/Dunia Maluku

Dunia Maluku

Antara Kemilau Cengkeh-Pala, Mitologisasi dan Dualisme

(resensi buku; Dunia Maluku: Indonesia Timur Pada Zaman Modern Awal, Penulis Leonard Y. Andaya)

“Mulanya cuma cengkeh palai I Pusaka pulau-pulau Kie Raha I Negeri timur tentram cemerlang…. I Ya, mulanya cuma cengkeh pala I Di atas petak petak jazirah berdaulat I Yang tiada kenal sengketa batas peta, I tiada juga suka perseteruan. I Sampai tuan tuan datang  I Dan separoh kemanusiaan kami fana, I Separoh peradaban kami binasa !”

(penggalan Puisi M. Sofyan Daud, Mulanya Cengkeh Pala)

Maluku telah terkenal berabad-abad lalu karena kekayaan rempah-rempahnya (pala dan cengkeh). Kemilau dua komoditi endemik kepulauan Maluku ini telah menarik minat bangsa Eropa untuk menaklukan  beribu-ribu mil jarak  laut untuk mencari pulau penghasil rempah, Maluku. Bahkan beberapa kalangan meyakini bahwa  Maluku dengan cengkeh-palanya adalah tempat awal-mula imperialisme menancapkan “kukunya” di Nusantara.

Buku ini menceritakan sejarah kepulaun Maluku (lebih spesifik Maluku Utara) dengan style yang agak berbeda dari kebiasaaan penulisan sejarah umumnya yang lebih berfokus pada tema-tema tentang heroisme, kejadian tertentu dalam periode waktu tertentu, tokoh-tokoh yang berpengaruh atau implikasi dari itu semua (sejarah kronik?). Dalam hemat saya, penulis buku ini Prof. Leonard Y. Andaya sepertinya agak sedikit keluar dari mainstream penulisan buku-buku sejarah pada umumnya. Meskipun  dalam pembahasannya tema-tema diatas tidak dilepas-pisahkan. Professor Andaya yang merupakan seorang sejarawan kawakan mengenai Asia Tenggara ini, dalam pembahasannya menjunjung tinggi dan menggunakan perspektif orang pribumi. Menurutnya, fenomena sejarah seharusnya dibaca dengan menggunakan “kaca mata” pribumi.

Cerita tentang dunia Maluku menurut Andaya adalah cerita yang berlapis-lapis, namun sang penutur cerita khususnya hampir seluruhnya merupakan bangsa Eropa. Selanjutnya, Andaya menyebut bahwa berdasarkan teori-teori klasik dan Kristen yang telah mapan mengenai wilayah pusat dan pinggiran, representasi bangsa Eropa tentang masa lalu mempertunjukkan bahwa rakyat yang dijumpai di Maluku adalah terbelakang dalam hal moral dan budaya. Pandangan-pandangan bangsa Eropa tentang bangsa lain dan kebudayaannya menurut Andaya dengan mengutip Glacken, menemukan cita rasanya terbesarnya pada abad XV dan XVI dimana bangsa secara etnosentris menamakannya zaman penemuan (age of discovery). Konsep bangsa Eropa tentang waktu dan “kemajuan” ini lanjut Andaya  betul-betul berkebalikan dibandingan dengan gagasan waktu menurut penduduk bumiputera Maluku yang adalah melingkar dan berurutan. Dua mode penafsiran masa lalu, masa kini dan masa depan, yang berbeda ini merupakan sebah masalah yang mendasar dalam hubungan diantara kelompok-kelompok tersebut dalam zaman modern awal.

Lebih jauh, Andaya menegasan bahwa fondasi dari gagasan-gagasan penduduk bumiputra Maluku tentang dunia dapat ditemukan dalam mitos, kisah, dan serpihan-serpihan dari masa lalu yang tetap bertahan dalam ingatan kolektif. Tradisi-tradisi ini menunjukkan kepercayaan asli terhadap kesatuan mistis yang dikenal sebagai Maluku, yang menghubungkan seluruh pulau dengan banyak ragam komunitas etnolinguistik didalamnya sebagai satu keluarga. Dalam menjaga gambaran ini, hubungan antara pusat dan pinggiran  ditandai dengan semua pertanggungjawaban yang saling menguntungkan (mutual). Dalam pandangan Andaya, dunia Maluku, digambarkan dan disahkan melalui mitos itu, merupakan kesatuan unik yang tersaji sebagai sebuah peta budaya dalam hubungan komunitas individu didalamnya dan diluarnya, termasuk bangsa Eropa.

Seperti ditegaskan oleh Basri Amin dalam endorsement-nya tentang buku ini, bahwa Maluku pernah menjadi sentrum pergolakan dunia dalam waktu yang panjang. Persinggungan antara persaingan dan persaudaraan di tingkat lokal Maluku, hubungan lintas teritori, beserta konstruk legitimasi (mitis dan politik) yang menyertai regionalitasnya digunakan sedemikan rupa oleh para pembesar di Maluku menghadapi “dunia luar”. Kekuatan kolonial awalnya adalah narasi yang sekunder, lanjut Basri Amin, tetapi kemudian menjadi signifikan pengaruhnya ketika pergolakan ekonomi dunia dan persaingan “jalur maritim” memaksa Maluku untuk bernegosiasi dan berkompetisi.

Dunia Maluku dalam pandangan Andaya disimbolkan dengan pemeliharaan mitos dan dualisme Ternate Tidore. Mitos Bikusagara membentuk konsep sebuah “keluarga Maluku” yang dibatasi oleh Banggai-Buton di sebelah barat, Papua di sebelah timur, Loloda di sebelah utara, dan Bacan di sebelah Selatan. Mitos lain yang dilestarikan dalam julukan lama untuk Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan menjelaskan bahwa empat kerajaan itulah yang membentuk Dunia Maluku Utara, Andaya menyebutnya “empat pilar”. Mitos ini menjadi dasar proses politik yang melibatkan dorongan dari “anggota keluarga” untuk mengadopsi pakaian, gelar, bahasa dan agama dari wilayah “pusat”. Namun, menurut Andaya proses ini tidak pernah berlangsung dengan berhasil karena kekuatan spiritual lokal dan sifat  masing-masing kebudayaan terbukti sungguh luar biasa kuatnya. Namun demikian, dalam keluarga Maluku terdapat penerimaan atas gagasan yang berasal dari wilayah pusat dan pinggiran (dualisme), keduanya teramat penting bagi pemeliharaan kesatuan ini.

Karya besar Prof. Andaya ini sebenanya bukanlah buku baru. Pada tahun 1993 University of Hawaii Press pertama kali menerbitkan buku ini dalam versi bahasa Inggris dengan judul “The World of Maluku: Eastern Indonesian in Early Modern Period” dan setelah 22 tahun buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Dunia Maluku; Indonesia Timur Pada Zaman Modern Awal” diterbitkan oleh Penerbit Ombak, tahun 2015 dan dilaunching tanggal 10 Oktober 2015 di Universitas Indonesia yang dihadiri langsung oleh penulisnya.

Buku ini terdiri dari 388 halaman yang dibagi ke dalam dua bagian dan tujuh bab serta kesimpulan. Bagian pertama bertajuk Dua Dunia, terdiri dari 3 bab. Bab I menceritakan tentang Dunia Bangsa Eropa, bab II Dunia Maluku: Pusat, bab III Dunia Maluku: Pinggiran. Sementara pada bagian dua diberi title Perjumpaan, terdiri atas empat bab. Bab IV Perjumpaan Dua Dunia pada Abad XVI, bab V Persaingan Bangsa Eropa dan dualism Maluku, bab VI Kompeni Sebagai Ayah, dan Rakyat Maluku Sebagai Anak, dan bab VII Nuku dan Pemulihan Dunia Maluku. Bagian akhir adalah kesimpulan yang mempertautkan seluruh pembahasan pada bab-bab sebelumnya serta implikasi kajian ini terhadap masyarakat Asia Tenggara.

Menarik untuk menyimak salah satu kesimpulan dalam buku ini, bahwa kelompok masyarakat Maluku nyaris tidak bersentuhan oleh gagasan budaya India atau Islam pada saat kedatangan bangsa Erop pada 1512. Bagaimanapun, terdapat sebuah perbedaan di Maluku yang berdasarkan atas sebuah logika tradisional yang terungkap dalam mitos ini. Ikatan hubungan kekerabatan yang ditentukan oleh hal-hal yang dimiliki bersama dalam dunia Maluku yang terbangun seccara mitis yang memperkuat kesultanan tersebut dan membuat mereka menjadi suatu pemerintahan yang lebih memilliki karakter Pasifik ketimbang karakter budaya India.

Buku Dunia Maluku: Indonesia Timur Pada Zaman Modern Awal, karya Prof. Leonard Y. Andaya ini adalah sebuah karya monumental yang tentunya memilki arti penting khususnya bagi sejarah Maluku, dan lebih spesifik lagi Maluku Utara. Dengan mempertautkan pendekatan antropologi dan postkolonial sekaligus, Prof. Andaya seakan “memprovokasi” para halayak untuk menyelami kedalaman “dunia Maluku”. Buku yang sulit untuk tidak dibaca, namun tidak mudah juga untuk membacanya.  Selamat membaca ! (sumber: kabarpulau.com)

Penulis: Darmin Haji Hasim

Data  Buku;

  • Judul buku: Dunia Maluku, Indonesia Timur Pada Zaman Modern Awal
  • Penulis: Leonard Y. Andaya
  • Penerbit: Ombak, 2015
  • Tebal:xIviii + 388 hlm; 16 x 24 cm
  • ISBN: 978-602-258-302-2
Views All Time
Views All Time
172
Views Today
Views Today
1
Like