/Air Mata Pulang Sepanjang Pergi

Air Mata Pulang Sepanjang Pergi

TIBA-TIBA aku tak berdaya. Tanganku bergetar seperti gugup, tapi bukan gugup. Ini juga bukan gara-gara telepon yang kuterima kemarin dari seorang teman yang sempat menarikku ke masa lalumu. Katanya, kau pernah menangis di bahunya setelah seseorang yang kau sebut kenangan membuatmu merasa tak menginjak tanah hanya karena perselingkuhan yang kebetulan. Bukan, Lina.

Tubuh yang meriang, matanya yang bengkak karena air mata, jantung yang berdetak keras, dan tangan yang lemas ini, mungkin karena tadi kudengar dari seorang teman: kau telah  mengenal rindu yang lain.  Hmm, Lina, andai benar yang kudengar itu, maka cepat-cepatlah menelpon aku, lalu katakanlah: kalau kau tak butuh aku. Atau hapus saja nomor kontakku di handphone-mu. Lalu, puisi-puisiku yang kau banggakan itu, buanglah di tempat sampah. Biarkan tetangga-tetangga kosanmu tahu, kalau aku dan puisi itu seperti sampah. Begitu saja.

***

Sebelumnya, kau pernah bilang, “Aku suka tulisan-tulisanmu, Sayang.” Dan setelah itu, kau raih tanganku dan menciumnya lalu berkata, “Anggaplah aku seperti tulisanmu, yang setiap saat bisa kau tulis dan menaruhnya di atas kertas.” Mungkin saat itu aku hanya bisa tersenyum dan seperti yang kau tahu, aku yang malu hanya bisa menjamah bibirmu dan berujar; jangan sebut-sebut itu lagi, Sayang. “Aku gugup…” Dan tawamu pecah.

Ini yang paling aku ingat: kau dan aku saat berlibur di pantai Gilolo. Kau tahu, di situ memang bukan hanya kita berdua. Ada puluhan kawan organisasiku yang juga ikut ke pantai. Tapi anehnya, aku seperti merasa hanya kau dan aku yang berlibur dan menikmati senja turun bersama burung-burung kesepian.

Hmm, atau mungkin aku yang terlalu senang menonton film, sampai-sampai aku terbiasa dengan adegan-adegan aneh. Katamu, berdua seperti ini rasanya semacam dunia milik kita berdua. Aku pikir, bahasamu terlanjur klasik, tapi setelah kata-katamu masuk di telingaku, seolah-olah aku baru saja mendengarnya hari ini.

Dan setelah itu, kau sendiri yang menamparku dan berujar, “Lebay, Sayang.” Aku bergidik, jangan-jangan kau sudah gila hanya karena baru pertama kau belajar merayu dan menggombali lelaki. Ah, kau atau aku yang terlalu berlebihan, Lina?

Coba kau ingat lagi, setelah kau merayuku, kau kemudian tiba-tiba mengambil alas tidur dari daun kelapa tua dan menaruhnya di sampingku. Aku curiga, ini caramu lagi belajar menjadi romantis. Nanti setelah kutanyakan, sudah berapa lelaki yang kau buat seperti ini? Kau sekonyong tersenyum tipis dan menjawab dengan ringan, “Sayang, aku belum pernah pacaran.” Sudah kuduga, perempuan memang selalu punya cara menjawab pertanyaan lelaki meski terdengar aneh.

Tak hanya itu, Lina. Andai hari ini kau belum terserang lupa, kau mungkin paling malu saat aku menyinggungnya kembali. Kau ingat, bagaimana kau dan aku saat berada di atas perahu? Kau pasti tertawa dan andai kau di kamar, kau tentu girang sekali sembari memeluk boneka-bonekamu.

Hehe, kau bilang seperti ini, “Nanti kalau perahu ini terbalik, maka cinta kita mungkin akan terbalik.” Hanya berselang menit kau ucapkan itu, perahu yang kita pakai sekonyong-konyong terbalik dan membuat kau menangis karena tak tahu hidup di laut. Orang-orang di pantai tumpah ke tepi dan menunjuk kita berdua seperti sedang melihat adegan komedian. Mereka tertawa dan turun ke laut menjemput kita yang sibuk menyelematkan diri masing-masing.

Setelah itu, aku mulai curiga dengan ucapanmu. Kata orang, bicara itu seperti doa.

“Jangan-jangan, cinta kita benar-benar terbalik?” tanyaku dalam hati.

Namun, aku harus optimis. Aku melihat keseriusan di matamu. Kau selalu katakan, “Aku ingin mengenal sekali pacaran dalam hidup.” Bahasamu selalu membuat aku menggaruk-garuk hidung yang tak gatal.

“Benarkah, Lina?”

“Benar, Sayang.”

“Mana mungkin hanya sekali?”

“Mungkin, Sayang.”

“Tapi?”

“Ssssstt… Tak usah kau sebut tapi…”

“Kalau begitu aku tak suka ssssstttt-mu itu.”

Kau memang punya cara meyakinkanku. Seperti sore itu, kau datang di rumah dengan air mata yang masih meleleh di pipi. Bicaramu terbata-bata dan separuh mengeja. Yang kudengar kau bilang cinta sampai mati.

Tapi, setelah itu kau sempat mengajakku duduk di bawah pepohonan ketapang. Daun-daun jatuh, melayang mengikuti arah angin. Rambutmu menggeletis, terayun-ayun. Kau menatapku dengan mata berkaca-kaca dan memohon agar aku tak akan mengecewakanmu. Aku mengangguk  lalu mengusap air mata yang masih terus bergulir di sela-sela bibirmu.

“Sudahlah…”

Kemudian semuanya hening. Aku tak mendengar lagi butiran air mata yang mengena lantai tanah. Yang kurasa, tiba-tiba kau sudah memelukku. Aku tak mengerti apa yang ada di dalam pikiranmu, kau seperti menyumpahi senja agar cepat menemui malam dan kita mungkin bisa bercinta di pepohonan dengan segala kegelapan dan sentuhan-sentuhan yang menghangatkan.

***

Mengingatmu adalah kenangan yang keterlaluan. Sampai-sampai, aku seperti lelaki yang baru saja mengenal cinta. Di batas kesunyian, di antara sekat malam dan subuh, aku kadang merenung, seolah menarik segala biografi perasaan ini dengan kerinduan yang tak mampu terjelaskan oleh apapun. Kenangan-kenangan bersamamu adalah kemesraan yang candu. Sebuah kecanduan yang menyenangkan.

Namun, di detik ini aku baru saja sadar. Kepulanganmu dari Kediri adalah kesedihan yang menyakitkan. Aku tak mengerti apa yang ada dalam kepalamu. Setelah dua tahun lebih kita membangun hubungan ini, kau pulang seperti membawa kekecewaan yang tak pernah kutemui sebelumnya. Siapa lelaki itu? Benarkah, dia yang kau pilih? Sudah kuduga, setelah kau memilih sekolah di Jawa, mungkin segalanya hendak berubah dengan mudah.

Lina, mohon jelaskan kepadaku, cinta macam apa yang kau maksud. Benarkah, yang temanku bilang tempo itu; cinta itu hanya perkara tubuh, jika dia tak bisa kau sentuh, maka dia akan memberikannya pada yang lain. Barangkali, jarak adalah alasan satu-satunya mengapa seseorang begitu mudah merelakan perasaannya hanya untuk sebuah kemanjaan yang singkat. Aku tak suka itu, Lina!

Sudah kucurigai, enam bulan yang lalu, kau memang tak terlalu rindu pada hari-hari yang pernah kita lalui. Kesetiaan, janji, dan kepergianmu adalah air mata ketika aku mulai mencintaimu sedingin-dinginnya hujan malam ini. (*)

Cerpen Rajif Duchlun

(Cerpen ini pernah terbit di media cetak, Malut Post)

Views All Time
Views All Time
233
Views Today
Views Today
1
Like