/Cerita Sumi

Cerita Sumi

SEBELUM ini, aku sudah menduga. Tidak semua kebaikan dibalas sama. Sore itu, saat orang-orang melayat, mereka membawa kesedihan di rumah ini. Segalanya ikut berubah. Seperti ayahmu, Nak. Seperti kepergian yang terjadi amat panjang, sungguh panjang.

***

Perempuan itu memperbaiki kursinya. Ia mengambil termos juga cerek lalu menaruhnya di atas meja.

“Mama buatkan teh manis, ya?” tanya perempuan itu pada Sumi.

Sumi menggeleng. Bibirnya membiru seperti menahan dingin. Petang itu, hujan belum juga reda. Sesekali angin kencang menghantam pepohonan juga atap rumah. Perempuan itu beberapa kali menengadah, melihat sela-sela atap yang sudah bocor di mana-mana.

Sumi masih memucat. Perempuan itu merogoh sakunya, dan tidak ada apa-apa, selain kesedihan. Bagaimana bisa Sumi sembuh? Untuk hari ini, ia tahu hanya sabar penawarnya. “Tidurlah, Nak. Semoga sebentar dirimu bisa pulih,” gumam perempuan itu, lirih.

Perempuan itu menyelimutinya. Ia memeluknya dengan pelukan paling hangat, dalam kesederhanaan yang begitu lama ia dekap, amat lama ia dekap di rumah kecil ini. Ia menengadah lagi, memeriksa kembali sela-sela atap yang tampaknya semakin hari semakin rapuh. Ia teringat cerita-cerita tentang suaminya.

Andai kepergian itu tidak terjadi, rumah ini, atap rumah ini, dan segala kebahagiaan yang ada di dalamnya tentu membuat Sumi tidak sepeluh ini. Ia sungguh mengasihi Sumi, seorang gadis kecil yang lahir dari perutnya yang sunyi.

Ia ingat sekali tentang suaminya. Ia ingin sekali mengenangnya. Dalam suatu waktu, ketika langit sudah jingga, perempuan itu dan suaminya duduk di tepi pantai beralas daun kelapa tua. Memandang langit, laut, dan burung-burung yang pulang ke barat. Ia mengibaskan saputangan dan mengelap wajah suaminya.

Nelayan-nelayan memang baru saja menarik sampan ke tepian dan suaminya juga baru saja menepi. Suaminya memang sejak subuh sudah bersampan ke sebuah tanjung, di sisi pegunungan yang lengang. Di sana, sebuah dataran tinggi yang menganjur ke arah laut. Muara sungai dan ikan-ikan ada di sana.

“Kau pasti capek. Ini kubuatkan kopi untukmu,” kata perempuan itu dan meraih tangan suaminya. Menaruhnya di pangkuannya yang dingin. Ia tersenyum.

Ia tentu amat bahagia bisa berjumpa sore itu. Suaminya memang tidak selalu berada di rumah. Subuh gelap pergi ke tanjung, selain memancing ikan, suaminya seringkali ke sisi muara, mencari ranting kering bakau untuk dijual kembali.

Kalau malam sudah jatuh, suaminya sudah di belakang rumah, dengan sampan dan sebuah lampu kecil, memburu kepiting. Rumah mereka memang tepat di tepi pantai. Tiang-tiangnya dari batang kelapa, lantai dan biliknya terbuat dari pohon jati, sedangkan atap rumahnya terbuat dari rumbia. “Minum dulu, Sayang,” kata perempuan itu, kembali mengelap wajah suaminya.

Pernah, dalam sebuah perbincangan, saat mereka baru saja menikah, suaminya berjanji akan membuatkannya rumah dan  membelikannya mobil. Tentu rumah yang atap-atapnya begitu kuat. Bila hujan datang, ia tidak perlu repot-repot mencari baskom, menadah hujan yang berhasil masuk lewat sela-sela atap yang rapuh. Kali ini, terbayar sudah. Tahun-tahun berjalan, suaminya membelikan mobil untuknya.

Suaminya memang tidak punya uang untuk membeli mobil. Berbekal sertifikat tanah milik salah satu sepupu, suaminya bisa mendapatkan pinjaman uang dari sebuah koperasi. Sebulan sekali, hasil dari penjualan ikan dan kayu bakar dipakai untuk melunasi pinjaman. Sampai suatu ketika, mereka berhasil mendirikan sebuah rumah makan. Dari sinilah, semuanya berubah. Tiang-tiang rumah mereka berubah. Lantai dan bilik rumah mereka berubah, juga atap-atapnya pun ikut berubah.

Orang-orang datang tiada henti. Satu per satu tamu bertandang. Di sisi rumahnya, mereka membangun sebuah bangunan bertingkat minimalis dan di atasnya dibuatkan sebuah balkon. Di tempat itulah, tamu-tamu mereka duduk berjam-jam, menikmati kopi, teh manis, brownies kukus, dan cerita-cerita seputar politik yang tak ada habis-habisnya. Perempuan itu begitu ramah. Ia selalu menyambut teman-teman suaminya dengan santun.

“Minum dan makan apa saja yang ada. Anggaplah ini rumah bersama,” kata perempuan itu dan tertawa. Pipinya amat merah, sangat merah. Ia tentu sudah bahagia. Meski segalanya sudah terpenuhi, sesekali ia dan suaminya pergi ke pantai, menanti matahari rendah di barat. Menulis kata-kata di pasir dan membiarkannya disapu ombak. Begitu seterusnya.

Sampai nanti, di awal tahun itu, ia mendapat kabar tentang janin di perutnya. Ini sudah tahun kesepuluh mereka menanti seorang anak. Mendengar malaikat kecil sudah bersarang di perutnya, ia tentu amat senang. Berkali-kali sujud, berkali-berkali menengadah. “Ya Tuhan, terima kasih, terima kasih,” ucapnya, berhari-hari, sungguh berhari-hari.

Mengenang semua tentang suaminya membuatnya tak sanggup menahan air dari matanya. Apalagi saat Sumi sedang sakit seperti ini. Dahinya panas, tapi telapak kakinya amat dingin. Perempuan itu kembali memperbaiki selimutnya dan menatap langit-langit rumah, memastikan kembali beberapa atap yang sudah sangat lapuk. Semua baskom di dapur sudah terpakai untuk menadah hujan. Sementara di beberapa bagian, genangan air hampir mengena tempat tidurnya.

Perempuan itu kembali menatap Sumi. Ia teringat lagi suaminya. “Kalau anakku lahir, aku ingin menamakannya Hatta. Apabila besar nanti, ia pasti membela bangsa,” kata suaminya, pada suatu kesempatan saat mereka menghadiri acara khitanan keluarga. Mereka menyaksikan itu dan berharap akan membuat acara khitanan yang lebih besar.

Suaminya memang suka berbicara tentang politik. Sejak masih bersampan, suaminya memang sudah suka politik. Tapi ia tidak suka jabatan. Ia memilih menjadi bos dari kumpulan para sopir. Dari sini juga, rumah makan mereka diramaikan para sopir. Setiap hari, begitu seterusnya, ada saja para sopir yang makan, ada pula yang sekadar menikmati kopi.

Sampai suatu ketika, takdir berkata lain. Di akhir bulan syawal, menjelang ramadan, perang agama pecah di sebuah pulau. Suaminya berniat, ingin ikut perang di sana. Ia berkemas, menyiapkan pakaian seadanya dan sebilah parang yang dibungkus dengan kain putih. Perempuan itu melarangnya, “Sungguh, tubuhmu sudah renta. Mohonlah di rumah saja. Kau tak akan sanggup berperang, Sayang.”

“Ini perang membela Tuhan,” kata suaminya, seperti membangkang. Ia bangkit dari duduknya dan membopong barang-barangnya. Pergi begitu saja. Seminggu kemudian, kabar itu akhirnya datang juga. Suaminya benar-benar pergi. Pergi selamanya. Sampai hari ini. Sampai janinnya tumbuh subur dalam perut perempuan itu.

Semua orang berduka. Para sopir berdesak-desakan masuk ke ruang tamu. Mayit suaminya seperti sesuatu yang amat berharga. Orang-orang dari mana saja berdatangan. Beberapa pemuka agama saling menawarkan ingin menjadi imam sholat untuk mayit. Perempuan itu mengangguk pasrah. Terserah. Di teras rumah, anak-anak muda berdiri, sudah bersiap-siap mengantar ke pekuburan.

Tenda dibentangkan. Hujan jatuh pelan-pelan. Ia menatap foto suaminya dan mengelus perutnya. “Anakmu, anakmu,” gumamnya, lirih.

Air mata itu bergulir juga di pipi. Sumi semakin memucat. Perempuan itu mencoba menjauhkan ingatannya. Gadis kecilnya itu kini terbaring, menahan sakitnya. Bagaimana bisa Sumi sembuh? Sedangkan ia tak punya apa-apa, tak bisa membelikan apa-apa. Semenjak kepergian suaminya, semua harta dijual begitu saja, termasuk rumah megah yang dulunya tak pernah sunyi dari tamu. Perempuan itu memang tak sanggup mengelola rumah makan sendiri.

Kini, di rumah pemberian sepupunya itu, ia dan Sumi tinggal di dalamnya. Tapi tak ada tamu. Tak ada balkon, tempat menikmati kopi, teh manis, atau kue brownies kukus.

***

Keesokan paginya, perempuan itu bergegas ke pasar. Barangkali di sana ia bisa bertemu dengan seseorang yang ia kenal atau dengan teman-teman suaminya. Beberapa menit ia di sana, ia tak menemukan siapa-siapa, selain kemurungan. Ia duduk menyendiri di sebuah pos jaga. Perempuan itu menengadah, meminta Tuhan menyaksikan kepeluhannya. Amat lama ia duduk di sana, sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke rumah.

“Mama buatkan teh manis, ya?”

Sumi tidak menjawab. Perempuan itu menepuk-nepuk pipi anaknya. Menggoyang-goyang tubuhnya.

“Bangun, Nak. Mama buatkan teh manis, ya?”

Sumi mencoba membuka matanya. Dari bibirnya yang pucat, ia bicara dengan pelan, sungguh pelan, “Tadi papa ada di sini.” (*)

Halmahera, Juni 2017.

Penulis:

Rajif Duchlun

*Kepala Jalamalut, aktif dalam sejumlah kegiatan literasi. Sudah menulis beberapa judul buku, di antaranya Antologi Puisi Lentera Fajar (2011), Kumpulan Cerpen SIMOAN (2014), dan Kumpulan Cerpen Monografi Hellen (2015).

Views All Time
Views All Time
317
Views Today
Views Today
1
Like