/Dino Umahuk di Lingkaran Sastra yang Malas

Dino Umahuk di Lingkaran Sastra yang Malas

pada segelas kopi yang kau

Hidangkan

ada rasa sakit dan pahit

sebab saat meneguknya

kau korek luka-lukaku” (Rahadi Noor)

MAAF! Saya menggunakan judul ulasan buku ini “Lingkaran Sastra yang Malas”. Boleh jadi spirit dan pemikiran yang ingin disuarakan Dino Umahuk melalui buku ini (Republik Rampa-Rampa) tidak sepenuhnya tersampaikan secara utuh dan lengkap. Terutama dari sisi kekayaan batin sebagai seorang sastrawan. Mulai dari sikap acuh tak acuhnya masyarakat, sastra yang sesunggunya menjadi perhatian atau mainstream justru termarjinalkan. Ada mata rantai yang hilang dalam kehidupan  sastra dalam masyarakat. Suara Dino,  mengutip salah satu iklan mobil, seperti “nyaris tak terdengar”. Meski kritis, bagi saya dia justru terjebak dalam hiruk-pikuk praksis politik.

Atau seperti ditulis Mochsen Idris Sirfefa dalam prolognya, “Saya memandang ide-ide kritis penulis buku ini didasari pada nawaitu yang baik. Tetapi lebih baik lagi jika kritis itu disampaikan secara bijak dan bukan penghakiman pada figur tertentu. Intelektual adalah mereka yang berfikir obyektif tapi tidak kering dari nilai dan rasa. Sastra sangat mungkin menjadi penyejuk bagi jiwa yang sedang berontak.”

Sebaliknya, manusia itu hanya bios politikos, kata Aristoteles, dan semacam binatang yang sanggup berfikir, kata Thomas Aquinas: enspossibile, makhluk penuh kemungkinan. Jadi, setiap orang adalah gado-gado dari yang baik dan buruk, campuran kimia dari sifat-sifat loyal dan kecenderungan seorang Brutus, rakitan roh Bismarck, dan psikologi Hamlet, medan pertempuran antara keserakahan dan cita kasih. Dalam teks politik selalu ada kemungkinan bahwa seorang manusia dalam hidupnya dapat berubah dan diubah dari sifat kepengecutan dan manusia teladan. Banyak sastrawan yang terpukau pada J.F. Kennedy, karena dia setia membaca Longfellow dan rajin mengutip secara kena Allan Poe.  Politikus yang membaca dan menghayati puisi sebagai sebuah mukjizat. Artinya, dari penyair orang-orang politik bisa belajar tentang licentia poetica, kebebasan para penyair memakai kemungkinan bahasa, mengolah kalimat setengah patah menjadi kejutan, menyulap sebuah kata hampa menjadi mutiara, atau suatu ungkapan jorok menjadi kristal (Kleden, 2008).

Membaca buku “Republik Rampa-Rampa”, yang ditulis oleh Dino Umahuk, kita seperti digiring tanpa pernah merasa tergiring, dan mengerti tanpa pernah merasa digurui dengan keadaan dan situasi politik negeri ini. Ide-ide kritis yang ditulis sungguh mencerminkan pengetahuan yang luas dan dalam akan situasi politik lokal serta dinamika yang terjadi di dalamnya.

***

Bagian pertama buku ini mengupas tema Menuju Ternate Majang (hal. 1) dan problem perkotaan, terlihat penulis begitu concern pada pengamatan akan dinamika tumbuh dan berkembangnya Ternate. Lebih dari itu, dari dua puluh esai/artikel, bagi saya merupakan tema perubahan yang menghubungkan sejarah, pulau, dan kebijakan, bagi saya indentifikasinya memang agak samar dan kontekstual Ternate. Karena isu-isu seperti ini juga dialami oleh kota-kota sedang lainnya di Indonesia. Tanpa berniat mengabaikan artikel lain, saya hanya memilih tema Gagap Bencana (hal. 79) sebagai bagian dari diskursus buku ini. Seperti ditulisnya, “Bencana yang datang silih berganti, tumpang tindih, telah menimbulkan kelelahan, kerisauan, keresahan, kegalauan, dan kegamangan di masyarakat. Tragedi yang datang terus menerus itu tidak hanya melahirkan interpretasi secara rasional, tetapi juga spiritual.” (hal. 81)

Tragedi yang hari ini kita lihat adalah tenggelamnya KM Karamando yang memakan korban, dan sebelumnya juga terjadi pada kawasan yang sama yaitu terbakarnya spead boat. Betapa tidak, kita tengah menyaksikan hari-hari panjang yang disebut otonomi, pembangunan daerah, dan proses maritim dengan kekhawatiran yang nyaris sempurna, bahwa demokrasi yang kita pernah bayangkan itu, kini terlihat tanpa arah atau sedang menuju jalan buntu. Tengoklah sejenak apa yang terjadi dengan daerah ini; terpuruk secara ekonomi dan kacau secara politik.

Meskipun dikemas dalam gaya bahasa yang cenderung dinamis, pada bagian kedua Maluku Utara dan Good Governace (hal. 88), pada tema paradoks. Di dalamnya terdapat ulasan, “Demokrasi kita juga cenderung melahirkan pemimpin “banga-banga”. Para pemimpin yang terpilih, baik di pemerintahan maupun parlemen kebanyakan tidak memiliki kapasitas yang memadai. Pasalnya, rakyat cenderung memilih orang-orang tidak berdasarkan kapasitasnya, melainkan berdasarkan atas popularitasnya, atau karena sang calon mampu bagi-bagi duit dan beras misalnya.” (Hal. 107-108). Bagi saya yang tak kurang berbahaya adalah munculnya pasar gelap kekuasaan politik atau “black market of power politics”. Pasar gelap politik ini timbul bila yang berkuasa kehilangan kepekaan terhadap tuntutan publik, karena terlalu memikirkan diri sendiri dan kelompoknya.

Bagian ketiga buku ini membahas tema Sosial Budaya, terutama pada artikel Egoisme (hal. 246-247), “Betapa tidak, egoisme telah menempatkan elit politik dan pemimpin di daerah ini berdiri berseberangan dengan kepentigan dan aspirasi rakyat. Kepentingan dan aspirasi rakyat kerap tidak terwakilkan oleh aneka kebijakan yang diambil oleh para elit dan pemimpin di daerah ini. Padahal , jutaan rakyat hidup di bawah garis kemiskinan. Jutaan lainya tak mendapatkan pekerjaan dan terpasung oleh sistem koneksitas yang angkuh dan egois…. Karena titik soalnya bukan sekadar kemiskinan itu sendiri, melainkan proses pemiskinan yang secara sadar terus dilakukan dan secara kontinyu terus terjadi sebagai konsekuensi logis dari sistem pendistribusian ekonomi yang timpang.”

***

Pada dimensi itulah buku karya Dino Umahuk menjadi relevan, karena memberikan sumbangan pemikiran kritis terhadap “fenomena kekuasaan yang pongah” di daerah rempah-rempah ini. Dino tak pernah menulis sajak yang gelap, jauh dari kecenderungan memakai kata-kata abstrak, tetapi dia konsisten dengan jati dirinya sebagai Lelaki Laut yang tangguh.

Buku ini bagi saya telah menawarkan sebuah prespektif baru pembangunan daerah dan kepemimpinan elit, sekaligus membangkitkan inspirasi untuk sebuah perubahan besar, Insya Allah.

Peresensi:

Afied Malik Ibrahim
Afied Malik Ibrahim
Views All Time
Views All Time
152
Views Today
Views Today
1
Like