/Api dan Asa 

Api dan Asa 

Membakar Rumah, Kampung dan Ruang Bermain

Serta Menyulut Mimpi yang Tak Jua Padam

SAYA ingin menuliskan dan berbagi kisah ini. Jika nanti (50-100 tahun lagi) saya mulai menderita demensia atau alzheimer, sehingga lupa untuk membenci kekuasaan yang begitu jahat dengan politik adu dombanya, memprovokasi dengan embel-embel ‘Atas Nama’ guna menghancurkan rumah, tempat bermain, sekolah, persahabatan dan mimpi masa kecil saya, maka tolong ingatkan saya akan hal itu. Ingatkan saya untuk kembali membenci sistem yang rakus pada alam, juga airmata, keringat, dan darah kami. Ingatkan saya untuk terus melawan.

Dan semoga… ketika jasad telah habis terlumat binatang tanah, saat itu mimpi kecil akan berulang jua. Kehidupan yang indah, penuh dengan hiasan pelangi, yang menghadirkan keragaman sebagai pemersatu dan kemanusiaan sebagai pondasi.

***

 Anak Seram-Maluku

SAYA dilahirkan di RSU Kuda Mati, Ambon. Saat berusia delapan bulan saya dipisahkan dari mama, dipaksa melepas ASI dan menggantinya dengan susu sapi. Saya dibawa dan diasuh oleh bibi dan almarhum nenek ke kampung bapa, Kilkoda, Pulau Gorom, Seram Bagian Timur-Maluku. Sementara bapa dan mama yang nikah muda memilih tinggal di Ambon. Di Kota Gong Perdamaian ini, bapa sibuk mencari kerja.

Tentu saja di usia sekecil ini, tak satupun kisah di Kilkoda yang masih terekam dalam memori. Baru setelah bapa lolos tes seleksi CPNS Departeman Kehakiman dan ditugaskan ke Pengadilan Negeri (sekarang berada di bawah instansi Mahkamah Agung) Tobelo, Halmahera Utara-Maluku Utara pada 1990, saya lalu dijemput kedua orang tua. Ketika bertemu keduanya, saya memanggil mereka dengan sebutan ‘Oom’ untuk papa dan mama akrab dengan sapaan ‘Mbak’.

Perjalanan ke Tobelo juga tak bisa saya ingat, karena usia saya baru berkisar dua tahun kala itu. Tapi saya kerap mendengar cerita mama soal perjalanan tersebut (jadi semacam dongeng sebelum tidur). “Dari Ambon kita naik KM. Bukit Siguntang milik Pelni. Semalam perjalanan kita tempuh dari Ambon menuju Ternate. Karena saat itu jalan Lintas Halmahera belum ada, maka dari Ternate kita harus kembali melakukan perjalanan laut. Semalaman ditempuh menggunakan motor laut ke Morotai. Dari Morotai, kita lalu menumpang katinting ke Tobelo,” Mama bernostalgia pada perjalanan kami. KM Bukit Siguntang ini ternyata masih beroperasi, dengan rute yang tak lagi sama seperti dulu. Setelah 22 tahun, saya kembali menumpang kapal tersebut saat pulang dari PNLH Walhi pada April 2012.

Saya tumbuh besar di Ibukota Kabupaten Halmahera Utara ini. Selama di Tobelo, saya baru sekali pulang ke kampung mama dan bapa. Seingat saya, itu terjadi pada medio 1998 sebelum kerusuhan Ambon terjadi. Inilah pertama kali, saya sebagai anak kepulauan yang terkesan memaksa menjadi ‘orang kota’, benar-benar merasakan siksa menempuh perjalanan laut. Saat itu saya sudah duduk di bangku kelas lima SD. Dari Tobelo, saya dan mama menjadi penumpang taksi lintas Halmahera pukul dua dini hari untuk sampai ke Sidangoli, Halmahera Barat. Perjalanan yang ditempuh waktu itu lebih dari lima jam (sebetulnya hanya butuh 3-4 jam) karena kondisi jalan yang rusak parah dan sementara dalam masa renovasi, ditambah lagi dengan hujan deras yang membuat jalan tanah yang sedang direnovasi itu licin, becek, bahkan sedikit banjir. Yang paling mengerikan, yang memaksa saya dan mama lebih memilih turun dari mobil adalah saat kita tiba pada kondisi jalan rusak yang licin dan menanjak. Mobil-mobil taksi tidak bisa naik dan harus diderek dari atas menggunakan truk.

Setelah sampai di Sidangoli, kami menumpang kapal feri menuju Ternate. Waktu tempuh kurang lebih dua jam. Dari Ternate, kami naik KM. Lambelu menuju Ambon. Tiba di Ambon, saya dan mama langsung ke kampung mama. Kami naik angkot dari pelabuhan ke Terminal Batu Merah, lalu lanjut dengan Bus ke Palabuhan Kapal Feri Liang (lintas Ambon-Seram). Dari Liang, kami menyeberang ke Gemba (Waipirit), lalu dilanjutkan naik mini bus menuju Hualoy, Seram Bagian Barat (kampung mama).

Kira-kira seminggu di sana. Setelah itu kami kembali ke Ambon (Pelabuhan Halong). Di sini kami menumpang kapal perintis (kapal barang yang didesain dan digunakan untuk memuat manusia). Kapal ini memiliki rute yang padat. Dua minggu perjalanan ditempuh untuk kembali lagi ke Ambon. Rutenya yang saya ingat antara lain: Ambon-Banda-Geser-Gorom-Bula-pulau-pulau terluar Papua (saya lupa nama-namanya, termasuk Raja Ampat)-Fak-Fak-Sorong dan balik lagi.

Untuk sampai ke Pulau Gorom, kampungnya bapa, ditempuh selama dua hari perjalanan. Saat itu musim timur sehingga ombak sangat dahsyat menghantam kapal. Saya berkali-kali muntah. Namun bukan karena mabuk laut. Sejujurnya saya sangat suka dengan ombak. Kapal yang oleng itu sama kayak main ayunan. Saya muntah karena bau dalam kapal yang pengap. Untuk atap, kapal ini menggunakan terpal, sehingga udara di siang hari bisa berkali-kali lipat panasnya. Serasa di dalam oven. Beberapa perempuan dewasa di samping kiri dan kanan kami berulang kali muntah. Tentu saja melihat pemandangan itu perut saya pun merontak.

Tiba di Pelabuhan Ondor-Pulau Gorom, saya dan mama masih harus menempuh sekali lagi perjalanan untuk sampai ke Kilkoda. Kami naik jonson (perahu dengan menggunakan mesin boad) untuk sampai di kampung, karena saat itu belum ada jalan darat. Subhanallah, ombaknya itu loh. Saya melihat para penumpang perempuan berkali-kali menangis dan berteriak dengan melafazkan “Lailaha Illallah, Allahu Akbar!”. Kecuali mama, tampak hanya mulutnya yang komat-kamit tak terdengar. Saat itu saya dipeluk salah satu paman yang ketemu di Ambon dan sama-sama menempuh perjalanan mendebarkan ini. Dia menutup wajah saya dalam dekapannya agar saya tak melihat ‘keganasan’ laut. Tapi angin kencang dan hujan deras tak bisa dipungkiri membuat jantung berdetak lebih kencang. Karena penasaran, saya pun mengintip dibalik lengannya dan melihat bagaimana serangan gelombang air laut itu menghantam kami. Saat itu yang terpikirkan hanyalah mati.

Kami pun tiba di kampung lebih dari dua jam perjalanan, harusnya tidak lebih dari 30 menit. Inilah saat pertama kali saya melihat dan menyimpan kenangan atas kampung tempat saya pernah ‘dilarikan’ dari kasih sayang mama.

Selain perjalanan itu, saya beberapa kali pulang ke Kilkoda. Pada 2009, saya berangkat sendirian ke Ambon dari Ternate. Saya dan sepupu lalu melanjutkan perjalanan dari Ambon ke Pulau Gorom bertepatan dengan suasana puasa menjelang lebaran. Jangan ditanya jumlah penumpangnya, pokoknya jauh melebihi kapasitas muatan. Kami tidak mendapatkan tempat untuk tidur. Jangankan tidur, duduk pun saya dan sepupu harus saling berbagi atau bergantian. Dan tahukah dimana kami duduk? Di atas palka, tempat mesin kapal bekerja. Paling lama 10 menit saya bisa bertahan duduk karena saking panasnya. Serasa melepuh kulit pantat saya.

Tiba di Ondor, kami naik ojeg ke kampung. Sudah ada jalan darat waktu itu tapi pembangunannya belum selesai dan sebagian besar badan jalan yang telah dibangun rusak parah. Kurang dari sebulan kami di Kilkoda. Pada malam lebaran, saya merasa rindu dengan mama, bapa, ade dan keluarga di Ternate. Saya pun mengajak sepupu menemani saya naik ke atas tanjung untuk menelepon. Di kampung tidak tersedia jaringan telepon seluler. Kapal perintis sedang tidak beroperasi saat kami berencana kembali ke Ambon, padahal saya sudah harus kembali ke Ternate menyelesaikan kuliah. Pada akhirnya kami harus naik jonson jam 2 malam menuju Pulau Geser. Ombaknya tak bisa saya deskripsikan. Yang jelas lebih jahat dari pengalaman pertama. Tak ada hujan, tapi saya basah kuyup dihantam gelombang air laut yang tinggi. Tiba di Geser pukul tujuh pagi, kami lalu naik kapal cepat untuk katanya delapan jam perjalanan menuju Ambon. Tahunya lebih dari 15 jam. Harga tiketnya Rp. 780.000. Mahal? Biasalah, orang pulau pada kaya makanya kekayaannya diporotin terus sama negara dan industri pelayaran.

Tobelo, Minggu Malam, 26 Desember 1999.

17 tahun telah berlalu.

Demi Semesta, tragedi itu masih segar dalam ingatan.

Saya berusia 11 tahun kala itu. Tercatat sebagai pelajar kelas 1 di SLTP N. 1 Tobelo. Saat itu Ramadhan dan kebetulan bertepatan dengan perayaan Natal

SEJAK rumor akan adanya kerusuhan berbasis SARA pada tanggal sembilan, bulan sembilan, tahun sembilan belas sembilan-sembilan (9/9/99), mama dan bapa sudah mewanti-wanti untuk memindahkan saya ke Ternate. Bahkan mama sudah mengepak semua dokumen penting dan beberapa potong pakaian ke dalam koper besar (mirip peti). Isi koper yang masih saya ingat adalah rok coklat selutut dengan atasan blazer berwarna senada dan tank top coklat pasir; terusan panjang mirip baju Cinderella bermotif ketupat, plus tas kecil (biasanya untuk mengisi kue, permen, dan duit hasil silaturahmi: batambaru); dan sepasang busana muslim berwarna pink serta mukena putih berenda. Semua pakaian itu baru dibelikan mama untuk saya gunakan saat bertandang ke kerabat pada saat Natal dan Lebaran. Busana muslim dan mukena, rencananya akan dipakai pada shalat Ied.

Tepat sore hari, 26 Desember 1999, setelah melakukan perundingan keluarga, disepakati saya dan oom (sepupu bapa) akan berangkat ke Ternate pada 27 Desember dini hari. Ba’da Isha, saya dan keluarga (mama, bapa dan oom. Ade belum lahir kala itu, sepupu saya ditugasi menjaga rumah) bertolak ke rumah kepala sekolah untuk mengurus pemindahan saya. Jaraknya sekitar 600-700 meter. Saat tiba di jalan raya, sekitar seperdua perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa orang yang tergesa-gesa sedikit berlari. Bapa berjalan dengan membopong saya, tepat di belakang seorang nenek yang menggendong saloi (bakul dari anyaman rotan) di panggulnya. Di dalam saloi tampak jelas terdapat pana-pana wayer (panah dengan ujung kedua sisi dirakit potongan kaleng), tombak, dan parang. Bapa terus melangkah tanpa curiga sedikitpun, hingga si nenek berbalik ke arah kami dan berkata, “ngoni mo pi mana? Capat pulang deng kase tau orang-orang supaya lari mengungsi. So kerusuhan!”

Tak sampai hitungan detik, nyaring bunyi tiang listrik mulai menggelegar di semua sudut kota. Bapa pun menurunkan saya dari gendongan dan menyuruh saya berlari ke arah gang kecil beralas tanah dan sedikit becek. Bapa dan mama tak langsung mengikuti saya dan oom. Mereka masih menyempatkan diri berlari ke rumah salah satu atasan bapa di kantor, yang kebetulan berada di depan jalan yang kami lewati. Saya berbalik arah dan mengikuti mereka. Ikut mengetuk pintu rumah itu, “pak haji! Pak haji!” panggil saya sembari memukul-mukul pintu dengan kepalan tangan. Mama dan bapa juga melakukan hal yang sama. Penghuni rumah (pasangan suami-istri) baru akan mengangkat kedua tangan sembari bertakbir, hendak menjalankan sunnah tarawih, ketika pintu rumah digedor. Keduanya keluar dengan tergesa-gesa, masih menggunakan sarung dan mukena. Saat diberi tahu bapa, keduanya langsung bergegas mengambil kunci mobil dan mengajak kami ikut serta, tapi bapa menolak. “katong mesti bale ka rumah dulu, lia keponakan deng kase tau yang lain,” jelas bapa dengan dialek Ambonnya, sembari menengok ke arah saya dan mama. Ia memberi perintah tersirat untuk segera berlari dan tak usah menunggunya. Saya dan mama pun menurut, oom sudah terlebih dulu pergi untuk mengabarkan pada yang lain.

Saya terus berlari, sesekali menengok ke belakang, berharap-harap cemas bapa segera menyusul. Saat kesekian kali menoleh, bapa tidak jua terlihat. Saya pun mematung sejenak, dalam hati mendoakan bapa segera muncul. Syukurlah bayangan bapa mulai samar terlihat di ujung gang. Saya merasa lega sejenak, namun tak berapa lama jantung kembali berdetak cepat. Dari jarak sekitar 20 meter, tampak oleh saya, bapa dihadang beberapa lelaki yang sudah mempersenjatai diri masing-masing dengan tombak dan parang. Saya pun menutup mata: pasrah. Tak lama berselang ada dorongan yang memaksa saya membuka mata dan kembali melihat ke arah bapa. Ternyata dia masih hidup, bahkan tak sedikitpun dilukai. Dia sedang berlari ke arah saya. Saya pun melanjutkan ‘pelarian’ dengan airmata yang terus menetes. Dalam kebisuan malam itu, saya mendoakan keselamatan tidak hanya untuk bapa, tapi juga bagi semua orang, Acang maupun Obet.

Saat memasuki komplek SMP Islam (perumahan kami), saya berteriak-teriak dan menggedor-gedor dinding papan tiap rumah. “Lari! Lari! Kerusuhan! Kerusuhan!” Tidak ada respon apapun. Sepi. Saya terus berlari dengan berteriak seperti itu hingga tiba di rumah. Kosong. Sepupu saya sudah tak ada. Saya semakin panik dan mulai menangis keras tanpa berbuat apa-apa. Bapa, mama, dan oom masuk hampir bersamaan ke dalam rumah, disusul paman sebelah rumah yang mengabarkan bahwa sepupu saya sudah ke masjid bersama perempuan dan anak-anak yang lain, serta menginstruksikan saya dan mama segera menyusul. Sebelum pergi, mama masuk ke kamar dan membawa keluar koper. Saat melihat itu, seketika saya teringat sesuatu. Saya mencari-cari dan tidak menemukannya. Kembali airmata berlinang.

Walaupun menangis, saya masih tetap membongkar isi kamar, berupaya menemukan album foto yang saya cari. Tiba-tiba kami mendengar ‘rengekan’ kambing, ayam dan bebek yang bersahutan serentak. Ya, bapa selain seorang PNS, juga seorang peternak dan pekebun yang baik. Halaman di depan rumah ditanami buah-buahan dengan pupuk organik (kotoran sapi) seperti mangga, belimbing, giawas (jambu biji), dan pepaya. Di belakang rumah, tebu dan pisang menghuni pekarangan kosong, sebuah pohon beringin yang tumbuh di utara sumur juga tidak ia tebang. Teringat rutinitas harian, ketika azhan maghrib menggema pertanda malam akan tiba, diiringi dengan siulan khas bapa yang ia kutib dari ritme lagu si Unyil, ratusan ayam dan puluhan bebek serta delapan ekor kambing akan kembali pulang. Banyak dari ayam-ayam itu lebih memilih berterbangan ke atas pohon beringin, mencari tempat nyaman untuk tidur. “Itu pohon babuah ayamkah?” begitu para tetangga sering mencandai perilaku hewan ternak bapa.

***

SAYA, mama, dan bapa pun seketika berlari menuju belakang rumah. Kami membuka pintu-pintu kandang dan mengeluarkan semua ternak. Saya kembali berkaca-kaca. Mungkin bagi orang dewasa, itu hanyalah hewan ternak, tapi bagi saya waktu itu, mereka adalah sahabat-sahabat terbaik yang kerap saya muntahi keluhan dan kegelisahan. Saya mengangkat dan mengecup seekor ayam betina, lalu kembali melepaskannya. Biarkan mereka berlari menyelamatkan diri, seperti halnya kami.

Setelah usai dengan segala kegalauan di dalam rumah, bapa dan oom mengantar kami ke masjid dengan menenteng koper ‘pelarian’. Masjid Nurul Yaqin namanya. Di sini tempat saya belajar membaca al-qur’an bersama teman-teman sekampung. Saat usia tiga-empat tahun, saya sudah belajar mengaji, diajarkan langsung oleh bapa, sehingga di usia enam tahun saya sudah tamat juz amma (dulu belum menggunakan Iqra). Saya pun didaftarkan jadi siswa TPQ di masjid ini, tepatnya kelas dua SD kala itu. Saat ditanya ustad, “apakah sudah bisa membaca tajwid dengan lancar?” saya jawab “belum,” (tentu saja saya berbohong). Akhirnya saya disuruh belajar kembali dari Iqra. Saya dan teman-teman akan datang 30 menit sebelum maghrib, lalu bermain hingga azhan tiba. Selesai maghrib, kami mengaji dan diuji oleh ustad, jika sudah lancar akan dipindahkan ke halaman berikut. Begitu setiap harinya, hingga dua atau tiga bulan berikutnya saya sudah naik ke al-qur’an ‘besar’ dan setahun kemudian saya sudah khatam al-qur’an. Doa selamatan dilakukan di masjid dan rumah (tidak ada serimonial wisuda seperti sekarang). Bapa dan mama sangat senang. Saat di rumah, mereka sering meminta saya meniru gaya mengaji bapa (tilawah, mengaji dengan ritme) dan ketika saya lakukan, mereka akan senyum-senyum, sebenarnya menertawakan saya (mungkin jelek dan saya paksakan agar terlihat bagus).

Jadwal pengajian di masjid berlangsung dari ba’da maghrib hingga menjelang Isha. Sehabis Isha, biasanya kami akan langsung berlarian pulang atau terpaksa menunggu jika ada rapat. Rapat itu biasanya membahas pembayaran iuran listrik dan evaluasi kenakalan kami. Suatu hari, menjelang 1999, Almarhum Ustad Agil (semoga damai di sana), yang dikenal ramah dan tak pernah marah, memberikan petuah di akhir rapat, “kalian harus berilmu agar terhindar dari… Sebentar lagi era perdagangan bebas…,” saya lupa redaksinya, yang jelas dia menyebutkan ancaman saat era perdagangan bebas nanti. Jelas saja waktu itu kami semua bingung dan tak mengerti apapun, bahkan saya dan beberapa teman justru ingin segera pulang. Ceramah ustad membuat perut semakin melilit, lapar. Pulang ke rumah memiliki kisah tersendiri. Kami bertiga (semua perempuan, dua lainnya kembar) akan mengendap-endap mencuri mangga di sebuah rumah belakang masjid. Ranting pohon mangga itu jatuh ke balik pagar kayu, hingga buahnya hampir menyentuh jalan aspal tempat kami lewat. Si kembar paling penakut, mereka selalu mewanti-wanti dengan dosa, “tenang, ini bukan pancuri. Torang cuma ambe yang torang lia jadi tara apa-apa,” begitu saya menjelaskan kurang lebih. Aneh, tidak logis tapi diterima sebagai alasan bagi mereka untuk ikutan mencuri.

Oh ya, saat kelas enam SD saya berhenti mengaji dan selalu mencari alasan untuk tidak shalat di masjid ini. Tahu kenapa? Saat itu saya sedang suka dengan seorang cowok, teman ‘seperguruan’ (saya lupa namanya), dan tiba-tiba ada kejadian memalukan yang bikin saya enggan bertemu muka dengan dia, ustad, dan teman-teman lain. Menjelang maghrib saya berkelahi dengan seorang anak perempuan, cantik dan tinggi (keturunan Arab bermarga Albaar), kami saling menjambak mukena dan kemudian dilerai ustad. Saya benar-benar lupa apa sebabnya (semoga bukan karena rebutan cowok itu). Seingat saya semua teman-teman memojokkan saya dan membela dia, termasuk si kembar. “Ikh… tara cantik baru. Kaka deng ade biar itam tapi dong manis, daripada ngana,” begitu umpatan-umpatan mereka terhadap saya, diselingi dengan pujian untuk si kembar agar mau memihak pada mereka. Sialnya… Kebiasaan melorotkan kain teman yang sedang shalat, kali ini menimpa saya. Itu dilakukan oleh semua teman-teman perempuan saat shalat Isha. Saat kain saya diturunkan, saya naikkan, diturunkan lagi, saya naikkan lagi, begitu terus hingga waktu ru’ku rakaat ketiga tiba. Kebetulan perut saya mulas. Awalnya saya pikir ini bisa jadi kesempatan balas dendam dengan mengentuti mereka: menghadiahkan aroma kentut pada para antagonis itu. Dan ternyata… saya memang mengentuti mereka, tapi dengan suara yang menggema ke seluruh ruang masjid. Hampir semua jama’ah terkekeh (anak kecil, juga orang dewasa). Saya pun berlari keluar tanpa menyelesaikan shalat. Saya menunggu si kembar di belakang masjid. Saat ketemu, mereka bercerita bahwa ustad menginterogasi teman-teman dan meminta saya diajak kembali ke masjid. Mereka juga cerita kalau teman-teman cowok ikut menertawakan adegan kentut saya. OMG! Tidaaak… Takkan lagi saya ke masjid.

***

SESAMPAINYA di masjid, saya dan mama duduk bersandar di dinding, tepat di pintu masuk sebelah kanan. Setelah meletakkan koper, bapa lalu pamit kembali ke komplek. Berjaga-jaga dengan laki-laki yang lain. Komplek kami berada di perbatasan, di sebelah batas hutan belukar sudah menjadi wilayah Obet. Di komplek kami sendiri, ada dua keluarga Obet. Kami sangat akur dan sudah seperti keluarga. Anak-anak mereka berteman baik dengan saya. Bahkan setiap natal dan tahun baru, bapa selalu memberi satu-dua ekor bebek kepada mereka. Meski bapa peternak bebek, tapi kami sekeluarga tidak memakannya. Saya pribadi termasuk pemilih makanan, bebek bagi saya sama dengan ikan air tawar (lele, nila, bandeng, mas, dkk), walaupun diolah menjadi kuah atau tumis dengan racikan bumbu yang menggugah selera, tetap saja aroma tanah basah (becek) selalu menghinggapi indera penciuman saya. Satu keluarga (tepat sebelah kanan rumah kami, hanya dipisahkan oleh jalan) telah pindah ke Wosia, Tobelo Tengah sekitar tahun 97 atau 98, lagi-lagi saya lupa.

Keluarga lainnya tinggal di belakang rumah kami dan sejak pecah kerusuhan Ambon pada Januari 1999, mereka tak lagi terlihat. Anak laki-laki dalam keluarga itu seumuran saya, namanya Rino. Saat TK, kami bersekolah di lokasi yang sama: TK Dharma Wanita, sekolah swasta berbasis keyakinan Budha dengan mayoritas pengajar nasrani dan siswa dengan beragam latar belakang (dominan Kristen dan Islam). Rino memiliki seekor anjing peliharaan. Saat itu natal 1995, seperti biasa, saya dan kembar bertandang ke rumahnya: batambaru. Kami tidak pergi bersama orangtua, sebab mereka pasti marah-marah kalau tahu tujuan kami. Setelah orangtua kami pulang, kami pun masuk dan memberi salam. Mamanya Rino menyuguhkan minum dan membuka toples kue serta permen, kami hanya minum tanpa menyentuh yang lain. Dia rupanya mengerti, sehingga berdiri dan masuk ke dalam kamar. Tak lama berselang, dia keluar membawa apa yang menjadi tujuan kami: ampao (doi tambaru). Kami pun bersorak dan pamit pulang sembari mencium tangannya (kebiasaan berperilaku pada orangtua muslim yang terbawa-bawa). Sssttt… Saat mama Rino masuk ke kamar, separoh isi toples kue dan permen telah berpindah ke kantong (tas) kami masing-masing. Rino tahu akan hal itu dan sengaja mengusili kami. Saat hendak keluar dari halaman rumahnya, Rino melepaskan si anjing untuk mengejar kami. Saya yang ribet dengan baju Cinderella dan sepatu ber-hak paling lambat berlari, dan… benar saja, si anjing berhasil menggigit betis saya yang memang sudah penuh dengan ‘tatto’ alami. Saya pulang ke rumah dengan menangis sejadi-jadinya. Bapa lalu membasuh betis saya dengan tanah (ritual yang hari ini tak lagi saya indahkan karena sudah lebih akrab dan sering dijilati anjing), tanpa mengobati luka bekas gigitan.

***

SEKITAR pukul sembilan malam, suasana di dalam masjid kian riuh sesak. Seorang perempuan menjerit kesakitan, air ketubannya pecah dan akan segera melahirkan. Bidan yang tinggal di depan masjid sudah berangkat ke Ternate pagi tadi. Ibu-ibu kemudian secara swadaya menginisiasi proses kelahiran. Si ibu hamil diangkat ke tempat imam, sebelah kiri mimbar, kain-kain dikumpulkan, sebagian digunakan sebagai tirai dan yang lain dipakai untuk proses lahiran. Tak kurang dari sejam, si dede bayi pun memecah tangis. Suasana haru menyelimuti masjid ini. Mama yang begitu ingin memiliki anak lagi langsung berbisik, “ini kalo sabantar tara jadi kerusuhan, tong minta piara anak itu eee…,” saya menatap mama dengan ekspresi bingung, mencerna setiap kata-katanya dan berakhir dengan simpulan pertanyaan. Bagaimana bisa dia sempat memikirkan mengadopsi bayi dalam kondisi tegang seperti itu?

Jelang tengah malam, bapa menghampiri kami dengan wajah lesuh. “So tabakar. Katong pung rumah deng komplek so abis tabakar,” keluhnya. Mama pun menjawab,”biar sudah, yang penting katong bisa selamat. Harta masih bisa katong cari.” Kami lalu keluar ke jalan di depan masjid, dari sini terlihat api yang melahap rumah kami memenuhi langit dengan kepulan asapnya. Malam itu, para lelaki bergantian jaga. Perempuan dan anak-anak tidur di dalam, teras, dan halaman masjid. Saat fajar menjemput, kami diminta kembali harus melanjutkan ‘pelarian’ menuju ke Masjid Kampung Baru. Perempuan dan anak-anak naik ke atas truk. Tangan saya terlepas dari mama ketika akan naik. Kami pun terpisah, mama dan sepupu saya berdesakan di bagian depan, sementara saya di belakang berusaha menengadahkan kepala agar tetap bisa bernapas di tengah himpitan orang-orang dewasa. Mama gelisah karena tidak menemukan saya, “kalo tara dapa Tuti, lebe bae katong mati lai jua eee,” pinta mama pada sepupu saya, yang dengan bodoh diiyakan olehnya. Truk ini hanya dikawal tiga-empat anggota TNI. Untunglah tak ada apapun yang terjadi, kami dibiarkan melewati tiap kampung dengan selamat.

Kurang dari 20 menit, kami tiba di masjid yang dituju. Saya turun terlebih dulu dan bertemu dengan bapa. Bapa menyuruh saya berdiri di samping pagar masjid, dia sendiri pergi mencari mama dan sepupu saya. Saya kaget saat mama berlari menubruk dirinya pada saya. Dia memeluk saya dengan sangat erat. Sepertinya dia mengira saya sudah mati. Di dalam masjid, bapa dan para lelaki mulai bersiap untuk berperang. Mereka mulai dengan mengambil wudhu, kemudian mengikat kepala dengan secarik kain putih. Lalu saat berikutnya, mereka diantar keluar oleh seorang tetuah di pintu masjid. Beberapa orang membawa gerobak berisikan alat perang: mulai dari batu, pana-pana wayer, tombak, dan parang. Saya dan beberapa perempuan, juga anak-anak menangis meminta agar bapa dan suami kami tak ikut berperang, tapi seorang ustad marah-marah kepada kami dengan menggunakan beberapa lafaz Arab yang tak kami mengerti. Intinya, dia berkata kami harus mengikhlaskan para lelaki berjihad dengan nama Allah. Ternyata si ustad sendiri tidak ikut berperang dengan alasan sakit serta menjaga perempuan dan anak. Saya tak pernah sedikitpun melupakan itu.

Saat bapa bersama laki-laki lain keluar dari masjid dan bertakbir sembari menuju ke lokasi perang, saya pun berlari keluar dan menonton dari kejauhan. Dengan jarak pandang kurang dari 100 meter, saya melihat pasukan dengan baju dan ikat kepala merah berdiri di seberang sungai. Mereka berperang dengan menjadikan sungai sebagai batas. Bapa beberapa kali bolak-balik ke masjid untuk minum. Tubuhnya masih utuh, tanpa luka apapun. Ia juga tampak kekar, sekalipun sedikit pucat. Perang itu berlangsung hingga hampir tengah hari. Beberapa orang mulai tumbang. Ustad Agil, salah satunya. Dia dipanah dan ditombak pada bagian dada, tapi masih hidup. Pasukan jihad dari Ternate dan Tidore yang dijanjikan sebelumnya tak kunjung tiba membawa pertolongan. Kami kian tersudutkan. Saat diminta bapa mencarikan air ke rumah-rumah di sekitar masjid, saya berpapasan dengan puluhan laki-laki berjubah putih yang berjalan dari arah pantai menuju ke masjid. Awalnya banyak yang mengira mereka adalah pasukan jihad dari Ternate, ternyata mereka dari Pulau Tolonuo.

Truk-truk segera dikirimkan untuk mengangkut perempuan dan anak-anak, disertai dengan tiga-empat anggota TNI di atasnya, untuk dibawa ke Kompi, tempat penampungan sementara. Seorang tetangga kami membawa mobil puskesmas, sehingga ia diperintahkan untuk mengantarkan Ustad Agil ke lokasi penampungan. Kami (beberapa tetangganya) pun ikut dengan mereka. Saya, mama, sepupu, bapa, oom, dan beberapa tetangga sudah berada di atas mobil, ketika mereka meminta laki-laki untuk turun dan menaikkan Ustad Agil. Mama pun memohon agar bapa dan oom dibiarkan saja untuk memangku ustad. Syukurlah tawaran mama diterima, sayangnya suami salah satu tetangga sudah terlebih dulu turun. Mobil kami berada di tengah, dihimpit oleh dua truk di depan dan belakang.

Jarak tempuh dari Masjid ke Kompi cukup jauh dan harus melewati banyak sekali kampung-kampung Obet. Istri si ‘sopir’ yang duduk di depan disuruh mama untuk melepas jilbab. Sepanjang perjalanan, orang-orang menari cakalele dengan pukulan tifa. Cakalele adalah tarian perang orang Maluku saat melawan penjajah, namun saat itu cakalele dijadikan sebagai ritual memerangi basodara. Mobil berjalan dengan kecepatan sangat rendah. Saya tak ingin melihat keluar, membayangkan ketegangan yang mungkin akan terjadi. Saya menatap ke arah ustad, “maaf ustad, kita tara pernah bale mangaji di masjid lagi. Kita malu, ustad,” dalam hati saya memohon maaf pada ustad yang terkulai lemah, tangannya saya usap, airmata kembali menetes. Dua hari kemudian, sang ustad pun berpulang.

Tiba di Kompi (dengan selamat), bapa dan oom sibuk mencari tempat untuk hunian kami. Tetangga perempuan terus menangis dan menunggu serta mengecek suaminya pada setiap truk dan mobil yang baru tiba. Saya dan mama berjalan menyusuri halaman depan Kompi hingga ke dalam rumah sakit. Kami melihat begitu banyak orang terluka. Darah berceceran di mana-mana. Korban-korban dengan luka berat hanya diinfus dan dibiarkan terkapar di sepanjang teras dan halaman rumah sakit. Di teras belakang rumah sakit, saya mendapati bapa salah satu teman laki-laki saya. Tubuhnya hancur, kulit hangus, tulang-tulang patah dan retak. Sebuah bom molotov dilempar ke arah mereka namun tidak langsung meledak. Si bapa lalu mengambil bom tersebut untuk dilempar balik ke arah musuh, sayangnya bom itu meledak sebelum dilempar. Darah terus keluar dari tubuhnya dan mengalir ke dalam selokan. Suara napas dari tenggorokan menyertai gumpalan darah yang ikut keluar dari mulut. Mama mendekat ke kepalanya, berbisik pelan. Katanya, dia membantu bapa teman saya mengucapkan syahadat karena beliau sedang menghembuskan napas terakhir. Dan benar saja, tak lama berselang bapa itu pun tak lagi bernapas. Sekali lagi, saya menangis.

Saya pernah berkelahi dengan teman laki-laki itu, karena mereka suka usil meletakkan kaca di atas sepatu dan berpura-pura duduk di depan kami untuk melihat warna celana dalam yang kami kenakan. Selain itu, saya dan kedua sahabat di sekolah dasar juga pernah mencuri jambu milik mereka. Di belakang rumah mereka ada sebuah pohon jambu. Saat kami pulang sekolah dan melewati belakang rumah itu, kami melihat pohon jambu sedang menghasilkan banyak buah. Tanpa pikir panjang, kami bertiga pun melompati selokan besar untuk sampai ke pohon jambu tersebut. Setelah itu, kami masih harus memanjat untuk mengambil buahnya yang cukup tinggi. Saat sedang mengambil jambu dari atas pohon, salah seorang teman kami lewat dan memanggil-manggil bapa teman saya itu. Si bapa langsung keluar dari dapur, tapi tidak melakukan apapun. Kami bertiga panik dan langsung loncat dari atas pohon, kemudian berlari hendak melewati selokan besar tadi. Kedua teman saya yang lebih tinggi berhasil melompat dengan sempurna. Saat giliran saya tiba… bufh! Tubuh saya tertelan selokan. Untunglah airnya hanya setinggi lutut. Saya pun menjadi badut yang membuat ketiga teman terbahak dan terpingkal-pingkal.

***

BAPA membawa kami ke sebuah rumah yang dekat dengan pantai. Saya pikir kami akan tidur di dalam rumah itu.Ternyata salah besar. Selama delapan hari kami tinggal di Kompi, kami hanya bisa tidur di teras, sebab di dalam rumah telah penuh dengan orang. Saya tidur persis di sebelah selokan kecil. Pernah suatu malam, saya lupa malam ke-berapa, saya tidur dan banyak gerak, lalu terjatuh ke dalam selokan. Untunglah ada beberapa tas di dalamnya.

Makanan sangat susah di sini. Ketika truk-truk datang membawa bahan makanan, orang-orang berebut hingga habis. Mama membawa uang tapi tidak bisa dibelanjakan. Tidak ada barang, tidak ada makanan yang dijual. Anak tetangga yang baru berusia 10 bulan bahkan disuapi sagu yang sebelumnya telah dikunyah si ibu. Saya sampai terserang magh akut. Sekalipun tumbuh besar di Tobelo, yang juga merupakan bagian dari Kepulauan Maluku, namun saya tidak bisa dan terbiasa memakan sagu atau kasbi (ubi kayu). Padahal di lokasi pengungsian, kami hanya memiliki kedua jenis makanan ini, tidak ada beras dan lauk-pauk. Oh ya, selama di sini saya tak pernah buang hajat. Saat merasa mulas, mama mengantar saya ke pantai pada subuh hari. Ternyata di sepanjang pesisir sudah dipenuhi dengan orang-orang yang sedang ritual buang hajat berjamaah. Saya pun mencobanya namun kotoran saya seakan malu dan membangkang untuk keluar pada situasi demikian. Kami pun kembali tanpa berhasil menaklukan aktivitas alami manusia tersebut. Setelah itu saya tidak lagi mau pergi ke pantai. Sungguh disayangkan, saya memang bernasib untuk lagi dan lagi mengunjungi pantai dengan hiasan kotoran manusia ini. Tiga hari setelah mengungsi di sini, sebuah kapal AL berlabuh dan mengangkut para pengungsi. Sayangnya, setelah menunggu berjam-jam dengan menghirup aroma tak mengenakkan itu, kami belum juga mendapatkan giliran. Prioritas yang diangkut kapal ini adalah orang-orang yang terluka. Hari kelima, kapal AL kedua merapat dan lagi-lagi kami belum mendapat giliran. Hingga hari kedelapan, kapal AL ketiga berlabuh di tengah laut, bapa dan oom mengambil sampan lalu menaikkan saya, mama dan sepupu, dan mengantarkan kami naik ke atas kapal. Setelah itu mereka bolak-balik mengangkut para tetangga kami.

Tiba di atas kapal, rasanya jauh lebih melegakkan. Hal yang paling saya rindukan kala itu adalah ikan goreng dan dabu-dabu (sambal). Bibi saya, kakaknya mama di Ternate dikabarkan beberapa kali pingsan karena tidak mendapatkan kabar keberadaan kami sama sekali. Saluran telepon dan listrik memang mati total. Saat kapal mulai berlalu meninggalkan Tobelo, saya terkaget dengan pemandangan menyedihkan di atas kapal ini. Seorang bocah laki-laki usia tujuh atau delapan tahun, di lehernya bertengker pana-pana wayer. Saat bernapas, kedua ujung anak panah itu ikut bergerak naik-turun. Mereka hanya menampal kedua sisi dengan kain agar bisa mengurangi pendarahan. Saya pun menangis dan menutup wajah ke dalam pelukan bapa.

Keesokan harinya, 4 Januari 2000, kami tiba di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate. Saat menuruni anak tangga kapal, ratusan orang sudah memenuhi jembatan pelabuhan. Saya berjalan dengan pincang, beberapa ibu mengelus kepala saya sembari menangis, “ya Allah, ngana pe kaki bikiapa nak?” saya pun menjawab dalam kebingungan,”saya pe kaki tara apa-apa, tante. Ini saya bajalang pincang barang saya pe sandal sabalah putus,” si ibu langsung cemberut, seakan menyesal sudah berbaik hati pada saya. Ah sudahlah, yang penting kami akan segera ke rumah tante dan oom di Ubo-Ubo, di sana kami akan makan banyak makanan, termasuk ikan goreng dan dabu-dabu kerinduan saya.

Namun kesenangan itu hanya berlangsung sekilas. Saat saya melangkah keluar dari kerumunan, saya melihat tujuh tubuh laki-laki tergeletak di atas jembatan. Tak bergerak sama sekali. Mereka telah mati. Masihkah perang ini berlanjut? Kenapa di sini orang-orang juga membunuh? Kenapa mereka tidak berbeda dengan orang-orang di sana? Begitu saya terus bertanya. Perang terus berlanjut hingga orang-orang yang berbeda benar-benar punah dari setiap negeri mayoritas.

****

Halmahera, 1999

Periode Panjang Perang Saudara

DUA bulan sebelum pecah konflik di Tobelo, tepatnya Oktober 1999, bapa berangkat ke Tidore mengikuti ujian semester di Universitas Terbuka (UT) selama tiga hari. Di rumah hanya ada saya, mama, dan sepupu perempuan. Bapa dijemput pada subuh dini hari oleh mobil travel lintas Halmahera yang telah dipesan sehari sebelumnya. Sesampainya di Pelabuhan Sidangoli setalah menempuh tiga hingga empat jam perjalanan, bapa akan melanjutkan perjalanan ke Ternate dengan menggunakan jasa spead boat atau kapal feri. Jika bapa menaiki kapal feri, maka bapa bisa langsung ke Tidore dengan tumpangan tersebut, tanpa harus turun di Ternate. Rute kapal feri adalah Sidangoli-Ternate-Tidore-Ternate-Sidangoli. Waktu tempuh kapal feri dari Sidangoli ke Ternate adalah satu jam dan 45 menit, sedangkan dari Ternate ke Tidore ditempuh selama 15 menit. Namun bila bapa memilih spead boat dengan alasan lebih cepat, sekitar 45 menit untuk tiba di Ternate, maka bapa akan turun di Ternate dan berganti dengan spead boat yang menuju Tidore selama kurang dari delapan menit.

Selama bapa pergi, kami masih menjalankan aktivitas sebagaimana biasanya. Tiap pagi, saya akan pergi ke sekolah dengan berjalan kaki selama 25 menit. Sepupu saya juga demikian, hanya saja dia bersekolah di SMP Islam Tobelo, berada di depan rumah kami, sehingga dia tidak perlu berjalan kaki sejauh yang saya lakukan. Mama sendiri sibuk memasak dan menjaga kiosnya di depan rumah. Mama senang berdagang. Ia juga suka membuat penganan berupa kue dan gorengan. Penganan itu selain dijajakan di kiosnya, saya dan sepupu juga bergantian ditugaskan berjualan di Sanawwiyah dan Aliyah yang letaknya di seberang hutan. Seingat saya, waktu masih duduk di bangku SD, saat berjualan di sekolah setara SMP dan SMA ini, para pelajarnya sering sekali belanja sembari sesekali memuji dan mengajak saya pacaran dengan mereka jika telah dewasa. Mereka sering menyapa saya ‘Ade Tuti’. Seorang pelajar asal Lolobata kerap memarahi mereka jika sudah bersikap demikian. Dia tinggal bersama kami di rumah dan sudah seperti kakak bagi saya. Pernah sekali, waktu sore hari pulang dari jualan di Aliyah, saya harus menempuh jalur hutan dan kebun liar itu, semua pelajar telah pulang. Saat baru hendak memasuki area hutan, saya mendapati seorang laki-laki separuh baya yang menurunkan celananya dan mengusap kelamin dengan tangannya, sembari matanya menatap tajam ke arah saya. Sontak perilaku masturbasi yang tak lazim itu membuat saya berteriak kaget. Setelah mendengar suara teriakan, kakak angkat saya yang kebetulan belum pulang karena masih ada rapat OSIS (dia menjabat Ketua OSIS waktu itu), bersama dua orang temannya langsung berlari ke arah suara saya terdengar. Mereka lalu mengantarkan saya yang masih syok pulang ke rumah. Laki-laki aneh tadi sudah berlari masuk ke rerimbunan rumput saat saya berteriak.

Tiga hari kemudian bapa kembali dari Tidore. Dia bercerita panjang tentang perjalanannya yang mencekam. Dari Tobelo ke Sidangoli, mobil taksi yang ditumpanginya diblokade di Kao oleh sekelompok orang. Bapa dan para penumpang dipaksa turun dari mobil, lalu diperiksa KTP masing-masing. Awalnya bapa sangat ketakutan, sebab ia sempat berpikir mereka memeriksa orang-orang Islam. Ternyata menurut bapa, mereka menahan orang-orang yang berasal Makeang dan Tidore. Untunglah di mobil yang bapa tumpangi tidak ada satupun orang-orang yang akan dijadikan tawanan tersebut.

Konflik horizontal ini memang berawal dari Kao-Malifut, Teluk Kao, Halmahera Utara. Teluk Kao selain dihuni oleh orang Pagu, salah satu dari empat suku di Kao-Tobelo, juga ditempati sebagai ruang hidup oleh orang-orang dari Makeang. Pada 1979, Gunung Kiebesi di Pulau Makeang, oleh seorang pakar dari Jakarta diprediksi akan meletus. Sebagian orang-orang Makeang pun diungsikan ke Teluk Kao. Di sini mereka lalu membangun pemukiman dan hidup berdampingan kampung dengan orang-orang Suku Pagu. Pada 1997, sebuah Kontrak Karya untuk konsesi tambang emas ditandatangani oleh pemerintah pusat. PT. Nusa Halmahera Mineral (NHM), sebuah korporasi multinasional (Newcrest Sengapore Holding Ptd, Ltd asal Australia yang menguasai 75% saham dan 25% dikuasai ANTAM Indonesia) yang mengantongi Kontrak Karya tersebut berdasarkan Keputusan Presiden RI No. B.143/Pres/3/1997 tertanggal 17 Maret 1997, dengan total area konsesi lebih dari satu juta hektar (hanya 29.622 Ha yang dikeruk setelah tiga kali mengalami penciutan). Percekcokan antar kedua suku pun mulai terlihat. Orang-orang Pagu merasa cemburu dengan sikap NHM yang lebih banyak mempekerjakan orang Makeang sebagai karyawan perusahaan pada masa eksplorasi. Selain itu, kampung-kampung Makeang dipandang lebih ‘maju’ dibanding perkampungan orang Pagu.

Pada 1999, bertepatan dengan masa eksploitasi NHM di Tambang Gosowong, pertikaian antar kedua suku pun tak terbendung. Bermula dari dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kecamatan Malifut. Sebelumnya, sebagian warga dan mahasiswa asal Makeang telah berulang kali melakukan aksi unjuk rasa menuntut pemekaran kecamatan Makeang Daratan (Malifut). Pembentukan kecamatan baru ini tentu saja berdasarkan letak geografis, tanpa melihat sosio-kultural masyarakat setempat. Padahal terdapat lima kampung Orang Pagu yaitu Wangeotak, Sosol, Balisosang, Gayok, dan Tabobo yang berada di antara (dihimpit) perkampungan Orang Makeang, sehingga PP tersebut dengan tegas menyatakan kelima desa ini masuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Malifut. Orang Pagu pun menolak PP tersebut, sementara Orang Makeang bersikeras bahwa kelima desa tersebut merupakan bagian dari Kecamatan Malifut. Alasan paling logis dari tarik-menarik antar Orang Pagu dan Makeang atas kelima desa itu untuk menjadi bagian dari wilayah kecamatan masing-masing suku adalah karena posisi kelima desa yang berada tepat di lingkar konsesi NHM, sehingga uang ganti rugi lahan serta Community Social Responsibility (CSR) dari perusahaan tentu akan mengalir deras pada kecamatan yang berada tepat di sekitar wilayah konsesinya.

Orang Makeang di Malifut kemudian mengungsi ke Ternate dan Tidore ketika pecah kerusuhan pertama dan kedua (Agustus dan Oktober 1999) di Teluk Kao. Mayoritas karyawan NHM dari Malifut yang terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri ini kemudian mendapat surat pemecatan sepihak oleh perusahaan. Proses eksploitasi tambang memang tidak terlalu membutuhkan pekerja yang tidak memiliki keahlian khusus di bidang pertambangan, sehingga oleh sebagian kalangan, konflik ini juga diduga bagian dari strategi perusahaan untuk mengurangi jumlah tenaga kerja ‘non produktif’. Jikapun itu hanya dugaan dan tidak berdasar, maka tetap saja kerusuhan antar warga membawa keberuntungan bagi perusahaan untuk tidak repot-repot melakukan PHK massal tanpa pesangon. Selain itu, perusahaan juga tidak perlu repot menghitung dan membayar ganti rugi atas lahan warga yang akan dikeruk. Konflik ini menghendaki konsentrasi perang antar saudara, bukan memerangi korporasi yang sudah merampas tanah dan ruang hidup.

Konflik horizontal antar kedua suku ini lalu merambat ke isu agama dan menyebar ke hampir seluruh wilayah di Maluku Utara. Ini dikarenakan eskalasi konflik dengan isu serupa telah lebih dulu terjadi di Ambon-Maluku pada Januari 1999, dan secara kebetulan dapat dengan cepat memercik api di atas dahan kering yang ada di Maluku Utara, sebab mayoritas Orang Makeang adalah Muslim dan Pagu itu Kristen.

Ternate: Stereotipe Pengungsi dan Senjata Rakitan

SETIBA di rumah oom dan tante di Ubo-Ubo, Ternate Selatan, tante telah menyiapkan berbagai macam makanan kobong (kebun), mulai dari nasi, sagu, popeda, kasbi dan pisang rebus, ikan kuah kuning, ikan bakar dan goreng, sambal dan dabu-dabu mantah, hingga sayur kangkung dan garu (oseng daun singkong, daun pepaya, dan jantung pisang). Kami makan dengan lahap. Saya sendiri hanya makan nasi, ikan goreng dan sambal. Pada usia ini, saya belum (tidak biasa) makan sagu atau popeda, sayur dan tidak terlalu suka dengan ikan kuah atau bakar. Tentu saja semua itu sangat berbeda dengan hari ini. Saya bisa sangat rakus jika ditawarkan makanan kobong itu. Hmmm… serius, saya menyesal pernah begitu bodoh tidak bisa makan makanan bergizi yang demikian lezat. Namun hingga hari ini, saya tidak bisa makan sayur garu, walaupun saya sendiri yang meraciknya. Daun pepaya terasa pahit dilidah dan sulit bagi saya untuk dapat melahapnya.

Selesai makan dan berbincang-bincang tentang pengalaman kami selama dalam pelarian, kami lalu disiapkan kamar untuk beristrirahat. Oom dan tante tinggal di perumahan dinas Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Ternate. Ini dikarenakan oom bekerja sebagai PNS Disnakertrans Kota Ternate. Keesokan harinya, kami membersihkan rumah di sebelah kanan rumah oom untuk dipersiapkan sebagai tempat hunian sementara kami. Rumah dinas ini sebelumnya ditempati oleh keluarga PNS BLK yang beragama Kristen. Setelah kerusuhan kedua antara Kao dan Malifut, sebagian besar penduduk nasrani di Ternate dan Tidore telah mengungsikan diri dan keluarga ke Tobelo, Bitung, dan Manado.

Kami tinggal di perumahan dinas ini lebih dari delapan bulan. Jujur saja, selama menetap di sini, saya lupa kapan saya benar-benar pernah tertidur pulas. Setiap tengah malam, bom dan senjata terus menggema ke udara. BLK yang memiliki fungsi sebagai tempat kursus bagi para calon pekerja, saat itu dialihfungsikan sebagai tempat merakit dan menguji coba senjata. Ruang-ruang pelatihan yang berisi mesin dan alat-alat kerja telah diubah menjadi laboratorium senjata rakitan.

Saat masih tinggal di sini, saya disekolahkan bersama sepupu laki-laki saya di SLTP N.4 Ternate. Sewaktu di Tobelo, saya duduk di kelas I-1, kelas ini dihuni oleh orang-orang ‘terpandai’ di sekolahnya terdahulu (SD) dengan NEM di atas rata-rata. Namun saat bersekolah di sini, saya justru ditempatkan di kelas paling belakang, I-7, kelas yang hanya memiliki penghuni para pengungsi. Term ‘pengungsi’ mungkin tampak biasa saja. Sebuah diksi yang digunakan untuk menunjuk pada orang-orang yang terusir dari tempat tinggal mereka entah akibat bencana alam, sosial, atau politik. Tapi ‘pengungsi’ dalam praktiknya sangat bermakna negatif. Kami adalah sekelompok orang-orang terusir dan terbuang dari kampung halaman, yang layak dipandang dengan belas kasihan atau hinaan. Beberapa teman dari kelas lain di sekolah sering melihat kami dengan ekspresi wajah prihatin atau juga sinis. Ketika jam istirahat tiba, kami kerap berpapasan di kantin, “Ikh… pengungsi! Tobelo amaoooo…” begitu mereka sering menjadikan kami sebagai olok-olokan dengan sesekali mengembeli dialek lokal kami, setelah itu mereka akan tertawa terbahak, seakan kami adalah badut.

Setelah kami pindah ke rumah kontrakan yang agak jauh dari sekolah saya, tepat ketika saya naik ke kelas II, saya pun mengusulkan untuk pindah ke SLTP N. 1 Tobelo (sekolah alternatif khusus Pengungsi di Ternate) yang berlokasi di SLTP N. 6 Ternate. Bapa dan mama sepakat dan mulai mengurus kepindahan saya. Di sekolah yang baru ini, saya bertemu dengan beberapa teman-teman masa kecil saya, teman-teman sekelas di SMP Tobelo, dan teman-teman SD. Saya sangat gembira bisa bersekolah di sini, selain karena bertemu dengan teman-teman lama, juga karena saya terbebas dari stereotipe ‘pengungsi’ yang seakan menempel di jidat saya saat saya berpapasan dengan teman-teman yang sudah menghuni Pulau Ternate lebih lama.

Film India: Terapi Luka yang Ampuh

Pada 1998, sebuah film dari hasil produksi industri perfilman Bollywood mengguncang dunia, termasuk Indonesia. Kuch-Kuch Hota Hai judulnya. Karena kami berada di wilayah kepulauan yang jauh dari akses perkembangan ‘modern’, tentu saja tahun itu saya belum bisa menonton film fenomenal tersebut. Pada awal 1999, saya hanya bisa membeli dan mengoleksi kaset lagu soundtrack film tersebut. Saya bahkan sudah menghafal sebagian lagunya, sebelum benar-benar menonton filmnya. Mengapa Kuch-Kuch Hota Hai dan film India harus disebutkan dalam kisah ini?

Tepat siang hari sebelum rusuh, 26 Desember 1999, kepala sekolah saya—yang kebetulan juga oom, mengajak saya ke rumahnya. “Bapa tua ada bawa pulang film Kuch-Kuch Hota Hai dari Jakarta, kalo Tuti mo nonton mari katong pi di rumah,” begitu beliau mengajak saya siang itu saat sebelumnya bertandang ke rumah menemui bapa. Saya pun tanpa pikir panjang langsung menerima tawaran tersebut dan beranjak ke rumahnya. Setiba di rumah sang oom, saya langsung disuguhkan dengan tiap adegan dalam film dengan durasi tiga jam yang dimuat dalam tiga buah disk ini. Beberapa adegan dalam film itu membuat saya berurai airmata, terutama ketika Anjali menyatakan cinta dan ternyata bertepuk sebelah tangan, sebab Rahul telah jatuh cinta pada Tina, Anjali lalu memilih pulang ke kampung dan meninggalkan sahabat sekaligus kekasih tak sampai-nya, Rahul. Tante saya mencandai saya agar tidak menangis dengan berkata bahwa mengeluarkan airmata dapat membatalkan puasa. Selesai menonton film tersebut, saya kembali pulang ke rumah dengan fantasi yang tak lepas dari tiap adegan dalam film ini. Sejak saat itu, saya mengagumi kecantikan Tina dan kepiawaian akting Rani Mukherjee memerankan tokoh tersebut. Saya pun menjadi penggemar setianya.

Di Ternate, saya membuat potongan rambut seperti Tina. Saya kerap mengurung diri di kamar sembari melihat ke cermin, lalu mengambil kipas dan mengarahkan ke wajah saya. Sesaat kemudian lantunan lagu Kebaktian Hindu telah keluar dari rongga mulut saya.

Om jaya Jagdiśa hare,

Swāmi jaya Jagadiśa hare,

Bhakta jano ṃ ke sankata,

Dāsa janoṃ ke saṅkaṭa,

Kśana meṃ dūra kare,

Om jaya Jagadiśa hare… 2x

Lagu ini dinyanyikan Tina saat dia baru saja pindah dari Oxford University dan diuji oleh Rahul untuk menyanyikan lagu berbahasa Hindi sebagai bukti kecintaannya terhadap India. Saat menyanyikan lagu ini, Tina mengangkat kedua bola matanya yang coklat, lalu perlahan rambut sebahunya yang tergerai mulai ditiup angin. Pancaran kecantikannya ini yang menginspirasi saya melakukan semua adegan itu di depan cermin. Hehehe…

Bersamaan dengan semakin boomingnya film-film Bollywood, toko-toko kaset yang menjual dan menyewakan koleksi film juga menyediakan sebuah kaset yang berisi rekaman video pembersihan dan penguburan massal korban pengeboman masjid Togoli-Tobelo Selatan. Di antara ratusan mayat yang terbakar itu terdapat anak kecil, perempuan, dan orang tua. Video yang diembeli dengan lagu-lagu bertema perang itu diperjual-belikan secara bebas di pasar. Hingga saat ini saya masih tidak mengerti, bagaimana bisa bom molotov (rakitan) meluluh-lantakkan seisi masjid yang terbuat dari beton tanpa tersisa? Jika bukan bom molotov yang digunakan, lantas bahan peledak apa? Katanya konflik horizontal yang melibatkan masyarakat sipil, lalu darimana masyarakat sipil bisa mendapatkan bahan peledak yang setara dengan yang digunakan oleh militer? Siapa yang merekam video tersebut? Bukankah masyarakat sipil kedua agama tidak ada yang berani memasuki ‘wilayah kekuasaan’ masing-masing? Dalam video itu terlihat jelas para lelaki yang sedang melakukan penguburan massal itu berseragam loreng dengan sepatu lars panjang.

Menonton video itu membuat saya merinding, membayangkan apa yang akan terjadi setelah orang-orang Islam menontonnya. Benar saja, video itu menjadi agitasi super ampuh yang mampu mengajak ribuan muslim untuk berjihad. Mereka kemudian berangkat ke Galela dan dari Galela mereka menyerang dan memaksa mundur pasukan Kristen Tobelo. Perang antar saudara ini berlangsung hingga 2002.

Ketakutan akan adanya perang yang lebih besar membuat saya menjadi phobia terhadap banyak hal. Saya pun mengalihkan semua perhatian pada sekolah dan hiburan. Setiap hari saya menghabiskan waktu menonton film-film India dan mendengar lagu-lagunya. Saya lebih sering menyewa kaset film-film tersebut, bersamaan dengan kaset film Kadir-Doyok pesanan bapa. Selain menyewa, saya juga memiliki beberapa koleksi film India yang saya pesan dari awak kapal barang asal Surabaya, di antaranya Kaho Na Pyaar Hai, Mann, Har Dil Jo Pyaar Karega, Badal, Kahin Pyaar Na Ho Jaye, Chori Chori Chupke Chupke, Kabhi Kushi Kabhi Gham, Hello Brother, Mohabbatein, Pyaar Mein Kabhi Kabhi, Yeh Dil Aashiqana, dll.

Walaupun saya tak pernah menetapkan dan menjadikan film India sebagai terapi psikologis untuk ketakutan dan luka yang saya alami, namun film India memang mampu menjadi serum yang mengobati dan mencegah traumatik berlanjut pasca kerusuhan yang saya alami. Hingga saat ini, satu-satunya phobia pasca rusuh yang belum bisa saya hilangkan adalah melihat  darah dalam jumlah yang banyak.

Penulis: Astuti N. Kilwouw

 

Views All Time
Views All Time
679
Views Today
Views Today
1
Like