/Menelusuri Kawasan Mangrove Lako Akediri, Daerah Perencanaan Destinasi Ekowisata

Menelusuri Kawasan Mangrove Lako Akediri, Daerah Perencanaan Destinasi Ekowisata

SEJAK bulan Mei-Agustus 2017, saya menelusuri dan melakukan penelitian di kawasan hutan mangrove Desa Lako Akediri. Bersama beberapa teman, penelitian skripsi yang berjudul “Kajian Kesesuaian Lahan Secara Ekologi dan Daya Dukung Kawasan Bagi Pemanfaatan Ekowisata Mangrove di Desa Lako Akediri Kecamatan Sahu Kabupaten Halmahera Barat” ini lumayan menantang.

Kondisi ekosistem yang berlumpur dan sistem perakaran pohon mangrove yang besar membuat saya memilih meneliti di area tepi sungai. Meski kriteria ketebalan mangrove yang kurang mendukung, empat parameter yang menjadi kriteria kajian kesesuaian lahan, yakni objek biota, pasang surut, kerapatan, dan spesies mangrove, sudah cukup mewakili.

Penulis saat mengamati dan mencatat data penelitian di kawasan hutan mangrove Desa Lako Akediri (Foto: Risman M. Djen)

Parameter-parameter tersebut bersumber dari matriks kesesuaian lahan ekowisata mangrove menurut Yulianda (2007) dalam Subur (2012). Meski begitu, dalam beberapa jurnal penelitian, matriks kesesuaian tersebut sudah banyak yang dimodifikasi.

Saya membuat stasiun pengamatan. Dalam penelitian ini, terdapat empat stasiun, yang masing-masing ditentukan berdasarkan keterwakilan kriteria parameter. Dua stasiun berada di timur sungai, dan duanya lagi berada di barat sungai.

Dalam stasiun tersebut dibuatkan transekkuadrat, sebuah metode dengan cara menarik garis tegak lurus, kemudian di atas garis tersebut ditempatkan kuadrat dengan ukuran 10 x 10 m. Metode ini untuk mengidentifikasi vegetasi atau komunitas biotik tertentu.

Hasil pengamatan di lapangan, saya menemukan tujuh jenis mangrove, di antaranya Bruguiera gymnorhiza (Dau), Rhizophora Mucronata (Soki-soki), Rhizophora Apiculata (Soki-soki), Nypa Fruticans (Bobo), Sonneratia Alba (Posi-posi), Avicenia Alba (Api-api), dan Xylocarpus granatum (Kira-kira). Selain itu, saya juga menemukan beberapa burung yang bertengger di atas ranting pepohonan mangrove.

Di area pengamatan, saya juga menemukan sejumlah biota, di antaranya udang sungai, kepiting, dan moluska (kerang). Menurut penuturan masyarakat, mereka juga sering menemukan ular di sekitar kawasan hutan mangrove.

Mereka mengaku, sudah sering keluar-masuk kawasan hutan mangrove. Beberapa di antaranya memanfaatkan ranting kering mangrove untuk kebutuhan dapur dan menyusuri tepian sungai untuk mencari udang. Tipe desa ini memang tipe desa pertanian dan perikanan, ini ditandai dengan aktifitas masyarakat yang umumnya sebagai petani dan nelayan.

Anak-anak menangkap ikan kecil (Foto: Rajif Duchlun/Jalamalut)

“Udang-udang ini untuk umpan ikan,” kata seorang nelayan, yang sempat saya jumpai, ketika ia dan teman-temannya sedang sibuk melempar alat tangkap udang ke tepian sungai. Dari atas jembatan, saya mengarahkan lensa kamera ke arah anak-anak yang bermain di sisi sungai. Mereka setiap sore memang sering menangkap ikan-ikan kecil. Kegiatan seperti ini biasa dilakukan saat air sungai sedang surut.

Di sebelah barat sungai, beberapa rumah singgah (Gazebo) sudah berdiri kokoh. Kendati begitu, tampaknya tidak terlalu terurus. Di atas meja dan tempat duduk banyak sekali kotoran hewan. Selain itu, di lantainya banyak sekali berserakan botol-botol bekas sisa minuman keras. Dari rumah singgah tersebut, sekitar 100 meter ke arah darat, terdapat satu-dua rumah adat yang sudah lapuk. Beberapa di antaranya sudah tidak memiliki atap.

Sejarah itu kini menyisai bangunan lapuk

 Banyak di antara kita yang belum mengetahui cerita-cerita seputar Desa Lako Akediri. Sekitar 100 meter dari kawasan mangrove, wilayah ini merupakan tempat bersejarah. Sultan Ternate, mendiang H. Mudafar Syah, menjadikan wilayah ini sebagai tempat beristirahat. Masyarakat di sana sering menyebutnya sebagai Kadatong Ici (Keraton kecil). Salah satu sumber, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan, tempat istirahat sultan ini dibangun pada tahun 1986.

Foto pembangunan Kadatong Ici (Keraton Kecil) di Desa Lako Akediri (Dulu: Marimbati Pante)

Sumber tersebut juga mengatakan, dulunya wilayah ini sering disebut Marimbati Pante (Pantai Marimbati). Sekadar diketahui, Marimbati merupakan salah satu Desa yang terdapat di Kecamatan Jailolo, yang jaraknya tidak begitu jauh dengan Desa Lako Akediri. Penyebutan Marimbati Pante bisa jadi karena daerah ini berdekatan dengan Desa Marimbati dan berada tepat di pesisir laut.

Namun, secara administratif, pada perkembangannya Marimbati Pante kemudian menjadi Desa Lako Akediri, dan masuk di wilayah Kecamatan Sahu. Sumber tersebut juga mengatakan, nama lain dari desa ini adalah Boleu Manyeku atau dalam bahasa melayu Ternate disebut dengan paser tatimbun (timbunan pasir).

Kalau tidak salah sekitar tahun 2003, Sultan Jailolo, H. Abdullah Syah beserta perangkat adatnya pernah tinggal di Desa Lako Akediri. Beberapa tahun kemudian, setelah Kedaton Kesultanan Jailolo dibangun di atas bukit Tagalaya, barulah mereka meninggalkan Desa Lako Akediri. Sekadar diketahui, bukit Tagalaya dulunya merupakan wilayah pemerintahan di masa keemasan Kesultanan Jailolo. Masyarakat adat menyebutnya Limau Tagalaya.

Sayangnya, daerah yang pernah dijadikan tempat istirahat Sultan Ternate, mendiang H. Mudafar Syah dan tempat tinggal Sultan Jailolo, H. Abdullah Syah itu, kini hanya menyisai bangunan-bangunan lapuk. Dinding-dinding yang bersejarah itu kini dikelilingi rerumputan. Dan cerita-cerita tentangnya kini banyak yang tidak mengetahuinya.

Saya berdiri di sana dan menyaksikan pohon-pohon tumbuh rimbun di tepi pantai. Setelah mengabadikan beberapa momen di sana, saya memilih untuk kembali ke daerah pengamatan penelitian.

Aliran sungai sepanjang kawasan hutan mangrove (Foto: Risman M. Djen)

Di stasiun satu, tepatnya di wilayah barat sungai, saya mencatat kembali titik koordinat yang sejak pagi sudah saya tulis di telapak tangan. Sore sudah tiba dan langit sudah jingga. Saya dan beberapa teman mulai berkemas, lalu kembali ke rumah, tepatnya di Desa Hatebicara, Kecamatan Jailolo.

Setelah melakukan perhitungan analisis menggunakan matriks kesesuaian lahan ekowisata mangrove, saya mendapat hasil lumayan memuaskan. Artinya, perencanaan dan pengembangan ekowisata mangrove di Desa Lako Akediri cukup sesuai untuk dikelola. Dari paramater-parameter yang terdapat pada matriks dan pendekatan sosial-ekonomi, sejarah, kebudayaan, dan faktor pendukung lainnya, wilayah ini sudah seharusnya mendapat perhatian serius.

Zulfikar (2012) menulis dalam penelitian skripsinya, kawasan hutan mangrove sudah sepatutnya dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat, misalnya dengan mengidentifikasi potensi mangrove untuk dikembangkan sebagai daerah destinasi ekowisata. Pengembangan ekowisata mangrove juga akan mengurangi pemanfaatan mangrove yang bersifat eksploitatif, misalnya konversi mangrove untuk area pertambakan dan kelapa sawit. (*)

Penulis:

Rajif Duchlun

Kru jalamalaut.com

Views All Time
Views All Time
609
Views Today
Views Today
1
Like