/HJT 766 dan Kreativitas Orang Muda

HJT 766 dan Kreativitas Orang Muda

SUDAH banyak sekali para penulis, baik yang datang dari sejarawan, peneliti, jurnalis, maupun sastrawan yang menulis tentang Ternate. Selalu saja, walau dalam genre yang berbeda, Ternate terus dikaitkan dengan kegemilangan rempah-rempah di masa lalu.

Meski begitu, rempah-rempah bukan saja soal sesuatu yang kelam, lebih dari itu ia telah menjadi identitas kesejarahan maupun sebagai riwayat heroisme. Saya tahu, distribusi rempah-rempah tidak segemilang dulu, namun untuk komoditas cengkih dan pala sampai sekarang masih terus dikirim ke beberapa perusahaan di luar Maluku Utara.

Heroisme ini sejatinya masih ada. Ia berada dalam kreativitas generasinya. Walaupun sekarang kebanggaan atas rempah-rempah tidak begitu familiar, tetapi Ternate masih terus mendunia dan masih tetap setabah dulu, sebagaimana kenangan tentang penjajahan yang pernah dialami Ternate. Dikhianatipun, heroismenya tak pernah menyusut. Diperangipun, masih tetap berusaha memerangi.

Sampai di usia 766 ini, Ternate tetap menjadi “macan” untuk Indonesia bagian timur. Ia menjadi poros ekonomi dan silang entitas kebudayaan. Sebagaimana Sang Sultan dahulu, Babullah yang dialamatkan sebagai penguasa 72 pulau. Ia sejatinya mewakili semangat dan keberanian orang-orang Ternate dalam pentas apapun.

Keberanian ini tidak melulu tentang parang, tombak, atau alat-alat perang lainnya, melainkan di usia 766 ini, keberanian itu telah menjadi kreativitas dalam membangun semua sektor pembangunan. Saya melihat, pagelaran dan semua event pada Hari Jadi Ternate (HJT) ke-766 ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Event HJT kali ini banyak sekali menawarkan kreativitas orang muda, seperti Lomba Menulis Blog, Lomba Fotografi dan Videografi, Festival Kora-Kora, dan sejumlah kegiatan kreatif lainnya.

Kreativitas inilah yang membuat Ternate semakin dikenal dunia. Kreativitas ini juga yang akan mendorong orang muda Ternate berani keluar dari persoalan ekonomi. Bahwa sebenarnya, ide atau kreativitas itu membuat semua hal menjadi gemilang. Seperti halnya rempah-rempah. Ternate sebenarnya tidak pernah menyusut. Ternate terus hidup—dalam kebudayaan dan kepahitan kapitalisasi yang serumit apapun.

Selamat untuk Ternate, teruslah berbenah. (*)

 Penulis: Rajif Duchlun

Views All Time
Views All Time
106
Views Today
Views Today
1
Like