/Asal Mula Orang Sanger di Akekolano

Asal Mula Orang Sanger di Akekolano

Sejarah adalah saksi yang tak perlu disumpah tetapi tak bisa diingkari….

MUNGKIN kata ini adalah representase saya ketika menulis kembali sejarah Desa Akekolano atau yang dulunya disebut ‘Kampong Sanger’. Tulisan ini adalah rasa terima kasih saya ketika membaca tulisan indah Bapak Alm. Abdulah Antarani. Semoga apa yang beliau tulis ketika beliau selesai mengikuti penataran Kepala Desa se-Halmahera Tengah pada bulan Juni tahun 1978 di Soa Sio Tidore dapat bermanfaat untuk kita semua.

Sekelompok masyarakat dari Pulau Sangir

Manusia biasanya memperjuangkan hidupnya baik pribadi maupun secara kelompok atau bermasyarakat guna mencapai kebahagiaan hidup mereka. Tuhan tak akan dapat merubah nasib seseorang (kaumnya) apabila ia sendiri tidak berusaha untuk merubahnya. Maka dengan sendirinya manusia itu harus berusaha merubah dan memperjuangkan hidup dan kehidupannya.

Hal demikian terjadi pada sekelompok manusia yang berasal dari Sulawesi Utara atau dari kepulauan Sangir Talaud. Pada tahun 1933 tiba rombongan atau sekelompok manusia di tempat ini yang asalnya dari Pulau Sangir.

Tahap pertama mereka meninggalkan kampung halamannya dan mengadu nasib di daerah seberang sebanyak kurang lebih 78 jiwa yang dipimpin oleh seorang ketua dan dianggap sebagai yang tertua yaitu Bapak Maneking Antarani.

Melalui Pemerintah Hindia Belanda

Waktu itu yang berkedudukan di Enemawira sebagai ibu kota Kecamatan Tabukan Utara, kurang lebih 78 orang yang dipimpin oleh Bapak Maneking Antarani juga meminta kepada Pemerintah Hindia Belanda agar mereka dapat diterima sebagai rombongan transmigrasi dan dapat diizinkan meninggalkan kampung halamannya untuk ditempatkan di Pulau Halmahera, Maluku Utara.

Oleh Pemerintah Hindia Belanda mereka diterima dan diizinkan sesuai dengan permintaan mereka untuk ditempatkan di salah satu daerah (tempat) di pulau tersebut, tetapi pemerintah hanya menyediakan fasilitas alat pengangkut dengan seadanya saja, sedangkan untuk jaminan ekonomi di tanggung mereka sendiri.

Syarat itu diterima oleh 78 orang tersebut dan pada tanggal 25 oktober 1932 berangkatlah rombongan itu dari pelabuhan Petta, Kecamatan Tabukan Utara dengan K.M. ALPASANG. Rombongan tiba di Ternate tanggal 26 oktober 1932 kemudian diberangkatkan lagi ke Desa Sidangoli melalui Jailolo pada tanggal 28 oktober 1932.

Kurang lebih 5 bulan rombongan berada di Desa Sidangoli, kemudian rombongan diberangkatkan ke wilayah Oba. Hal ini disebabkan setelah Pemerintah Hindia Belanda melakukan penelitian soal tanah di lokasi Desa Sidangoli dan hasilnya belum memenuhi syarat untuk dijadikan areal pertanian.

Tanggal 3 Maret 1933 tibalah rombongan di Pantai Oba dan langsung ditempatkan di Desa Akekolano oleh pemerintah di bawah pimpinan seorang petugas dari jawatan pertanian Pemerintah Hindia Belanda, yaitu Bapak Raden Slamat Harjowijoyo.

Begitu mereka tiba di desa ini, pemerintah membuat perkampungan dan langsung mengatur tempat untuk mendirikan rumah masing – masing keluarga. Maka terbentuklah perkampungan kecil yang diketuai oleh seorang ketua dan dibantu oleh seorang juru tulis (sekretaris). Bapak Maneking Antarani sebagai ketua sebab beliau adalah ketua rombongan, sedangkan juru tulis adalah Bapak Achmad Antarani.

Seketika itu juga, mulailah rombongan membongkar dan menggarap hutan belukar dan padang alang-alang yang lokasinya ditunjuk langsung oleh jawatan pertanian Pemerintah Hindia Belanda. Dan areal alang–alang yang sudah digarap oleh pemerintah pada tahun 1954 seluas kurang lebih 60 ha.

Tahun 1933, tanggal 30 November tibalah rombongan kedua berjumlah kurang lebih 45 jiwa yang dipimpin langsung oleh Bapak Naser Lesawengen. Dan waktu itu, mereka dari Desa Talelang, Kecamatan Tabukan Utara, tiba menggunakan K.M. ALBATROS. Dengan tibanya rombongan kedua yang dipimpin langsung oleh Kepala Desa, maka pemerintahan desa yang tadinya dipimpin oleh Ketua Desa berubah dan tugas pemerintahan dipegang oleh seorang Kepala Desa.

Yang diangkat sebagai Kepala Desa adalah Bapak Naser Lesawengen dan dibantu oleh seorang  juru tulis desa Bapak Achmad Antarani, kemudian pada saat itu berubah status kampung menjadi desa dengan alat–alat aparat pemerintahannya.

Tahun 1936, tanggal 22 Januari tibalah rombongan ketiga berjumlah kurang lebih 100 jiwa berasal dari Kecamatan Tabukan Utara dan Tengah yang dipimpin oleh Bapak Tinggilawa Machmud menggunakan K.M.SIAREN. Dengan kedatangan rombongan ketiga, maka jumlah penduduk desa ini berkisar sekira 300 jiwa. Sekitar tahun 1940 barulah suku–suku lain masuk menetap di desa ini.

Nama Desa

Tahun 1964 didatangkan oleh pemerintah rombongan transmigrasi lokal dari Pulau Tidore dan mereka ditempatkan di areal tanah jawatan pertanian, yaitu bekas garapan rombongan Sangir Talaud yang diambil oleh pemerintah sekira tahun 1954 dan sekarang perkampungan mereka disebut Ampera yang dikepalai oleh seorang Mahimo. Daerah ini pernah termasuk wilayah kekuasaan pemerintah Akekolano.

Dengan ditempatkan lokasi tersebut maka pertama kali nama kampung ini oleh penduduk desa dinamakam Kampung Sangir. Itulah sebabnya sehingga nama yang dikenal dulu adalah Kampung Sangir.

Pada tahun 1935 oleh Pemerintah Hindia Belanda, rakyat desa ini dikenakan pajak diri dan dalam surat pajak tersebut sudah tertera nama Desa akekolano sampai sekarang. Sedikit penjelasan, nama Akekolano diambil dari nama sebuah sungai yang bermuara di Pantai Oba dan mata airnya berdekatan dengan desa ini.

Mungkin karena letak lokasi desa berdekatan dengan sungai tersebut sehingga Pemerintah Hindia Belanda menamakannya Akekolano. Menurut cerita penduduk dahulu di Pantai Oba, sungai tersebut adalah tempat mandinya seorang raja dari Tidore. Dalam bahasa lokal, “ake” yang berarti “air”, dan “Kolano” yang berarti “Raja”. Dari sinilah, menurut cerita, desa tersebut diberi nama Akekolano. Sebagai informasi, tulisan ini diolah dari tulisan asli Abdulah Antarani, sekira akhir September 1979. (*)

Penulis:

Gamal Morinyo

Aktif di Komunitas Gerakan Insan Penulis

Views All Time
Views All Time
535
Views Today
Views Today
1
Like