/Kematian, Togel, dan Pergeseran Nilai Adat Seatoran

Kematian, Togel, dan Pergeseran Nilai Adat Seatoran

(Belajar dari Kematian Amy)

Hujan mulai redah, menyisakan keheningan Kamis malam yang kelam. Betapa tidak? perjalanan saya menuju rumah terhenti sekitar lima meter dari pertigaan jalan menuju Kadaton Ici sultan Ternate, Kelurahan Bula, tepat pukul 20.00. Sontak saya mengerem laju sepeda motor, saat melihat sejumlah orang berlarian sambil berteriak nama “Amy” yang tak lain adalah teman kecil saya ketika masih tinggal bersama Nenek di kelurahan Bula. Mendengar namanya, saya pun menyerobot ke tengah-tengah kerumunan orang yang tampak bingung karena melihatnya tepapar darah. Wajahnya ampir tak bisa dikenali setelah terhempas jauh dan terperosok ke dalam selokan.

Dia talempar jao, sekitar 10 meter dari tikungan,” tutur Iwan, yang menyaksikan langsung kejadian itu kepada saya sambil menarik badan “Amy” dari selokan. Upaya Iwan dan beberapa orang lainnya untuk menolong Amy, berakhir sia-sia. Pendarahan hebat mengakibatkan teman kecil saya itu kehilangan nyawa. Jenazah Amy pun dibopong menuju rumah duka di bawah derai rintik hujan yang membuat suasana batin saya semakin sedu dan duka. Sebab, baru tiga hari sebelumnya, tepat di teras rumah Nenek, Amy menceritakan mimpinya kepada saya bahwa ia bertemu dengan Sultan Ternate, Hi Mudaffar Syah di pertigaan jalan itu. Tak disangka, itu menjadi pertemuan dan cerita terakhir antara saya dan Amy. Saya tak bisa menyimpan duka, mengingat mimpinya itu tanpa sadar petanda yang menjadi nyata. Tak menyangka di pertigaan itu pula, Amy mengembuskan nafas terakhirnya.

Saat keluarga dan teman masih diselimuti duka, sebagian orang malah aneh bertingkah. Mereka tampak tak berduka, mengerumuni sepeda motor sambil berbisik menyebut angka-angka. Sebagian dari mereka sibuk mengetik angka-angka plat motor itu di Hp masing-masing. Kejadian yang sebelumnya tak lajim saya temukan. Namun, saya baru menyadari tingkah miris mereka ketika Iwan menggerutu  “Ceh dong ini ni sampe so tarada rasa kemanusian deng peduli sama sekali e, saudara satu kampong maninggal kong donk urus nomor togel tu. Saya pun kaget dan terperangah melihat mereka setelah mendengar Iwan menggerutu berkali-kali di samping saya.

Duka kehilangan teman diperparah karena mulai bercampur aduk dengan kecewa setelah melihat tindakan aneh mereka. Tentunya aneh bagi saya, sebab orang Ternate selama ini dikenal sangat menjunjung tinggi toleransi dan persaudaraan dalam bingkai Adat  Se Atoran, mulai dirusak bahkan digerogoti oleh aktivitas perjudian. Dimana, kematian bagi sebagian ‘Orang Ternate’ tidak lagi membawa duka, tetapi menjadi ajang menguji peruntungan bahkan dengan mimpi dan iming-iming menjadi cepat kaya.

Kejadian ini sedikit menggambarkan mulai bergesarnya nilai Adat Se Atoran di tengah kehidupan ‘Orang Ternate’. Kematiaan ‘Orang Ternate’ yang disebabkan kecelakaan kendaraan bermotor tidak lagi menjadi ikhtiar bagi pengendara lain, tetapi sebaliknya menjadi ajang uji peruntungan. Sangat naïf rasanya, namun hal ini telah berlangsung lama semenjak perjudian togel merajalela di hampir semua lapisan masyarakat Ternate. Tragedi Amy, tidak hanya menyimpan duka, tetapi fenomena dibalik itu membuat  saya kecewa dan seakan tak percaya.

Tak hanya itu, duka telah bercampur aduk kecewa kian terasa setelah prosesi pemakaman Amy selesai, kemudian dilanjutkan dengan tradisi spiritual, yakni Tahlil Sone Ma dina (baca Busranto), yang dilaksanakan dalam kekhasan tradisi Lilian. Umumny, kekhasan “Matinya-Orang Ternate” dapat dikenali melalui tradisi Lilian (sikap gotong-royong yang dikonotasikan pada kaum perempuan, namun tak menutup kemungkinan kaum laki-laki untuk menyiapkan alakadar dalam setelah tahlil). Lilian dalam kaitannya tahlil Sone Ma Dina, yang berlangsung di rumah duka tak ubahnya rapat Pansus dan Paripurna di kantor DPR. Diskusi kecil-kecilan terdengar dan tampak biasa untuk sebagian orang yang melayat di rumah duka. Dari bacarita politik, hukum, hingga bisnis menjadi Trend-topik di hampir semua orang yang hadir saat itu. Tak jarang, diskusi tersebut melahirkan argumentasi-argumentasi memicu cekcok dan perselisihan, apalagi terkait politik pilkada. Tradisi Lilian tak lagi menjadi sarana mempererat ukuwah silaturahim, malah melahirkan bahkan memperlebar konflik. Padahal Menurut tetuah-tetuah Ternate semangat lilian diaplikasikan lewat bacarita agama dan budaya  yakni, Maku Sidoa (Saling memberikan/Saring pengetahuan, dalam konteks agama dan budaya). Misalnya, melalui  Jarita, Pantun, Doro Bololo dan Tamsil, yang dimaknai sebagai tradisi spiritual religius Orang Ternate. Tradisi lilian semakin digerogoti kepentingan, baik kelompok maupun individu yang telah kehilangan manifestasi nilai kemanusian dan secara tak sadar mencedrai semangat spiritulitas masyarakat Ternate.

Jika demikian adanya, maka eksistensi manusia akan runtuh ketika semua hal dilakukakan tanpa menyentuh nilai dan makna sebenarnya. Sebab pada akhirnya, kita akan diperadapkan nilai-nilai baru yang berkembang. Sementara disisi lain, ada tujuan hidup yang patut dipenuhi yakni kebahagian kolektif. Tak hayal, akibat dari tradisi dan kebudayaan tidak diberikan tempat secara kontekstual. Kehilangan nilai dan makna disebut Nietzsche sebagai Dekadensi Etis (kemerosotan etika) dalam masyarakat. Hal ini berdampak pada keseimbangan tatanan sosial, karena sistem sosial diobrak-abrik oleh polesan model jajahan baru yang ber-Casing klasik.

Tak ada salahnya, kita sedikit berkaca pada tradisi spiritual Islam kejawen pesisir, yang menjunjung tinggi nilai tradisi, seni serta mistik. Sebuah kebiasaan yang diartikulasikan menjadi semangat spiritual religius bagi eksistensi keislaman masyarakat Jawa. Kecendurangan nilai tradisi, dipandang penting untuk merepresentasi dan merekonstruksi tradisi serta budaya pada nilai-nilai spiritual religius dalam kehidupan bermasyarakat. Bukan saja Jawa, Ternate dengan sejarah keislaman yang panjang, tidak melepas tradisi dan budaya sebagai instrumen penting dalam kehidupan masyarakat. Jika demikian, maka pentingya aktualisasi tradisi, adat dan budaya untuk menopang spiritual religius keislaman serta menjunjung tinggi nilai kemanusian dan bersenergi dengan kehidupan masyarakat Ternate yang kian heterogen .

Merujuk ulasan pendek ini dikaitkan dengan fakta yang terjadi bahwa, kematian bagi sebagian masyarakat Ternate, tak lagi dirasakan dengan duka dan kesedihan mendalam, melainkan luapan eforia kebahagian dan kepentingan subjektif semata. Maka, seyogianya peningkatan kesadaran moral baik individu maupun kelompok masyarakat menjadi ukuran utama nilai kemanusiaan. Serta kesadaran kritis atas nilai dan makna dilekatkan pada semua aspek kehidupan. Sehingga tafsir atas sebuah objek atau kejadian tidak lagi samar, akan tetapi menyentuh esensi nilai dan makna sesungguhnya. Sehingga masyarakat Ternate tak bertepuk dada, merasa hebat atas kepemilikan tradisi, adat, dan budaya.

Semoga pada kematiaan-kematian lain, tak ada lagi kematiaan nilai dan makna. Tak ada lagi rasa duka yang diselimuti kecewa, yang saya rasakan 3 tahun silam dibalik kepergian Amy. Dibalik duka kematian Amy, saya dan bahkan kita semua bisa belajar menghidupkan kembali nilai dan makna, baik dalam tradisi, adat dan budaya.*Kiranya[]

Penulis: Firjal Usdek

 

Views All Time
Views All Time
209
Views Today
Views Today
1
Like