/Memulai LECI HMI di Gubuk Tua

Memulai LECI HMI di Gubuk Tua

DI SEBUAH gubuk tua dengan arsitektur yang tidak terlalu terkenal seperti bangunan tua lainnya. Gubuk yang dibangun April 2015 lalu, atapnya katu, dinding-dindingnya gaba dan tiang-tiang di ruas-ruas sudut gubuk menggunakan bambu. Proses pembangunan gubuk tersebut, diawali dari kepengurusan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pertama yang diketuai oleh Samaun S. Toduho sebagai Ketua Umum HMI Cabang Tidore. Tradisi lokalitas dengan kondisi HMI yang baru dimulai bangkit, karena selama dua tahun mengalami fakum.

Perjalanan gubuk tersebut, telah didesain oleh keta Umum HMI Cabang Tidore dan pengurusnya. Proses pembangunannya menjadi spirit dan gagasan ikhlas dalam mengabdi. Dari gubuk tersebut, dimulai dengan pikiran kosong pada dua bulan berjalan masa kepengurusan. Dengan berbagai pertimbangan tentang bentuk, konstruk gubuk, dan ciri khas gubuk tersebut, akhirnya ikhlas pemahaman tanpa ada  tambahan lain.

Tak sedikit perjuangan dilalui dalam membangun gubuk (bire teto) yang diistilahkan oleh masyarakat Tidore pada umumnya. Tepat pada pertengahan April 2016, Samaun S. Toduho atau panggilan masyarakat setempat sebagai Jordan Laskar, telah berpikir dan berdiskusi dengan pengurus tentang bangunan gubuk yang menjadi tempat lembaga diskusi besar dikemudian hari.

Dengan kondisi yang tak mampu, fisik, tubuh,  wajah, dan organ tubuh lainnya mengalami sakit. Akhirnya ia memutuskan tak lagi melanjutkan pembangunan gubuk tersebut. Menjelang beberapa hari, ia tidak lagi melanjutkan pembanguan gubuk dan mengganti dengan temannya untuk membantu melanjutkan gubuk tersebut. Kondisi yang tidak memungkinkan, akhirnya ia berkoordinasi serta berdiskusi tentang pembangunan gubuk bersama Mados, sahabat sejawatnya.

Dengan segala keraguan dan pertimbangan sehingga Mados memilih untuk melanjutkan pembangunan gubuk tersebut. “Latar belakang tentang pekerjaan bangunan, semua dari tembok sampai pada bangunan berbahan  alam,” singkat  Samaun S. Toduho, ketua HMI Cabang Tidore.

Pada akhir Desember 2016, Samaun S. Toduho Ketua HMI Cabang Tidore bersama Fardi Abubakar (penulis buku Tidore Kerajaan Dua Alam) dan rekan pengurus HMI lainnya melakukan diskusi-diskusi kecil. Hari demi hari untuk membentuk sebuah lembaga, untuk memilih dan menggagas visi—misi tentang  lembaga, tetapi pada tujuan HMI yaitu, terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Kelanjutan dari itu, maka terbentuklah Lembaga English Curs HMI (LECI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tidore.

Menurut Mr. Samaun S. Toduho sabagai Ketua HMI Cabang Tidore, lembaga kursus seperti ini telah dilakoni selama 4 tahun dengan nama lembaga English Mafukoko. Lembaga tersebut berada di tengah-tengah alam. Di tengah-tengah perkampungan yang berada di Tuguwaji. Dahulunya masuk dalam kawasan Kelurahan Tomagoba dan dimekarkan pada beberapa bulan lalu, dan ditetapkan sebagai kelurahan Tuguwaji. Tidak berlereng. Sangat strategis. Karena tidak ada bisikan kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

“Di situlah Pak Muhlis dan saya sendiri Samaun, tetapi belum memiliki jabatan di HMI, perlahan-lahan merajut hari demi hari bahkan tahun untuk bertahan membangun semangat anak-anak SD dan SMP untuk mau belajar tentang bahasa Inggris. Karena belajar itu bukan berada di sekolah formal saja, akan tetapi di mana saja tempatnya di situ bisa belajar,” katanya.

“Selama 4 tahun lamanya bersama anak-anak belajar Bahasa Inggris, lembaga English Mafukoko juga mengikutsertakan anak-anak asuhnya untuk mengikuti berbagai lomba, baik lomba cara berbahasa inggris, debat bahasa inggris  bahkan dikirim mengikuti lomba di tingkat Provinsi,” jelasnya, yang juga sebagai pembina dan pengajar di lembaga English Mafukoko.

Terlepas dari itu, selama dalam perjalanan lembaga tersebut tidak tahu dengan alasan-alasan lain. Akhirnya lembaga English Mafukoko ditinggalkan dan tidak dilanjutkan, sebab banyak aktivitas eksternal yang harus menjadi tuntutan sehingga tidak terurus.

Lewat gubuk yang berlantai bambu dengan ukuran bangun tidak terlalu besar. Tetapi menajemen untuk mengelola dan kapasitas kurang lebih 20 sampai 25 orang. Tepat 7 Februari 2017 lembaga LECI HMI Cabang Tidore diresmikan dan dibuka secara perdana oleh Mr. Muhlis Sehe, S.Pd dan Mr. Samaun S. Toduho, S.Hut  dan juga Ketua HMI Cabang Tidore sebagai pengajar yang memberikan pengetahuan tentang bagaimana berbahasa inggris dengan baik dan benar. Bahasa demi bahasa, kata demi kata yang diajarkan menjadi spirit dan kekuatan kepada generasi di hari esok.

Namun tahapan belajar itu, diberikan penentuan jadwal kursus yang dimulai pada hari Senin, Selasa dan Jumat pada pukul 16.00 WIT. Dan ketika pada perdana mengajar untuk bahasa inggris pesertanya sudah mencapai 21 orang dengan masing-masing sekolah yang berbeda. Hanya peserta dari sekolah dasar yang lebih dominan  dibandingkan peserta Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Gubuk tersebut, pada harapannya akan menjadi icon bagi anak-anak generasi terpelajar untuk memberikan contoh kepada generasi Kota Tidore yang akan datang. Dengan segala keterbatasan ini, kedepan yang masih memiliki sifat pencipta dan pengabdi serta tanggung jawab demi pembangunan intelektaulitas generasi akademis yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Dan di Lembaga English Curs HMI ini bukan hanya dibekali dengan pengetahuan, tetapi juga bisa mampu bersaing dengan anak-anak lain yang ada di sekolah-sekolah. Dikarenakan peserta pada lembaga English Curs HMI, saya memberikan kewajiban bagi peserta yang ingin mengikuti lomba-lomba berhasa inggris ke depannya. Tetapi saya yakin bahwa proses ini bisa berlanjut, bilamana ada perhatian dari seluruh kalangan civitas Akademika Universitas dan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan guna mencapai tujuan masyarakat adil makmur.

Pendidikan non formal ini mempunyai gagasan-gagasan kritis yang akan melahirkan generasi dan pemimpin untuk membangun sebuah wilayah sesuai dengan sosial kultur civil society. Kehidupan pendidikan non formal sementara tidak pandang dua mata, tetapi masih dipandang dengan satu mata sehingga akhirnya banyak pengangguran menjadi cerita yang tak pernah habis.

Karena pendidikan seperti inilah sebagai tempat ajang menopang khazanah pengetahuan sebagai tolak ukur efektif, psikmotorik dan kognetif dalam lembaga formal. Pada lembaga-lembaga formal, masih banyak siswa menghabiskan waktu berkeluyuran. Sampai pada tingkat bolos dan mengkonsumsi minuman keras yang akhirnya berakibat psikologis sekolah dan orangtua sebagai pengawas terhadap anak. Masalah-masalah seperti inilah, pendidikan non formal menjadi salah satu prestasi bagi generasi pendidikan formal. (*)

Penulis:

Mansur

Mansur Armayn

Views All Time
Views All Time
161
Views Today
Views Today
1
Like