/Bertahan Hidup di Tumpukan Sampah

Bertahan Hidup di Tumpukan Sampah

Tidak banyak dari kita yang mampu hidup berdampingan dengan sampah. Selain bau yang menyengat, sampah dalam pandangan medis dinilai sebagai sumber penyakit.

Dalam pandangan sosial, sampah dikonotasikan dalam sebuah tingkah laku seseorang. Misalnya, sebutan “sampah masyarakat” yang memberi arti buruk terhadap orang yang kerap berbuat ulah di lingkungan Masyarakat.

Barangkali untuk tidak meninggalkan kesan yang negatif, perhalusan bahasa (eufimisme) dari Tempat Pembuangan Sampah, diganti dengan sebutan Tempat Pembuangan Akhir (TPA)–dengan tidak memperjelas sebutan sampah–dari kalimat yang kasar itu.

Rabu, 4 Januari 2017 siang, penulis mencoba menyempatkan diri bertandang di TPA Tamangapa Antang, Kota Makassar. Kedatangan penulis disambut gerimis. Aroma menyengat seakan menusuk kedua lubang hidung, yang sudah dilindungi masker. Apalagi, saat ini Sulawesi Selatan memasuki musim hujan. Tentu aroma tak sedap semakin terasa dari sampah-sampah yang berserakan basah.

Baru-baru ini, Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto memilih TPA Tamangapa Antang sebagai lokasi pelantikan seluruh Kepala SD, SMA/SMK se-Kota Makassar. Namun apa yang terjadi, beberapa peserta pingsan. Diketahui, mereka tak tahan dengan bau yang menyengat. Namun, hal tersebut seakan tidak berpengaruh dengan warga setempat.

Lokasi yang dipilih Pemerintah Kota Makassar sebagai TPA sejak Tahun 1992 dan baru ditetapkan secara resmi pada 1993 itu, juga terdapat pusat aktivitas yang berlokasi kurang dari 1 km dari TPA, seperti tempat ibadah, sekolah, perkantoran dan beberapa perumahan.

Realitas itu kemudian menyisahkan pertanyaan panjang. Bagaimana mungkin mereka dapat bertahan hidup dengan lingkungan seperti itu. Sebab sejauh mata memandang, hampir semua rumah dikepung berton-ton sampah.

Dalam menjalankan aktivitas, tak ada masker, sarung tangan, atau minimal telapak tangan yang menutup kedua saluran pernapasan. Mereka seakan ‘enjoy’ dengan lingkungan sekitar. Semua berjalan normal, seakan tak ada “bau” di tumpukan sampah.

Mengais Rupiah Dari Tumpukan Sampah

Berdasarkan catatan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, jumlah penduduk lokal di Makassar mencapai sekitar 1,3 juta jiwa dan menghasilkan sekitar 3.800 m3 atau setara dengan 300 ton sampah perkotaan setiap harinya. Sedangkan kapasitas maksimum dari TPA Tamangapa hanya sekitar 2.800 m3 sampah perkotaan setiap harinya. Artinya, diperlukan tambahan lahan TPA untuk pembuangan 1000 m3 sisa sampah.

photo925117423230756837
salah satu anak perempuan saat membantu orangtuanya mengumpul dan membersihkan sampah di TPA Tamangapa Antang, Kota Makassar/ foto: Nurkholis lamaau

Dari data yang diperoleh, sekitar 87 persen sampah di Makassar merupakan sampah organik dan sekitar 13 persen adalah sampah non organik, seperti plastik, kertas, dan karton.

Sebagian besar sampah tersebut berasal dari aktivitas penduduk seperti pasar, pusat perdagangan, rumah makan, dan hotel. Namun, bekas – bekas produksi bahan konsumsi masyarakat kelas mapan itu, seakan harta bagi mereka yang memilih jalan pemulung. Mereka memanfaatkan sampah non organik, seperti plastik, kertas, dan karton untuk dijual.

Dari amatan penulis, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa melakukan pekerjaan yang sama. Mereka mengumpulkan sampah lalu dibawa ke pengusaha bahan daur ulang yang tidak jauh dari lokasi sekitar.

Berjuang Sehat di Antara Sumber Penyakit

Sekitar November 2016, sejumlah mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Mega Rezky Makassar melakukan KKN di lokasi setempat. Selama 5 minggu berada di lokasi, penulis diberikan sedikit gambaran ringkas dari mereka.

Rumah warga di TPA Tamangapa Antang, Kota Makassar.
Rumah warga di TPA Tamangapa Antang, Kota Makassar/ foto: Nurkholis Lamaau

Salah seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Mega Rezky, Nurjannah Yahya kepada penulis menuturkan, dari hasil pendataan selama 6 bulan terakhir, rata-rata warga hanya mengeluh flu, pusing, sakit kepala. Sedangkan sisanya, hanya menderita darah tinggi.

Tidak ada yang menderita penyakit diare atau kulit, seperti yang diperkirakan penulis jika dilihat dari kondisi lingkungan. “Ini yang kami temukan selama dalam pendataan di lokasi setempat,” katanya.

Ia mengatakan, kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan cukup baik. Apalagi, air yang kerap mereka pakai untuk kebutuhan sehari-hari, langsung dari PDAM Kota Makassar. “Namun, bukan berarti harus diabaikan. Sebab, sampah tetaplah sumber penyakit yang harus diwaspadai,” tandasnya.
Program Sampah Tukar Beras, Uang Menjadi Pilihan

Salah satu Program Pemerintah Kota Makassar berupa sampah tukar beras ternyata kurang diminati masyarakat kota Makassar. Mereka lebih memilih diuangkan.

Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) kota Makassar Agus Jaya Sahid, kepada penulis menuturkan, berkurangnya minat masyarakat untuk menukar sampah dengan beras karena masyarakat belum benar-benar paham dengan program kerja yang dicanangkan oleh Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto sejak 2014 tersebut. Selain itu, bank sampah yang disiapkan di setiap kelurahan tidak berjalan optimal.

“Pertukaran sampah dengan beras sudah kita siapkan di masing-masing UPTD. Namun syarat dan mekanismenya kurang dipahami oleh masyarakat, sehingga beberapa titik bank sampah yang disiapkan ada yang tidak beroperasi,” ungkapnya.

Saat ini, kata dia, terdapat 480 titik bank sampah di tiap kelurahan yang disiapkan. Namun, sejauh ini hanya kantor pusat bank sampah di TPST Panakkukang yang beroperasi secara maksimal. Hal ini menjadi satu alasan kurangnya peminat sampah tukar beras.

Terpisah, Koordinator Bank Sampah kota Makassar Saharuddin Ridwan mengatakan, kurangnya peminat sampah tukar beras karena beras adalah salah satu dari pilihan.

“Di bank sampah itu, ada dua pilihan yang ditawarkan, yaitu beras dan uang. Jadi masyarakat dikasih pilihan, mau beras atau uang, kebanyakan mereka memilih uang,” kata Saharuddin yang juga sebagai Direktur Yayasan Peduli Negeri (YPNI) ini.

 Penulis :

Nurkholis Lamaau
Nurkholis Lamaau
Views All Time
Views All Time
213
Views Today
Views Today
1
Like