/Gebeku Sayang, Gebeku Malang

Gebeku Sayang, Gebeku Malang

AKHIRAKHIR ini, hashtag #SaveGebe menjadi viral di media sosial, terutama bagi masyarakat Maluku Utara. Gebe merupakan salah satu wilayah yang secara administratif masuk dalam Kabupaten Halmahera Tengah.

Pulau kecil dengan luas 224 km2 dan dihuni kurang lebih 5000 jiwa ini memang dikenal sebagai tanah surga di Maluku Utara. Seperti pulau-pulau lainnya di Halmahera, Gebe yang terdiri dari delapan desa ini memang memiliki potensi hasil alam yang menggiurkan.

Gerakan #SaveGebe seperti yang ramai di media sosial merupakan gerakan menyelamatkan Kecamatan Pulau Gebe dari beringasnya perusahaan tambang. Salah satu aktivis sosial, lewat akun Facebook-nya dengan nama Mael Soenardi Marlforo, menulis, Gebe merupakan salah satu pulau pertama di Maluku Utara yang dijarah perusahaan tambang. Sejak tahun 1973 sampai tahun 2016 sudah banyak sekali hasil alam, terutama nikel yang dieksploitasi.

Mael menulis, dengan kadar nikel yang bagus tentu hasil yang diraih juga mencapai triliunan rupiah. Ironisnya, kekayaan yang didapat perusahaan tambang tersebut tidak sepadan dengan kondisi Pulau Gebe yang sangat memprihatinkan.

Ia menjabarkan tujuh persoalan serius yang terjadi di Pulau Gebe, yaitu delapan desa lingkar tambang tak ada PLN, tak punya pelabuhan kapal, tak ada air bersih, tak ada jalan raya beraspal, banyak pemuda pribumi yang tak sekolah, serjana magisternya hanya satu orang, dan ekonomi masyarakatnya terpuruk.

Dari sejumlah persoalan itu, membuat masyarakat Pulau Gebe berani keluar menyuarakan tuntutan mereka. Pada 9 Desember 2016, masyarakat Pulau Gebe menuntut aliran listrik dan air bersih melalui aksi demonstrasi. Mirisnya, aspirasi tersebut tidak ditanggapi dan membuat kekecewaan masyarakat meledak yang berakhir pada pengrusakan fasilitas perusahaan.

“Biaya kerusakan tak seberapa bila dibandingkan dengan hasil keuntungan yang diperoleh dari nikel Gebe. Dan 14 warga yang diduga sebagai pelaku dan provokator kini ditahan aparat kepolisian. 14 warga Gebe diduga bersalah karena pengrusakan, tapi perusahan dan pemerintah yang lama mengabaikan Gebe tak pernah bersalah,” tulisnya.

Gelombang aksi demonstasi terus bertambah. Kemarahan masyarakat sudah tidak bisa dibendung lagi. Bahkan, dalam sebuah video yang dimuat oleh akun Facebook dengan nama Kriting Tulen, membuat gerakan #SaveGebe semakin ramai dan mendapat dukungan dari masyarakat Maluku Utara.

Video berdurasi kurang lebih limat menit itu terdapat dua anak sekolah yang membacakan sikap dan kekecewaannya terhadap pemerintah. Dalam video yang sudah di-share berkali-kali oleh pengguna media sosial tersebut, dua anak sekolah dengan suara sesenggukan meminta kepada Presiden Jokowi, Gubernur Maluku Utara KH. Abdu Gani Kasuba, dan Bupati Halmahera Tengah M.T Ali Yasin, agar secepatnya menyelesaikan masalah yang sedang dirasakan masyarakat Pulau Gebe.

Hal senada juga disinggung Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Maluku Utara, lewat akun Facebook-nya dengan nama Munadi Kilkoda. Ia menulis, Pulau Gebe sebelumnya pernah menjadi kota metropolis setelah PT ANTAM bekerja menggaruk nikel di wilayah pulau yang sebenarnya dilindungi UU 27/2007. Kejayaan tersebut tidak berlangsung lama.

“Gebe saat ini seperti satu kota yang collapse. Penghuni pulau Gebe banyak melakukan eksodus ke tempat lain, membawa serta kejayaan tersebut lalu meninggalkan bekas yang tak akan pernah dilupakan rakyat Gebe ratusan tahun lamanya. Gebe kini berada dalam satu rancangan besar pembangunan. Arah pembangunan tersebut mengarah pada perluasan kemiskinan,” tulisnya.

Munadi seperti memberikan penegasan, bahwa negara akan mengulangi kesalahan fatal yang pernah dilakukan sebelumnya ketika membiarkan PT ANTAM merusak tatanan sosial dan budaya masyarakat adat setempat.

“Gebe dipandang pemerintah setempat sebagai daerah strategis untuk membangun industri besar pertambangan nikel, mangan dan kobalt. Karena itu tak tanggung-tanggung pemerintah mengeluarkan 16 Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk mengeroyok SDA dari sisa-sisa yang belum dijarah PT ANTAM. Salah satu di antaranya perusahan asal Cina, PT FBLN yang bermasalah dengan warga Gebe kemarin,” tulisnya.

PT FBLN memang diakui sebagai dalang dari puncaknya kemarahan masyarakat Pulau Gebe. Beberapa pekan terakhir, tuntutan untuk membuat perusahaan Cina tersebut merasa kapok terus berdatangan dari sejumlah kalangan. Banyak pihak yang berempati dan memberikan dukungan dengan cara mereka masing-masing. Masyarakat Maluku Utara sudah mengerti, Pulau Gebe bukan saja tentang rakyat Gebe, tapi tentang kemanusiaan. Tentang Indonesia. O, Gebeku sayang, Gebeku malang. Semua orang ingin memelukmu. (*)

Penulis: Rajif Duchlun

Views All Time
Views All Time
243
Views Today
Views Today
1
Like