/Maya Dilikini dan Pardidu

Maya Dilikini dan Pardidu

Ia hidup di dunia supra-relitas dan supra-urban, dunia hayper namanya. Di ruang kemayaan ini, ia bagai Dilikini. Dilikini dalam bahasa lokal, Tobelo, berarti arwah. Tak heran, jika orang menyebutnya Maya Dilikini. Orang tanah, biasa memanggilnya dengan sebutan Maya. Tapi di ruang supra-realitas, orang menyebutnya Dilikini, arwah yang gentayangan. Maya Dilikini, sering mengujungi beranda di semua ruang dan waktu, Maya Dilikini, sudah menjadi adi-manusiawi, terbebas dari sekat-sekat ruang. Maya Dilikini meruang dan mewaktu. Tidak ada yang abadi, kecuali waktu. Dia sendiri sendiri adalah ruang sekaligus waktu.

Pardidu, adalah lelaki, yang menghabiskan umurnya dengan khayalan. Karena itu, ia sering kesepian. Satu-satunya hiburan untuk dirinya adalah dengan buaian mimpi. berhari-hari Pardidu bekerja merumuskan hayalan. Sambil senyum sendiri, ia bayangkan, gadis perawan, dengan rambut tergerai basah, di bawah purnama, datang mengencanginya di malam yang riuh. Pardidu sangat suka pinang perempuan, apalagi gadis, perawan pula. Pardidu pernah menuding bayangannya sendiri, di depan cermin. “kamu Pardidu, adalah absurditas dan keterasingan dari kebudayaan orang-orang Tanah”.

Di dunia kemayaan yang supra-realitas dan supra-urban. Orang-orang malangsungkan migrasi sesuka hati, tanpa tanda pengenal. Orang-orang lalu lalang, bertemu dan tidur di dasar laut. Kelangit-langit sambil bawa kasur, nyebur khayal. seorang Kakek, usia senja, menyulap dirinya jadi anak muda, yang baru saja mengalami “mimpi basah”. Maya Dililikini, suatu ketika, kala gerimis, ia menyapa Kakek tua itu, “Hai Kek, sisahkan kopimu, untuk tuangkan kedalam kosongku”. Kakek paru baya, rada genit menyahut, “bisa, asalkan ada cangkir, untuk kutuangkan bibit kopiku”.. ah, gombal.

Maya Dilikini dan Pardidu, bertemu dalam sebarisan sajak selokan yang lapar;

“diantara remang dan musik, saya mendaki dua bulan kembaran yang curam, sesekali kunjungi merah bibir pantaimu, lalu mengembara ke belantara, hutan-hutan tubuhmu, menemukan telaga. Anak-anak puisi kita berasal”.

Cinta Dilikini dan Pardidu tumbuh di jantung aksara yang pecah, juga meluruh. Dalam kebudayaan orang tanah, mereka tidak menemukannya sebebas dunia kemayaan ini. Mitos dari ibuisme kultural, terlalu mengekang. Disini, ruang kemayaan, mitos justru sangat nyata.

“Pardidu, apakah kau sudah ambil bunga kamboja, yang aku pesan di pasar kuburan, mendung kemarin”. Sambil memelas, Pardidu jawab tenang, “mayat-mayat minta, bayarannya nyawa Dilikini.” Ia diam sejenak, sambil mondar-mandir di sudut kamar yang remang, Pardidu mengumur kata “bukankah kita adalah arwah, nyawa yang bergentanyangan. Bukan begitu Dilikini..?” bukan Pardidu. Dilikini menyangkal.  “ agar kau tahu. Ini dunia, dengan satu kedipan mata, kamu bisa berada di semua tempat. Kan ada ATM, tanpa harus bertemu muka, kamu bisa bayar bunga kamboja itu.” meskipun terdengar horor, Pardidu mengamininya. Masuk akal. Tapi tiba-tiba, pikiran ngaurnya muncul lagi “bertemu orang lain, atau dengan diri sendiri”.

Rapat siang, hujan melebat tiba-tiba, Pardidu memayangkan lagi, Dilikini  muncul di pintu kamar. Alngkah tentramnya subuh yang basah, teduh batin dari segala sunyi. Apa kabar..? apa kau sudah baca surat-suratku yang karam di ingatan..? atau, kau sudah gandeng wanita lain, memacarinya, lalu bersetubuh di langit-langit khayalan? tiba-tiba Dilikini menghilang di ingatan Pardidu. Ah.. sudah siang, ternyata.

Pardidu, lantas menulis surat untuk Dilikini;

“Anggap saja bukan surat, tapi diriku datang berbicara, memintamu menyeduh kopi merapi. Cinta hanya sesederhana itu. Temani aku ngobrol tentang anak kita yang bernama “puisi, sambil menertawainya. Setelah kau tahu segala ikhwal tentang diriku, aku akan ajari kamu cara menertawai hidup. Karena aku percaya. Begitu mudahnya perasaan datang dan pergi tanpa permisi. Ajaran aku ini, suatu saat nanti akan kamu mengerti. Bila perasaan pergi, kamu bisa menerimanya dengan tertawa. Sebab air mata, hanyalah lelucon omong kosong.

Secepat kilat, baru berselang detik. Dilikini memalas surat Pardidu, dengan setempel, biji kopi dari merapi;

“Malam ini, aku menghabiskan waktu di puncak Sibela, bersama hujan yang lebat. Entah kenapa, hujan tiba-tiba begitu akrab menemani saya, ketika dingin sesak di selimut. Sesekali, ia panggil saya ke jendela yang rabun dalam desau angin yang kencang. Mengajak saya memandang bayangan saya sendiri. Saya menemukan diri saya begitu begitu tidak utuh. Pecah dan luruh. Sambil lalu, aku mengigat dirimu, memayangi, seperti melihat diri sendiri di jendela kaca yang rabun itu. Pecah dan meluruh. Maaf sayang, aku tidak bisa mengingatnya”.

Mereka larut dalam percakapan dua arwah yang sama gelisah, saling berkirim surat dan puisi, dari sekadar bertukar kabar, juga merumuskan dan menawarkan masa depan yang saling mencemaskan. Kita yang sedang mengapung dintara dua dunia, sering mengakali akrab dengan menuding. Ah. Sok akrab. “saya lelaki virtual, yang diproduksi imajinasimu sendiri. Bagaimana saya dihadirkan? Bagimanakah proses penggalian atas diri saya, dari keinginan-keinginan yang bersumber dari otakmu sendiri.? Saya yang kamu tahu adalah hasil abstraksi dari proses perjumpaan kita diruang maya. Berkenalan, menanyakan kabar, saling tukar informasi diri, dan humor selalu mentaktisi keadaan yang kira-kira disebut kamuflase”

Begitu kan Dilikini…?  mendengarnya, Dilikin Diam agak lama, “ternyata kita sama-sama pendusta, jauh di palung hati, kita berharap dapat bertemu di teras rumah yang sama derasnya hujan”.  Dusta kita yang utama adalah “Absurditas dan keterasaingan.” Kita hidup terlalu persis sama dengan Tuhan. Imposible.

Penulis : Indra Talip Moti

 

Views All Time
Views All Time
155
Views Today
Views Today
1
Like