/Kitorang Melanesia

Kitorang Melanesia

Ket. Gambar: Tarian Cakalele anak Kakara (Karya Binyek Nicolaas)
Ket. Gambar: Tarian Cakalele anak Kakara (Karya Binyek Nicolaas)

Beberapa tahun belakangan propaganda kelompok organisasi separatis Papua Merdeka (OPM) ingin memisahkan diri dari NKRI dengan alasan perbedaan ras dan slogan yang selalu digunakan yaitu “Melanesia is not Indonesia”. Ancaman ini adalah tantangan besar bagi Pemerintah Indonesia dan kita sebagai generasi muda harus memupuk semangat Sultan Nuku dan Jogugu Muhammad Arif Billah, atas perjuangan mereka yang telah bertarung melawan penjajah untuk memperoleh kemerdekaan. Tidak ada kata terlambat, kita sebagai penerus bangsa ini harusnya mengambil bagian dalam tantangan ini dengan mengunakan kajian-kajian kritis dengan pendekatan kesejarahan dan kebudayaan untuk menepis isu-isu separatis tersebut.

Maluku Utara khususnya Kota Ternate tidak mau ketinggalan untuk menepis isu-isu separatis tersebut. Dr. Mochtar Adam seorang dosen Universitas Khairun, merasa terpangil dan mulai mengajak untuk mengenal budaya ras Melanesia yang dikemas dalam “Kampoeng Melanesia” di Kelurahan Gambesi Kota Ternate Selatan. “Kampoeng Melanesia” terus dibinahi dan membuka kesempatan bagi Masyarakat Maluku Utara untuk terus mengenal lebih jauh serta bertukar pikiran terkait dengan budaya Melanesia sebagi titik awal peradaban. Semoga atmosfir positif yang berada di “Kampoeng Melanesia”, terus menjadi tempat untuk kita saling berbagi pengetahuan dan kedepan dapat menjadi sentral kebudayaan Maluku Utara.

Saat ini bila mendengar kata Melanesia, gambaran ciri fisik dalam pikiran kita adalah keriting rambutnya, hitam kulitnya, bibir tebal dan rahang melebar yang sangat ketal dengan saudara kita yang berada di Papua sebagai kantong ras Malanesia di Indonesia bagian Timur. Lantas bagaimana dengan dengan identitas atau ciri fisik ras Melanesia yang ada di wilayah Maluku Utara(?). Ini menjadi pekerjaan besar untuk mengetahui lebih jauh ciri fisik ras Melanesia di Maluku Utara seperti di wilayah lain. Meskipun dalam ranah kebahasaan telah dicoba untuk mengidentifikasi oleh Masinambow (1976). Ciri fisik dianggap penting untuk membedakan dan melihat lebih jauh terjadinya akulturasi yang terjadi antara ras Melanesia dan Austronesia pada masa lalu di Maluku Utara. Tulisan ini penulis akan melihat studi kasus wacana Melanesia dengan pendekatan linguistik komparatif historis, meskipun dalam tulisan akan terdapat banyak kekurangan dari pada kelebihan.

 

Kajian Historis

Dalam kajian sejarah “Dunia Maluku” atau nama lain Maluku Utara sebagagaimana diketahui, telah ramai digunakan dan aktif dilalui sejak zaman purba. Jalur pelayaran yang menghubungkan dari Cina dan “negeri di atas angin”. Sebelum kedatangan bangsa Austronesia, wilayah Indonesia secara mayoritas telah dihuni oleh populasi Austro-Melanesia. Coon dan Howells berpendapat bahwa pada masa lalu terdapat suatu daerah yang disebut Melanesia Lama, wilayah ini merupakan kawasan persebaran populasi Australo-Melanesia yang meliputi Daratan Sunda, Wallacea dan Sahul. Tengkorak Wajak, Niah dan Tabon dianggap merupakan nenek moyang Australo-Melanesia, yang telah muncul di wilayah kepulauan ini setidaknya sejak 50.000 tyl. Kemudian dengan bersamaan munculnya pola susbsistensi bercocok tanam, wilayah Indonesia mulai di gantikan oleh populasi Mongoloid selatan (Austronesia). Sedangkan populasi Austro-Melanesia berangsur-angsur terdesak ke arah Timur dan wilayah tersebut dinamakan Melanesia baru, (Bellwood, 2000).  Oleh Ahli zoologi, Alferd R. Wellace, perintis teori evolusi yang sempat mendiami Ternate dan Papua, ia berkesimpulan bahwa bahasa Ternate dan Tidore memiliki kemiripan dengan bahasa yang digunakan (tutur) di wilayah Papua (Wallace, 1869). Sayangnya Wallace, tidak tidak mempunyai kepentingan untuk identifikasi lebih jauh atau menyebutkan secara detil tentang bahasa maupun dalam hal kebudayaan pada saat itu.

Wilayah Maluku Utara menonjolkan fenomena yang sangat menarik karena, dari segi zoogeografi wilayah Maluku Utara merupakan wilayah transisi antara dua lini fauna, yakni wallace dan weber, (Belwood, 1978). Sementara dari segi geokultural, Maluku Utara merupakan lintasan strategi migrasi-migrasi manusia purba dari Asia Tenggara ke wilayah Melanesia dan Mikronesia, Oceania dan terus ke arah Timur, (Shulter, 1975).

 

Tinggalan Sejarah

Kawasan Maluku Utara memiliki banyak situs yang berpotensi untuk membantu mengungkapkan berbagai asumsi mengenai migrasi kelompok Austro-Melanesia. Oleh Blust (1979), tanah asal keluarga Austronesia berasal dari Taiwan dan penutur Melayu-Polinesia purba yang migrasi yang dilakukan 4.000 tahun silam ke arah selatan pertama ke kepulauan Filipina dan melanjutkan perjalanan hingga ke Maluku Utara. Akan tetapi, setelah keberadaan mrka di Maluku Utara, yang mengejutkan bagi mereka adalah mereka telah menemukan sisa-sisa kebudayaan Autro-Melanesia yang telah migrasi lebih awal yang diperkirakan terjadi sekitar 40.000 tahun sebelum kedatangan penutur Melayu-Polinesia, (Collins, 2016).

Dengan demikian ada kemungkinan besar bahwa Maluku Utara yang pertama kali dihuni oleh keluarga Austro-Melanesia. Dengan demikian Maluku Utara memiliki kistimewaan tersendiri karena sebagai zona pertmuan dua keluarga besar. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya kapak lonjong dan beliuang persegi. Dari aspek temuan peninggalan arkeologi di Maluku Utara, memprlihatkan variasi alat-lat yang digunakan yaitu kapak lonjong dan persegi. Penemuan di Maluku Utara yaitu kapak lonjong-pertanggalan, 3.500 BP, di kampung Awer (Halmahera Barat)  dan Tanjung Luari (Halmaera Utara) pertanggalan,  3.500 BP, (H.M. Ambari, 1980) Sementara beliuang persegi yang ditemukan di Pulau Kayoa/Gua Uattamdi (Halmahera Selatan) pertanggalan, 3.500 BP. dan Gua Lolori/Jailolo (Halmahra Barat) pertanggalan, 3.300 BP. (Baca, Susanto, 1980).

Sekalipun kapak lonjong tidak banyak jumlahnya dan hanya ditemukan di dua tempat yang penulis ketahui. Akan tetapi, kedua temuan ini menegaskan bahwa kebudayaan Melanesia juga aktif digunakan di Maluku Utara selain dibeberapa tempat salah satunya di Papua. Dari hasil (temuan) penelitian tersebut data arkeologi di Maluku Utara, telah menambah pengetahuan kita tentang tradisi neolitik, dan megalitik (di Ternate terdapat menhir sebagai tanda kubur (paesa) yang terdapat di kampung Kulaba). Hal ini bila diamati ada pertemuan dua tradisi alat batu yaitu kapak lonjong yang mewakili Melanesia dan beliaung persegi mewakili Austronsia.

Bellwood (1978) berpendapat bahwa tradisi megalit di Maluku Utara tersebut, dilihat dari tipologinya sangat memungkinkan berusia lebih tua dari tradisi megalitik yang berkembang di Indonesia bagian barat. Bagaimanapun kehadiran tradisi yang berpusat pada kultus leluhur dengan media batu semakin melengkapi fase-fase sejarah Nusantara. Sayangnya informasi seperti ini jarang sekali terdapat di buku-buku sekolah SLTP dan SLTA ataun mungkin tidak sama sekali yang menjelaskan fase-fase pra-sejarah di Maluku Utara.

 

Linguistik

Dari segi kebudayaan khusunya bahasa, wilayah Maluku Utara memperlihatkan jaringan linguistic keluarga bahasa Melanesia dan keluarga bahasa Austronesia. Dua bahasa ini merupakan bahasa induk yang ke dalamnya tergolong bahasa-bahasa lokal di Maluku Utara. Dalam penelitian Masinambow (1976), menybutkan bahwa suatu hal yang menyolok dengan pengecualian suku bangsa Makeang, gerak migrasi di dalam daerah ini hanya menyangkut suku bangsa yang berbahasa Melanesia. Akibatnya bagi suku bangsa berbahasa Austronesia ialah lambat-laut mereka itu terdesak oleh yang berbahasa Melanesia, sebagaimana yang terjadi di desa Ekor. Dimana penduduknya dahulu terdiri atas suku bangsa Sawai, dan saat ini bahasa dari mereka yang masih menganggap diri orang Sawai terdesak pula oleh bahasa Melanesia. Oleh karena itu, anatara bahasa Melanesia di Halmahera Utara, maupun antara bahasa Austronesia di Halmahera Tengah dan Selatan terdapat perbedaan yang dekat.

Antara bahasa Melanesia di Halmahera Utara, maupun antara bahasa Austronesia di Halmahera Tengah dan Selatan terdapat perbedaan yang dekat. Hal tersebut mungkin saja telah terjadi silang budaya (bahasa) pada masa lalu dan kedua rumpun bahasa tersebut saling mengadopsi. Disamping itu, bahasa-bahasa daerah di Maluku Utara setelah keberadaan orang Eropa bahasa Melayu Halmahera (ada juga yang menyebut Melayu Ternate) memainkan peran yang sangat penting dalam hubungan perdagangan maupun jual-beli pada waktu itu. Maka jangan heran, ketika kosakata bahasa Melayu di Maluku Utara banyak terdapat atau dipengaruhi oleh bahasa Portugis dan Belanda. Misalnya bahasa Portugis (seka,  chapeu,  testa,  ponoso,  cadeira); Melayu Halmahera (seka,  capeo,  testa,  ponoso,  kadera); Indonesia  (gosok,  topi,  dahi,  hidung  pesek, kursi). Penyebaran bahasa melayu Halmahera sebagaimana yang diuraikan Masinambow (1976) dalam disrtasinya hanya terdapat perbendaharaan “lima kata dasar bagian tubuh dan kata bilangan Melanesia dan Austronesia”. Hal tersbut, merupakan indikasi bahwa bahasa Melayu Halmahera sejak kedatangan orang Eropa memeran penting sebagai bahasa pengantar dalam melakukan perdagangan dan pesebaran agama Kristen Katolik dan Protestan.

Sayangnya sejauh ini penelitian untuk mengetahui kebudayaan yang berciri khas dan untuk membedakan Melanesia dan Austronsia serta factor penyebab pergeseran pengunaan bahasa seperit bahasa Sawai yang berada di Ekor dan mungkin juga ada ditempat lain  belum banyak dilakukan secara serius oleh para peneliti. Selain itu, untuk mengetahui ciri fisik yang menjadi ciri khas ras Melanesia di Maluku Utara belum dilakukan oleh pemerintah yang terkait. Kiranya hal ini sangat penting untuk menambah cakrawala berpikir generasi yang akan datang.

 

Penulis:

Pak Irfan

Irfan Ahmad

staf pengajar di program Studi Ilmu Sejarah FSB-Unkkhair dan aktif di Matahati Institute

Views All Time
Views All Time
361
Views Today
Views Today
2
Like