Loading...
CerpenSASTRA

Batu Akik Akek

DESA B terkenal dengan busung lapar. Mereka dihantam badai kemiskinan yang mengenaskan. Hingga suatu ketika, ironis ini mendadak berlalu bagai angin yang menghempaskan. Orang-orang akhirnya meriuh bahagia, kedatangan serombongan orang dari Kota J membawa sepenggal harapan; mereka bisa makan dan hidup seperti orang-orang yang menang.

Semuanya dimulai dari bongkahan-bongkahan batu akik milik Akek. Tidak ada yang bisa menyangka, batu-batu itu akhirnya merubah hidup mereka.

Di Desa B—sebelumnya—teramat miris bila bermimpi hidup layak. Pepohonan kelapa, pala, dan cengkih sudah dibabat rata dengan tanah. Padahal, pepohonan itu adalah sumber utama untuk bisa bertahan hidup. Namun ironis, perusahaan membuat segalanya tiada. Orang-orang di Desa B tak bisa lagi memetik kelapa, pala, dan cengkih untuk dijual. Sumber hidup pun akhirnya bergantung ke laut.

Tapi, air keluar dari mata mereka yang kesekian kali. Saat mereka percaya ikan di laut bisa memberikan mereka kehidupan, malah didapat hanyalah kesia-siaan. Pembabatan hutan dan kebun di Desa B memicu masalah baru. Limbah-limbah darat hasil tebangan dan aktivitas perusahaan membuat pesisir dan laut tercemar. Banyak ikan yang mati dan berpindah ke tempat yang lebih jauh. Setiap hari, setiap malam jatuh, mereka hanya tersedu-sedu bersama keluarga-keluarga tercinta.

“Ini adalah cobaan yang tragis. Anak-anak kita masih terlalu kecil untuk menerima cobaan seperti ini,” kata seorang pemuda saat mereka sedang bercakap-cakap di Balai Desa.

Bulan berganti, segala macam penyakit datang melanda. Busung lapar menyerang anak-anak kecil. Berat badan orang-orang di sini mulai menurun. Tubuh mereka ringkih dan sesekali gemetar seperti menahan lapar. Setiap hari, selalu terdengar kabar, keluarga itu, keluarga ini—memilih mengakhiri hidupnya dengan macam-macam cara. Mungkin mereka merasa masygul; apa gunanya hidup bila hanya menahan sengsara.

Seperti badai yang berlalu, segalanya akhirnya terjawab. Suatu malam yang bisu, mereka tiba-tiba berlari ke arah tanjung dan berkumpul ramai di depan rumah seorang bekas nelayan. Suara gunjingan dan percakapan-percakapan aneh mengalir deras dari tetua dan anak-anak muda. Rupanya, seorang bekas nelayan menemukan bongkahan batu berwarna. Orang-orang takjub melihat itu dan merasa semacam berkah yang dikirimkan Tuhan untuk mereka.

***

Namanya: Makek Toi. Orang-orang memanggilnya: Akek. Ia hanyalah bekas nelayan yang bertahun-tahun telah melayari lautan. Namanya tiba-tiba melambung tinggi tatkala suatu malam ia membawa kabar gembira sekaligus aneh.

Di Desa B, batu berwarna hanyalah benda yang hidup dalam mitos dan masa lalu yang tak jelas. Menurut penuturan beberapa orang, batu berwarna itu bisa ditemukan oleh orang-orang berdarah biru. Mereka percaya, suatu ketika akan tiba seorang anak yang segaris dengan turunan para raja. Anak itulah yang dipercaya bisa membawa batu berwarna. Namun anehnya, Akek bukanlah turunan para raja.

Penemuan batu berwarna hanyalah kebetulan belaka, pikir Akek. Konon, ia menemukannya dengan sangat biasa. Ia menceritakannya dengan santai saat orang-orang tampak panik dan selalu menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan aneh. “Kau pasti bertapa, ya?” tanya seorang pemuka adat dengan wajah pucat, mungkin setengah takut. Akek hanya bisa tersenyum dan mengisap rokoknya dengan tenang.

Sampai tibalah, Akek menyuruh istrinya membuatkan kopi agar bisa berbincang-bincang lebih lama. Para pemuka adat mengambil posisi duduk lebih dekat. Mungkin bermaksud lebih fokus mendengar cerita Akek. “Sudah siap?” tanya Akek sembari menyeruput kopi dengan santai. Mereka mengangguk kompak.

Akek mengisap rokoknya dengan tarikan panjang dan berbicara.

“Saya menemukannya di dekat sini.”

Ketika mendengar itu, para pemuka adat semakin menggeser posisi duduknya. Mata mereka semacam berisi anak panah.

“Lalu?”

Akek tersenyum.

“Ya, dekat sini!”

Orang-orang di luar meng-hussst kalimat yang baru saja diucapkan Akek. Mereka menganggap Akek menjelaskannya dengan main-main. “Cobalah serius, Akek,” ujar seorang pemuka adat yang konon sangat disegani di Desa B. Mereka lupa, padahal Akek adalah lelaki yang paling senang membual. Bahkan bualan-bualannya sangat disenangi anak-anak di Desa B. Wajahnya memang serius, tapi ia memang lelaki yang kurang suka serius.

“Saya memang menemukannya di dekat sini. Di dekat rumah saya.”

“Di mana?”

“Di situ!” Akek mengarahkan telunjuknya ke halaman rumahnya.

Orang-orang sontak mengarahkan mata mereka ke arah telunjuk itu.

“Di mana?” tanya pemuka adat tadi.

Akek tersenyum. Lalu diangkatlah tangannya tinggi-tinggi, “Di situuuuuuu!” Orang-orang manyambut ucapan itu dengan makian, bahkan beberapa pemuda yang sudah kelelahan berdiri di halaman rumahnya berteriak dengan kencang, bahkan sangat kencang. “Maksud saya, batu ini memang tak jauh dari rumah. Mohon tenang!”

Mereka kembali menarik napas, seolah-olah sedang bersiap menunggu Akek berbicara serius.

“Begini saja, ikutlah bersama saya.”

Tanpa aba-aba, mereka berbarengan berujar ‘sepakat’ secara kompak. Orang-orang di halaman rumahnya juga bersamaan melepaskan asap rokoknya seperti merasa lega. Lalu, malam yang buta itu, mereka meninggalkan rumah dan berbondong-bondong menuju tempat penemuan batu berwarna.

Sesampainya di sana, mata mereka memperhatikan sekeliling seperti merasa biasa-biasa saja. Tempat itu tampak lengang dan tak ada sesuatu yang menarik perhatian. Mereka mengarahkan mata secara bersamaan ke arah Akek lalu memberikan aba-aba lewat kening.

“Di mana?”

Akek mencoba batuk meski ia tak sedang merasa batuk. Akek tersenyum lalu kakinya bergerak bak kucing yang menggaruk-garuk tanah. Tiba-tiba saja, orang-orang terbelalak. Mata mereka terbuka lebar; di bawah kaki Akek benar-benar ada batu berwarna. Kemudian, seseorang meloncat ke tengah dan mengarahkan senternya ke arah batu. Sontak, mereka terhenyak, bias cahaya senter memantulkan warna hijau. Mulut mereka menganga dan merasa benar-benar aneh. Mitos batu berwarna pun terpecahkan.

Keesokan harinya, mereka berencana mengambil batu  berwarna itu dan membawanya ke tengah kampung. Ketika sore tiba, orang-orang meriuh bahagia. Sebelum meletakkan batu berwarna itu di sebuah tempat, mereka bersepakat mengarak-arak batu dengan mengelilingi kampung. “Batu ini akan menjawab kemiskinan dan cobaan yang sedang kami hadapi,” kata Akek dan senja menghias di pipinya.

***

Kabar penemuan batu berwarna pun tersiar luas. Di beberapa daerah, orang-orang sering bergunjing tentang kehebatan batu itu. Sampai-sampai, pada pekan kedua, serombongan orang dari Kota J datang ke Desa B untuk membuktikan kebenaran penemuan tersebut.

Orang-orang dari Kota J datang dengan tas-tas besar dan beberapa kopor yang diduga berisi uang. Orang-orang bermata kecil dan berkulit terang itu mendatangi rumah Akek lalu memintanya untuk mengeluarkan bongkahan-bongkahan batu untuk diperiksa. Akek menuju kamarnya dan tak lama kemudian ia kembali membawa sebuah karung. Seseorang di antara mereka dengan cepat menjemput Akek lalu mengambil karung itu dan meletakkannya di atas lantai.

Seseorang berjaket jeans menggeser kursinya. Ia kemudian mengeluarkan beberapa bongkahan batu  dari karung tersebut dan diletakkan di atas meja. Matanya bagai senter. Ia membolak-balik batu itu berulang-ulang kali. Akek dan istrinya mematung dan hanya bisa menatap ulah mereka dengan cermat.

“Batu akik!”

Seseorang mengucapkan itu sembari tersenyum lebar seperti menemukan sesuatu yang telah mereka cari selama ini.

“Batu Akek?” tanya Akek seperti mendengar namanya disebut-sebut.

“Bukan. Ini namanya Batu akik.”

Akek manggut-manggut seperti baru mendengarnya hari ini. Setelah beberapa menit bongkahan-bongkahan batu diperiksa, orang-orang dari Kota J akhirnya memutuskan untuk membelinya. Akek menatap istrinya dan mengangguk setuju dengan cepat.

Penjualan batu akhirnya perlahan merubah kehidupan di Desa B. Orang-orang dari Kota J membeli semua batu yang dimiliki orang-orang dari Desa B. Kemiskinan dan busung lapar pun terjawab juga. Berat badan orang-orang di Desa B sudah tampak sehat. Mereka akhirnya bisa makan nasi dan ikan secara teratur. Setiap hari, mereka hanya bekerja sebagai penambang batu. Uang melimpah dan rumah-rumah mereka pun berubah drastis.

***

Badai memang rajin menghantam. Belum lama menikmati kebahagiaan, masalah akhirnya datang lagi. Terdengar kabar, batu-batu itu habis karena terlalu sering ditambang. Orang-orang merasa gamam; mana mungkin batu bisa habis. Mendengar itu, orang-orang dari Kota J memilih meninggalkan Desa B dan berencana mencari batu akik di tempat lain.

Saat malam jatuh, Mereka berkumpul di Balai Desa dan membahasnya. Seorang pemuka adat berdiri dan berbicara dengan nada pelan, mungkin sedang menahan lapar.

“Sekarang kita susah dapat makanan. Batu-batunya sudah habis. Apa kau punya saran, Akek?”

Akek memainkan jemarinya di atas meja seperti sedang berpikir.

“Punya!”

“Apa?”

Akek menunduk dan berbicara sangat pelan, lebih pelan dari pemuka adat tadi.

“Bagaimana kalau kita makan batu?”

Orang-orang mendengar itu dan hanya bisa memaki dalam hati. Mereka tahu, Akek memang suka membual. Bahkan bualan-bualannya sangat disenangi anak-anak di Desa B.

Cerpen : Rajif Duchlun

 

 

Views All Time
Views All Time
351
Views Today
Views Today
5
Like
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *