/Bukan Soal Halmahera, Halmaheira, atau Almaheira

Bukan Soal Halmahera, Halmaheira, atau Almaheira

TULISAN ini merupakan peaper yang disampaikan penulis pada saat dialog yang diselenggarakan oleh Ikatan Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur – Kota Manado, Ikatan Pelajar Mahasiswa Chulayevo – Kota Manado dan Himpunan Pelajar Mahasiswa Halmahera Tengah – Sulawesi Utara. Sehingga perlu kami untuk merampungkan kembali sebagai upaya untuk menyajikan  informasi (kebutuhan pembaca khususnya yang mendalami sejarah Maluku Utara).

Sejak tahun 1985, tepatnya pada tanggal 23-29 Juli 1985, ketika Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional (LEKNAS-LIPI, Jakarta) menyelangarakan Seminar Penelitian Indonesia Bagian Timur di Manado, sebagai salah satu pemakalah, saya mulai diperkenalkan dengan sedikit pengetahuan tentang dunia “Halmahera dan Raja Ampat” lewat makalah-makalah yang disampaikan oleh peserta seminar. Sejak saat itu, mulai tumbuh ketertarikan untuk membaca berbagai informasi di bidang sejarah dan antropologi tentang dunia Maluku Utara.

Kunjungan lapangan ke Halmahera baru terealisasi pada tahun 1994 dan 1995, kemudian pada tahun 2000, 2010, terakhir tahun 2014. Kunjungan tahun 1994 dan 1995, saya merupakan salah satu tim peneliti dari Center fir Southeast Asian Studies, Universitas Kyoto, Jepang, yang menaruh perhatian khusus pada topik sejarah dan budaya bahari. Kajian ini dilanjutkan pada tahun 2014 untuk melihat bagaimana keadaannya setelah 20 tahun berlalu.

Kunjungan tahun 2000 dan 2010 terfokus pada kelompok Tobelo Rimba (Tobelo Forest) atas permintaan dari PT ERM Indonesia untuk Weda Bay Nickel Project dan terfokus pada kajian etnografi kelompok komunitas “Tobelo Rimba” yang tersebar di daerah Sawai antara Wasilei dan Buli, serta sebelah barat Maba.

Hasil kunjungan-kunjuangan tersebut tentu saja tidak memadai untuk seluruh aspek sejarah dan budaya Maluku Utara dan secara khusus Halmahera (Weda, Patani dan Maba). Untuk itu, dengan judul ini saya ingin mengajak pembaca masuk ke “rimba informasi” publikasi-publikasi tentang Maluku Utara atau Halmahera dalam tulisan ini.

Membaca Maluku Utara

Ada dua publikasi dalam bentuk “bibliografi beranotasi” tentang Maluku (Utara) dan Maluku (Tengah). Keduanya dikerjakan oleh Katrien Polman. Buku pertama berjudul The North Moluccas, diterbitkan sebagai seri bibliografi nomor 11, buku kedua berjudul The Central Moluccas, An Annotated Bibliography, yang diterbitkan sebagai seri bibliografi no 12.

Kedua buku tersebut diterbitkan oleh Koninklijk Instituut voor Taal-, Land en Volkenkunde, dengan kata pengantar dari  Ch. F. Van Fraassen, seorang antropolog yang menulis disertasi berjudul; Ternate, de Molukken en de Indonesische archipel. Van soa-organisatie en vier delling: een studie van traditionele samenleving en cultuur in indonesie yang dipertahankan di Universitas Leiden tahun 1988.

Kedua buku tersebut berisi beragam macam publikasi baik itu surat dari para pekabar injil dan pejabat pemerintah, memo serah terima jabatan, artikel, dan buku yang isinya tentang Maluku Utara dan Maluku Tengah.

Buku The North Moluccas (1981) isinya setebal 212 halaman. Sebanyak 37 halaman  berupa pengantar dari Ch. F. Van Fraassen, dan sebanyak 557 (lima ratus lima puluh tujuh) judul tulisan yang tercatat disertai penjelasan singkat tentang isi tulisan tersebut. Setiap tulisan diklasifikasi berdasarkan isinya, mulai dari kategori bibliografi, lingkungan atau geografi, bahasa, etnografi, penduduk, kekerabatan, religi dan kepercayaan, pendidikan, kesehatan, keadaan ekonomi, kebudayaan material, pranata sosial dan hukum.

Tentang bibliografi tercatat ada empat buku, yang dikerjakan oleh H.J. Van Lummel dan Van Vuuren, berjudul: Literatuurstudie Van Halmahera en Morotai; W. Ruinen, Overzicht Van de Literatuur betreffende de Molukken; A.B. Tutein Nolthenius, Overzicht van de Literatuur betreffende de Molukken (exclusief Nieuw Guniea); dan W.A Seleky, Bibliografi tentang penduduk dan kebudayaanya dari Kepulauan Maluku 1934-1964.

Tentang lingkungan alam dan geografi terdapat 24 tulisan (buku dan artikel); tentang bahasa terdapat 80 tulisan (buku dan artikel); tentang etnografi terdapat 28 (buku dan artikel); tentang penduduk, keadaan sosial dan migrasi terdapat 40 tulisan (buku dan artikel); tentang kekerabatan dan daur hidup individu terdapat 18 tulisan (buku dan artikel); tentang religi dan kepercayaan terdapat 42 tulisan (buku dan artikel); tentang penyiaran agama terdapat 98 tulisan (surat, laporan, buku dan artikel); tentang pendidikan terdapat 36 tulisan (surat, laporam,buku dan artikel); tentang perekonomian terdapat 56 tulisan (surat, laporan, buku dan artikel); tentang kebudayaan material, artefak, dan arekologi terdapat 26 tulisan (artikel dan buku); tentang pranata sosial budaya dan hukum (adat) terdapat 95 tulisan (artikel dan buku).

Berbagai tulisan di atas dapat dengan mudah diakses. Salah satu contoh adalah hal yang di lakukan oleh M. Adnan Amal dalam kedua karya yang berjudul Kepulauan Rempah-Rempah (2010) dan Protugis dan Spanyol di Moluku (2010), sebagaimana yang tercantum dalam daftar pustakanya. Bagi pembelajar yang menguasai bahasa Belanda tidak sulit untuk membaca beragam tulisan yang tercantum dalam buku bibliografi bernotasi yang dikerjakan oleh Polman di atas.

Dari sekian banyak tulisan di atas, karya N. Adriani dan Alb. C. Kruijt berjudul: Het Taalgebied: Soela-eilanden – Zuid Halmahera (1914) berisikan uraian yang menarik tentang perbandingan bahasa-bahasa di bagian selatan Halmahera seperti Buli, Maba, Patani, Sawai, Weda dan Gane. Dalam buku tersebut dapat dikumpulkan kosa kata bahasa-bahasa tersebut, selain itu juga bahasa Obi, Sula, Bacan dan bahasa-bahasa di Halmahera bagian utara. Tentang aspek kebahasaan karya (disertasi) E.K.M. Masinambow, berjudul Konfergensi etnolinguistik di Halmahera bagian Tengah, sebuah analisis pendahuluan (1976). Disertasi setebal 503 halaman ini dipertahankan di Universitas Indonesia tahun (1976).

Tulisan berupa etnografi yang isinya menyangkut daerah Maba, dapat dibaca dalam artikel A.A Van Der Robide (1872) berjudul Een Tweetal bijdragen tot de kennis van Halmahera. Artikel setebal 33 halaman ini didasarkan pada laporan Cambier yang pernah bertugas di daerah Maba dan menetap di desa Bicoli.

Tulisan ini kaya dengan orang Maba dialek Bicoli. Keterangan lainnya  tentang Buli, Maba, dan Sawai dapat di temukan dalam tulisan B.A Voorham berjudul: Halmahera. Overzicht van den zendingspost (1904); antara lain berisikan praktek perladangan dan meramu sagu. Ada juga tulisan Voorham berjudul Halmahera, Boeli (1903).

Ada juga kisah tentang raksasa bernama Cekel yang dianggap sebagai leluhurnya orang Sawai, dalam tulisan G. Maan berjudul: Een en ander omtrent den stamvader der Sawai’ers in de Weda-baai (1918). Hal menarik dalam tulisan W. Stade berjudul Een bezoek aan Lelilef in de Weda-baai (1921).

Sebagian besar dari kegiatan yang ditulis dalam artikel masih dapat saya temukan dalam tahun 2000 ketika berkunjung ke desa Lelilef. Keadaan pendidikan di Buli, Sawai dan Maba dapat dibaca dalam laporan-laporan para guru yang terekam dalam bibliografi karya Polman yang telah disinggung dalam tulisan ini.

Bagi pelajar dan mahasiswa yang berminat dalam hukum (adat), sangat disayangkan kalau tidak membaca tulisan Holleman, Adatvonnissen (1923). Ada keterangan tentang denda atau uang ujuara, di Wieda tentang kontrak, tentang matakau atau simbol larangan. Masih berhubungan dengan hukum adat, adalah aturan tentang meramu getar damar di kalangan orang Weda, yang ditulis oleh J.H. Riem, dalam Adatrechtbundel 7 (1913) halaman 110-120 atau juga praktek bobeto  dikalangan orang Sawai.

Selain tulisan khusus tentang Maba, Patani dan Weda (Sawai) antara lain sudah disebut di atas, keterangan tentang ketiga kelompok penutur bahasa Weda, Patani dan Maba juga dapat ditemukan dalam tulisan yang umum tentang Halmahera.

Halmahera dan Halmaheira adalah dua nama yang paling banyak ditemukan dalam tulisan-tulisan yang dikumpulkan oleh Polman di atas. Selain itu ada juga yang menggunakan sebutan, Almaheira, seperti yang digunakan oleh A. De Bode; H. Van Dijken; C. De Graaf; M.J. de Baarda. Halmahera, Halmaheira, atau Almaheira, bukan itu soalnya.

Yang menjadi soalnya

Halmahera masa lampau, memiliki kekayaan alam yang menarik para peniaga dan penguasa berlomba-lomba datang ke sana. Dijuluki pulau rempah-rempah terutama cengkih dan pala tidak hanya menghadirkan perkembangan ekonomi tetapi sekaligus persaingan antar perniagaan dan penguasa yang turut mencerai beraikan kesepakatan antar kekuatan-kekuatan lokal (Ternate – Tidore – Jailolo – Raja Ampat) serta sejumlah pengikut kiemalaha-kiemalaha yang pernah berjaya pada masanya.

Persaingan serta friksi yang dihadrikan oleh bangsa Farang, sebutan untuk orang-orang kulit putih pada masa itu (circa abad XIV) didasari alasan perebutan wilayah penghasil cengkih dan pala. Akibatnya masih terasa sampai masa kini.

Setelah era kejayaan rempah-rempah memudar, Halmahera kembali menjadi tujuan “para pemangsa hutan” yang bermodalkan ijin Hak Pengelolaan Hutan dari pemerintah. Hutan di pulau Halmahera dan pulau Mangoli dibabat tanpa ampun. Kehadiran para pemangsa hutan tidak sekadar berdampak pada keberadaan fisik alam, tetapi juga pada tatanan  sosial dengan kehadiran “para pembalak” yang memerlukan ngohi rokata baik lokal maupun yang didatangkan dari Sulawesi Utara. Farasa “kawin kontrak” muncul dalam wacana dan perbendaharaan kata pada masa itu.

Setelah dunia floranya diobrak-abrik, sejak paroh kedua abad XX, giliran “bumi Halmahera” terutama bumi Gebe ditambang. Cerita dari mulut ke mulut sekitar dunia pertambangan, maupun kisah-kisahnya yang sudah diaksarakan penuh dengan hal-hal yang tergolong petualangan yang penuh resiko.

Mulai dari kehidupan sosialnya hingga dampak-dampak fisik alamnya entah itu merugikan atau menguntungkan. Semua tergantung pada cara pandang dan dari sisi mana kenyataan itu mau dipahami. Hal yang kurang diperhatikan dan seakan dilupakan adalah hak para penduduk yang masih mendukung kearifan lokalnya atau o hangana moi ma nyawa (warga dari satu kesatuan hutan) yaitu “Tobelo Rimba” (Tobelo Forest).

Para “pemangsa hutan” telah mengobrak-abrik hongana manga gomanga (kawasan hutan tempat hunian arwah leluhur), dan raki ma amoko (kawasan hutan sumber makanan) terutama di kawasan Weda. Begitu pula dengan pembukaan lahan untuk transmigran di daerah Dodaga yang mendesak pada o hangana moi ma nyawa  dengan tokohnya Pisandodo, Bodiki dan Aba Kasiang, harus pindah ke hutan Rai Tukur-tukur dan Totodoku; kini, kehadiran sejumlah areal pertambangan akan menghadirkan beragam gejala sosial-budaya. Lalu bagaimana menyikapinya, akan sangat bergantung pada tingkat kecerdasan budaya setempat.

Dalam kajian antropologi, Mattulada, pernah bertutur tentang hubungan antar diaspora Orang Bugis yang antar lain berkorelasi dengan sistem nilai hubungan antara raja dengan pengikutnya. Ketika seorang raja dapat berlaku arif, patuhilah raja itu, ketika seorang raja mulai lupa akan kewajibannya tegurlah raja itu, dan ketika seorang raja mulai berlaku zalim, tinggalkan raja itu. Demikian yang terekam dalam lontara. Paham semacam ini juga merupakan temuan antropolog asing Albert O. Hirschman (1970) dan teorinya yang dikenal dengan “Exit, Voice, and Loyalty”.

Diaspora Halmahera, khususnya Ternate dan Tidore terbilang issue yang kurang mendapat perhatian, apalagi menjadi topik tulisan. Pada tahun 2015 tepatnya pada tanggal 26-29 November, penulis diundang untuk membawa makalah dalam Internasional Seminar on History and Culture. Indonesia, Malaysia, and the Philippines in the Dynamics of Modern History. Dua pemakalah dari Filpina, yakni Dr. Agusto Deviana ( The Connection of historical reawakening to the rise of nationalism and the recognition of a cammon Malay identity: The Philppine experience) dan Emanuel Franco Calairo, Ph.D., President, Philippine Historical Association Faculty, De La Salle University-Dasmarinas (The History Of The Mardicas In Ternate, Cavitea: A Case Of Philippine-Indonesia Connection) memaparkan adanya komunitas “Mardicas Ternate” di kota Cavite-Luzon. Koleganya, Dr. Agusto Deviana memaparkan keberadaan keturunan Pangeran Tidore Kaicil Duco beserta pengikut dan keturunannya di Ilocus. (*)

Penulis:

Alex J Ulaen

Pernah belajar sejarah dan kebudayaan di Icole des Houtes Etudes en Sciences Social-Paris, Prancis. Sekarang aktif sebagai peneliti, penulis dan dosen pada jurusan Antropologi FISIP UNSRAT Manado.

Views All Time
Views All Time
641
Views Today
Views Today
1
Like