Loading...
WARTA

Menanti Aksi Akbar Mahasiswa Malut

BELUM lama ini, saya sempat melihat beberapa postingan terkait dengan akan diadakannya aksi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan sejumlah organisasi mahasiswa di Maluku Utara. Aksi ini, seperti dalam postingan tersebut, dalam rangka memperjuangkan persoalan-persoalan sosial-ekologi yang marak terjadi di Maluku Utara.

Aksi akbar ini, kalau tidak salah rencananya akan digelar pada Senin 13 Februari 2017. Saya mengikuti beberapa tulisan yang lewat di beranda Facebook, sepertinya aksi ini merupakan gabungan dari semua elemen mahasiswa yang sedang memperjuangkan sejumlah persoalan yang sedang terjadi di daerahnya masing-masing, seperti penolakan terhadap pertambangan yang sedang merajai Pulau Gebe, perluasan eksploitasi perusahaan sawit di Gane, dan rencana pengelolaan investasi Jepang di Pulau Morotai.

Solidaritas ini bagi saya membutuhkan usaha konsolidasi yang tidak mudah. Meski begitu, kepedihan yang sama, rasa sakit, dan kesadaran ideologis tentu upaya untuk bersolidaritas tidaklah begitu runyam. Faktanya, Pulau Gebe, Gane, dan Morotai sama-sama berada di garis penjajahan yang sama. Tiga wilayah dengan potensi investasi yang menjanjikan ini, sama-sama berada di bawah pengaruh korporasi kelas kakap. Mereka bergerak di bawah gerakan industri berskala global.

Memperkuat Fondasi

Melawan korporasi itu seperti siap-siap memberikan nyawa. Kenyataannya, di Indonesia, kasus-kasus serupa kerapkali berakhir tragis. Korban-korban dari pihak aktivis berjatuhan. Perlawanan selalu saja diwarnai drama. Semakin kuat berteriak ‘lawan’, maka semakin kuat korporasi menancapkan kakinya. Kelompok pemodal memiliki segalanya. Uang bisa membayar kekuasaan.

Maka bersolidaritas dalam aksi itu membutuhkan fondasi. Dasar perjuangan kita harus jelas. Apa yang harus kita perjuangkan? Untuk apa kita berjuang? Siapa yang kita perjuangkan? Bagaimana cara kita berjuang? Seperti kita membangun rumah, fondasi ini membutuhkan rancangan dan arsitektur perjuangan. Maka syarat utamanya: kita harus siap dalam segala hal.

Elemen mahasiswa dan semua organisasi internal kemahasiswaan harus berani menggugat eksistensi. Seperti tulis Kierkegaard, seorang filsuf Denmark, “Setiap orang wajib memutuskan sendiri mengenai caranya bereksistensi.” Apa tujuan bermahasiswa dan apa tujuan mendirikan organisasi. Upaya menegaskan visi ideologis ini merupakan gugatan terhadap diri sendiri. Maka, egoisme dan fanatisme buta pada ideologi tentu sulit membuat perjuangan berjalan di atas garis visinya. Tujuan kita satu: melepaskan penjajahan korporasi.

Sehingga, aksi akbar nanti diharapkan semua pihak berani keluar dari fanatisme ideologis. Semua mahasiswa harus berdiri di bawah persoalan yang sama, yakni persoalan keumatan. Persoalan-persoalan yang menyoal sepuluh sampai lima puluh tahun kedepan. Tentang tempat tinggal, moral, dan anak-cucu.

Orang Indonesia di Pulau Gebe, Gane, dan Morotai

Bagi orang-orang kota, persoalan seperti ini merupakan masalah biasa. Eksotisme kota benar-benar menenggelamkan nurani. Orang-orang dirajam teks, seperti istilah kerabat saya, Indra Thalip, dalam tulisannya yang pernah terbit di jalamalut.com, yang mengulas cerpen Kota Tanpa Kata dan Air Mata, karangan Noviana Kusumawardhani. Budaya gadget membuat percakapan-percakapan sosial berhenti di jagad maya.

Senada dengan ulasan tersebut, Yukio Aoshima, dalam pengantarnya dalam buku Kota dan Lingkungan (1999), menulis, tiga puluh tahun lalu, pernah membuat lirik sebuah lagu yang berjudul Sudarabushi, yang dinyanyikan oleh Hitoshi Ueki. Dengan sedikit sentuhan satir, lagu tersebut mengisahkan seorang penerima gaji yang tidak mengenal rasa susah, yang tidak mampu menahan godaan minum minuman keras dan berjudi. Satu kalimat dalam lagu itu, kata Yukio, benar-benar menggambarkan orang-orang saat ini: “Aku tahu ini salah, namun aku tidak mampu menghentikannya.” Orang-orang tahu banyak persoalan, tapi banyak yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Jadi, kita mesti belajar menegur nurani. Persoalan Gebe, Gane, dan Morotai harus melintasi identitas kesukuan. Tiga wilayah ini merupakan masalah keumatan. Tentang orang-orang Indonesia yang sedang dijajah. Sayangnya, ini bukan Jakarta. Sehingga, kamera televisi dan media cetak nasional kurang begitu tertarik mewartakan kesedihan yang sedang dirasakan orang Indonesia yang tinggal di Pulau Gebe, Gane, dan Morotai.

Memperjuangkan Pulau Gebe, Gane, dan Morotai adalah memperjuangkan Indonesia. Kita tidak boleh membatasi diri karena alasan teritorial. Perjuangan atas kemanusiaan harus melintasi fanatisme wilayah. Siapapun itu, entah sekecil apapun kontribusinya, kita sejatinya sedang merawat masa depan.

Kita tentu tidak ingin, sepuluh sampai lima puluh tahun kedepan, industri asing merajai seantero Maluku Utara, dan anak-anak kita kehilangan sumber hidupnya. Industri lokal berbasis kearifan dan sosial-ekologi tersingkir. Persaingan modal membuat eksploitasi lahan produksi terjadi secara massal dan masif. Maka, saksikanlah nanti, orang-orang meninggalkan tempat tinggal mereka begitu saja. Seperti kata Takashi Inoguchi, dalam tulisannya Kota dan Lingkungan – Menuju Kemitraan Berwawasan Ekologi, “Pola-pola sosial-ekonomi yang berkembang telah mengakibatkan terjadinya eksodus penduduk pedesaan secara besar-besaran.”

Persoalan ini adalah persoalan masa depan. Jadi bagi saya, aksi akbar yang rencananya akan digelar oleh sejumlah elemen mahasiswa di Maluku Utara merupakan upaya perjuangan yang tidak boleh dianggap biasa. Mereka sedang memikirkan anak-cucunya. Mereka tentu tidak menginginkan anak-anak mereka menyeduh teh manis dari sumber air yang sudah tercemar logam berat. Mereka tentu sedih, apabila menyaksikan orangtua mereka mendirikan sholat di terowongan tambang, dengan kedalaman yang jauh dari suara anak-anak mereka. Bagi banyak orang ini berlebihan. Tidak mengapa, perjuangan seperti ini memang hanya diminati sedikit orang. Jalan sunyi bagi orang-orang yang peduli. (*)

Penulis:

Rajif Duchlun/ Redaktu 1

Rajif Duchlun

Views All Time
Views All Time
155
Views Today
Views Today
1
Like
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *