/Ketika Perahu Pustaka Pattingaloang Memanggil Juanga

Ketika Perahu Pustaka Pattingaloang Memanggil Juanga

Ini hanya sebuah catatan kecil saya saat hadir pada Forum Diskusi Grup yang disebut “Bacarita Literasi”, dalam kegiatan Ternate Membaca jilid II dengan tajuk Menabur Aksara, Menuai Kewarasan.

Malam itu, tepat pada Kamis, 15 Juni 2017,  di Arena Ternate Membaca hadir Muhammad Ridwan Alimuddin, salah seorang “pahlawan”  Literasi Indonesia yang juga Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI)  Mandar hadir pada forum ini untuk berbagi pengalamannya dalam dunia literasi.  Ridwan Mandar, begitu nama sapaannya. Saya bersyukur dapat bertemu dengan orang seperti Ridwan di moment TERBACA (Baca: Ternate Membaca).

Ketika kata Pattingaloang keluar dari ucap Ridwan, saat ia berbagi pengalamanya dalam dunia literasi yang ia gagas yakni Perahu Pustaka, Saya seakan diajak kembali berlayar-pada momen semasa kuliah di “Kampus Merah” Makassar. Seperti mengetuk-ngetuk pintu memori dahulu. Teringat salah satu forum Latihan Kepemimpinan, dimana salah satu pesertanya mengusulkan agar Universitas Hasanuddin di ganti namanya dengan Universitas Pattingaloang.

Usulatan tersebut bukanlah tanpa alasan sebab, dalam sejarah Sulawesi Selatan, sosok ini dikenal nama Karaeng Pattingaloang, Raja Tallo VIII yang juga merangkap Pabbicara Butta (Mangkubumi) Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa XV, Sultan Muhammad Said. Karaeng Pattingaloang merupakan satu contoh bangsawan yang modernis, menguasai Politik dan Hukum Tata Negara, mampu berkomunikasi dalam berbagai bahasa asing (Belanda, Inggris, Spanyol, Portugis, Arab, dan Latin) di usianya yang masih sangat belia, 18 tahun. Ruangan kerjanya berupa perpustakaan pribadi dengan ribuan buku yang berasal dari Eropa Barat pada Abad XVII.

Saya ketika foto bersama bang Sofyan Daud, Muhammad Ridwan Alimuddin, dan bang Mata Pencil

Kembali ke Ternate Membaca. Informasi tentang sosok Bang Ridwan bagi saya sangat minim, dipastikan bahwa kurang membaca adalah faktor utamanya, sebab orang yang membaca pasti akan tahu sebesar apapun dunia ini. Namun, kesan pertama pada malam berbagi pengalaman literasi, bagi saya Bang Ridwan Mandar adalah Sosok sederhana namun Super. Super?.  Iya benar super.

Dedikasinya yang begitu kuat untuk menjadikan hidupnya lebih berarti bagi orang lain. Kerja-kerja literasi yang dilakukannya hampir memakai seluruh jenis moda transportasi, mulai dari Sepeda, Becak, Motor, Mobil, dan terkahir ini adalah memakai perahu. Begitu Informasi yang saya dapatkan dari Abang Sofyan Daud. Semoga suatu saat nanti ada juga Pesawat Pustaka.

Hal ini dilaluinya tidaklah mudah, “Butuh kesadaran, kesabaran, dan terlebih penting adalah menyelami pekerjaan ini dengan senang hati, “se-enjoy” mungkin. Jangan dijadikan sebagai beban”, Tips lelaki berambut gondrong ini, yang sesekali logat Bugis-Makassarnya terdengar.

Yang begitu teristimewa adalah Perahu Pustaka Pattingaloang-nya. Pun, perahunya adalah perahu dibuat dari cara dan bahan yang hampir sama dengan perahu yang dibuat orang-orang terdahulu, hal itu terlihat dalam video dokumenter yang diputar oleh Ridwan dalam Bacarita Literasi. Rindwan mendokumentasikan prosesi pembuatan perahu pustaka yang ia gagas. mulai dari pengambilan kayu di hutan untuk membuat badan perahu, menyambungkan badan-badan perahu menenggunakan bahan alam, hingga proses membaca mantera pun tak luput didokumentasikan.

Hal ini bagi saya adalah sebuah kritikan pedas sebagai putra Maluku Kie Raha,  terutama saya yang terlahir sebagai putra Tidore.  Dimana Tidore terkenal dengan spirit dan strategi maritimnya, mampu mengkonsolidasikan kesadaran maritim. Dan saya sangat yakin,  bahwa Sultan Nuku dalam membangun konsulidasi dari Seram hingga Raja Ampat dan daerah lain adalah melalui konsolidasi dalam membangun kesadaran. Tak hanya memakai “peda”  dam “salawaku”, bagi saya, orang-orang terdahulu memiliki spirit literasi-membangun kesadaran.

Perahu Pustaka Pattingaloang telah “berani” membelah lautan Sulawesi, kini ia berlabuh di Laut Halmahera. Seakan isyarat memanggil Armada Juanga, Armada Kora-kora, Armada Canga, Kadunga untuk berlayar mengelilingi aksara Laut Halmahera, Laut Seram, Laut Papua bahkan samudera dunia.

Ada semacam penyemangat yang tidak hanya timbul di kalangan kaum terdidik di kampus dan lainnya, jika orang sebatas melihat dari luar, moment TERBACA ini walkhusus bagi para orang-orang yang mengeyam pendidikan di perguruan tinggi, saya rasa Anda salah. Beberapa kali saya melihat para tukang ojeg, para orang tua, nahkoda speedboat pun turut hadir di acara tersebut, bahkan salah satu nahkoda speedboat  menawarkan jasanya pada bang Sofyan Daud. Kira-kira begini katanya: “Abang, jika nanti abang berniat agenda literasi ke pulau-pulau lainya, saya siap antar menggunakan speedboat. Tidak pungut biaya”.

Kenapa tidak? Ya kita bisa membangun-menggerakkan lagi spirit literasi yang dilakukan para pejuang kita terdahulu.

Lagi-lagi, kehadiran Ridwan adalah suatu cambuk bagi saya. Cambuk bagi kita untuk berbagi dalam kemanusian. Salam literasi. TERBACA-LAH !

Penulis :

Budi Janglaha

Sekretaris Garda Nuku,

Tukang Baliho di Janglaha Printing,

dan Kru Jalamalut.com

 

Views All Time
Views All Time
209
Views Today
Views Today
1
Like