Loading...
PERSPEKTIF

Membaca Kota Tanpa Kata dan Air Mata

SAYA menjumpai orang-orang di kota ini. Di mall, di lorong-lorong perumahan, di simpang jalan, di rumah makan, di kedai kopi, di kampus dan di sekolah. Mereka Lebih banyak menghabiskan percakapannya dengan gadget (Handphone). Bahkan dalam satu jamuan dengan sahabat lama, ketika kami reuni, saya merasakan pembicaraan begitu tidak cair. Seolah semua daya terserap, dan terbingkai kedalam layar Gadget. Saya merasa sepi di tengah keramaian. Persis di mana saya menghabiskan kopi malam ini di Kedai Kopi, menyalin huruf dan kata-kata sambil memerhatikan setiap pengunjung yang datang. Semuanya sibuk mengetik, tersenyum sendiri. Sebagian orang menyumbat kupingnya dengan earphone sambil mengangguk-ngangguk.

Kota semacam ini dalam imajinasi Cerpenis Noviana Kusumawardhani digambarkan sebagai Kota yang dirajam teks. Cerpennya yang berjudul Kota tanpa Kata dan Air Mata, yang juga sebagai cerpen pilihan terbitan Kompas 2014 tersebut, menggambarkan percakapannya dengan seorang Nenek renta di stasiun Kereta Api, ketika ia sedang hendak menemui kekasihnya di sebuah tempat di Kota itu. Noviana menguraikan imajinasinya;

Kapan kamu terakhir kali ke sini, Nak. Tanya Sang Nenek yang dia jumpai di stasiun tersebut. Saya ke sini lima belas tahun yang lalu, saat putik-putik kamboja di kampungku mulai berbunga, dan rembulan menjadi dua kali lebih besar dari biasanya.

Saat itu, kata Sang Nenek. Saya pun masih bercakap dan menyapa satu-satunya anak lelakiku dan suamiku juga masih setiap hari menyapaku dengan suaranya. Tapi mata dan suara telah lenyap dari kota ini. Bahkan teks pengganti suara itu pun sudah merenggut orang-orang yang aku cintai. Aku ada di depan mereka, tetapi aku tidak ada. Aku akan ada justru ketika aku tidak ada di depan mereka. Teks mereka akan mencariku. Pulanglah. Kalau yang kamu cari adalah hati yang mencintaimu dan itu keluar dari sebuah mata, lupakanlah. Sudah lenyap di kota ini mata dan suara yang akan meyapamu sekadar mengucap salam “selamat pagi” dan “apa kabar”.

Membaca imajinasi Noviana Kusumawardhani di atas, saya kemudian teringat dengan kata-kata sakti dari Italo Calvino, Novelis asal Italia, pemenang Nobel sastra, “Kota adalah ruang di mana kebohongan leluasa dirayakan. Kebohongan tidak terletak pada kata-kata, namun ada di antara benda-benda.” Ya benda-benda berteknologi tinggi (Smartphone, Internet, dll) telah menyulap dunia lain menjadi seolah begitu nyata. Kebanyakan orang menyebutnya dunia maya. Oleh Yasraf Amir Piliang menyebutnya Post-Realita, melampaui realitas.

Apa yang dirasakan Noviana, Sang Nenek dan Calvino, sangat mudah dipahami. Menurut Basri Amin dalam pengantar buku Ternate Melintasi Waktu, 2016, “Kita bisa menyaksikannya dari tempat kita masing-masing. Kota-kota yang kini berkembang di negeri kita, sepertinya dari waktu ke waktu hanya menyeguhkan kepalsuan. Tak ada keaslian yang lahir dari kreatifitas. Kebijakan tersusun-susun tapi “kebajikan” makin lari terpingkal-pingkal di pinggiran.”

Dalam legenda Yunani, ada cerita Narcisus. Narcisus adalah tokoh tampan dalam legenda Yunani, melihat bayangannya sendiri terpantul di permukaan air. Karena menyangka bayangan itu nyata, ia pun jatuh cinta, dan berusaha memilikinya. Akhirnya ia menghabiskan sisa hidupnya di pinggir sungai tersebut dengan harapan kosong, bahwa ia akan memiliki orang di pantulan tersebut.

Sama halnya dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Ternate kini sedang mengidap Syindrom Narcisus. Di mana-mana dalam obrolan singkat sesama teman. Di atas meja makan bersama keluarga,  di dalam pertemuan formal, di dalam angkot, di atas kapal antar-pulau. Kita dengan mudah menyaksikan orang-orang merajam, atau dirajam teksnya sendiri. Dalam keramian, orang-orang sibuk dengan kesunyiannya masing-masing. Seperti kata sang Nenek di atas, kala mengingatkan suasana kota pada Noviana, “Sudah lenyap di kota ini mata dan suara yang akan meyapamu sekadar mengucap salam ‘selamat pagi’ dan ‘apa kabar’.”

Namun Noviana tidak menggubris, ia hilang di balik stasiun, menemui kekasih yang sudah lama tak ditemuinya. Seperti sumpah, Noviana menemukan pembenaran kata-kata Sang Nenek tadi, “Tapi begitulah, setiap harapan adalah ibu yang melahirkan kekecewaan”. Dalam pertemuannya dengan kekasihnya itu, ia merasa aneh dan sunyi sendiri. Tak lama percakapan di antara mereka, kekasihnya menunduk, digerak-geraknya jari-jemarinya di atas telepon genggam. Persis dengan orang-orang yang ia temui di sepanjang jalan dari stasiun. di sudut ruangan, ia juga temui sebuah keluarga besar yang pastinya memesan tempat itu untuk sebuah kebersamaan, bernama hati juga melakukan hal yang sama. Kepala menunduk, jari-jari bergerak. Istri entah berbicara dengan siapa dengan teksnya, suami mungkin mencumbui kekasih gelapnya di depan istrinya lewat teks.

Pertemuan yang ia nanti bertahun-tahun. Tiba-tiba karam, tertambat teks kekasihnya. Lantas ia bergegas pergi tinggalkan kekasihnya itu dengan luka yang dalam. “Ketika harapan mati, hati seperti porselin pecah tanpa suara. Retak dan melolong. Segeraku tinggalkan lelaki dan mimpiku itu dengan air mata yang aku punguti satu persatu agar tidak berceceran di udara. Di mana rindu menjadi komoditas kata untuk dikirimkan lewat jajaran bunga di dalam teks.”

Akhirnya Noviana sadar, “Kota ini begitu sunyi. Banyak hati kering. Rapuh, tanpa suara tanpa tatapan mata. Tanpa air mata. Karena hanya tatapan mata yang mampu melahirkan air mata. Bumi yang paling subur adalah bumi yang menyimpan banyak air dan dikeluarkan menjadi mata air. Jiwa yang kerontang adalah jiwa yang tak mampu mengeluarkan air mata.”

Jiwa orang-orang di kota ini, telah kehilangan suara dan air mata. Kota telah kehilangan hati, empati dan kearifan sekaligus. Noviana begitu tragis menutup cerpennya dengan ungkapan, “Karena tanpa tatapan mata, suara tidak akan bisa terdengar oleh hati dan tanpa suara maka kejernihan hati tidak bisa dilihat oleh Jiwa. Suara hati adalah mata dari hidup ini.” (*)

Penulis: Indra Thalip

Views All Time
Views All Time
318
Views Today
Views Today
1
Like
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *