/Asal Mula Atas dan Bawah dalam Relasi Kuasa di Ternate

Asal Mula Atas dan Bawah dalam Relasi Kuasa di Ternate

Kata Ternate berasal dari bahasa lokal yaitu “Tara no ate” artinya “turun kau pikat” (Crab,1878). Maksudnya turun dari tempat yang tinggi ke dataran rendah atau dari Foramadiahi ke Sampalo, namun ada kekeliruan dalam karya Andy Atjo (2008), menyebutkan ke “Limau Jore-Jore” untuk memikat para pendatang supaya mau menetap di pesisir pantai Ternate. Perlu diketahui bahwa ke bawah/“ka bawa”, bukan berarti arah utara (saat ini) yaitu di “Limau Jore-Jore”, karena letak/posisi “Kota Tua” pertama adalah di bagian selatan, yang dahulunya arah ke atas menunjukan ke wilayah Foramadiahi di atas gunung bernama Gapi. Parahnya lagi di salah satu forum diskusi di media social, ada yang beranggapan bahwa “tara no ate” diartikan sebagai “turunlah (ke bawah) engkau dari kayangan (atas) dan pikat masyarakat Moloku yang becerai-berai saat itu”.

Maksud dari kata “ka bawah”/ke bawah dalam bahasa Ternate yaitu “tara”, yang dituju adalah negeri Sampalu di daerah pesisir laut Gam Lammo (kampung besar). Kemudian setelah kedatangan Portugis (1512) tempat ini dibangun sebuah benteng Nostra Senora del Rosario. Masyarakat pribumi yang telah berdiam di sekitar pesisir pantai, kemudian memakai kata “ka atas”/ke atas, (bahasa Ternate yaitu “siiye”), artinya ke arah yang menunjukan ”kadato” (kedaton/keraton), yang berada di Foramadiayahi dimana kolano (pemimpin) itu berada dan sebagai pusat Kerajaan Ternate yang pertama, terletak di Foramadiahi (Masinambow, l987) Francois Valentijn (1724), menyebutnya Fala Majahi, baik Valentijn maupun Naidah (1878), memberi petunjuk tentang terbentuknya Kerajaan Ternate melalui pengabungan empat negeri/soa: Foramadihay, Tuboleo (Sampalu), Tobona, dan Tobanga. Tiga negeri atau kampunng, serta para pendatang, bila menuju ke Foramadihay, selalu mengunakan kata “ka atas”, kemudian masyarakat yang bermukim di Foramadihay, bila ke wilayah sekitar (turun) mengunakan kata “ka bawah” untuk menunjukan tiga perkampungan tersebut. Sebelum terjadi pergeseran pusat pemukiman dari daerah pegunungan ke daerah pesisir, Fraassen (1987), menyebutkan bahwa pengunaan konsep “ka atas” dan “ka bawah” telah dimulai sejak tahun 1607, bahkan jauh sebelumnya, dengan mengunakan bahasa Ternate, namun dalam karangan Fraassen, menyebut “ka atas” yang dituju adalah Soa-Sio, yang awalnya terdapat di Foramadiahi.

Dalam sumber sejarah kata “ka atas” menunjukan arah “kadato” Ternate untuk penunjuk tempat. Sementara kata “ka bawah” menunjukan kepada perkampungan untuk masyarakat pribumi di pesisir pantai di “bawah” yang status sosialnya berbeda dengan perkampungan “atas” yang dimaksud adalah Foramadihay, karena posisi pemimpin (Kolano) dari empat negeri/soa tersebut bermukim dan sebagai pusat pemerintahan tradisional pertama. Seiring perkembangan waktu, pergeseran pusat pemukiman ke daerah pesisir tersebut ada kaitannya dengan kemajuan perdagangan cengkeh dengan kedatangan pedagang dari luar yang membawa kemajuan bagi kerajaan. Leirissa, (2003), mapun W. PH. Coolhas (1926), menyebutkan bahwa, Kota Ternate termasuk salah satu kota tertua di Nusantara (Indonesia), karena kota ini telah ada sebelum abad pertengahan dan menjadi pusat imperium Islam tersebar di timur Indonesia “Al Mullukiah” dan berperan sebagai kota perdagangan dan pusat pemerintahan. Abad 16 berdatanganlah orang Eropa-Portugis dan Spanyol, pergolakan politik-pun terjadi di kalangan bangsawan tradisional Ternate. Setelah terbunuhnya sultan Khairun, sultan Babbullah (1570-1584) pun melakukan perlawanan dan berhasil menaklukan orang Portugis dan berhasil menguasai benteng Nostra Senora del Rosario. Pemindahan “kadato” (pusat pemerintahan) dipusatkan di sekitar? Benteng, yang terdapat negeri Sampalu, (bandingkan dengan Valentijn, 1724).Dan arah “ka atas” ditujukan kepada Sampalu, karena posisi pemerintahan untuk sementara dipusatkan di kampung tersebut, tidak banyak yang diketuhi berapa lama pemerintahan dipusatkan di sekitar Nostra Senora del Rosario, dibawah ini kita akan melihat perpindahan pusat pemerintahan tradisional kesultanan Ternate, yang pernah tercatat dalam sumber sejarah.

Sebelum kadato/Keraton Ternate berada pada tempatnya yang sekarang, awalnya berada di Foramadiyahi yang aktif pada pertengahan abad ke-13 yaitu tahun 1257. Kemudian perpindahan yang kedua menurut Valentijn, adalah ke wilayah Tuboleo (Sampalu), di wilayah ini tidak bertahan lama karena sering terjadi penyerangan dari Kerajaan Tidore dan Spanyol, terhadap Ternate dan tidak ada sumber yang menjelaskan lebih detail. Setelah itu “kadato” berpindah ke arah utara yaitu ke “Jore-Jore” (sekitar Ngade Sone, sekarang kelurahan Kasturian) pada 1627 oleh Sultan ke-30. Perpindahan “kadato” ke ini berdasarkan pertimbangan berdasarkan strategi politik dan ekonomi. Namun dalam cacatan atau laporan pemerintah yang tercatat dalam Kolonial Verslaag (KV, 1809), bahwa perpindahan ke wilayah yang sekarang adalah pada tahun 1806. Selain itu disebutkan dalam laporan: G.K. Schutte (1626-1795), bahwa pemerintahan kerajaan Ternate, juga pernah berpusat tidak jauh dari benteng Melayu, sebuah tempat yang menjadi ibukota bagi orang-orang Ternate dengan Sultan Mudafar atau Muzaffar (1610-1627), yang telah mendatangani kontrak politik dengan VOC atas kordinasi Cornelis Matelief de Jonge, dan diperintahkan untuk membangun sebuah benteng yang disebut Oranje. Sebagai imbalan bagi monopoli cengkih, VOC menjanjikan perlindungan kepada kerajaan Ternate, untuk melumpulhkan perdagangan cengkih yang telah dikuasai oleh orang Spanyol yang berada di benteng Nostra Senora del Rosario.

Dari uraian di atas, dapat kita lihat bahwa pengunaan kata “ka atas-ka bawah” selalu berubah mengikuti arah perpindahan “kadato” sebagai pusat pemerintahan. Dari tahun 1257-1627, arah ka atas masih tertuju pada kampung Foramadiyahi, Sampalu. Kemudia tahun 1627-1806, “ka atas” berubah arah tempat karena “kadato” telah berpindah sekitar kampung melayu sebelum ke “Limau Jore-Jore” dan diikut sertakan dengan soa-sio. Sejak itulah pengunaan “ka atas” berubah arah yang saat ini kita kenal wilayah “ka atas” ke Utara berarti “kota”, dengan batas wilayah dari Soa-sio hingga Tofure. Sementara arah “ka bawah” artinya ke Selatan kota dengan wilayah dari kampung, Takoma, Tobohoko (Toboko) sampai Kampung Rua, selain itu ada juga kampung tenggah, yang terdiri dari kampung Makassar, Cina, Melayu, kampung Arab, Sarani, dan Palembang.

Sementara pengunaan kata “kalao” (bahasa Ternate “hoko”), yang dimaksud arahnya ke Laut menunjukan arah pesisir pantai dan “ka dara” (bahasa Ternate “isa”), yaitu ke darat menunjukan arah gunung atau daerah yang lebih tinggi. Pengunaan penunjuk arah “ka atas”/ke atas, juga hampir sama dengan “ka dara”, namun pada dasarnya ada perbedaan dalam pengunaan “ka atas” walaupun menunjuk arah lebih tinggi (gunung), namun pada saat itu tujuan arah-tempat yang dimaksud atau di tujuh adalah “kadato” yang berpusat di Foramadiahi, (bandingkan juga dengan Fraassen, Deel I-1987).

Seperti yang terdapat dalam catatan harian Antonio Galvao, “Historia Das Molukas” (1544), bahwa masyarakat “Maluku” pada umunya memiliki dua mata pencaharian utama untuk keberlangsungan hidup. Pada masyarakat petani yang disebut “Alfoer/alfur” berprofesi atau kesehariannya membuat “kobong”/kebun. Dalam keseharian bahasa yang di pakai untuk menunjukan profesi “ba kobong” disebut “kadarabakobong, artinya ke arah hutan pencaharian tradisional mereka sebagai petani “bakobong” yaitu menanam pisang,“kasbi”, kacang-kacangan, peramu sagu “bahalo” dan jenis kacang-kacangan lainnya (Baretta, 1917). Untuk masyarakat Pesisir yang mata pencahariannya di Laut, mengunakan kata “ka lao” untuk menunjukan arah Laut, untuk menangkap ikan “mangael” saat ini nelayan.

Hal yang sama juga diberlakukan di Halmahera, di abad ke-17 masyarakat Tobelo dibagi atas dua komunitas, yakni. Tobelo-Tia (Tobelo Pedalaman) yang bermata pencaharian utama sebagai petani, dan Tobelo-Tai(Tobelo-Pesisir) bermata pencaharian sebagai nelayan, (Leirissa, 1996). Pembagian ini dilakukan oleh Kolonial Belanda dimaksudkan untuk mengetahui dan membedakan penduduk Tobelo yang suda keluar hidup di pesisir pantai dan memudahkan pengutan “leo-leo dan balasteng” atau pajak oleh Kolonial-Belanda dan Kesultanan Ternate. Oleh karena itu pengunaan “ka atas-ka bawah, ka lao-ka dara” yang awalnya digunakan di Ternate, menyebar ke berbagai wilayah disebabkan Kesultanan Ternate memiliki daerah taklukan yang begitu luas, sehingga dalam keseharian acap kali digunakan bahasa Ternate, seiring perkembangan serta mulai berdatangan para pendatang di pulau Ternate, maka sebagai bahasa pengantar digunakan bahasa Melayu sebagai lingua-franca.

 

Penulis:

Irfan Ahmad

(Staf pengajar di program Studi Ilmu Sejarah FSB Unkhair dan aktif di Matahati Institute)

Views All Time
Views All Time
382
Views Today
Views Today
1
Like