/Lima Puisi Anggrek Hitam

Lima Puisi Anggrek Hitam

KITA: Bukan Kau Atau Aku

Rindu telah lepas dari busurnya

Ia ke langit memberi tanda pada bintang

Paginya memberi salam pada beranda hatimu

Tidakkah kau dengar isyaratku

 

Dari rasaku yang purba

Kueja Alif yang jatuh ke dalam Mim

Aku berdiri di antara Ba dan Tha

Telah kutemukan Hamzah

 

Mula-mula kutulis suka

Kubaca pelan-pelan seraya mengucap sayang

Mencintaimu adalah mencintaiku

Bukankah demikian sayang?

 

Kuawali di malam Ibrahim

Kututup pula di malam Ibrahim

Laksana Dzuhur ke Subuh

Aku menjadi Ragibin, serupa itu

31 September 2016

 

 

Cengkeh dan Kami

Sepotong pagi di sondo-sondo

Saat angin melewati cengkeh-cengkeh

yang menjulang ke langit

tanahnya harapan petani ditabur

 

perempuan-perempuan di tanah sondo-sondo ini

tangannya ranting cengkeh

kakinya akar cengkeh

tubuhnya batang cengkeh yang menjulang

senyumnya dedaunan cengkeh dipoles embun pagi

 

laki-laki di tanah sondo-sondo

pandai merayu cengkeh tumbuh

matahari bagi cengkeh-cengkeh

angin yang membelai cengkeh

 

anak-anak kami akan pulang

pada rumah yang diberi nama cinta

sebab rindu adalah jarak diantara hati

seperti jarak setiap cengkeh di tanah ini

Sondo-sondo,  2016

 

 

Pulanglah Sondo-Sondo

Hujan pertama di bulan Februari

Tampak hijau cengkeh di punggung bumi

 

“Orang-orang di sini hatinya adalah pelaut,” ujar ibunya pada anaknya

 

Anaknya bertanya; bukankah mereka adalah petani cengkeh

Ibu itu menatap anaknya, matanya sayu

 

“Mereka orang-orang yang tak pernah pulang

kecuali dalam hatinya, Nak”

 

Dahulu Ambuau datang ketempat ini

Berlayar jauh dari Buton

Entah apa maksudnya

Meningggalkan teka-teki di tengah generasi

 

Kami beranak pinak di sini

Hingga kau lahir dan sering bertanya

“kita darimana?”

 

Sedangkan orang-orang sebelum kamu

Hanya mengenal nama Buton

Tak pernah pulang, seperti nelayan yang tak melihat daratan

 

Apalah arti sebuah asal, Nak

Jikalau akhirnya kita adalah orang asing di kampung sendiri

Bukankah di sini kau telah temukan segalanya

Rumahmu, hidupmu, dan keluargamu

 

“Aku ingin pulang,” ujar anaknya

 Sondo-sondo 15 Juni 2016.

 

 

Akelamo-Kao  Jilid 1

Saat kutulis puisi ini

Hatiku diredung awan mendung

Bukan lantaran perempuanku menunggu kapan inai terpasang pada jarinya

Tapi hatiku terpaut pada saudara-saudaraku di akelamo-kao ini

 

Sekian tahun kuhirup pendidikan di Yogyakarta

Aku paham beberapa hal

Pertama bahwa desaku adalah wilayah lingkar tambang

Yang karena perda ia harus menerima nasib tak menerima bantuan apapun

 

Nelayan di tempatku ini harus belajar mengikhlaskan kehilangan ancak-ancak

Merelakan bagang-bagang dikubur dalam ingatan

Bukan hanya itu, dipupuk pula kebencian karena Halut-Halbar

Ada apa? Apakah masalah secuil ini tak bisa diurus Negara?

Ataukah Negara sengaja menabur luka dalam luka?

 

Kuberitahu kalian satu rahasia

Kenangan paling manis kala pagi tiba

Saat istri-istri mereka menunggu di tepi pantai dengan harap

Semoga kalian pulang dengan senyum

Walau tangkapan berkurang

 

Aku pernah bertanya pada nelayan

Manakah yang lebih dingin?

Air laut tempat bagangmu mengapung atau angin malam di atas laut ini

Ia tersenyum memandang laut, rokok surya di tarik dalam-dalam

yang lebih dingin bukanlah keduanya, melainkan hati istriku yang menungguku pulang

menghangatkan peraduan setelah semalam Ia merasa cemas

Akelamo-Kao, saat Ramadhan di malam 13.


 

Akelamo-Kao Jilid 2

Masih basah ingatanku dahulu

Ancak-ancak nelayan bersusun rapi di tepi pantai

Lautan menyediakan teri

Bagang-bagang kami akan membelah ombak

Kini raib ditelan pemodal

Aku sering bertanya

Dahulu nenek moyang kami berjuang untuk siapa

Untuk pemodal asingkah atau untuk anak cucunya?

Jika untuk pemodal asing, kenapa mereka rela menukar nyawa

 

Seperti racun dalam diri yang menggerogoti tubuh

Pelan-pelan tapi pasti

Belum habis raibnya teri diperjuangkan

Kini datang lagi sepatu lars menanam kekuasaan

Setiap tubuh dipaksa untuk tunduk, ironis

 

Mungkin ini bukan puisi tapi cercaan

Andai kata di tempat kalian

Anak-anak mengenyam pendidikan tanpa guru bahasa Inggris selama 5 tahun

Punya dua kepala desa dengan dua wilayah administrasi pula, selama bertahun tahun

Kita berkata apa? Lawankah atau biarkan ia bebas terbang ke langit biru

Dari aku anak pesisir Halmahera, yang suaranya ditelan ombak-ombak kekuasaan

Akelamo-kao 13 syawal 1437 Hijria.

 

Penulis: Anggek Hitam

Anggrek Hitam

Lelaki dari Pesisir Halmahera

 

 

 

TAGS:
Views All Time
Views All Time
340
Views Today
Views Today
1
Like