/Ka’bah dan Rahasianya

Ka’bah dan Rahasianya

Di Ternate dan Makassar ada kebiasaan masyarakat melakukan ritual di puncak gunung Gamalama dan Bawakaraeng. Menurut masyarakat tradisional yang menghuni kedua kawasan kaki gunung itu, Ka’bah (dan tentu saja air Zamzam) berada di puncak gunung sehingga cukup bagi mereka untuk berhaji ke sana.

Mitos ini meninggalkan pesan, begitu pentingnya Ka’bah. Ia menjadi pusat perhatian dan angan-angan tradisi kesalehan masyarakat Nusantara. Saya pun berpikir betapa pentingnya menggagas suatu tema pemikiran ilmu Kalam, Teologi Gunung untuk mendeskripsikan gunung sebagai tempat “paling tinggi” di bumi, sehingga Tuhan memilih gunung Sina dan gunung Nur sebagai tempat yang pas untuk pewahyuan Taurat dan Al-Qur’an.

Tapi di sisi lain, gunung jangan disembah karena gunung sendiri pun takut kepada Allah: “Sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini di atas sebuah gunung, niscaya kalian akan menyaksikan gunung itu luluh lantak karena takut kepada Allah” (QS.59:21). Sama dengan tatkala Musa bersikukuh ingin melihat Allah (secara fisik), Allah mengatakan kepada Musa bahwa “kamu tidak mampu” melihat-Ku tetapi pandanglah ke gunung itu (Sina), lalu Musa memandang ke arah Sina dan gunung Sina pun luluh-lantak karena takut kepada Allah dan seketika itu Musa pun pingsan (QS.7:143).

Dua ayat Quran ini menyatakan “gunung bergetar” (dakkan), yaitu gempa yang beriringan dan membuat bagian-bagian gunung saling melepaskan dan jatuh berkeping-keping (lihat QS. 89:21) adalah kosa kata simbolik (majazi) bahwa gunung yang kokoh pun tak akan mampu menahan kedahsyatan firman Allah (Kalam Allah), sehingga menistakan firman Allah sama timbangannya dengan menyangkal eksistensi Zat Allah.

Padahal tak terkirakannya kandungan firman Allah, maka gunung yang kokoh pun hancur lebur. Wajar jika gelombang protes kaum Muslimin di seluruh dunia atas penistaan Al-Qur’an dan Nabi Muhammad baik oleh Salman Rushdie, Charlie Hebdo maupun Basuki Cahaya Purnama memiliki pijakan teologis yang sangat kuat. Ini bukan soal anti demokrasi, toleransi dan kebinekaan. Ini soal bagaimana kita beragama. Jika hal yang terjadi menimpa Kitab Torah (Taurat) dan Injil, maka umat Islam memiliki kewajiban moral dan teologis untuk membelanya.

Kembali ke gunung dan simbolisasi Ka’bah yang menjadi inti tulisan ini. Sejatinya dunia ini adalah Ka’bah atau bisa dibalik Ka’bah adalah dunia ini. Jika kamu telah mencapainya, sesuka hatimu menghadap kemana saja. Di sana ada Dia.” (QS. 2:115). Ka’bah adalah kode pusat rahasia yang ada di dalam dirimu. Ketika engkau berada di Ka’bah, datangi Dia dari segala sudut yang engkau mau. Engkau sedang menuju makrifat. Makrifat (‘arafa, ya’rifu, ‘irfan, ma’rûf) yang artinya “mengenal” akan Allah adalah keharusan penciptaan dari Rahasia Yang Tersembunyi. Sebuah Hadits Qudsi yang sangat populer dalam disiplin Tashawuf menyebutkan: “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, maka Ku-ciptakan makhluk-Ku untuk mengenal-Ku”.

Mengenal Allah secara baik (ma’rûf) akan mendorong manusia melakukan hal-hal yang baik. Jadi “amar ma’rûf nahy munkar” pada dasarnya adalah ajakan kepada kebaikan-kebaikan yang mengantarkan kita pada makrifat kepada Allah.

Ka’bah adalah bagian dirimu yang menyimpan kunci atau kode rahasia pintu makrifat. Dari sana seorang hamba dapat meraup Perbendaharaan Tersembunyi. Bukankah “siapa mengenal akan dirinya, dia akan mengenal akan Tuhannya?” Jika kita tidak mengetahui kode rahasia itu, kita tidak akan mencapai makrifat. Itu sebabnya mereka yang pergi ke Ka’bah, harus mencapai “pengenalan” (‘arafat) karena “‘arafat” adalah stasi akhir perjalanan.

Hadits Qudsi : “Al-insânu sirrîy wa anâ sirruhu”, manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya”. “Khalaqa al-insâna/ âdama ‘alâ surati al-Rahmâni, Aku ciptakan manusia/Adam (dan anak cucunya) seperti rupa-Ku/al-Rahman” Dalam tradisi Alkitabiah, manusia adalah Citra Allah (an Image of God/Imago Dei).

Mari kita renungkan bagaimana kita menghadirkan Allah secara imanen dan transenden di dalam diri kita. “Aku lebih dekat dari urat lehernya” (QS. 50:16). “Dalam diri kamu mengapa tidak kamu perhatikan” (QS. 51:21). “Aku beserta hambaku di mana saja dia berada” (QS. 57:4) Lalu bagaimana dengan kearifan lokal masyarakat Nusantara, dimana puncak-puncak gunung menjadi tempat paling mengasyikkan untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilâ al-Lâhi)?

Jawabnya, semua puncak gunung pada dasarnya berada pada horison yang sama dengan Ka’bah (wa al-ardha wadha’aha li al-anâmi). Namun karena secara syariat anda harus berjalan ke Baitullah (Ka’bah) di Makkah, maka pergilah anda kesana jika mampu. Kalau itu pun belum sempat, maka datangilah shalat Jum’at, karena disanalah haji bagi orang-orang fakir. Tabe!

 

Penulis: Moksen Indris Sirfefa

Moksen indris Sirfefa

Views All Time
Views All Time
270
Views Today
Views Today
1
Like