/Belum juga Beta Berhenti Berjuang

Belum juga Beta Berhenti Berjuang

Nuku digelar Jou Barakati–karena Allah Swt., melindunginya dalam perjuangan suci.…

Beta Paduka Sri Sulthan Saidul Djehad Muhamad El Mabus Amirudin Sjah Kaitjil  Paparangan, Radja atas sekalian negeri dan tanah2 jang bertakluk di bawah perintah beta, mengirim warkat ini jang dimeterai dengan beta ampunya meterai agar dapat dipertjaja, disertai dengan salam dan doa kepada Saudara Adinda Paduka Sri Sulthan Djou Hairhul Alam Kamaludin Sjah Kaitjil  Asgar, Raja atas negeri2 di Tidore dan sekitarnja, maka kupohonkan dilandjutkan  kiranja usia zamannja dalam sehat walafiat moga2 dapat kita berdjumpa lagi…

Beta beritahukan kepada Paduka Jangmulia, bahwa Kompeni Inggeris telah mufakat bersekutu dengan beta, oleh sebab itu beta harapkan dan nantikan kabar mufakat dari Saudara, djanganlah kiranya Paduka  Jangmulia khawatir atau takut; perintahlah Tidore dan umatnja dengan tenang dan sangat ber-hati2 agar supaja djangan Saudara ditimpah bentjana dari fihak Kompeni Belanda sama seperti sudah dialami oleh Patra Alam.  (Lihat lampiran IV surat Nuku untuk terjemahan Adrian Wiggers dalam E. Katoppo, 1984 :246)

Kutipan di atas adalah  penggalan surat yang dikirim Nuku pada adiknya, Kamaludin yang bertakhta di Tidore…een sterke zet–suatu dorongan kuat agar Kamaludin berlepas diri dari pengaruh Kompeni Belanda. Karena Sultan Tidore dalam sejarahnya bukan boneka Kompeni–apalagi menjadi permainan kekuasaan. Revolusi Tidore masa itu,  memberi pendirian yang netral pada Nuku, bahwa siapa pun harus tunduk di bawah daulat Tidore yang sah, yang sanggup menjalankan wibawa kedaulatannya; karena yang diperjuangkan Nuku bukan kuasa, tapi kemerdekaan mengusir penjajahan.

Oleh Kompeni Belanda–De Vereenigde Oost-Indische Compagnie, sebagaimana ditulis Elvianus Katopo, Nuku : Struggle for Freedom in North Maluku (Nuku :  Perjuangan Kemerdekaan di Maluku Utara (1984), dalam naskah tulisan-tulisan tangan itu Nuku disebut seorang rebel, prins-rebel, aartsrebel, roover, aartsroover, verstoorder der algemeene rust, onverzoenlijke vijand, dan kemudian  Zijne Hoogheid de Sultan van Tidore–artinya : pemberontak, pangeran pemberontak, pemberontak agung, bajak, bajak-agung, pengacau keamanan umum, musuh yang tak mau berdamai, kemudian digelarnya Sri Paduka Yang Mahamulia Sultan Tidore. Itulah gambaran Belanda tentang Nuku–yang menanamkan pengertian sesuai hasrat imperialisme mereka. Padahal, sejarah Nuku tidak “sekering” itu, apalagi menurut anggapan rejim kolonial.

Dari perspektif historiografis–sejarah Indonesia modern, perjuangan Nuku tidak diciptakan oleh fantasi, yang sekedar dipakai untuk menjelaskan masa lampau. Betapa sejarah bergerak makin maju  dan mustahil kembali ke belakang. Sejarah Nuku adalah sejarah universal. Bukan sejarah konvensional yang hanya menyerap fakta mengenai peristiwa pemerintahan dalam kerajaan Tidore– bukan pula sekedar hikayat Kie Makolano atau apa yang disebut  sebuah historische roman. Sejarah perjuangan Nuku  adalah episode politik besar  yang menyingkap proses sosial, politik dan keseluruhan tata hubungan ekonomi, sosial dan politik tentang kecamuk perebutan kuasa dan kemerdekaan, sekongkol dan kongkalikong, khianat, tipu-muslihat, bahkan tentang kegagahan dan keberanian, kejujuran, siasat, ketabahan, kesetiaan dan gaya bertahan (Katopo, 1984 :18).

Dalam perkembangan mutakhir historiografis, sejarah Nuku bukanlah sejarah “primordial atau sejarah suku-suku”. Sejarawan yang menganutnya beranggapan, ia sebagai tokoh sejarah global yang berkhidmat pada Wawasan Nusantara (Negara kepulauan). Seperti pengakuan yang  diperlihatkan oleh A. Haga, sejarawan Belanda, “bahwa Pangeran Nuku bukanlah pangeran tradisional maupun petualang biasa dari jenis yang biasanya ditemukan di kalangan orang Maluku. Pangeran Nuku tidak hanya berkomunikasi dengan penduduk daerah ini tetapi juga menjangkau dunia yang lebih besar dengan berupaya membuat kontak dengan orang Inggris” (Widjojo, 2013 :337). Nasionalisme yang dijalarkan Nuku adalah nasionalisme kerakyatan, nasionalisme yang menggerakkan rakyat untuk melawan imperialisme. Pengikut Nuku adalah kelompok-kelompok multietnis yang berbicara dengan bahasa-bahasa berbeda. Sebuah lingua franca yang begitu menentukan dalam merajut ke-Indonesia-an masa itu.

Sang Negarawan

Dari kalangan bangsa asing harus dikemukakan pandangan Kolonel A. Haga yang demikian penting–ketika dia menguraikan sejarah Irian. “Kami bersua dengan  Nuku yang telah memerdekakan seluruh Kesultanan Tidore, termasuk Irian, dari genggaman kekuasaan Kompeni Belanda, suatu bukti pula bahwa Irian senantiasa adalah bagian mutlak Kerajaan Tidore yang adalah pula dari dahulu kala wilayah Inonesia. Dari surat-surat yang belum diperiksa oleh Haga, tulis Katopo–telah kami selidiki sekali lagi untuk mendapatkan sedapat-dapatnya sebuah gambaran bulat dari tokoh Nuku dan tentang perjuangan, sekarang ditinjau dari sudut perjuangan  kemerdekaan Indonesia.” (Katopo,1984 :19).

Tiang pancang bangunan nasionalisme Nuku inilah oleh Haga disimpulkan bahwa, “Ia adalah seorang negarawan yang berjuang sekuat tenaga bagi kebesaran dan kemerdekaan Tanah Airnya–Maluku” (Widjojo,2013 :338). Imperialisme secara ekonomi membuat rakyat begitu menderita. Nuku tidak mau tunduk pada kekuasaan Gubernur Jenderal Jacob Willem Cranssen. Lebih lanjut Katopo menulis : “Sebagai korban imperialisme yang diwakili oleh Cranssen? Patra Alam, Kamaludin dan Hasan, yang suka diperkuda oleh kuasa asing, untuk menjerumuskan Tidore ke dalam penjajahan, mereka tidak layak, tidak berharga, trawar dalam kekeluargaan Sultan Tidore. Mereka hanya mementingkan keenakan hidupnya sendiri tidak pedulikan kesejahteraan rakyat….”

Keprihatinan Nuku, tentu menjadi penanda kebenciannya terhadap Komppeni.  Ujarnya, “Berapa lama sudah beta  berjuang. Sudah dua puluh tiga tahun. Belum juga beta berhenti berjuang. Gemarkah beta hidup senang? Asal rela mengakui  kedaulatan Belanda atau Inggris, yang menyanggupi menjamin keamanan dan ketentraman rust en orde orang Belanda, law and order orang Inggris, bisa dapat gaji besar dari Kompeni, bisa hidup mewah dan limpah, tetapi rakyat merana; hasil bumi kita, rempah-rempah yang disukai di benua magrib, dibelinya dengan harga serendah-rendahnya dan dijual dengan harga yang setinggi-tingginya; sebaliknya barang dagangannya sendiri, yang diimpornya, dijualnya kepada kita semahal-mahalnya. Itulah nasib bangsa yang dijajah, melarat dan lemah. Sebab lemah, mudah dijajah dan diperbudak.” (Katopo,1984 :183).

Fakta dan  peristiwa dalam episode politik Nuku–seperti periode pemberontakan, sebagaimana dari disertasi Muridan Widjojo, The Revolt of Prince Nuku: Cross-cultural Alliance Making in Maluku ca.1780-1810 dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul  “Pemberontakan Nuku : Persekutuan Lintas Budaya di Maluku Papua Sekitar 1780-1810”, baik dari sumber kolonial dan lokal  menempatkan tokoh Nuku dengan karakter yang tercerahkan. Selain seorang negarawan, ia adalah politisi jenius dan Sultan yang bijaksana. Lebih luas dari itu, pemberontakan-pemberontakan Nuku merupakan gerakan sosial dunia dan bukan pada lokalis semata. Satu sebab yang bisa dikemukakan bahwa terjadinya dualisme lokal antara Ternate dan Tidore adalah akibat dari dominasi dan politik pecah-belah yang dilakukan VOC. “Para sultan, raja, orangkaya, serta penguasa atau pemimpin lokal terjebak dalam jaring perpolitikan manipulatif mereka sendiri dan dibatasai oleh kepentingan  sempit  dalam kerajaannya”.

Nuku menghendaki adanya  kesadaran integrasi politik ekonomi raja-raja lokal agar mereka tidak terjebak oleh kolonialisme  dunia. Sejak 1780, Nuku memosisikan diri sebagai penantang yang gigih tanpa kompromi terhadap Belanda. “Apabila Nuku dengan sangat terpaksa harus melakukan tindakan militer atas Ternate”, tulis sejarawan M. Adnan Amal, “hal itu tidak ditujukan kepada rakyat Ternate an sich, tetapi kepada penguasa Kesultanan Ternate yang bekerjasama dan membantu Kompeni. Nuku menghendaki agar Ternate melepaskan diri pengaruh kekuasaan Belanda, serta menjadi suatu kerajaan yang mandiri, seperti ketika berada di bawah kendali Sultan Khairun dan Baabullah. Pesan semacam itu pernah disampaikan Nuku kepada Sultan Ternate, Sarkan melalui salah satu suratnya. Bahkan Nuku menyarankan bahwa, jika perlu, Ternate harus mengangkat senjata memperjuangkan kebebasan dan kemandiriannya. Namun, Sarkan bukanlah Baabullah. Ia tidak mampu melakukan tindakan seperti disarankan Nuku”, (M. Adnan Amal, 2007 :330).

“Apa yang membedakan Pangeran Nuku dari semua pahlawan besar dan kecil adalah ia memandang ke luar batasan  dunia sosial dan politiknya sendiri dan dengan melakukannya, ia berupaya mencari sekutu untuk melawan Belanda yang dominan yaitu EIC Inggris. Berlawanan dengan para pemberontak lainnya, Pangeran Nuku memahami bahwa ia hidup di dunia yang sedang berubah. Bukannya melibatkan diri dalam strategi dan skenario-skenario mistis yang membuat dirinya kalah, ia berupaya mencari bantuan dari dunia global” (Widjojo,2013 :339).

Jou Barakati

Siapakah sosok Jou Barakati atau Tuan Barakati (Tuan yang Diberkahi)? E. Katopo dan  Muridan Widjojo misalnya mencatat, bahwa Nuku hampir tidak pernah disebutkan dalam buku-buku teks sejarah yang ditulis oleh orang Belanda, orang Indonesia atau lainnya. Merujuk E. Katopo, sebagaimana dikutip Muridan Widjojo, “bahwa ia ‘menemukan’ Nuku ketika sedang melakukan riset untuk membuat buku tentang Papua (Irian masa itu) pada awal 1950-an. Sebelumnya, sedikit sekali orang di Indonesia yang mengenal atau bahkan pernah mendengar tentang Nuku. Katopo menemukan informasi yang begitu banyak tentang Nuku dalam magnum opus, dua  volume tentang Maluku karya A. Haga, Nenderlandsch Nieuw Guinea en de Papoesche eilanden (Papua Belanda dan Kepulauan Papua” (Widjojo, 2013 : 4-5).

Baru ketika E. Katopo dan Adrian Lapian mengunjungi Tidore untuk mencari makam Nuku pada awal 1960-an, mereka mendapati bahwa Nuku hanya dikenal sebagai Jou Barakati. Pembaca Indonesia mulai mempelajari lebih banyak tentang Nuku, ketika buku E.  Katopo terbit pada tahun 1957, “Nuku Sultan Tidore : Riwayat Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Maluku Utara 1780-1805”, (Cetakan pertama, 1957, Penerbit Kilatmadju Bina Budhaja, Bandung dan cetakan kedua diterbitkan oleh Sinar Harapan, 1984). Selain itu, karya-karya lain yang membuka cakrawala mengenai Nuku  adalah G. A. Ohorela : Perlawanan Nuku di Tidore (1780-1805), (Penerbit Departemen Kebudayaan Indonesia, Semarang, 1990); dan A. Dasuki : Nuku Pahlawan Tidore yang Mengalahkan Belanda, (Penerbit Sanggabuana, Bandung, 1976).

Dalam metodologi sejarah modern ada pendekatan orang besar. The Great man theory, yang dirintis oleh Thomas Carlyle. Teori ini menjelaskan dampak dan peran orang-orang besar atau pahlawan (hero). Mereka memiliki pengaruh besar, kharisma personal, kejeniusan intelektual, pemberani dan secara politik meninggalkan jejak besar. Nuku memiliki kualitas khusus dan ditakdirkan menjadi orang besar  karena kepahlawanannya.

Leonard Andaya dalam The Word of Maluku bependapat,  bahwa kepercayaan Pangeran Nuku memiliki kekuatan supranatural mendorong orang-orang Maluku untuk menyediakan dukungan hampir total kepadanya. Kata Andaya, “Ia adalah salah satu dari sejumlah individu langkah yang bermunculan  dalam sejarah Asia Tenggara yang diwarnai oleh spiritualisme tertentu, aura yang dikenal oleh rakyat dan karenanya diikuti. Kepercayaan ini dapat dilacak dalam mitos-mitos orang Maluku. Menurut etimologi rakyat, kata untuk raja, kolano, diturunkan dari atau berkaitan dengan ngongano yang berarti “orang yang dipercaya”. Jika interpretasi ini benar, menurut pendapat Lapian, maka dapat diasumsikan bahwa kekuatan yang dilaksanakan oleh raja adalah mandat dari atas–Surga, Yang Maha Kuasa (Widjojo, 2013 : 340-341).

Orang-orang kulit putih di negeri jauh itu tahu bahwa Eropa  sedang menuju suasana aneh yang buruk. Perang Belanda melawan Nuku adalah perang yang muram, karena tak pernah selesai dan telah memporak-porandakan ekonomi mereka. Jou Barakati terus berlayar dengan korakora menuju jeram ujung laut yang tak terduga.  Sejarawan seperta Andaya, Katopo, Lapian dan Widjojo mengembangkan pemahaman bahwa  Pangeran Nuku, Jou Barakati memang diberkahi dengan kekuatan supranatural. Faktanya adalah ia merupakan salah satu pemberontak yang pada akhirnya tidak menyerah dan juga tidak dikalahkan atau ditangkap seperti Diponegoro. Ia juga merupakan salah satu pemberontak yang berhasil kembali ke pulau tanah airnya dengan menjadi sultan tanpa perlawanan yang berarti.

Akhirnya, semoga patriotisme Nuku dan nasionalisme-nya terus menjadi inspirasi dan spirit bagi generasi muda. Nuku telah memberi sesuatu identitas  nasion pada zamannya–dari sekedar kisah kepahlawanan. Memilih nama Garda Nuku tak sekedar simbol artifisial dari kategori  historis yang hampa, tapi perannya harus dibuktikan bahwa entitas ini  bisa memuliakan kemanusiaan dan kebangsaan. Sesuai konteksnya, kepemimpinan Garda Nuku harus mampu membangun kerja  lintas budaya dan multietnis melewati batas-batas kesadaran primordial. Sekali lagi, Garda Nuku harus bisa menjaga nasionalisme Nuku… Jou Barakati–pahlawan tanah air yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. []

Penulis :

Afied Malik Ibrahim
A. Malik Ibrahim

 

Views All Time
Views All Time
256
Views Today
Views Today
1
Like