa saja. Peristiwa yang biasa itu, di berikan prespektif yang seolah-olah tidak biasa. Semacam tafsir alternatif dari opini umum yang dikembangkan Publik. Keduanya bagaikan riak ombak yang sunyi dari gelombang. Opini umum adalah gelombang, sementara kacamata Dhakidae adalah riak yang sunyi, tidak bising.

Rohimah, Muksin Tamnge dan Kusni Kasdut

Dalam peristiwa tabrakan maut, dua kereta api di derah Pondok betung, Bintaro, Jakarta Selatan, 19 Oktober 1987 yang merupakan kecelakaan terburuk dalam sejarah terburuk perkeretaapian di Indonesia.

Peristiwa ini juga menyita perhatian publik dunia. Bahkan, peristiwa ini berhasil menghiasi seluruh pemberitaan media nasional ketika itu. Di tengah ramainya opini publik, media nasional menurunkan berita. Rezim Orba telah menggelontorkan banyak dana untuk uang duka kepada keluarga yang ditinggalkan, mati tak berdaya dipanggang api. Mendengar ini, Subaikah Sumringah, kemudian mengubah dirinya menjadi Rohimah, dan melakukan pengakuan palsu, nyawa suami dan anaknya ikut melayang bersama dalam tabrakan maut tersebut. Pengakuan Subaikah ini menurut Dhakidae adalah semacam “ekonomi kematian”.

Bahkan Kompas edisi 22 oktober 1987 menulis, “Rohimah, Janda almarhum, Endang bin Ardjan, tercenung menatap peti, jasad suaminya. Berdiri di pinggir lubang, berkali-kali ia mengusap air mata yang berlinang. Ia tampak begitu tegar dan berusaha kuat menahan ledakan tangis”. Dua hari setelah kompas menurunkan beritanya, semua tahu bahwa Rohimah bukan Rohimah, melainkan Subaikah.

Rahasianya kini sudah terungkap. Simpatik dari penjuru khalayak, seperti Pers, birokrasi, dan rakyat kebanyakan yang diberikan kepadanya, kini di tarik kembali. Rohimah harus berhadapan langsung dan berurusan dengan penegak hukum, birokrasi, dan meruyaknya kebencian publik atas prilakunya yang di cap tercela itu. Peristiwa Rohimah kemudian, menjadi semacam teras dari tragedi bintaro.

Dalam posisi seperti ini, Dhakidae justru tampil membela Rohimah. Dengan membadingkannya deng Adolfo Hitler, yang sama-sama menginjak mayat. Bedanya, adalah Hitler menginjak mayat, karena dia memang sang necropilic yang membenci kehidupan. Namun, “Rohimah” menginjak mayat bukan karena membenci kehidupan, tetapi sekadar menyambung kehidupan, dengan harapan mendapat satu juta dari harga dua mayat. Suami dan anaknya.

Hitler membenci bahasa-bahasa mati, profesional. melalui retorika hiperbolismenya, Hitler mampu menggusur jutaan pemuda-pemudi Jerman berbaris ke liang kubur. “Rohimah” adalah sebaliknya. Seluruh peribadinya, dengan lanskap bencana adalah retorika. Diamnya, tangisnya, isaknya, sedu-sedannya, air matanya tiba-tiba menjadi retorika.

Retorika Rohimah adalah peringatan sekaligus protes, secara tidak langsung kepada pemerintah, yang absen hadir memberikan solusi atas kemiskinan yang melilit kebanyakan rakyat indonesia. Rohimah merupakan representasi paling puitik dari perlawanan kaum minor yang abai dari keseriusan, “membangun” ala Orba. Dalam konteks inilah, pembelaan Dhakdae mendapat relevansinya.

Menurut Dhakidae, “kalau kita mau memberikan usul, pelajaran yang bisa ditarik dari Rohimah, bukan terutama pelajaran hukum, tetapi pelajaran ekonomi politik dan politik ekonomi, meskipun Perhitungan politik ala Rohimah memang menyakitkan — ekonomi kematian (penulis-Red)”. Rohimah telah memutarbalikan logika hukum. Kalau benar, dia bertindak kriminal, artinya dia merugikan negara yang memberinya santunan seharga dua juta rupiah untuk dua ankanya yang terbakar di lidah api. Namun, kalau negara menghibahkan santunan itu, sampai pada tangannya, maka Rohimah pun membuka bobrok birokrasi yang punya mata tapi tak melihat, telinga tapi tak mendengar. jeritan Ribuan-bahkan jutaan tangisan rakyat indoneisa, yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Berbeda dengan drama yang dimainkan Subaikah yang menyamar sebagai Rohimah. Muksin Tamnge dan Kusni Kasdut justru sebaliknya, mereka berdua tidak sedang berpura-pura menjalankan aksinya di dunia gelap. Mereka justru secara terus-terang, mengambil posisi antagonis ditengah publik. Sesuatu yang membanggakan, jujur terhadap perilakunya sendiri, yang dianggap umum sebagai perbuatan tercela dan menyimpang dari adab kesopanan dan kesusilaan. Dimasanya, Muksin Tamnge dan Kusni Kasdut adalah preman yang kesohor namanya dan menakutkan. Poluler di kalangan elite sampai masyarakat jelata sekalipun. Mereka berdua menjadi sorotan dan pengejaran aparat kepolisian, ditangkap, dan berkali-kali masuk penjara.  Dunia penjara sudah sangat lazim bagi mereka.

Tetapi, peran Muksin Tamnge dan Kusni Kasdut kemudian mejadi lain samasekali. ketika, Dhakidae seacara apik menunjukan cara membaca dan menafsir peran kedua preman ini. Dhakidae berhasil, atau separuh berhasil membuka cakrawala saya, yang selama ini ditutup dalam bayang-bayang opini umum—Premanisme— sebagai patalogi sosial dan kejahatan kemanusiaan. Karena itu, setiap yang datang, entah buruk, atau baik sekalipun, dari premanisme harus ditolak. Karena mengalami cacat bawaan dehumanisasi dan a-moral, yang tentu menyimpang.

Muksin Tamnge, pria kelahiran, Tual, Kei, Maluku, diujung tenggara 25 Desember 1938 Silam. Melewati pendidikannya di sekolah Islam Madrasah, Muksin pindah dan belajar di sekolah menengah atas di makassar, dan berhasil menggondol ijazah B1, study dua tahun setelah lulus SMA, dalam pendidikan Jasmani. Sesudah tinggal beberapa saat di Surabaya 1960. Dia di promosikan menjadi wakil kepala inspeksi pendidikan jasmani di Denpasar. Dengan latar belakang pendidikan jasmani yang memadai, dia dipilih untuk dikirim ke Belgrado, Yugoslavia dalam upaya nasional mendapatkan pelatih olahraga andalan. Karena Indonesia akan menyelenggarakan olahraga dunia revolusioner untuk menyaingi Olimpiade dengan mengorganisasikan Games Of the New Emerging Forces (Ganefo) untuk menggantikan Olimpiade yang oleh Soekarno dicap dan dituduh keras sebagai pekan olahraga imprelais.

Namun nasib tidak berpihak kepadanya, dia baru boleh dikirim ke Belgrado kalau membayar sejumlah uang, Karena tidak mampu membayar, keberangkatannya ke belgrado dibatalkan sama sekali. Dan dia dikirim pulang ke Denpasar, Bali. Sejak saat itu, Muksin mengambil langkah tegas, tidak lagi bekerja bagi pemerintah, dan memilih tinggal menetap di jakarta. Untuk menyambung hidup di Jakarta, dia sempat mengajar beberapa bulan disuatu SMA, merasa tidak puas dengan itu, dia kemudian bergabung dan terlibat dengan kehidupan preman Pasar Senen, yang cukup terkenal dengan tindak kriminalnya. Dari sana Muksin mengorganisasi 63 orang di bawah komandonya, suatu kelompok multi-etnik yang terdiri dari orang Betawi, Batak, Madura, yang tersebar dari seluruh jawa. Dari jakarta, Bandung sampai Surabaya. Bersama kelompok yang dipimpinnya, dia menciptakan rekor yang secara fantastik, sungguh menakutkan, 397 perampokan. Sering sekali ditangkap petugas, dan selalu berhasil melarikan diri. Di dalam penjara, dia mengorganisasikan pemberotakan kaum terpenjara, membakar sebagian penjara yang tua, dan yang besar.

Ada dua sasaran, Menurut Dhakidae yang mendorong Muksin melakukan kejahatan. Pertama, orang kaya yang memperkaya dirinya secara tidak wajar. Kedua, pegawai negeri yang memperkaya diri dengan menggunakan fasilitas negara.  Dalam satu kesempatan, bersamaan dengan hari kelahiran Isa Al-Masih, Desember 1987. Jurnal Prisma berhasil mewancarainya, Menurut Taufik, nama preman Muksin Tamnge;

“dalam setiap hasil dalam operasi, saya memperoleh sepertiga bagian. Selalu demikian, tetapi di sekitar saya ada orang susah yang memerlukan bantuan.

Mereka turut menikmati bagian saya itu. Saya tidak bisa melihat jika ada orang yang untuk suatu saat harus menahan haus dan lapar. Orang seperti ini harus saya bantu. Dengan merampok dan menodong, saya memang melakukan kesalahan. Tetapi di balik kesalahan itu saya ingin melahirkan manfaat bagi orang lain yang membutuhkan bantuan”.

Bahkan diakuinya, dalam petikan wawancara dengan Prisma, “saya pernah memberikan hadiah puluhan butir berlian kepada orang lain, dan saya pernah tidur diatas tumpukan uang yang jumlahnya miliaran. Tapi yang membuat saya puas bukan itu, melainkan. Kepuasan terasa di batin saya, jika saya berhasil melahirkan senyum yang tengah dirundung kesusahan dan penderitaannya dapat saya ringankan.”

Muksin begitu Paradoks, melakukan kebaikan dengan jalan kejahatan. Dunia premanisme, telah memungkinkan dia melakukan kebaikan. Seorang yang oleh negara, dipulangkan, karena tidak mampu membayar sejumlah uang yang diminta. dia barangkali, merupakan pelopor dari kombinasi sempurna baik-buruk sekaligus. Karena itu, Muksin Happy menyebut dirinya sebagai Bandit Sosial.

Taufik tercatat sebagai kriminal tingkat tinggi dengan 397 perampokan, namun dialah yang membuat kompensasi setiap kali melakukan kejahatan dengan mambaca Al-Quran sampai tamat, sebanyak 151 kali—548 kali lebih banyak dari kejahatan yang di lakukannya. Sebagai seorang rasional dalam kejahatan, dia menutup bukunya dengan laba 151 kali lebih banyak berhubungan dengan kitab suci dari kejahatan yang pernah di lakukannya.

lain Muksin Tamnge, lain Juga dengan Kusni Kasdut. berawal dari kekecewaan kepada Ibu kandungnya, ketika mengetahui, ternyata kelahirannya kedunia ini adalah hasil hubungan yang sumir dipastikan asal usul benih pria mana yang tercetak di dalam rahim ibunya, kemudian terbit jabang bayi lelaki, yang di berinama Kusni Kasdut. Hal tersebut begitu getir, sehinggga satu-satunya jalan terhormat untuk melepaskan hidup yang hina-dinanya seorang anak haram adalah dengan masuk menjadi anggota pemuda pejuang surabaya. Dan terlibat dalam beberapa pertempuran sengit.

Kusni mempunyai modal kuat, untuk masuk kedalam barisan pejuang kemerdekaan. Menjadi seorang putus sekolah, di kelas dua sekolah teknik, dia di latih  menjadi Heiho, polisi masa jepang, di dalam batalion Matsumura, dengan pangkat terahir menjadi Jokotei. Kemudian dia masuk menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan pangkat sersan. Ketika BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Kusni Masuk sebagai anggota Batalion Rampal. Ketika mengalami kekalahan di jawa timur, dia kemudian dipindahkan ke Jogjakarta, dan dimasukan kedalam pasukan khusus, di staf pertempuran ekonomi. Namanya bagus, namun tugas utama dari pasukan khusus ini adalah seperti mencuri, membunuh, merampok, merampas demi kepentingan perjuangan, untuk merebut kemerdekaan Indonesia.

Departeman kusus ini diisi segala macam orang dari dunia gelap, seperti, pelacur, germo, perampok dan pencuri. Sesudah pengalaman heroiknya dalam berbagai pertempuran, ditembak, ditahan, memimpin sesama tahanan keluar dari penjara Belanda, dia bertempur untuk terahir kalinya di Blitar, Jawa Timur, pertengahan 1949, sebelum gencatan sejata menuju Konfrensi Meja Bundara (KMB), di Den Haag. Dalam transisi Republik serikat, desember 1949—Agustus 1950, Hatta memimpin Kabinet. Kabinet Hatta kemudian secara radikal mengadakan “rasionalisasi” dengan jalan Reshaping angkatan perang. Karena itu, kebanyakan tentara, disalurkan menjadi pegawai negeri sipil.

Sesudah proses administrasi yang memakan waktu dan kesabaran, dan sesudah satu tahun menunggu, datanglah vonis fatal terhadapnya. Kusni Kasdut tidak pernah terdaftar sebagai Tantara Nasional Indoneseia. Namun, Kusni tidak pernah berhenti disana, dia memutuskan untuk membalas dendam kepada negara yang menghianatinya. Kemudian memilih tempat yang berseberangan dengan negara, yaitu menjadi penjahat.

Petualang Kusni dalam dunia rampok-merampok, perlu disebutkan, karya rampok yang mengguncangkan publik, 1963. Seperti yang yang dilaporkan, Antara, kantor berita resmi pemerintah. Sejumlah perhiasan intan, seharga 10 juta milik museum negara, dirampok, dan berhasil membunuh seorang petugas yang menghalanginya melakukan perampokan tersebut. Dalam pengejaran polisi, dia ditangkap di semarang. Dalam usaha penyalamatan diri, dia membunuh seorang brigadir. Dia diadili dan di ganjar hukuman mati untuk kedua kalinya, setalah hukuman mati pertama ketika dia membunuh seorang milioner Arab, 1950—an.

Dalam keputusasaan itu, ada satu hal yang menggoda umat manusia, yaitu Tuhan, dan agama yang ditinggalkannya. Menurut Kusni Kasdut, itulah kelahiran kembali, dan Kusni Kasdut berubah menjadi Ignatius Waluyo. Pertobatannya sama sekali tidak seperti yang biasa dibayangkan orang. Kerena selain kelahiran kembali semuanya seperti suatu akumulasi dari Kusni Kasdut—Ignasius Waluyo di dalam satu diri. Dimana paradoks demi paradoks seolah-olah selalu berada dalam proses mencari solusi.

10 September 1979, dia berhasil lari dari penjara, dan kembali menjadi Kusni Kasdut yang lama itu lagi. Untuk beberapa waktu, Kusni Kasdut menghiasi surat kabar Indoneisa. Baru kemudian, 17 oktober dia tangkap kembali. Ketika Soeharto, merintis ide briliannya, yang dikenal dengan Penembakan Misterius (Petrus), untuk menumpas tindak kejahatan. Suatu tindakan tegas sekaligus kejutan untuk penjahat. Dalam hubungan itu, 6 februari 1980 Kusni Kasdut—Ignasius Waluyo di tembak mati. Tiga peluru menembus dadanya, dan lima perutnya.  Berahirlah seorang petualang maut.

Rohimah, Muksin Tamnge dan Kusni Kasdut adalah semacam interlude dari gambaran kekuasaan lain yang dibahasakan Dhakidae,—“kekuasaan kaum terbuang”. Lewat peran antagonis yang dilakoni tiga tokoh ini, yang walaupun ketiganya memilih berseberangan dengan mainstrem yang dipeluk khalayak ramai sebagai iman. Setidaknya, mereka telah melawan badai kekuasaan, dengan berlaku sebaliknya, melawan negara. Disinilah, Dhaniel Dhakidae membuatnya menjadi sangat puitik.

Dhakidae menurut saya sedang membuat jembatan waktu, yang memungkinkan saya berdialog dengan Rohimah, Muksin Tamnge, dan Kusni Kasdut. Dialog intens dengan pikiran sendiri, telah mengantar saya menjemput sejumlah pengertian, yang ditimba langsung dari pengalaman heroik dari ketiga tokoh yang paradoks, juga kontradiktif tersebut. Tentu mengusik ingatan, yang tumbuh di bawah bayang-bayang opini umum.

Penulis: Indra Talip Moti

Views All Time
Views All Time
129
Views Today
Views Today
1
Like