/Damos dan Lelaki Gemuk

Damos dan Lelaki Gemuk

ORANGORANG memangilku Damos, bagi mereka, aku lelaki bulan dalam pangkuan matahari. Tunas bunga selaginella lepidophylla di gurun Chihuahua yang tahan terhadap panas, pemalu, jarang bicara, dan tak suka neko-neko.

Aku tak tahu kenapa mereka menafsir aku demikian, yang kutahu, aku lahir dari rahim seorang perempuan penuh kasih, cintanya padaku adalah kerelaan matahari menyinari bumi. Bapakku lelaki dari daratan bekas perebutan Jepang dan sekutu ketika perang dunia kedua, mereka terlebih dahulu pulang pada dunia sesudah ini, terbaring menunggu aku pulang dan tidur di pangkuan mereka, lalu bisikan di telinga kehidupan tidak lebih dari sandiwara dan kita para aktor di atas panggung, jurinya para malaikat dan Tuhan memberi  nilai, kubayangkan seperti menerima rapot di sekolah, guru-guru adalah para Malaikat dan Tuhan adalah wali kelas.

Dalam pekat malam aku menyimpan selaksa kenangan, sebab gelap bagiku ia kadang menari serupa gasing, kadang pula bernyanyi seperti Cala Ibi di kala pagi, dalam gelap, kehidupan tak bisa diterka, kita mengenal sesuatu dari telinga, rasa, dan meraba, sebab kata orang manusia itu hidup dalam cengkeraman nasib dan takdir yang ditentukan Maha Esa, tapi bagiku nasib dan takdir adalah milikku sendiri.

Aku hidup dan terlahir ke dunia berdebu karena aku memilih-Nya, dan bila  ada yang mengatakan padaku bahwa hakikat manusia terlahir untuk menyembah pada-Nya, aku tak percaya, kulalui hidup seperti menemukan bahwa aku kertas putih dan bersiap menulisnya sendiri, penyembahan pada yang Esa adalah persoalan kenikmatan dan kepuasaan bagi setiap pribadi.

Aku senang berkawan gelap, sebab di matanya setiap manusia mempunyai ruang kosong, kemudian diisi dengan rupa-rupa warna dan bentuk, manusia kemudian mendesikripsikan sesuatu dari sudut pandangan matanya, andai saja mereka hidup tanpa mata, bagaimana mereka mendeskripsikan warna putih dan hitam, dan segala bentuk perubahan, tua dan muda, kecil dan besar. Selain merasakan tangan memegang dan semuanya hanyalah hitam.

Buku adalah kekasihku, pelipur lara dari cerita lama, dengan membaca buku aku bertamasya pada dunia yang belum aku kunjungi sebelumnya, membayangkan tempat-tempat yang didiskripsikan orang, kadang aku sering bertanya benarkah ada tempat sedemikian indah? Ada kaum sedemikian kejam? Ada manusia mati kelaparan di sana-sini? Atau bagaimana bisa sebuah teks menjadi kebenaran? Ah buku rupanya menyediakan labirin dengan penuh gambar dalam kepala, aku hanya ingin katakan, aku tidak akan meyelam kecuali dalam ilmu.

Sebelum kukenal buku, aku seperti kebanyakan manusia lainnya, lalu-lalang tanpa tahu kemana harus kulangkahkan kakiku, apa yang aku tuju? Hingga hari itu aku bertemu lelaki gendut, berambut ikal, boneka panda kosmologis yang terlahir kembali di posmodernisme, ia sering menyebut dirinya teletubies, hiburan anak-anak yang mendukung perkembangan anak pada ketidakmampuan berfikir dan menganggap semua biasa saja, tapi lelaki ini Teletubies versi Socrates menurutku,  suaranya keras, pendongeng kelas wahid, tapi sayang tak pernah ikut stand up commedy, mengajari manusia berani berfikir sendiri, membawaku pada perenungan-perenungan sakit kepala.

“Apa yang kau cari dalam hidup, Damos? Jangan-jangan kau tak tahu mana keingananmu dan mana kebutuhanmu,” lelaki itu bertanya sambil tertawa dan ia meneguk anggur.

Aku tak bisa menjawab pertanyaannya, aku hanya diam laksana batu, ia batu yang dianggap benda mati tapi bagiku ia hidup, hanya saja prosesnya berbeda dengan kebanyakan proses lainnya, memang benar ia tak kecil dan menjadi besar, tapi untuk menjadi batu, ia juga melewati proses yang teramat panjang bukan? Lantas benarkah bahwa batu adalah benda mati? Entahlah, pertanyaan lelaki itu masih mengiang dalam kepala, menari dan menemukan bentuk sebagai duri yang menikam setiap jaringan sendi dalam kepala.

Belum habis satu pertanyaan kujawab, lelaki gendut ini melontarkan pertanyaan-pertanyaan lagi, dari mana kau berasal? Jika ini bukan kehidupan yang abadi lantas kenapa harus terlahir dalam dunia berdebu ini? pertanyaan yang tak habis kupikir, aku dibuat memartil isi kepalaku dari belenggu yang selama ini aku percaya bahwa hidup adalah sekadar hidup dan menunggu mati.

Masih basah ingatanku, Sabtu malam pukul 01.00 air turun dari langit satu-satu, bau tanah terasa memenuhi hidung, hujan pertama di bulan November,  aku sedang menghangatkan tubuhku pada kopi dan dan rokok hasil ngutang di ibu sebelah rumah kontrakanku, lelaki gemuk berambut ikal ini pulang dengan cap tikus di tangannya, berjalan tak karuan seperti melintasi tanah bergelombang, ia duduk bersandar di ruangan tengah, ruangan yang bila kita andaikan rumah adalah tubuh, maka ruangan tengah adalah perut, di mana usus, ginjal, limpa, dan lambung dan proses makanan menjadi kotoran sebelum dikeluarkan. Ia dikeluarkan begitu saja, tanpa meminta izin pada sang tanah, padahal manusia bukankah berasal dari tanah?

“Damos, cepat kau putarkan musik tide-tide, togal, dan lala,” ucapnya sambil mereguk minuman dan meluruskan kaki.

“Iya,” jawabku datar, lalu memutar musik tarian dari Maluku Utara ini.

“Kau tahu soal musik yang kita dengarkan ini, Damos? Kau paham apa artinya? Musik ini adalah musik dengan nilai humanis yang tersimpan dalam setiap bunyinya, para penari dalam musik ini mengedepankan kesopanan dalam bertutur, bertingkah, dan berfikir, ah musik ini telah dilupakan manusia mekanik di kota kita ini, manusia mekanik yang hidup pada ketidaksadaran, pada apa yang manusia ciptakan kemudian terbuai didalamnya,” ucapnya berkejaran dengan musik tarian togal.

“Mungkin kau pikir aku mabuk dan berceloteh tak karuan, tak perlu kau lihat diriku, dengarkan saja apa yang kuucap, ambillah dan simpan dalam pikirmu, dan bila kau tak merasa risih, pikirkanlah itu kembali. Aku rindu kampungku, rindu ibuku perempuan Halmahera bermata kecoklatan, rindu bapakku lelaki dari pulau seberang yang tak pernah pulang kecuali dalam hatinya, ah tak ada yang lebih puitis dari arakan senja di pangkuan bumi,” ujar lelaki gemuk berambut ikal ini.

“Bacalah buku Damos, dunia dalam buku adalah dunia pemikiran dari satu tokoh ke tokoh yang satu, bertipe-tipe kosmologis, teosenstris, antroposentris, dan logosentris, dunia dicipta dalam kepala berdasarkan apa yang lewat di depan mata, tanda, makna, bahasa, problem, misteri, kita hanyalah manusia yang terkatung-katung mencari makna di balik segalanya, dan semua itu bisa kita ungkap dengan membaca salah satunya,” ucapnya lagi, dengan kepala agak tertunduk, matanya merah mungkin sedang marah, sebab aku tak yakin dari bicaranya itu merah karena mabuk.

“Aku telah menghabiskan tiga botol cap tikus malam ini, kuminum karena kuhargai ia karya manusia, bukankah karya Tuhan harus dihargai manusia, kenapa karya manusia malah dihina manusia lain pula, mulai besok kau harus membaca, tak bisa tidak!” sambung lelaki berambut ikal ini, lalu beranjak dari tempat yang semula dia duduk ke kamarnya, aku masih diam saja melihat ia berlalu di depanku dan menyisakan bau cap tikus yang menyengat.

Semula kukira itu hanya ocehan ketika mabuk, celoteh orang yang dipengaruhi alkohol, ungkapan emosional yang hadir sesaat, rupanya tidak lelaki gemuk ini menepati bicara, malam sesudah ocehan itu aku dipaksa membaca buku, tanpa bertanya terlebih dahulu apakah aku suka membaca buku. Perasaanku bercampur aduk antara tak ingin membaca dan menolak apa yang dimau lelaki ini, tapi aku memilih diam dan menyembunyikannya.

Tapi kutahu lelaki gemuk ini pasti paham bahasa tubuhku, sebab dari sorot matanya ketika memberikan buku padaku terlalu tajam, aku tak bisa berkata-kata dan menerimanya, mungkin matanya terlebih dahulu menikam nyaliku, entahlah. Yang kupaham lelaki gemuk ini biasanya berbicara menggunakan isyarat terlebih soal matanya, jika lelaki ini melirikmu dan tersenyum itu pertanda dia menerima kemauanmu, jika hanya melirikmu dan wajahnya kering tanpa senyum itu artinya jangan lakukan, jika melirikmu dan wajahnya ikut berpaling maka cepat kau lalukan apa yang diperintahnya. Bila tak dilakukan kau akan hanya mendapat satu jawaban, jangan pernah lagi menegurnya dan hal yang sama juga akan dia lakukan padamu.

Mulanya lelaki gemuk ini memberikan buku Sidi Gazalba tentang sistematika filsafat jilid pertama, aku dikurung dalam kamar berukuran dua kali tiga. Kamar ini dijadikan musholla sekaligus perpustakaan mini pribadi milik lelaki gemuk ini, di depan pintu tertulis jelas “dilarang membawa buku keluar dari ruangan ini”. Buku-buku tersusun rapi sesuai dengan tipenya, di tiga rak paling atas buku filsafat barat dan filsafat Islam, dua rak di bawahnya buku sejarah, biografi, dan beberapa dalam bahasa inggris yang tidak kupaham apa artinya, sedangkan novel dan cerpen-cerpen kategori sastra di rak sebelahnya. Aku hanya disuruh membaca tanpa perlu mengetahui isi buku, aneh memang perlakuan lelaki gemuk ini, kupikir dia sedang gila, masa hanya disuruh membaca tanpa perlu memahaminya. Aku tak bisa menolak, kubuka saja lembar demi lembar seolah-olah sedang membacanya, lelaki gemuk itu duduk di pojok menikmati rokok surya dan menjagaku.

Membaca buku apalah artinya, pekerjaan orang kurang kerjaan, membosankan dan bila bisa dijelaskan pakai kata-kata maka buku adalah neraka, penjara bagi pikiran dalam pikiran yang lain, membaca buku seolah kita dibawa untuk berimajinasi pada tempat-tempat diluar tubuh, jauh pada persinggahan-persinggahan tak jemu, setidaknya itu adalah keluh kesahku yang setiap malam dipaksa untuk membaca oleh lekaki gemuk ini. Dua minggu berlalu, aku mulai membaca kuikuti kemauannya atas diriku, lembar demi lembar aku lewati, dalam seminggu pertama aku telah habiskan sistematika filsafat jilid pertama, minggu kedua aku mengulanginya lagi, kebosanan menghampiriku, lelaki gendut ini tak pernah reda niatnya menjagaku.

“Jika hanya membaca tanpa paham apa maksud dari buku, apa yang bisa kudapat dari membaca?” ucapku dengan sedikit kesal.

“kau mau memahaminya?” ujarnya pendek dengan mata melirikku dan senyum.

“Iya, aku ingin memahaminya,” aku menjawab dengan ketus

“Baiklah, carilah kata Zeno tentang waktu dan tempat, pahami maknanya dan jelaskan padaku,” suaranya lirih.

Kubuka buku mencari perkataan Zeno apa yang dimaksud dalam waktu dan tempat, aku berkali-kali membacanya, tapi sama saja, kudapati kebuntuan berfikir. Kenapa menurut Zeno perpindahan sama artinya dengan diam pada tempat, hanya saja waktu yang mempengaruhi mata hingga mengatakan berpindah, aku menyerah, kukatakan pada lelaki gemuk, ia menatapku lama dengan senyum, tanpa kata-kata lelaki gemuk ini menggelindikan kumpulan karet yang dibuatnya seperti bola mengenai dinding sebelah dan kembali padanya, tiga kali lelaki gemuk ini melakukan hal yang sama, sebelum ia bertanya.

“Paham maksudnya?” aku menggelengkan kepalaku.

“Bola karet yang kau lihat menggelinding dari tempatku ke dinding itu melewati tempat, jika kita memakai stopwatch, ada waktu yang ditempuh dan mata melihat seolah-olah bola karet ini berpindah, yang dimaksudkan Zeno adalah dalam setiap waktu bola berada pada suatu tempat, hanya saja mata yang dipengaruhi waktu mengatakan kita berpindah, padahal kita hanya diam pada suatu tempat atau dengan kata lain, andai kata kita seorang yang buta, kita tidak pernah mengenal namanya waktu kita tahu kita berjalan sekaligus kita hanya tahu kita berada pada satu tempat, sebab bagi Zeno waktu adalah ilusi yang menipu,” lelaki gemuk melanjutkan lagi perkataannya.

“Sekarang pahamkah kau, Damos? Aku hanya menyuruhmu membaca bukan mengerti, sebab yang ingin kubangun pada dirimu duluan adalah kebiasaan membaca, persoalan paham merupakan persoalan kesekian, bukankah seseorang bisa karena biasa? Damos, kau bayangkan sendiri, setiap malam aku hanya memintamu membaca selama dua jam, kau sudah membaca selama dua minggu, artinya telah 14 hari, jika dikalikan dengan dua jam sehari, maka kau membaca dalam dua minggu sama dengan 28 jam, pernahkah kau bertanya pada dirimu 12 hari 22 jam waktumu terbuang percuma untuk apa?” lanjut lelaki gemuk ini.

Aku menggangguk kecil, malu dalam diriku melihat wajahnya, sekalipun lelaki gemuk ini tidak tertawa tapi kurasa malam itu dia tertawa puas melihat kebodohanku, esok malam aku masih di tempat yang sama, di dalam ruangan perpustakaan mini, lelaki gemuk mengganti bahan bacaanku dari sistematika filsafat dengan novel, judulnya Akademos karya Bagus Takwin. Disampulnya gambar sketsa-sketsa, aku tak paham isinya, bagaimana paham membaca saja belum, seperti anak kecil yang belajar merangkak kubuka lembar pertama, aku disuguhkan dengan tafsiran lagu The Beatles sky in the blue make me cry. Takwin menyuguhkan persoalan hati yang tak terbatas seperti langit.

Seminggu telah berlalu saat kubaca lembar terakhir novel ini, isinya tentang dunia kampus dan pengalaman menjadi seorang mahasiswa, cinta bersemi, tentang kehilangan, gerakan-gerakan kampus, demonstrasi, puisi-puisi Sapardi Joko Damono, catatan pinggir Goenawan Muhammad, filosofi kopi, sejarah musik Jazz dan Blues, Absurditas Albert Camus, dan bermacam-macam pengetahuan lainnya, cerita tentang sesuatu yang prinsipil dalam hidup manusia dan semacam gairah menjalani hidup. Kubaca novel ini tiga kali, dari novel ini pula salah satu alasan kenapa aku mau membaca lagi, kebiasaan membaca dua jam dalam sehari menjadi kebiasaan baru dalam hidupku, kadang jika keasyikan aku sering lupa waktu.

Sedangakan lelaki gemuk berambut ikal masih setia mengajarkan berbagai hal, seperti metodologi sastra dan kritik sastra, metodologi penelitian, tokoh-tokoh filsafat, aliran-aliran filsafat, cara membaca cepat. Ia dengan sabar membimbingku pelan dengan caranya yang kadang lewat tertawa atau isyarat-isyarat, tak tahu darimana lelaki gemuk ini bisa melakukan demikian, sekalipun bosan kadang merobek isi kepalaku, lelaki gemuk ini masih tetap tersenyum, menghanyutkan diriku, dari rentetan perjalan kutahu lelaki ini tak pernah menyuruhku menjadi dia, jadilah dirimu sendiri, katanya.

Masih terasa katanya teriang dalam telingaku, membaca sampai kau kelak kau menemukan membaca seakan sebuah persetubuhan dan kau mencapai titik puncaknya, tak terbahasakan bahagianya, menemukan dirimu dengan cara pikirmu dalam menghadapi setiap persoalan, kau lelaki Damos, sebagai lelaki haram hukumnya lari dari masalah, jangan sekali-kali kau biarkan masalah itu menumpuk.

Kini lelaki gemuk berambut ikal harus pulang lebih dahulu menemukan dunianya, kuantar ia pada penghujung senja, saat azan magrib terdengar di mesjid-mesjid yang safnya tak terpenuhi manusia, sedangkan aku masih di sini, terkatung mencari makna, mencari sebagian hidupku lewat membaca, mungkin kelak kutemukan seperti katanya, entahlah.

Semoga kau temukan duniamu, aku menunggumu pulang. (*)

Yogyakarta, 15 November 2015

Anggek Hitam

 

Cerpen: Anggrek Hitam

Penulis asal Maluku Utara

Views All Time
Views All Time
327
Views Today
Views Today
1
Like